
Bab 28 ~Kecelakaan~
“Bisakah kau membedakan antara cinta dan efek jembatan gantung?”
-Mayn Urr Izqi-
Hening. Apa yang terdengar di telinga hanya dentuman jantung sendiri. Akalnya memutih, tak bisa menarik kata hati, meski ingin memiliki. Bibir merapat, tak mampu memberikan pendapat. Tubuh mengigil, bukan karena kedinginan, melainkan karena tak tahan akan rasa yang berkecamuk dalam pikiran.
Pelan, Yogi berpaling, mengintip Renata yang membisu di sisinya. Gadis itu menatap arah lain, menyembunyikan wajah.
Yogi tak tahu apa yang dipikiran Renata. Dia hanya berharap supaya Renata tidak berpikir bahwa dia membosankan, karena membuat suasana canggung.
Yogi menarik perhatiannya kembali, menatap pintu kamar yang terbuka lebar. Dia menatap kekosongan, memikirkan keadaan dua rekannya yang masih belum menunjukkan batang hidung.
Dua orang itu mungkin sudah selesai membeli bahan untuk mading. Mungkin pula sedang menuju rumah Renata. Namun, dia tak tahu kepastiannya. Pikirannya hanya mampu menerka.
Yogi menggeleng, menutup pikiran akan dua rekannya. Dia berpikir bahwa dirinya adalah yang terburuk. Bagaimana mungkin dia memikirkan orang lain, sedangkan Renata masih tenggelam dalam kecanggungan di dekatnya.
Dia perlu sesuatu untuk mencairkan suasana, tetapi gigi pikirannya macet. Tak satu pun topik timbul dalam benak. Dia ingin berbincang, tenggelam dalam kasih sayang, tetapi mulut tak dapat menyerang.
“Yogi ....” ketika suara lembut tersebut membelai daun telinga, Yogi mengangkat wajah. Perhatiannya berpindah, menatap Renata yang kini membalas tatapannya. Dua alis itu terangkat, bibir melengkung, bermata sayu, dan menyorot, lembut, dadanya.
Tersenyum bagaikan bunga Akasia yang mekar di puncak pohon, memberikan warna yang memanjakan mata.
“Y-ya?” Yogi membisu untuk beberapa detik, tetapi segera bangun dan menjawab Renata.
“Emmm ....” Renata berpaling darinya, mungkin mencoba memikirkan sesuatu untuk diperbincangkan, membuat Yogi terlihat bodoh karena membiarkan seorang gadis melakukan itu. “Bukankah kau ingin memasuki SMA N 6?”
“Y-ya, itu benar.”
“Kau harus belajar giat. Supaya kita ..., ber ..., empat bisa tetap bersama,” ucap Renata.
“Benar. Nilaiku selalu sedikit di atas rata-rata. Namun, kurasa kalimat itu lebih ditujukan pada Lia.”
“Ah ....” Senyum Renata melebar, mengakibatkan jantungnya berdentum keras untuk sekali. Namun, rasanya menyakitkan. “Kau benar,” lanjut Renata sambil tertawa kecil.
Sadar akan tawa gadis itu, Yogi pun ikut tertawa. Sekedar menemani gadis itu tersenyum.
“Ngomong-ngomong kenapa mereka lama sekali? Aku penasaran di mana mereka sekarang.” Yogi menatap keluar jendela. Renata pun mengikutinya, menatap langit, berawan, yang sama, merasakan embusan angin yang mengelus wajah.
“Ngomong-ngomong aku akan mengambil peralatan,” Renata bangkit, menuju ke pintu keluar.
“Ah, akan kubantu.” Yogi segera bangkit, mengikuti Renata yang masih berada di ambang pintu.
__ADS_1
“Ah, tidak usah. Kau bisa beristirahat saja.” Renata berbalik, menahannya supaya tetap berada di kamar. Namun, dia tak ingin berdiam diri, sementara seorang gadis sedang mengangkat barang-barang.
“Tidak. Aku tidak bisa hanya berdiam diri ketika kau melakukan semuanya sendirian,” jawab Yogi sambil mendekati Renata. Dia berdiri tegak, tersenyum pada gadis itu.
Untuk sejenak, Renata menghela napas, tersenyum lembut padanya kemudian. Setelah itu, Renata berkata, “Baiklah, ikuti aku!” Renata berbalik dan mulai angkat kaki dari kamar.
