Bride

Bride
Bab 13 ~Ilusi~


__ADS_3

Bab 13 ~Ilusi~


“Tidurlah dan bermimpilah. Lepaskan segalanya untuk sejenak. Karena mimpi adalah tempat di mana kau bisa menjadi apa pun.”


-Mayn Urr Izqi-


 


 


Waktu berputar. Detik demi detik berlalu, berubah menjadi menit. Menit berlalu menjadi jam. Kegelapan yang menelan hari pun pudar. Mentari tersenyum di langit timur, menerangi permukaan dunia dan membagi berkah pada semua makhluk.


Yogi duduk di sudut kelas, sendirian, menanti rekan lain yang belum tiba. Sebenarnya dia tak bermaksud untuk berangkat lebih awal. Namun, entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri. Sebelum dia menyadarinya, dia sudah berada di kelas, duduk dan menanti Rizki.


Dia berpaling ke jendela, menatap langit biru yang ditelan gumpalan uap. Noda-noda putih tersebut bergerak pelan, mengikuti arah angin. Burung-burung mengepakkan sayap, mengarungi lautan awan.


Ketika melihat mereka, Yogi teringat akan tiga rekannya, Rizki, Renata, dan Lia. Di hari minggu nanti, dia akan ke mal dengan mereka bertiga. Tak ada rencana untuk hal itu. Mungkin mereka hanya akan melihat-lihat dan makan di salah satu kios.


Jika dia tak salah ingat, Rizki sudah menyelesaikan satu buku. Karena itu, mungkin Rizki akan membeli buku baru nanti. Di sisi lain, Rizki bermaksud mengajak Kak. Yuutha, mungkin mereka berdua akan berada di jalan yang berbeda. Jika itu terjadi, maka dia akan menghadapi Lia dan Renata sendirian.


Menghadapi Renata sudah cukup sulit baginya, karena dia belum bisa mengendalikan diri dengan baik ketika di sisi Renata. Ditambah Lia yang berisik, mungkin dia tak akan bisa berbicara dengan Renata sama sekali. Itu akan menjadi yang terburuk dalam hidupnya.


“Haaa ...,” Yogi menghela napas.


Dia memangku dagu, memindah fokusnya ke sekitar, tetapi tak menemukan seorang pun di sana. Bangku dan kursi masih tak berpenghuni.


Fokusnya berpindah ke muka kelas, menatap jam dinding. Itu menunjukkan pukul 5.30 pagi. Entah apa yang merasukinya hingga berangkat ke sekolah sepagi itu. Apa yang jelas adalah dia menyesal. Seharusnya dia masih bisa tidur selama beberapa puluh menit.


“Sebaiknya aku menutup mata,” gumamnya sambil menumpuk lengan di meja, bermaksud menggunakannnya sebagai bantal. Ketika kepalanya terbaring di lengan, dia mulai menutup mata.


“Jangan tidur di kelas!” Yogi terperanjak, hampir melompat karena terkejut.


Suara itu membelai, lembut, indra pendengarnya. Perhatiannya mengalir pada sumber suara. Apa yang dia temukan di ambang pintu tersebut adalah seorang gadis.


Setiap momentum bergerak dengan lambat. Rambut hitam gadis tersebut melambai padanya. Kecantikan gadis itu menusuk mata, memberi rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Jantungnya berdentum lebih keras, memberi rasa yang kian meluas.


“Jangan memandangku seperti itu!” suara gadis itu membangunkannya dari lamunan.


“Ah, maaf,” Yogi berpaling, menyembunyikan wajah yang semakin panas.


“Aku tidak menyangka akan ada yang datang sepagi ini,” gadis itu berjalan, menghampirinya.

__ADS_1


“Ahahaha ..., aku juga tak mengerti kenapa datang sepagi ini,” Yogi menjawab, sambil menggaruk pipi.


“Apa kau punya kebiasaan menggaruk pipi?”


“Eh?” ketika Yogi mengangkat wajah, gadis itu sudah berada di dekatnya. Gadis itu duduk tepat di kursi depan, menghadapinya dengan tatapan lembut.


“Kau selalu menggaruk pipi ketika berbicara denganku. Apa itu kebiasaanmu?”


“Tidak, sebenarnya aku tidak menyadari itu,” jawabnya.


“Hee ..., jadi kau tidak menyadarinya. Kurasa itu  bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalimu,” gadis itu tersenyum.


“Ahaha,” dia tersenyum kecut, menyadari kebisaan bodohnya. Namun, terima kasih atas hal itu karena dia bisa berbincang dengan sesosok malaikat. Di sisi lain, Yogi tak lagi menyesal karena datang terlalu pagi. Berkat itu, dia menjumpai sosok bidadari surga.


