
Bab 5 ~ Berwarna
-Senyum adalah bibit cinta-
Mayn Urr Izqi
Memang benar bahwa Yogi memutuskan untuk mendapatkan hati Renata. Namun, dia tak memiliki pengalaman dalam mendekati seorang gadis. Dalam hal itu, dia hanya bisa mengandalkan saran Rizki. Sayangnya, Rizki masih mengunci mulut sejak meninggalkan kelas.
Di sisi lain, Lia dan Renata tampak berbincang ria seakan dia dan Rizki tak ada, di sana. Sedikit perih dalam dada, tetapi dia masih menemukan Renata tersenyum, meski itu tidak ditujukan padanya.
Semenjak meninggalkan kelas, Yogi terus memperhatikan Lia dan Renata. Dua gadis itu membicarakan banyak hal. Mulai dari gosip aktris, gaya berpakaian, sampai lagu terbaru. Entah dari mana dua gadis itu mendapat topik sebanyak itu.
Sebenarnya dia ingin masuk dalam pembicaraan tersebut, tetapi dia tak mengerti percakapan mereka. Karena itu, dia mengunci mulut rapat-rapat.
Ketika dia melirik ke samping, kiri. Dia menemukan Rizki dengan ke dua tangan berada di saku jaket. Wajah Rizki masih dingin, seperti biasa. Rizki menatap ke depan, tetapi perhatiannya tidak tertuju pada Lia atau pun Renata. Entah apa yang diperhatikan oleh Rizki.
Bosan, Yogi mulai memindah perhatian ke sekitar. Lorong sekolah dibanjiri murid kelas delapan dan sembilan. Mereka berlarian, bercanda, dan bercakap. Tentunya itu wajar karena tak ada pelajaran.
Mereka pasti merasa bosan jika hanya mematung di kelas. Karena itu, mereka lebih memilih bermain di luar.
Hal yang sama berlaku untuk Yogi. Sebenarnya dia ingin mengambil bola basket dan melemparnya ke keranjang. Setidaknya itu rencananya ketika menginjakkan kaki di lingkungan sekolah. Namun, niatan itu lenyap ketika dia menemui seorang bidadari.
Dunianya teralihkan, berbunga, dan berbinar. Dia tenggelam dalam ilusi manis. Dadanya terbakar. Namun, juga membeku bagaikan es. Setelah semuanya, dia hanya berharap bahwa semua itu bukan sekedar imajinasi.
"Hei, kenapa kalian terus diam sejak tadi?" perhatian Yogi berpindah ke depan, menatap Lia yang menoleh padanya dan Rizki.
"Kalian terlalu menikmati waktu," jawab Rizki.
"Sebenarnya aku tidak paham dengan yang kalian bicarakan," jawab Yogi sambil tersenyum kecut.
"Ah, itu juga benar. Entah apa saja yang kalian bicarakan sejak tadi. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya," imbuh Rizki.
"Lalu, bagaimana jika kita ubah topiknya?" Renata mengangkat jari telunjuk.
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Rizki.
"Tentu saja tentang kalian," Renata tersenyum, manis.
Untuk yang ke sekian kalinya, Yogi dibuat kagum oleh senyum tersebut. Senyum sederhana tersebut meninggalkan sebuah rasa yang menikam, tetapi juga lembut di saat yang sama.
"Baiklah, kau bisa mulai bertanya ketika aku sudah memesan sesuatu," Rizki berjalan mendahului, menuju ke salah satu kios di kantin. Saat itulah Yogi sadar bahwa dia sudah sampai di kantin.
Langkahnya terhenti, perhatiannya menyebar, menyadari suasana yang hening. Tak seperti biasanya, ramai, kali ini begitu sepi. Yogi hanya menemukan beberapa orang di sana. Mereka pun tidak makan, hanya duduk dan berbincang dengan rekan lain.
Mungkin kebanyakan murid lebih memilih bermain, daripada mengisi perut. Yah, Yogi bisa mengerti hal itu.
"Kalian tidak akan membeli sesuatu?" tanya Lia.
__ADS_1
"Bisa kau belikan aku roti?" Renata melempar pertanyaan sederhana.
"Tentu," jawab Lia, singkat.
"Lia, bisa kau belikan aku juga?" Tanya Yogi sebelum Lia beranjak pergi.
"Tentu." Lia mengulurkan tangan padanya. Tentunya Yogi tahu maksud Lia.
Yogi segera menarik selembar kertas dari saku kemeja. Dia mengeluarkan selembar uang pecahan Rp. 10.000,- dan diserahkan pada Lia.
"Kalian carilah tempat duduk! Pesanan kalian akan kuantar dalam satu menit." Lia berbalik dan meninggalkannya serta Renata.
Barulah Yogi sadar atas apa yang dia lakukan. Dengan membiarkan Lia pergi, maka akan tersisa Renata dan dirinya.
Jantungnya mulai berdegup keras, kencang, menggedor dada bak genderang yang ditabuh di tengah pertempuran. Darah menenggelamkan otak, membuatnya tak bisa berpikir jernih. Namun, dia justru memaksa agar otaknya berputar, mencari topik untuk dibicarakan.
"A-ah, se ..., baiknya kita mencari tempat duduk," ucapnya, gugup.
"Mencari? Bukankah kursi di sebelah kita kosong?" jawab Renata sambil menduduki salah satu kursi.
