Bride

Bride
Bab 40 ~Berdua~


__ADS_3

Bab 40 ~Berdua~


“Dari semua masa hidupku, hanya saat bersamamu yang terasa nyata.”


-Vincent Volaju / Cowboy Bebop : The Movie-


 


 


Di bawah pohon, Yogi berdiri, menanti pujaan hati yang belum menampakkan diri. Sejak tadi, dia tak bergerak meski rasa gatal sudah menemani.


Tak pernah tersirat pikiran bahwa dia akan jalan-jalan, berdua, dengan Renata. Sampai kemarin, itu hanya sebuah angan, tak lebih dari halusinasi yang bernaung dalam pikiran. Namun, kini dia menanti Renata yang belum tiba.


Kemarin, Renata mengajaknya ke taman bermain. Yogi sebenarnya hendak menolak, tetapi mulut justru mengucap kata yang salah. Sebelum menyadarinya, Renata sudah tersenyum dan memberikan tempat dan waktu bertemu. Akhirnya dia tak bisa menghindari kebodohan yang dia buat.


Dia juga ingin menanyakan kenapa Renata mengajaknya. Namun, dia tak sempat menanyakan itu. Pada akhirnya, pertanyaan itu masih terngiang di kepala dan menunggu untuk dilepaskan. Akan tetapi, dia tak yakin bahwa pertanyaan itu akan terungkap.


“Haaa ....” Yogi menghela napas panjang. Dari saku celana, dia menarik ponsel dan menekan salah satu tombolnya. Layar ponsel pun menunjukkan pukul 9.43 pagi. Renata berkata untuk tiba sebelum pukul sepuluh yang artinya masih ada beberapa menit sebelum Renata terlambat.


Benar bahwa Yogi ingin menolak ajakan Renata. Namun, dia bahkan kesulitan tidur karena menanti hari esok. Semalam, jantungnya tak bisa tenang. Jantungnya seperti genderang perang yang terus ditabuh hingga fajar menjelang. Dia tenggelam dalam rasa senang. Pikiran pun melayang ketika memikirkan Renata.


Tanpa menyadarinya,Yogi telah menampilkan senyum di bibir.


“Ibu, Kakak itu kenapa?” seorang anak kecil menunjuk padanya.


“Hiraukan Kakak itu!” jawab ibu anak itu. Dua orang itu lantas meninggalkannya dalam keheningan.


Yogi berpaling ke arah lain, menggaruk kepala belakang yang sejak tadi meminta digaruk. Benaknya sudah menjalankan jutaan simulai ketika mulai jalan-jalan dengan Renata. Mungkin mereka akan berada di perahu yang sama, mengayuh pedal ke tengah kolam sembari bergurau. Mungkin pula mereka memberi makan monyet yang berkeliaran. Mereka juga bisa naik boom car, atau sekedar berjalan-jalan di taman. Namun, Yogi pun membawa baju ganti jika Renata ingin berenang.


Tak memedulikan apa pun lagi. Yogi membawa semua uang saku yang sempat dia simpan selama dua minggu terakhir. Namun, untuk berjaga-jaga, dia juga membawa beberapa uang tabungan. Setelah semuanya, dia tak tahu berapa banyak biaya yang akan keluar nanti.


Setidaknya dia tahu bahwa porsi makan Renata normal. Tidak seperti Lia yang bisa menghabiskan empat piring nasi.


“Tunggu!” Yogi mengangkat wajah.


Otaknya mulai berputar dan memikirkan kembali sifat Renata. Ada waktu di mana Renata begitu memedulikan Lia, bahkan Renata sering membicarakan Lia ketika berdua dengannya. Lalu Lia adalah orang yang suka bermain, seperti anak kecil.


Renata mengajaknya ke taman bermain. Taman bermain adalah tempat bermain. Anak kecil suka bermain. Lia seperti anak kecil.

__ADS_1


“Astaga.” Yogi mengusap wajah.


Kemungkinan besar, Renata juga mengajak Lia dan Rizki. Jika mengingat fakta bahwa Renata menempel pada Lia, itu akan masuk akal. Setelah semuanya, tak mungkin gadis itu hanya mengajaknya. Renata tak memiliki alasan untuk melakukan itu.


“Haaa ....” Entah berapa kali dia menghela napas. Namun, dia yakin bahwa itu sudah terjadi berulang kali. Cukup untuk membuatnya lelah, bahkan sebelum memulai acara.


