
Bab 17 ~Jatuh Hati~
“When You fall in Love, happiness will make you cannot sleep because reality is much more beatiful than real life”
-Dr. Theodore Seuss Geisel-
Di kursi, Yogi menemani Lia. Gadis itu tak berhenti bicara sejak dia menurunkannya. Lia membicarakan banyak hal, bahkan terlalu banyak untuk rentang waktu singkat. Gadis itu memulai dengan tebak-tebakan, kemudian berpindah ke buku favorit, kemudian menceritakan lagu kesukaan. Berkat Lia, dia tak mati karena rasa bosan.
Dia juga tak merasa terganggu dengan kebawelan Lia. Dia justru menikmati perbincangan dengan gadis itu. Meski kurang bisa mengikuti ucapan Lia ketika membicarakan soal novel.
Jika Lia juga pendiam seperti Renata, mungkin dia akan membisu dan membiarkan kecanggungan memeluk.
Ketika sibuk berbincang pun, ada beberapa orang yang salah mengira bahwa mereka adalah saudara. Itu bisa terjadi karena Lia bertubuh mungil, mungkin tinggi gadis itu hanya 140 cm. Itu 20 cm lebih pendek darinya.
“Yogi,” ketika suara seseorang memasuki telinga, dia pun berpaling ke sumber suara tersebut, menemukan Renata berdiri di sana. Di salah satu tangan Renata terlihat sebuah kantong plastik.
“Ah, Renata,” balasnya.
“Sepertinya Lia sudah lebih baik,” ucap Renata sambil memindah perhatian pada Lia, begitu pula dengannya.
Lia tersenyum dan melambai pada Renata. “Hehehe ..., terima kasih untuk Yogi karena mau menemaniku yang cerewet,” ucap Lia. Ketika Lia mengatakan itu, Yogi berpikir bahwa ternyata Lia menyadari sifatnya yang banyak omong.
“Terima kasih sudah menjaganya,” ucap Renata sambil mengeluarkan segelas jus buah. Gelas plastik beserta pipet diulurkan padanya.
Terlihat warna hijau dan coklat pada isi gelas plastik tersebut, membuatnya bertanya-tanya akan rasa minuman tersebut. Namun, dia tak peduli lagi karena itu pemberian Renata, rasanya pasti sama manisnya seperti Renata.
Dengan pikiran tersebut, dia segera menerima minuman itu sambil berkata, “Terima kasih.”
“Kuharap kau suka cokelat alpukat. Aku lupa menanyakan rasa kesukaanmu,” ucap Renata sambil menempatkan diri di sampingnya. Secara refleks, dia pun memberi ruang untuk gadis itu.
“Aku bukan orang yang pilih-pilih makanan dan minuman,” jawabnya singkat.
“Syukurlah,” ucap Renata sambil mengeluarkan jus lain yang berwarna sama. “Tolong berikan pada Lia,” ucap Renata sambil memberikan gelas plastik dan pipet lain.
Dia menerimanya dan memberikannya pada Lia. Mata Lia berbinar ketika menerima minuman tersebut. Dengan tingkah dan tubuh seperti itu, pantas jika orang lain berpikir bahwa gadis itu adalah anak-anak.
“Yey, terima kasih Rena,” setelah mengatakan itu, Lia menancapkan pipet pada gelas dan menghisap cairan hijau tersebut. Gadis itu memasang wajah seakan baru minum setelah berhari-hari.
__ADS_1
“Sama-sama,” jawab Renata sambil tersenyum lembut.
Merasa tenggorokan mulai kering, Yogi pun mengikuti Lia. Cairan hijau tersebut kental, memiliki rasa pekat yang meleleh ketika menyentuh lidah. Rasa cokelatnya pun beradu dengan alpukat dalam mulut, memberikan kombinasi rasa yang unik, tetapi nikmat.
“Ini enak,” gumamnya setelah menelan jus di mulut.
“Aku senang kau menyukainya,” ujar Renata.
Tak lama, gadis itu juga menirukannya. Setelah menusuk permukaan gelas dengan pipet, Renata segera mendorong pipet ke bibir. Ketika bibir tersebut membelai pipet, Yogi mendapatkan adegan manis. Dia bukan orang yang puitis, bukan juga pelukis. Rasa tersebut tak bisa diekspresikan. Apa yang bisa dia lakukan adalah memotret adegan itu dan menyimpannya dalam memori spesial dalam otak.
“Yogi,” ada yang menarik lengan jaketnya. Dia berpaling, mendapati Lia menatapnya dengan mata bulat tersebut.
