
Bab 24 ~Hari Normal Lainnya~
“Sekolah adalah tempat dimana hal menyenangkan terjadi. Bertemu kawan, jatuh cinta, dan saling bertengkar. Namun, semua itu akan terukir sebagai kenangan dalam memori terdalam.”
-Mayn Urr Izqi-
Detik demi detik berlalu, berubah menjadi menit. Menit demi menit berubah menjadi jam. Hari berlalu dan Yogi tengah memusatkan perhatian pada guru pengajar di muka kelas. Sesekali perhatiannya berpindah, menatap punggung Renata.
Dia sedikit menyesal karena duduk di kursi paling belakang. Jika dia ada di kursi depan, seharusnya dia bisa menatap wajah Renata. Namun, Renata pasti merasa terganggu dengan itu. Namun, dia juga tak bisa mengganti tempat duduk begitu saja. Dia akan berada di kursi tersebut hingga kelulusan.
Puas menatap punggung Renata, dia berpaling. Salah satu tangannya mencoret kertas, menyalin setiap tulisan yang ada di papan tulis.
Telinganya menangkap setiap kata yang dilontarkan guru pengajar, sedangkan otak mencerna setiap hal yang didengar.
Ketika dia berpaling, menyebar perhatian, dia menemukan beberapa orang justru menutup mata, menggunakan tangan sebagai bantal. Beberapa orang justru menatap layar ponsel, mungkin bertukar pesan dengan seseorang. Ada pula yang bermain dengan teman sebangku, bahkan ada yang menyembunyikan buku komik di balik buku pelajaran.
Dia berpikir bahwa orang-orang itu mungkin bosan dan mencari kesibukan. Namun, tentunya akan memberikan kerugian karena tak mendengarkan pelajaran. Berbeda dengan mereka, Yogi memiliki mimpi yang sudah diincar. Karena itu, dia harus belajar giat dan menyalip kecerdasan Rizki.
“Jadi, seperti itulah kalian mengerjakannya. Ada pertanyaan?”Guru pengajar berbalik, menatap seisi kelas. Namun, dia tak memiliki apa pun untuk ditanyakan. Dia paham dengan segala yang dijelaskan, bahkan jika dia menemui kesulitan nantinya, dia bisa menanyakan itu pada Rizki yang lebih cerdas darinya.
Apa yang dia khawatirkan adalah Lia. Jika mengingat pribadi Lia, mungkin gadis itu akan kesulitan mencerna pelajaran. Mungkin Lia akan menjadi yang pertama mengangkat tangan dan melempar banyak pertanyaan.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Tak ada yang mengangkat tangan. Yogi cukup terkejut dengan hal itu. Dugaannya salah. Mungkin dia tidak bisa melihat Lia hanya dengan satu dugaan saja. Mungkin kalimat ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ berlaku pada gadis itu.
Di sisi lain, murid lain pun tak mengangkat tangan. Entah mereka terlampau cerdas atau mereka tak mau mengakui kebodohan sendiri.
“Baiklah, kerjakan LKS halaman 17. Kumpulkan sebelum istirahat dimulai!” guru pengajar berpaling, menuju ke meja dan duduk, menanti tugas yang selesai.
Tak berpikir lebih panjang, dia segera meraih LKS dan membuka halaman yang dimaksud. Soal yang diberikan terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah soal pilihan ganda. Bagian ke dua adalah uraian. Mungkin membutuhkan satu jam atau lebih untuk menyelesaikan semua itu. Namun, dia memiliki banyak waktu.
“Yogi,” ketika dia membuka LKS, Rizki menyebut namanya. Dia pun berpaling, menatap Rizki.
__ADS_1
“Ya?”
“Kemarin, saat kau berdua dengan Kak. Yuutha, apa saja yang kalian bicarakan?” Rizki melempar pertanyaan.
Sebenarnya dia tak pernah menyangka bahwa Rizki akan menanyakan pertanyaan itu. Namun, Rizki masihlah kekasih Kak. Yutha, wajar kalau mengkhawatirkan Kak. Yuutha ketika berdua dengan lawan jenis.
“Tidak ada. Kami hanya membicarakan tentang Renata dan cara dia meminta maaf pada Lia. Ah, aku juga membelikannya penjepit rambut. Kau tahu? Pada awalnya dia menolak, tetapi dia segera menerima itu ketika aku berkata bahwa aku memilihnya berdasarkan seleramu. Dia juga langsung memakainya. Bagaimana menurutmu?”
“Hanya itu?”
“Yap, hanya itu,” jawabnya.