"Benar, aku memang bodoh." Yogi menggeleng. Dia duduk menghadapi gadis itu.
Bukannya mencari topik, dia justru membisu, menatap kekosongan. Dia ingin berbincang, tetapi tak tahu apa yang harus dibahas.
"Apa kau membenciku?"
"Eh?" Yogi membuka mata lebih lebar ketika Renata melempar pertanyaan tersebut, "Apa maksudmu?" tambahnya.
Saat itu juga, Yogi menyadari kebodohannya. Mungkin benar bahwa dia gugup, tetapi bukan berarti dia bisa berpaling dari gadis cantik tersebut.
"T-tidak. Aku tidak seperti itu, sebenarnya aku meny ...-"
"Dia gugup karena bisa bersama gadis cantik sepertimu," Rizki memotong ucapannya sebelum itu berakhir.
Rizki tiba dengan sebuah kantong plastik di tangan. Rizki duduk, menemaninya menghadapi Renata.
Tidak lama kemudian, Rizki membuka kantong tersebut, memperlihatkan berbagai makanan ringan yang sempat dia beli.
"Eh? Benarkah itu?" tanya Renata sambil memiringkan wajah.
"Y-ya, aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan denganmu," jawabnya sambil menggaruk pipi dan tersenyum kecut.
"Hampir saja aku mengatakannya," gumamnya dalam pikiran.
"Oh, astaga. Aku benar-benar berpikir bahwa kau membenciku." Renata menghela napas seraya memijat kepala.
"Aku minta maaf." Yogi menundukkan kepala, menyatukan tangan, dan berperilaku seperti meminta pertolongan.
__ADS_1
"Ya, lupakan saja! Ini hanya kesalahpahaman saja," jawab Renata sambil tersenyum padanya.
"Ah, dia malaikat," gumam Yogi dalam pikiran.
"Pesanan datang." Perhatian semua orang berpindah pada Lia yang baru sampai.
Gadis itu membawa sekantong plastik. Lia menumpahkan isi kantong tersebut, Tiga potong Roti, tiga gelas teh instan, dan empat bungkus makanan ringan. Semua itu memenuhi meja.
"Terima kasih sudah membayar semua ini, Yogi." Lia mengambil tersenyum polos, mengambil tempat di samping Renata.
"Eh? Oh ya, tentu. Jangan dipikirkan," untuk sejenak, Yogi melihat Sultan Mahmud Baharuddin melambai padanya. Bagaimana tidak, selembar uang itu adalah uang sakunya untuk tiga hari. Namun, jika itu bisa membuat Renata tersenyum, maka selembar itu murah.
"Kau yakin?" tanya Renata.
"Yah, jangan khawatir!"
"Hore ...," Lia menyahut sepotong roti, membuka bungkus, dan mulai melahap roti tersebut.
Renata pun mengikuti. Yogi juga melakukan hal yang sama.
"Lalu, apa yang kalian ingin ketahui dari kami?" Rizki kembali menyinggung percakapan sebelumnya.
"Ah, benar. Aku sedikit penasaran dengan hubungan kalian. Kalian terlihat sangat dekat. Jadi aku berpikir bahwa kalian sudah berteman sejak SD," Lia melontarkan semua itu dengan mulut penuh.
"Telan dulu rotimu!" Renata dan Yogi berkomentar di waktu yang sama.
"Ciee, romantis sekali kalian," goda Lia sambil menyembunyikan senyum nakal di wajah.
"Serasi sekali kalian," imbuh Rizki.
"Ah, diam!" Yogi menaikkan suara pada Rizki.
"Ayolah, itu hanya kebetulan!" imbuh Renata.
"Oh, tetapi itu kebetulan yang manis," balas Lia sambil menyikut lengan Renata.
"Ah, aku tidak peduli." Renata berpaling, mengembangkan pipi, membuatnya terlihat seperti ikan buntal.
"Bisa kita kembali pada percakapannya?" tanya Yogi.
"Baiklah. Biar aku yang menceritakannya." Rizki memangku dagu dan melanjutkan, "Kami bertemu di kelas 7 di kelas yang sama. Awalnya kami tidak sedekat ini, tetapi dia sering meminta bantuanku. Sebelum aku menyadarinya, aku mulai sering melihatnya di mata ini. Sebagian waktu juga kuhabiskan bersamanya. Yah, selama dua tahun terakhir, aku bisa berkata bahwa Yogi adalah teman yang hebat. Dia tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apa pun. Karena itu, aku masih berdiri di sampingnya."
Yogi tak menyangka bahwa dua tahun perjalanan akan disingkat menjadi beberapa kalimat saja. Namun, itu jelas mencerminkan Rizki. Karena itu, dia tersenyum masam sambil mengangguk.
"Lalu, kalian akan meneruskan hubungan ini hingga ke pernikahan?" Lia tersenyum nakal untuk yang ke sekian kalinya.
"Tidak dan hentikan itu!" sentak Yogi dan Rizki bersamaan.
__ADS_1
Baik Lia dan Renata, ke duanya tertawa. Mereka berdua tampak manis, tetapi juga menyebalkan di saat yang sama. Namun, Yogi tidak membencinya.
Hidupnya sudah berwarna sejak awal. Namun, Renata membuat segalanya lebih terang, lebih hangat, nan menyenangkan. Terasa nyaman dan menenangkan. Dia seperti berada dalam ruang putih, hanya menyisakan rekan-rekannya yang terbalut dalam kasih.