Bride

Bride
Bab 2 ~Di Tempat Yang Sama~


__ADS_3

Bab 2 ~Di Tempat Yang Sama~


-Selalu ada makna di tiap pertemuan. Kau akan mengubah hidup mereka atau hidupmu akan berubah karena mereka-


-unknown-


Di kelas yang ramai tersebut, semua orang saling bercakap dan bergurau; bermain, bahkan ada yang saling mengejar. Suara mereka saling menyahut, bergantian, satu sama lain. Semua itu membuat kelas tampak seperti pasar tradisional.


Di tengah semua itu, di sudut kelas bagian belakang, dua orang tengah sibuk berdiam diri. Mereka baru sampai di kelas, beberapa menit lalu.


Ketika yang lain sibuk mencari teman baru, mereka justru mematung di sudut. Kebisingan menusuk telinga, mendorong Rizki untuk mengeluarkan buku dan menenggelamkan kesadaran pada buku tersebut. Mungkin tak ingin mendengar segala ocehan tak berguna dari teman sekelas.


Rizki memiliki hobi membaca novel. Namun, bukan telenovela yang dia baca. Dia lebih tertarik pada kisah fantasi yang dapat membawanya berpetualang. Kisah yang bisa menyeret ke dalam dunia penuh imajinasi. Tempat di mana pikiran bisa melayang terbang, tanpa batas.


Di sisi lain, Yogi yang duduk di samping Rizki pun memangku dagu. Ke dua matanya fokus ke depan, tetapi tak menatap apa pun. Pikiranya kosong. Tidak, kurang tepat jika disebut kosong karena seorang gadis tengah tersenyum di pikirannya.


Helaian rambut legam yang melambai diterpa angin. Garis lengkung di bibir yang menawan serta iris cokelat yang menusuk dada. Rasa hangat di dadanya masih belum lenyap. Rasa itu justru merata ke sekujur tubuh, memberikan rasa nyaman. Akibatnya, dia tak ingin bergerak, sedikit pun, karena rasa itu bisa lenyap jika dia terlalu fokus pada hal lain.


Apa yang dia sesali adalah karena tak menanyakan nama gadis itu. Mungkin dia bisa berbincang dengan gadis itu, jika dia berani mengajak gadis itu berkenalan. Namun,  entah kenapa itu tak muncul di pikirannya, tadi.


Dia hanya mematung, terpukau akan kecantikan dan rasa yang menyembur dari jantungnya. Ketika mengingat itu kembali, dia merasa seperti orang bodoh. Namun, percuma menyesali semua itu. Apa yang bisa dia lakukan hanya menunggu kesempatan lain. Itu pun, jika ada kesempatan lainnya.


“Hentikan itu!” suara Rizki masuk ke telinganya. Tak lama kemudian tepukan di pundak membuyarkan perhatiannya, membuatnya berpaling pada Rizki.


“Ha?” tanyanya sambil membuat wajah bodoh.


“Kau membuat wajah bodoh sejak tadi. Memangnya apa yang terjadi?” Yogi tak menyadari itu. Dia pikir, dia memasang raut seperti biasanya. Namun, sepertinya itu tidak biasa bagi beberapa orang.


“Ahahaha ...,” Yogi tertawa kecut sambil menggaruk kepala belakang, “maaf.”


“Kenapa kau meminta maaf?” tanya Rizki sambil menutup buku tebal. “Kau tidak melakukan kesalahan. Aku hanya ingin tahu kenapa kau membuat wajah bodoh seperti itu.”


“Ah,tidak ada apa-apa, ”jawab Yogi sambil menggaruk pipi.


“Aku tahu kau berbohong. Sebaiknya kau menceritakannya padaku,” saran Rizki.

__ADS_1


“Ah, tentang itu ...,” Yogi berpaling sambil tersenyum masam. Jari telunjuknya masih menggaruk pipi. Ke dua alisnya terangkat, tanda ragu. Dia berpikir untuk menceritakan gadis itu atau tidak. Dia sedikit khawatir jika Rizki justru akan mengejeknya karena hal sepele. Namun, dia juga tak bisa menyimpan rasa itu sendirian.


“Kau mau menceritakannya atau tidak?” tanya Rizki memastikan.


“Ummm ..., baiklah.” Yogi menatap Rizki. “Sebenarnya aku bertemu dengan seorang gadis tadi. Tidak, itu tidak bisa dibilang bertemu. Mungkin lebih tepat jika dibilang bahwa kami bertatap mata,” Yogi mulai membuka mulut.


“Hooo ...,”gumam Rizki, “lalu?”


“Kami hanya bertatap selama beberapa detik, tetapi senyum dan wajahnya tak bisa hilang dari pikiranku. Sampai sekarang pun masih ada di kepala,” Yogi mengutarakan semua yang mengganjal pikiran. Namun, dia tak sadar bahwa pipinya merona.