“Ahaha ...,” Rizki tertawa kecil, “maaf, aku sempat mengira bahwa kau akan menggodanya,” Rizki mengakhiri kalimatnya.
“Bukankah kau tahu bahwa aku tidak akan melakukan hal semacam itu?” Yogi memasang wajah kesal.
“Benar, maaf. Ngomong-ngomong apa kau yang memilih penjepit untuk Kak. Yuutha?”
“Ya, memang kenapa?”
“Terima kasih kembali,” jawabnya.
Percakapan pun berakhir. Ke duanya meraih pensil, otak mulai berputar, mengerjakan soal yang tertulis. Kesunyian membalut, membuat suasana kondusif yang cocok untuk mengerjakan tugas. Namun, ketika Yogi berpaling ke sekitar, dia menemukan beberapa orang yang tidak mengerjakan.
Ada yang masih berada di alam mimpi, ada pula yang membaca komik. Entah mereka memiliki niat untuk belajar atau tidak. Apa yang dia ketahui adalah dia tak boleh seperti itu. Dia tak ingin menjadi seorang pemalas. Dia tak ingin menyia-nyiakan usaha orang tuanya yang bekerja untuk membiayai sekolahnya.
“Ngomong-ngomong apa yang kau bicarakan dengan Renata kemarin? Ketika aku kembali, kalian sudah terlihat akrab,” Rizki melempar pertanyaan lain.
“Ah, itu ..., sebenarnya aku hanya memberikan penjepit padanya. Ketika dia memakainya, aku menyebutnya cantik secara tak sadar. Ketika itu terjadi, Kak. Yuutha dan Lia sudah ada di sana. Mereka menggodaku dan Renata. Jadi, kami hanya membela diri ...―”
“Berkat itu, kalian menjadi dekat secara tak sadar,” Rizki menyela di tengah kalimatnya.
“Benar,” jawabnya sambil mengangguk pelan.
“Yah, itu perkembangan yang bagus. Namun, bagaimana perasaanmu ketika kau bersamanya? Apa kau sudah bisa tenang?”
__ADS_1
“Benar, sekarang aku bisa mengendalikan diri cukup baik ketika bersamanya. Setidaknya aku bisa menjawab pertanyaannya dan memberikan topik untuk dibicarakan.”
“Hmm ..., itu bagus,” balas Rizki sambil mengangguk pelan.
“Kau punya saran lain untukku?” Yogi memiringkan wajah. Bisa dibilang bahwa Rizki adalah penasihat cintanya. Karena itu, dia sering meminta saran pada Rizki. Kemudian hasilnya selalu sesuai dengan apa yang dikatakan Rizki, selama dia mengikuti langkah yang diberikan. Karena itu, dia tak meragukan arahan yang dia terima.
“Sebentar ....” Rizki mengangkat wajah, menaruh ujung pensil di bawah bibir. Laki-laki itu menatap langit-langit, mungkin memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
“Bagaimana?” tanyanya memastikan.
“Kurasa kau belum siap untuk pergi berdua dengannya,” Rizki berpaling padanya.
Apa yang dikatakan Rizki ada benarnya. Jika dia harus berdua dengan Renata, meski dia bisa mencairkan suasana, tetapi dia akan segera kehabisan topik karena belum terbiasa, berdua dengan seorang gadis. Dia juga tidak bisa membahas hal pribadi karena hubungannya dengan Renata belum sedalam itu.
“Kurasa kau ada benarnya,” balasnya, “lalu apa yang harus kulakukan?”
“Untuk sekarang tidak ada. Kau hanya perlu melanjutkan seperti ini. Terus mencoba dekat dengannya sebagai teman. Jika ada kesempatan lain yang muncul, aku akan segera memberitahumu.” Rizki menundukkan kepala, mulai mengerjakan soal yang diterima.
“Aku mengerti,” balasnya sambil mengikuti Rizki. Namun, dia menyempatkan untuk menatap punggung Renata. Apa yang terjadi berikutnya membuat mata terbuka lebar.
Lia dan Renata berpaling ke belakang. Mata mereka bertiga bertemu. Dua gadis itu tersenyum padanya. Dia pun membalas senyum mereka dan melambai pada mereka.
“Itu aneh,” gumam Rizki.
“Eh?” dia berpaling pada Rizki.
“Bukan apa-apa. Soal ini sedikit aneh bagiku.”
“Terserahlah,” balasnya sambil berpaling, hendak melihar Renata sebelum mulai mengerjakan. Namun, dua gadis itu sudah berpaling dan mengerjakan tugas.
Untuk sejenak, dia menghela napas dan mulai mengerjakan.
__ADS_1