Bride

Bride
Bab 47 ~Kerja Keras~


__ADS_3

Bab 47 ~Kerja Keras~


“Sebuah mimpi tidak terwujud melalui sihir, melainkan membutuhkan keringat, tekad, dan kerja keras.”


-Colin Powell-


 


 


Hening. Tak sedikit pun suara yang menusuk telinga. Setiap orang fokus terhadap lembar ujian. Otak berputar dan tangan mengarsir jawaban. Murid kelas tujuh dan delapan diliburkan, sehingga tercipta kondisi yang sempurna untuk mengerjakan ujian akhir, yang menentukan masa depan.


Yogi mengunci lembar soal, sedangkan pikiran mencerna kalimat dan memecahkan masalah yang ada. Ketika Jawaban pertanyaan berhasil dipecahkan, dia segera mengarsir jawaban yang dirasa tepat.


Sesekali suara gesekan kertas memenuhi ruangan. Namun, Yogi tak memedulikan hal itu. Pikirannya sudah tenggelam dalam soal-soal yang tertulis.


Ketika selesai mengarsir,Yogi memutuskan untuk mengecek kembali lembar jawabannya. Dari lima puluh soal, dia telah mengerjakan 38 pertanyaan. Dia berpikir bahwa itu cukup bagus. Namun, dia ingin meninjau kembali pertanyaan yang sudah dia jawab. Dia juga ingin membaca kembali soal yang tak dimengerti.


Dengan melakukan itu, dia bisa menemukan hal-hal yang tak sengaja terlewati. Ketika itu terjadi, dia akan bisa mengerjakan soal-soal tersebut. Jika cara tersebut tak berhasil, dia biasa membuat skema sederhana dan menjawabnya dengan logika.


“Ini adalah yang terakhir. Ayo, semangat!” ucapnya pada diri sendiri.


Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional. Dalam satu hari, dia mengerjakan dua mata pelajaran ujian nasional. Kemarin dia mengerjakan materi Bhs. Indonesia dan Matematika. Untuk Bhs. Indonesia, dia percaya diri dengan setiap jawaban yang dia berikan. Setelah semuanya, nilainya dalam pelajaran Bhs. Indonesia selalu diatas sembilan. Untuk Matematika, dia cukup yakin. Dia merasa membuat beberapa kesalahan minor, tetapi dia tak bisa menemukan kesalahan tersebut ketika meninjau kembali jawaban.


Hari ini dia mengerjakan Bhs. Inggris dan IPA. Jawabannya dalam Bhs. Inggris bisa dipercaya. Dia sering menghabiskan waktu dengan bermain gim berbahasa Inggris. Karena itu, dia percaya diri dengan setiap jawaban.


Hal berbeda dia dapatkan di ujian IPA. Meski dia mengerti sebagian besar pertanyaan, tetapi tetap ada beberapa persoalan yang membuatnya kesulitan. Otaknya mulai kelelahan berputar.Jika otak adalah sebuah mesin, mungkin dia sudah mengalami overheat dan uap mengepul dari kepala.


Sayang sekali karena dia tak mengenal kata menyerah. Karena itu dia mengulas kembali soal yang sempat dilewati dan membacanya kembali dengan teliti.

__ADS_1


Pelan, perhatiannya mengintip rekan sekelas yang lain. Mereka tampak kesulitan mengerjakan soal. Begitu pula dengannya, tetapi mereka tak akan bisa bekerja sama atau menyontek. Itu karena setiap orang mendapatkan paket soal yang berbeda.


Yah, itu merupakan kejutan dari PUSPENDIK dan KEMENDIBUD. Tak ada yang menyangka bahwa mereka akan memberikan soal yang berbeda untuk tiap orang di kelas yang sama. Itu mengurangi angka kecurangan yang terjadi dan tentunya mengurangi nilai yang didapat murid. Namun, Yogi merasa bahwa itu tak berlaku pada beberapa orang.


Yogi memindah perhatian dan kembali mengerjakan. Otak kembali mengolah informasi, menyelesaikan masalah, dan mengirim sinyal pada tangan untuk mengarsir jawaban.


Kring! Bel berbunyi.


Kepala Yogi membentur permukaan meja sambil menghela napas panjang. Entah berapa lama waktu yang terbuang, tetapi dia merasa bahwa itu sangat lama. Dia merasa seperti menghabiskan waktu puluhan tahun untuk satu pertanyaan. Namun, semuanya berakhir.