“Bagaimana kabarmu?” gadis itu melempar pertanyan lain.


“Baik.” Yogi menunduk, tak mampu menunjukkan wajah. “Bagaimana denganmu?”


“Aku baik, terima kasih sudah bertanya.”


“Emm ...,” Yogi berdengung, mengolah segala yang ada, mencoba mencairkan suasana yang terasa mencekik tenggorokan.


“Aaa ..., apa kau selalu datang sepagi ini?” akhirnya dia memuntahkan sesuatu dari mulutnya.


“Ah, tidak. Biasanya aku berangkat sekitar pukul enam, tetapi entah kenapa aku justru berangkat lebih pagi kali ini,” jawab malaikat tersebut.


“Jadi kita sama?” Yogi mulai mengangkat wajah. Dia tak ingin kehilangan satu pun momen, dia ingin merekam segalanya ketika bersama malaikat tersebut.


“Begitulah.”


“Itu terdengar aneh.”


“Memang ....” tak lama kemudian, keheningan pun merayap dari balik bayangan, mengurung ke duanya dalam kesunyian.


Yogi mulai memutar otak, memikirkan hal lain untuk didiskusikan. Namun, pikirannya memutih. Dia tak menemukan apa pun di sana, kecuali kehampaan yang menelan kesadaran.


“Yogi,” malaikat tersebut menyebut namanya.


“Ya?”


“Apa kau percaya pada takdir?”

__ADS_1


“Eh?” Yogi memiringkan wajah, tak paham kenapa malaikat tersebut menanyakan sesuatu seperti itu. “Kenapa  menanyakan itu?”


“Apa kau percaya pada takdir?” malaikat tersebut mengulangi. Mungkin serius dengan pertanyaan aneh tersebut.


“Em ..., aku ..., entahlah.” Yogi menggeleng dan melanjutkan, “aku merasa bahwa itu bukan sesuatu yang bisa kujawab. Lalu bagaimana denganmu?”


“Aku percaya padanya. Coba pikirkanlah! Kita berdua tak memiliki alasan untuk datang lebih awal, tetapi kita tetap berangkat. Karena hal sederhana tersebut, kita bisa berbincang saat ini. Jika itu bukan takdir, lalu disebut apa?”


“Emmm ..., kebetulan?” Yogi mengangkat ke dua bahu ketika memberikan jawaban.


“Ahahaha...,” tawa pun meledak, memenuhi seisi kelas, menyebabkan Yogi merasa kesal.


“Jangan menertawakanku! Aku tidak memiliki jawaban lain di otak.” Yogi menggembungkan pipi, memasang wajah kesal. “Lagipula, kenapa kau menanyakan sesuatu seperti itu?”


“Karena aku percaya bahwa takdir akan menghubungkan kita,” jawab malaikat tersebut sambil mengusap air mata.


“Eh?” Yogi terdiam. Otaknya berputar, mencoba mencerna apa yang baru saja menyengat dada. Namun, berapa kali pun dia memikirkan itu, dia tetap mendapatkan jawaban yang sama. “Kau ..., men ...―”


“Aku menyukaimu,” malaikat tersebut menopang dagu, memiringkan wajah sambil tersenyum padanya.


“Ah, itu ...,” pikirannya kososng. Dia tak bisa melakukan apa pun. Jika dia adalah komputer, kata ‘eror’ pasti sudah bermunculan, memenuhi monitor.


“Apa kau tidak menyukaiku?”


“Aku menyukaimu, sejak pandangan pertama!” tanpa sadar, Yogi meneriakkan itu. Kalimatnya menggema, mengisi ruang kelas. Namun, itu juga membuatnya merasa bodoh karena berteriak. Kini dia hanya bisa berharap supaya tak ada yang mendengar teriakkannya.


“Aku juga.” Gadis itu bangkit, memperpendek jarak wajah di antara mereka.


“Apa yang kau lakukan?” Yogi menarik diri, tetapi malaikat tersebut justru menarik dasinya. Pada akhirnya, dia tak lagi bergerak hingga mata saling menatap.


Ketika napas malaikat tersebut menyentuh wajahnya, hanya tersisa satu milimeter jarak antara bibir mereka. Saat, itu pula kereta api melintas.


Dooong! Yogi terperanjak, melompat keluar dan terjatuh. Punggungnya menumbuk lantai. Rasa nyeri dan menusuk pun menyebar dari punggung, membuatnya segera membuka mata, mencari tahu keadaan malaikat tersebut.


Dia membuka mata, tetapi dia justru menemukan langit-langit kamarnya.


“Aku lupa mengganti alarm itu,” gumamnya, “mimpi sialan.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2