Ponsel kembali memasuki saku celana, sedangkan perhatiannya difokuskan pada mentari yang mengintip dari balik dedaunan. Berkah mentari membelai permukaan wajahnya, memberi rasa hangat yang menenangkan. Ketika angin bertiup membawa debu ke mata, rambutnya melambai ke atas, ke bawah, bergantian. Dia berpaling, menutup mata demi menghindari debu yang hendak hinggap.


“Anginnya cukup kencang, ya,” terdengar suara seorang gadis di dekatnya.


Ketika embusan angin mereda, Yogi membuka mata. Renata telah berdiri di sisinya. Gadis itu mengenakan kaus putih yang dibalut jaket jeans. Celana pensil menutupi kaki jenjang dan sepatu putih sebagai alas kaki. Di bahu Renata, dia bisa melihat sebuah tas selempang yang menggantung.


“Pagi, Yogi,” sapa Renata.


“Pagi, Renata,” balasnya, “tas itu terlihat berat,” lanjutnya sambil menatap tas Renata.


“Ah, ini? Tidak juga. Ini cukup ringan sebenarnya,” balas Renata sambil mengangkat tas tersebut.


Pelan, Yogi mengulurkan tangan pada gadis itu. Sambil tersenyum, dia berkata, “Biar kubawa.”


“Tidak, terima kasih. Aku bisa membawanya.” Renata melambai padanya.


“Tapi ...―”


“Renata,” Yogi menyebut nama gadis itu.


“Baiklah, aku menyerah,” jawab Renata sembari menyerahkan tas tersebut pada Yogi.


Ketika tas tersebut di tangan Yogi, Yogi menimang beratnya.


“Ini cukup berat sebenarnya,” ucap Yogi setelah memperkirakan berat tas tersebut, “apa isinya?”


“Kau benar-benar menanyakan barang bawaan seorang gadis?” Renata memiringkan wajah, menyeringai pada Yogi yang baru sadar akan pertanyaan yang diajukan.


“Ah, maaf. Aku tak sadar menanyakan hal bodoh,” balasnya.


“Yah, tidak apa. Ngomong-ngomong aku bisa melihat bahwa kau juga membawa tas ransel. Apa isinya?” Renata mengintip pada tas ransel yang digendong Yogi. Perhatian Yogi pun sempat mengikuti Renata, tetapi segera berpaling dan menatap gadis itu kembali.


“Kau benar-benar ingin mengetahuinya? Atau kau hanya ingin mengetahuinya?”

__ADS_1


“Oh, jangan mengulangi pertanyaanmu dua kali!”


“Ahahaha ....” Yogi tertawa kecil.


“Apa kau sudah lama menunggu?” Renata melempar pertanyaan lain.


“Tidak juga. Aku sampai di sini beberapa menit lalu.” Yogi mulai menggendong tas milik Renata dan mencari posisi yang dirasa nyaman. Kini dia terlihat seperti pembawa barang karena membawa dua tas. Namun, dia tak peduli.


“Syukurlah. Aku sempat mengingat saat Kak. Yuutha bersama kita, waktu itu. Jadi, aku berpikir kau datang lebih pagi.” Renata tersenyum kecut.


“Eeeeh ..., itu bukan salahku. Itu karena kalian datang terlambat, kan?”


“Oh, jangan membuatku mengingatnya! Itu menjengkelkan.” Renata melambai, menyembunyikan wajah.


“Dasar,” balas Yogi.


Yogi mulai menyebar perhatian ke sekitar. Namun, dia tak menemukan sosok Lia mau pun Rizki. Itu membuatnya bertanya-tanya, apakah dua orang itu terlambat lagi?


Kalau Kak. Yuutha ada di sisinya, mungkin Kak. Yuutha sudah menelpon Rizki berulang kali dan membentak laki-laki itu. Ketika Lia dan Rizki tiba, mereka akan mendapat ceramah. Mungkin akan berakhir dengan Lia hampir pingsan lagi. Namun, dia cukup yakin bahwa Renata tak mengajak Kak. Yuutha.


“Baiklah, ayo!” Renata beranjak dari sisinya.


“Eh?” Yogi mengeluarkan suara aneh.


“Kenapa? Apa ada yang salah?” Renata menghentikan langkah, kembali menatap Yogi yang masih mematung di bawah pohon.


“Emmm ..., bagaimana dengan Lia dan Rizki?” tanya Yogi.


“Aku tidak mengajak mereka. Bukankah kemarin sudah kubilang bahwa kau akan menemaniku? Itu artinya hanya ada kita berdua saat ini.”


“Ha?”


“Ayo!” Renata berbalik dan memimpin jalan.


“O-oke,” jawab Yogi sambil mengekor.


 


 

__ADS_1


__ADS_2