“Siap!” jawab Yogi sambil mengekor pada Renata.
Mereka menyusuri lorong, menuruni anak tangga dan kembali pada ruang tamu. Perhatian Yogi menyebar, berpindah dari satu titik ke titik lain dengan cepat. Tembok rumah Renata berhiaskan foto keluarga dan lukisan, yang tampak mahal. Mungkin harganya berkisar jutaan, karena lukisan indah tak mungkin berada di kisaran ratusan ribu.
Dia juga mendapati beberapa vas bunga dengan berbagai ukuran. Sepertinya terbuat dari keramik karena bisa memantulkan sinar dengan sempurna. Motif yang terukir dalam vas-vas pun tampak elegan dengan warna yang memanjakan mata. Mungkin Yogi memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membeli satu vas semacam itu. Itu pun jika uangnya belum habis karena digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Perhatian Yogi berpindah, menatap punggung Renata yang berbalut kaus putih. Pelan, perhatiannya turun berpindah pada pantat Renata yang seakan melambai padanya. Bukan bermaksud mesum, tetapi lehernya tak dapat diputar, membuatnya tak dapat berpaling. Ya, itu alasannya.
“Emm ...,menurutmu ..., bagaimana rumah ini?”
“....”
“Yogi?”
“Ah? Ya?” Yogi mengangkat wajah ketika dua bukit lemak tersebut berbalik, digantikan perut yang terbalut kain putih. Perhatiannya memanjat, menatap wajah Renata.
“Kau melamun lagi?”
“Ah, maaf. Aku tidak berkonsentrasi,” Yogi menggeleng, merasa bersalah karena tak mencermati Renata. Namun, juga merasa beruntung karena Renata yang menyadari ke mana matanya, tadi.
Sebenarnya dia baik-baik saja, tetapi ketika dahinya mendapat belaian lembut dari Renata, jantungnya bekerja lima kali lebih cepat, memompa darah lebih banyak ke otak, membuatnya berharap supaya wajahnya tidak terbakar. Dia ingin menjauh, membuat jarak supaya bisa menenangkan diri. Namun, dia juga tak ingin kehilangan kehangatan tangan Renata.
“A-aku ..., baik-baik saja,” ucapnya tergagap.
Ketika dia selesai mengatakan itu, Renata membuka mata lebih lebar. Gadis itu segera menarik diri, membuat jarak, dan berpaling darinya.
“Emm ..., maaf,” ucap Renata.
“Jangan dipikirkan!” jawabnya, “sebaiknya kita ambil bahan-bahannya.”
“Ah, benar!” jawab Renata sambil berbalik dan mendekati salah satu pintu. Ketika pintu tersebut dibuka, Yogi bisa melihat dapur. Kulkas putih sebesar lemari, meja makan, beberapa alat masak, dan kompor.
Renata memasuki dapur tanpa mengatakan apa pun, sedangkan Yogi mengekor. Ke duanya mengunci bibir. Masih tak bisa memecah kecanggungan.
Renata bergerak ke salah satu nakas, dia membuka nakas tersebut, mengeluarkan beberapa gunting dan lem. Gadis itu menaruh semua itu di atas meja.
“Emmm ..., apa lagi yang kita butuhkan?”
“Emmm ..., kurasa penggaris dan meja lipat. Tidak mungkin kita mengerjakannya di atas kasur,” jawab Yogi sambil memperhatikan sekitarnya. Dia masih tak mampu menatap mata gadis itu.
“Di kamarku ada penggaris. Kurasa kita memerlukan beberapa meja lipat. Aku akan mengambilnya,” Renata berbalik, menuju ke salah satu pintu di dapur.
__ADS_1
“Biar aku yang membawanya!” Yogi mendekat, menghampiri Renata.
“Emm ..., tentu,” jawab Renata sambil membuka pintu tersebut. Gadis itu memasuki ruangan tersebut, sedangkan Yogi mengintip dari luar.
Ruangan itu kecil, berisi berbagai benda yang sepertinya sengaja disimpan karena jarang dipakai. Yogi bahkan mendapati sepeda roda tiga dan joran di sana.
“Bisa kau membawanya?” Renata meraih empat meja lipat, menumpuknya di atas lantai.
“Tentu,” jawab Yogi sambil memasuki ruangan tersebut. Tak berpikir lebih panjang, dia mengangkat semua itu dan keluar terlebih dulu.
“Apa berat?”