“Apa?”
“Kau jadi pusat perhatian,” ketika Lia mengatakan itu, Yogi memindah perhatian ke sekitar.
Orang-orang di sekitar menatapnya seakan heran dengannya. Itu menimbulkan pertanyaan akan kejadian tersebut.
“Kenapa mereka melihatku seperti itu?” dia bertanya pada kekosongan.
Renata berada di sisi kanannya. Gadis itu memiliki paras cantik dengan mata yang tajam menusuk. Tubuh Renata pun ramping dan berbalut jaket jeans biru dan celana panjang yang juga biru. Berambut legam yang memantulkan sinar mentari secara sempurna. Dengan semua penampilan tersebut, orang lain pun akan mengakui bahwa Renata itu sempurna.
Kemudian di sisi kirinya terdapat Lia. Gadis bertubuh mungil tersebut memiliki rambut hitam pendek. Lentik mata yang mencuat ke atas, menempel pada mata bulat yang menyorot polos. Bibir yang terus melengkung ke atas. Jaket varsity berwarna merah putih yang membalut kaos hitam. Kemudian celana jeans ketat yang membalut kaki ramping. Penampilan itu membuat Lia tampak seperti model kelas atas. Ditambah Lia memiliki wajah manis yang menggemaskan.
Ketika sadar akan tempatnya berada, jantungnya pun mulai berdentum keras. Dadanya digedor dari dalam seakan jantungnya bisa meledak kapan pun.
“O-oh, diamlah!” ucap Yogi. Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pemompa darah yang meledak-ledak dalam diri.
“Kalian terlihat sangat dekat,”Renata mengucapkan itu, membuat perhatiannya berpindah.
“Apa kami terlihat sedekat itu?” dia melempar pertanyaan pada Renata.
“Padahal yang kami lakukan hanya bergurau sejak tadi,” Lia menambahkan.
“Benar.”
“Dari sudut pandangku, kalian bahkan terlihat seperti kakak beradik,” ucap Renata.
__ADS_1
“Kakak, belikan aku ayam goreng!” Lia menarik lengan bajunya, meminta permohonan yang tidak masuk akal.
“Aku bukan kakakmu,” balasnya sambil menarik lengan.
“Yap, pertengkaran kecil itu justru membuat kalian terlihat lebih dekat,” ujar Renata sambil tersenyum padanya.
Sekali lagi, dia dibuat kagum oleh kecantikan gadis itu. Jantungnya meledak-ledak, memompa rasa hangat ke otak. Perhatiannya melekat pada sosok malaikat. Waktu seakan melambat, memberi kesempatan untuk merekam sosok penuh berkat.
Sadar. Yogi segera berpaling dari Renata. Namun, wajah dan senyuman tersebut meninggalkan bekas di pikirannya. Ruhnya melayang tanpa menyentuh permukaan padat. Apa yang terlihat di sana adalah wajah dan senyum Renata.
“Yogi? Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah,” suara tersebut menarik kesadarannya dari ruang ilusi. Di keningnya terdapat tangan mungil yang terasa dingin.
Ketika dia berpaling, dia mendapati Lia menyentuh keningnya. Wajah Lia tampak muram, sayu. Mungkin mengkhawatirkannya yang tiba-tiba membisu.
“Apa kau lelah?” giliran Renata yang terdengar. Dia pun berpaling, mendapati Renata memasang wajah yang sama dengan Lia.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya setelah menghela napas. “Jangan khawatir!” imbuhnya sambil menundukkan wajah dan menyembunyikan rasa dalam dada.
“Kau yakin?” tanya Lia dan Renata seraya mengintipnya.
“Ya,” dia segera angkat wajah dan tersenyum normal. “Ngomong-ngomong bukankah keadaanmu sudah lebih baik?” dia melempar pertanyaan pada Lia.
“Eh? Ya, aku sudah merasa baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Lia memiringkan wajah.
“Bagaimana jika kita mulai berkeliling? Aku juga penasaran dengan keadaan Kak. Yuutha dan Rizki.” Dia bangkit, menghisap habis isi cairan hijau dan memasukkannya ke tempat sampah terdekat.
“Aku setuju,” Renata bangkit dan menyusulnya.
“Em ..., aku sedikit ragu dengan itu,” Lia tersenyum kecut.
“Jangan khawatir! Kami akan menemanimu,” Renata menggandeng lengan Lia.
“Itu benar,” dia pun berbalik dan memimpin.
---
Jaket Varsity : Bisa kalian search di gugel. Author bingung mau jelasinnya gimana.
__ADS_1