Kini Yogi bisa bersantai sejenak dan menunggu hasil ujian. Jika dia tak salah ingat, hasil ujian akan diumumkan di internet. Mungkin dia harus pergi ke warnet jika ingin melihat hasilnya. Namun, menunggu hasilnya pun akan lama. Mungkin akan memakan waktu berminggu-minggu.


Mungkin dia akan pergi ke lapangan olahraga terdekat rumah dan bermain basket di sana. Mungkin dia bisa belajar sebagai persiapan jika dia gagal dalam ujian nasional. Yah, bukan berarti dia ingin mengikuti ujian susulan. Dia hanya ingin berjaga-jaga jika dia harus mengikuti ujian masuk SMA, karena tidak bisa masuk melalui jalur prestasi.


“Haaa ....” Sekali lagi, Yogi menghela napas.


“Serahkan lembar jawaban dan lembar soal kalian ke depan!” guru pengawas memberi perintah.


Sementara guru merapikan semua lembaran tersebut, para murid mulai merapikan meja masing-masing. Yogi pun melakukan hal serupa. Ke dua tangannya merapikan meja yang berantakan, memasukkan setiap alat tulis ke kotak pensil. Ketika meja terlihat rapi, dia segera memasukkan kotak pensil dan meja dada ke tas ransel.


“Selamat karena menyelesaikan ujian nasional. Namun, jangan lengah dan berdoalah supaya mendapat hasil yang sesuai dengan kerja keras kalian! Itu saja dari kami, kalian boleh pulang,” ucap guru pengawas.


Setiap orang segera bangkit dan meninggalkan bangku masing-masing. Namun, tak ada yang berteriak atau pun berlari. Yah, itu karena mereka terlalu lelah setelah menghadapi ujian nasional. Yogi sendiri pun merasakan hal itu.


Pelan, dia bangkit dan mengikuti rekan-rekan lainnya. Ketika meninggalkan ruang kelas, lorong sekolah dibanjiri murid kelas sembilan. Setiap orang memasang wajah lelah bahkan ada yang pucat.


“Yogi!” Yogi berpaling ketika seseorang menyebut namanya. Tak jauh dari tempatnya adalah Rizki yang tampak segar.


“Yo, bagaimana ujianmu?” Yogi, Rizki, Lia, dan Renata ditempatkan di kelas yang berbeda. Jadi mereka tak bisa mengetahui keadaan masing-masing. Hanya ketika pulang, mereka bisa menyapa dan bertukar cerita.

__ADS_1


“Aku kesulitan mengerjakan beberapa soal, tetapi entah kenapa aku masih bisa mengisi jawabannya.” Rizki menghela napas berat.


“Egh ..., aku penasaran dengan Renata dan Lia. Apa mereka baik-baik saja?” tanya Yogi sambil menggaruk kepala belakang.


Sebenarnya yang dia khawatirkan adalah Lia. Alasannya karena Lia tidak terlalu cerdas seperti dirinya. Dia cemas jika Lia terlalu memaksakan diri. Namun, dia tidak berpikir bahwa Lia akan melakukan itu. Setelah semuanya, Lia selalu menganggap enteng semuanya.


“Aku ..., di ..., si ..., ni Kak. Yogi,” ketika seseorang menyebut namanya, Yogi segera berpaling.


“Whoa!” Yogi melompat ke belakang, “Z-zombi?” tanyanya. Apa yang berdiri di sana adalah seorang gadis, pendek, berwajah pucat dan kering kerontang. Namun, setelah melihat dengan seksama, itu adalah Lia yang kehabisan tenaga. “Oh, Lia.”


“Dia terlalu banyak berpikir kali ini,” ucap Renata yang mendampingi Lia.


“Ah, kurasa itu wajar,” Yogi menanggapi sambil mengatur napas.


“Aku ingin es krim,” gumam Lia.


“Kenapa kita tidak menurutinya? Lagipula UN sudah selesai,” Rizki mengusulkan.


“Yah, itu bukan ide yang buruk,” Renata menyetujui.


“Bersemangatlah! Kita akan makan es krim,” Yogi menghampiri Lia.


“Gendong,” ucap Lia sambil mengangkat ke dua tangan.


“Haa ..., baiklah,” Yogi melepas tas ransel dan melemparnya pada Rizki. Rizki pun menerima tas tersebut, sedangkan Yogi segera menggendong Lia.


“Ayo, berangkat!” ucap Renata.


Pelan, ketiganya segera mengekor pada Renata. Namun, Lia justru membenamkan wajah di punggung Yogi. Mungkin mengistirahatkan diri yang  kelelahan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2