“Tidak. Sebenarnya ini cukup ringan.”
“Syukurlah.” Renata menutup pintu, mengambil gunting dan lem, kemudian kembali memimpin jalan.
Mereka melewati ruang tamu, naik ke lantai atas, dan kembali ke kamar Renata. Renata menempatkan gunting dan lem di atas meja belajar, sedangkan Yogi menaruh empat meja lipat di atas lantai.
“Kuarasa itu sudah semuanya,”ucap Renata sambil mendekatinya.
“Ya, sekarang tinggal menunggu mereka,” jawab Yogi.
“Kenapa kau berdiri? Duduklah!” ucap Renata.
“Ah, tentu,” jawab Yogi sambil duduk di kasur.
“Emm ..., kau tahu? Meja belajar ini biasa kugunakan untuk menggambar, dulu. Namun, aku melupakannya ketika aku memasuki SMP.” Renata meraih salah satu meja belajar dan menunjukkan itu padanya.
“Yah, kita mendapat banyak tugas ketika masuk SMP. Jadi, kurasa itu wajar,” jawabnya.
“Kau benar.” Renata meletakkan kembali meja tersebut dan berjalan ke arahnya, tetapi kaki gadis itu terkilir. Gadis itu pun melayang ke arah Yogi, sedangkan Yogi tak sempat berbuat apa pun.
Ketika Yogi membuka mata, dia menemukan Renata berada di hadapannya. Tidak, tetapi berada di atasnya. Gadis itu menindihnya. Mata mereka bertemu. Tak sadar, Yogi menahan napas, membuatnya bisa merasakan napas renata di permukaan kulit wajahnya. Pikirannya menghitam, merasakan kelembutan yang menyelimuti tubuh.
---
Halo semuanya, author menyapa kalian di sini. Hari ini aku menaruh penaku, berterima kasih pada kalian yang selalu membaca dan mendukungku.
Sebenarnya aku tidak tahu apakah Bride adalah cerita yang bagus atau tidak. Ini pertama kalinya aku menulis cerita dengan genre utama romansa. Sebelumnya aku hanya menulis fantasi, tetapi karena tak berhasil, aku mencoba mengikuti pasar. Sekedar keluar dari zona nyaman.
Di sisi lain, aku juga tidak menuliskan banyak adegan romantis. Alasannya sederhana, yaitu karena terlalu banyak rasa manis dan dewasa di platform ini. Jika kalian menulis "Menikah" di kolom pencarian, maka kalian akan menemukan banyak hasil yang terduga. Selain itu, kisah cinta remaja SMA juga terlalu banyak di platform ini. Dengan dasar tersebut, aku memilih Yogi dan Renata yang masih SMP sebagai karakter utama cerita ini. Aku ingin melihat reaksi kalian terhadap remaja SMP yang masih polos dan baru mengenal kata cinta. Bagaimana cara mereka bertindak, bagaimana cara mereka berpikir, dan bagaimana cara mereka menjawab.
Aku juga memiliki rencana tersendiri untuk ke depannya, mengembangkan masing-masing karakter dan hubungan antar karakter yang masih SMP memiliki banyak tantangan tersendiri buatku. Terutama ketika menyadari bahwa mereka bukan anak kecil, tetapi mulai menuju tahap kedewasaan.
Selain Yogi dan Renata sebagai pemegang peran utama. Kita juga memiliki Rizki, si cowok dingin yang cerdas. Karakternya dibuat sedewasa, berbanding terbalik dengan usianya yang masih belasan tahun. Kemudian ada Lia yang bermental lebih rendah daripada usia yang dimiliki, berbanding terbalik dengan sifat Rizki, tetapi bisa bersama ketika menemukan hal yang cocok. Terakhir adalah Yuutha, gadis SMA yang merupakan kekasih Rizki dan dewasa secara fisik mau pun mental.
Apa yang menjadi pendorong utama Bride adalah #happyteen. Yupz, aku sekedar menantang para novel teratas dengan novel sederhana ini. Berani banget aku, ya. Namun, ternyata tidak semudah yang aku kira. Selain aku diwajibkan untuk rajin promosi, aku juga dipaksa untuk menjaga kualitas Bride. Karena itu, aku berterima kasih pada kalian yang sudah menemani hingga Bab 27.
__ADS_1
Ngomong-ngomong kira-kira apa yang akan terjadi pada bab selanjutnya? Apa kalian bisa menebaknya?