Bride

Bride
Bab 52 ~Monster~


__ADS_3

Bab 52 ~Monster~


“Monster tidak dilahirkan. Mereka diciptakan.”


-Unknown-


 


 


Selama lima belas tahun hidupnya, Yogi tak pernah menjalin hubungan romantis dengan gadis mana pun. Jangankan menjalin hubungan, dia pun baru merasakan indahnya jatuh cinta ketika menginjak kelas sembilan SMP.


Karena tak memiliki pengalaman yang mendukung, dia polos seperti bayi yang tidak mengetahui apa pun. Karena itu, dia mengandalkan bantuan Rizki untuk mendapatkan hati gadis itu, Renata.


Sepanjang hidup pun, dia tak pernah begitu dekat dengan seorang gadis. Dia hanya berteman dan sekedar membicarakan beberapa hal. Lia adalah satu-satunya gadis yang berhasil memasuki zona nyamannya, selain adiknya. Dia pun tak keberatan karena pribadi Lia yang seperti anak kecil. Namun, kini dia menghadapai hal lain di mana dia tidak bisa mengandalkan bantuan sahabatnya.


Rizki adalah seorang laki-laki dingin yang tak begitu memperhatikan sekitar. Namun, ketika laki-laki itu menerima seseorang, laki-laki itu bisa menjadi senjata yang bisa membantu di segala kesulitan. Itu karena Rizki memiliki otak encer dan berpengetahuan luas. Karena itu, Yogi menganggap bahwa tak ada yang takbisa diselesaikan oleh Rizki.


Rizki pun memiliki seorang kekasih yang dua tahun lebih tua darinya. Seorang gadis bermata tajam, menusuk, yang merupakan mantan kakak kelas. Sebuah julukan “Kembang Es” terpatri di belakang nama “Yuutha.” Akibatnya, tak seorang pun lelaki yang berhasil mencuri hati gadis itu,kecuali Rizki.


Kini gadis itu, Yuutha, duduk di hadapan Yogi, menatap dengan pipi merona dan mata berbinar, merefleksikan sinar mentari padanya. Kulit sepucat salju dan mata cokelat yang menusuk dada. Jantungnya berpacu dengan waktu, mempercepat sirkulasi darah dan mengumpulkan tiap sel di wajah. Pikiran melayang, dia tak tahu bagaimana menjawab pernyataan cinta tersebut.


Kak. Yuutha berpaling darinya, menyembunyikan wajah yang kini terbakar layaknya bara api.


“Ha?” akhirnya Yogi mengeluarkan suara, tetapi dia yakin bahwa itu bukan jawaban yang dinanti Kak. Yuutha.


“Apa kau tidak mendengarkanku?” Pipir Kak. Yuutha menggembung, melunturkan raut cantik, tetapi menambah kesan manis. “A ..., aku menyukaimu.”


“T-*-*-*-t-t-tapi ..., b-bu-bukankah Kak. Yuutha sudah punya Rizki?” Yogi mundur hingga punggungnya menyentuh pinggiran kursi taman.


“Itu ..., kita bisa merahasiakan hubungan kita.” Kak. Yuutha semakin tertunduk. Sisi wajah gadis itu tertutupi rambut yang menunjuk tanah, tetapi telinga gadis itu tenggelam dalam warna merah.


“B-bukankah Kak. Yuutha tahu kalau aku menyukai Renata?” Yogi pun ikut berpaling, serangan wajah Kak. Yuutha tak baik untuk hatinya. Jika dia terus menatap Kak. Yuutha, bunga yang ada di hatinya bisa berubah menjadi bunga yang lain.


“Begitu ...,” hening, Kak. Yuutha tak lagi mengeluarkan suara setelah menjawabnya.


Dadanya terasa sesak. Dia tak mengira bahwa tiba saat di mana dia akan menolak seorang gadis yang menyukainya. Dia ingin tahu apakah dia mengambil tindakan yang tepat. Setelah semuanya, Kak. Yuutha adalah milik Rizki dan Kak. Yuutha sadar akan hal itu. Kak. Yuutha pun paham akan hal itu.

__ADS_1


Saat berbagai pertanyaan muncul dan beradu dalam kepala, Yogi hanya dapat memikirkan satu pertanyaan yang bisa dia lempar untuk mencairkan suasana.


“S-sejak kapan?” tanya Yogi.


“Sejak kita berdua di mal. Sejak saat itu, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan bermain dengan Rizki, tetapi kau tak mau hilang dari kepalaku. Karena itu, aku mengajakmu hari ini. Aku ingin mendapat kepastiannya.”


“Aku ..., minta maaf. Aku tak bisa menerima Kakak,” jawab Yogi.


“Aku mengerti.” Kak. Yuutha berpaling pada Yogi, menunjukkan wajah sayu, tetapi dengan senyum sehangat mentari. “Setidaknya biarkan aku melakukan ini.” Kak. Yuutha mendekati Yogi, mendorong bibir tipis tersebut menemui bibir Yogi.


“Kak? Tidak! Tunggu!”


“Pffftt ....”


“Eh?”


Tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, Yogi mendengar suara aneh. Bukan dari rasa gugup yang menyelimutinya, tetapi dari Kak. Yuutha yang berada tepat di hadapannya.