“Heh ....” Rizki menyeringai, “Jadi, akhirnya kau jatuh cinta pada seorang gadis?”


“Jatuh cinta?” Yogi memiringkan wajah.


“Ah, aku lupa bahwa ini adalah pertama kalinya kau jatuh cinta.” Rizki memutuskan untuk memasukkan buku, novel, ke laci meja.


“Eh?”


“Apa dadamu terasa nyaman ketika memikirkan gadis itu?” Rizki bertanya; Yogi mengangguk. “Nyaman, tetapi juga terasa sesak? Kau tidak bisa berhenti memikirkannya? Kau penasaran tentang segala hal tentang gadis itu? Kau ingin dekat dengan gadis itu?” Yogi mengangguk di setiap pertanyaan Rizki, membuat Rizki tersenyum tenang. “Itu berarti, kau sedang jatuh cinta padanya.”


Jika Yogi mengingatnya kembali, Rizki sudah memiliki kekasih, Kak. Yuutha yang dua tahun lebih tua. Dia tahu bahwa Kak. Yuutha, dulu, dikenal sebagai gadis yang sulit di dekati. Selain karena Kak. Yuutha memiliki kemampuan bela diri, Kak Yuutha juga tak suka didekati lawan jenis. Namun, entah bagaimana caranya Rizki bisa mendapatkan hati gadis itu. Semua itu membuat Yogi percaya bahwa Rizki bisa membantunya.


“Rizki, kau bisa membantuku?” tanya Yogi pada Rizki.


“Aku hanya akan memberikan arahan saja. Sisanya harus kau lakukan sendiri,” Rizki memangku dagu sambil menatap Yogi.


“Aku mengerti.” Yogi mengangguk.


“Lalu, siapa nama gadis yang bisa mencuri perhatianmu ini?” Rizki kembali melempar pertanyaan.


“Ah, sebenarnya aku tidak tahu siapa namanya,” jawab Yogi sambil tersenyum masam.


“Jadi kalian hanya bertatap muka?”


“Begitulah.”

__ADS_1


“Lalu, kau pasti mengingat ciri-cirinya, kan?”


“Dia ..., memiliki rambut panjang. Matanya cokelat, bening. Kulitnya cerah. Dia sedikit lebih pendek, dariku. Tubuhnya termasuk langsing.” Yogi mencoba mengingat semua tentang gadis itu.


“Maksudmu gadis itu?” Yogi menatap salah satu tangan Rizki yang menunjuk ke muka kelas. Ketika Yogi mengikuti arah yang ditunjuk, dia menemukan sosok gadis yang menaungi pikirannya. Gadis yang membuat pikirannya kalut marut.


Helaian hitam yang melambai di hadapan pintu kelas. Kulit sehangat sinar mentari. Senyum yang menusuk dada. Pemandangan sederhana tersebut dipotret dan disimpan di penyimpanan spesial, di otaknya.


Rasa hangat kembali dipompa jantungnya, menyebar ke seluruh tubuh. Dadanya berdegup kencang, seakan hendak keluar dari dada dan mendekati gadis itu.


Dia penasaran, apa gadis itu memiliki orang yang spesial? Apa gadis itu jatuh cinta pada seseorang? Apa gadis itu mau berkenalan dengannya? Apa gadis itu mau menerima cintanya?


“Hoi!” Lambaian tangan membuat perhatiannya pecah. Ketika dia berpaling, dia mendapati Rizki menyeringai, membuat wajah yang tak enak dilihat.


“Ya?” tanyanya pada Rizki.


“Sepertinya tebakanku benar. Dia gadis yang kau sukai, kan?” tanya Rizki sambil menunjuk seorang gadis di muka kelas.


“Y-ya, dia gadis itu. Tunggu! Apa itu berarti dia sekelas dengan kita?” Yogi berpaling pada gadis itu dengan cepat.


“Entahlah,” jawab Rizki sambil mengangkat bahu.


Kringg!


Ketika bel berbunyi, seorang guru memasuki kelas. Setiap murid pun semburat dan menuju ke kursi masing-masing. Mata Yogi masih mengikuti gadis itu. Ketika gadis itu duduk di salah satu kursi, Yogi tersenyum lebar.


Jantungnya berdentum lebih kencang hingga dia bisa mendengar tiap dentuman. Tangannya meraih Rizki dan menggoyangkan tubuh rekannya itu.


“Dia sekelas dengan kita. Dia sekelas dengan kita,” ucapnya berulang kali sambil terus menggoyangkan tubuh Rizki.


“Berhenti menggoyangkan tubuhku!”


“Maaf.” Yogi menarik tangan dan memfokuskan perhatiannya pada gadis itu. Dia mungkin tak sadar bahwa dia sudah memasang sebuah senyum di bibirnya.


“Sepertinya akan terjadi hal menarik di sini, nantinya,” gumam Rizki.

__ADS_1


__ADS_2