“Ahahaha ....” Kak. Yuutha menarik tubuh sambil melepas tawa, mengakibatkan Yogi memasang wajah bodoh dengan senyum bodoh.


“Apa?” Yogi memiringkan wajah, menatap Kak. Yuutha yang terus terbahak.


“Maaf-maaf, aku tak menyangka bahwa kau akan memercayai ucapanku, haha ....”


“Jadi ..., Kakak hanya mengerjaiku?”


“Maaf, sangat menyenangkan untuk menggodamu.” Kak. Yuutha menarik napas panjang setelah menjawabnya.


Seharusnya Yogi menyadari hal itu. Rizki selalu bercerita tentang Kak. Yuutha. Dari semua cerita yang dia dengar, dia tak pernah mendengar satu hal pun yang mencurigakan. Apa yang mencurigakan tentu ketika Kak. Yuutha menyatakan perasaan padanya.


Jika Yogi meninjau dari ucapan Kak. Yuutha, Kak. Yuutha sudah jatuh cinta padanya sejak berdua di mal. Kejadian itu hampir satu tahun lalu. Selama itu berlangsung, Kak. Yuutha tak pernah menghubunginya, sekali pun, meski memiliki nomor kontaknya. Jika Kak. Yuutha benar menyukainya, seharusnya gadis itu sudah melakukannya paling lambat beberapa bulan setelah kejadian itu.


“Haaa ...,” Yogi menghela napas. Dia merasa seperti menari di telapak tangan seorang penjahat.


“Apa aku terlalu keterlaluan? Aku minta maaf,” ucap Kak. Yuutha.


“Lalu ..., aku tidak yakin bahwa Kak. Yuutha menyuruhku kemari hanya untuk mengerjaiku. Apa ada sesuatu yang penting?”

__ADS_1


“Ah, kau jadi terlalu serius. Aku minta maaf,” ucap Kak. Yuutha sambil menyatukan dua tangan.


“Ya, lupakan saja! Aku tidak terlalu marah. Apa yang ingin kuketahui adalah kenapa Kak. Yuutha memanggilku kemari.” Yogi masih kesal sebenarnya, tetapi dia memilih untuk menyembunyikannya dan fokus pada topik utama. Setelah semuanya, dia tahu bahwa Kak. Yuutha pasti memiliki alasan untuk menyuruhnya datang ke taman. Namun, dia tetap tak menyukai cara Kak. Yuutha mengerjainya.


“Jadi ..., aku memanggilmu kemari hanya untuk satu tujuan.” Kak. Yuutha bersandar pada kursi, menatap langit yang masih terselimuti warna putih.


“Dan apa tujuan itu?”


Kak. Yuutha menarik punggung dari sandaran. Mata tajam tersebut berpaling pada Yogi. Namun, mata itu tak lagi terlihat seperti silet. Sepasang mata tersebut tampak sayu dalam penglihatannya. Namun, juga terasa hangat.


“Terima kasih?”


“Eh?”


“Aku berpacaran dengan Rizki sejak kalian masih duduk di bangku kelas satu SMP. Selama tiga tahun itu, aku merasakan banyak perubahan padanya. Aura yang dia keluarkan tak lagi terasa dingin, kini terasa hangat ketika berada di dekatnya dan semua itu berkatmu. Saat aku bersama dengannya, tak jarang dia menyinggung namamu. Tanpa dia sadari, kau sudah menjadi salah satu orang penting dalam hatinya. Di sisi lain, kau juga akan tetap bersamanya di masa SMA. Karena itu, aku berterima kasih padamu.”


“Lupakan itu!” Yogi berpaling, tersenyum tipis pada kekosongan. “Aku hanya ingin seorang teman saat itu.”


“Yah, meski begitu ..., aku tak menyangka bahwa dua monster bisa menjadi rekan ....” Kak. Yuutha bangkit dan menatapnya dengan hangat. “Namun, itu bukan hal buruk menurutku. Hanya saja, aku tak mengerti berapa banyak monster yang akan kalian temui di SMA nanti. Karena itu, berhati-hatilah karena masa SMA akan berbeda dengan SMP.”


“Kurasa tak akan yang perlu ditakuti, mengingat ada tiga ekor monster di pihak kita.”


“Mungkin seperti itu, tetapi aku ingin kau berhati-hati saja karena monster tidak dilahirkan ....”


“Mereka diciptakan. Aku paham karena aku adalah salah satunya.” Wajah Yogi tenggelam semakin dalam, terembunyi dalam bayangan.


“Yah, aku hanya ingin mengatakan semua. Karena kau adalah yang terburuk di antara kita bertiga.” Kak. Yuutha mengelus, lembut, rambutnya. “Sampai jumpa di SMA. Aku menunggu kedatanganmu.”


“Terima kasih.”


 



Halo semuanya, ada yang kangen sama aku? Pasti cuma dikit, but it's okay.


Jadi, aku meminta maaf sebesar-besarnya karena seminggu terakhir aku ga update sama sekali. Yah, aku terlalu sibuk sama kerjaan di dunia nyata. Jadi, ga sempet sentuh notebook sama sekali. Tapi akhirnya aku bisa up.

__ADS_1


BTW, sebentar lagi BRIDE akan memasuki masa SMA. Kalian sudah siap?


__ADS_2