
Bab 35 ~Belajar Dan Gurauan~
“Di tengah padatnya hari, padatnya kesibukan, cobalah untuk berhenti sejenak dan beristirahat, menikmati indahnya waktu yang dianugerahkan padamu.”
-Mayn Urr Izqi-
Hening. Tak seorang pun yang membuat kegaduhan. Lia yang biasa berisik pun mengunci mulut rapat-rapat. Gadis itu fokus pada buku catatan. Dua alis gadis itu turun, bertemu di tengah kening. Gadis itu pun mengerang, seperti kucing kecil.
Seperti biasa, Lia sulit mencerna informasi akademis. Yogi bahkan berpikir bahwa gadis itu mengeluarkan bayak tenaga hanya untuk mencerna semua tulisan tersebut. Mungkin dia sedikit beruntung karena memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi dari Lia. Namun, dia pun masih kurang cerdas bila dibandingkan dengan Rizki atau Renata.
Yogi memindah perhatiannya, menatap Renata yang duduk di sampingnya dan Rizki yang mendampingi Lia. Dua orang itu fokus pada Lia. Tampaknya merasa terganggu dengan suara yang dibuat Lia.
“Lia, bisa kau hentikan itu?” Yogi angkat bicara.
“Eh? Tapi aku masih mencoba memahami semua ini,” jawab Lia.
“Ya, tetapi kau tidak perlu mengeluarkan suara seperti itu. Kau mengganggu Renata dan Rizki,” jawabnya sambil menunjuk pada Renata yang tersenyum kecut, sedangkan Rizki masih berwajah dingin.
“Baiklah, aku minta maaf,” jawab Lia.
Renata melambai pelan sebagai jawaban, sedangkan Rizki tak memberi jawaban dan justru menatap buku catatan kembali. Di sisi lain, Lia kembali pada buku catatan. Sesekali gadis itu menggaruk kepala menggunakan bolpoin.
Yogi tersenyum melihat gadis itu. Namun, dia memindah penglihatannya ke sektiar, menyorot seisi kelas yang tak berpenghuni.
Jam dinding berdetak. Suaranya menggema ke setiap sudut ruangan, menjadi satu-satunya suara yang menghuni kelas. Sinar mentari menyorot dari langit, menembus jendela kaca dan menerangi seisi ruangan.
Entah sudah berapa lama sejak Yogi hadir di rumah Renata. Namun, dia tak pernah menginjakkan kaki di rumah tersebut untuk yang ke dua kalinya. Walau dia menginginkannya, dia tak memiliki alasan untuk berkunjung. Undangan dari Ayah Renata pun masih berada di kepala, menunggu untuk digunakan.
Lain sisi, Renata telah pulih dari kondisi terkilir. Entah berapa lama gadis itu pulih, tetapi Renata sudah bisa berlarian, mengejar Lia karena kejahilan yang dibuat.
__ADS_1
Tentang hubungannya dan Renata, dia telah memotong beberapa jarak. Kini dia bisa berpikir jernih ketika berhadapan dengan Renata. Selama tak terjadi hal yang tak diinginkan, dia bisa berbicara dengan lancar, bahkan membuat Renata tertawa.
Dia pun masih senang menatap senyum Renata. Tak pernah merasa bosan dengan senyum yang menarik hati, Yogi justru semakin tenggelam dalam kasih, bermandikan mawar merah yang menjadi lambang cinta.
Benar, perasaannya semakin menumpuk dalam dada. Terkadang menyesakkan, tetapi juga menyenangkan karena rasa itu tumbuh dan berkembang atas dasar cinta. Namun, dia perlu mengungkapkannya, tetapi masih belum cukup tekad. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat.
“Yogi, jangan melamun!” suara Rizki menarik kesadarannya kembali ke kelas. Perhatiannya berpindah pada Rizki dan dua rekan yang lain.
“Ah, maaf. Ada yang kupikirkan tadi,” jawabnya sambil kembali menatap catatan. Tidak lama kemudian.
Matanya menyapu setiap materi yang tertulis, kesadarannya mencoba mencerna semua itu. Ketika dia merasa paham, tangannya meraih LKS, mencari beberapa soal untuk dikerjakan.
Ketika menemukan soal yang cocok dengan materi yang baru di baca, dia pun segera memutar otak, berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada di soal tersebut. Ketika dia menemukan solusi, dia segera menulis semua itu di buku catatan.
Bukan tanpa alasan mereka belajar bersama. Namun, karena besok mereka akan menghadapi salah satu rintangan pelajar kelas akhir, try out.
Benar, meski bukan ujian yang sesungguhnya, tetapi itu masih menentukan tingkat keberhasilan dalam kelulusan. Bisa dibilang bahwa try out adalah, latihan, persiapan dalam menghadapi musuh yang sebenarnya, yaitu ujian kelulusan.
Tentunya Yogi tak ingin tertinggal dan berada di sekolah yang berbeda dengan tiga rekan lainnya. Karena itu, dia diwajibkan untuk mengisi pengetahuan akademis dan menjadi cerdas dalam waktu beberapa bulan. Setidaknya hingga dia bisa mencapai standar kelulusan atau sedikit lebih tinggi.
“Lia, apa kau ada kesulitan?” Renata melempar pertanyaan.
“Ah, aku kesulitan mengerjakan soal no. 4,” jawab Lia sambil menggaruk kepala. Gadis itu menyerahkan LKS pada Renata.
Renata pun menerima LKS tersebut dan mulai memperhatikan apa yang tertulis. Tidak lama kemudian, Renata beranjak dari tempat duduk, menghampiri Lia yang sudah menaruh wajah di atas meja.
Renata berdiri di belakang Lia. LKS ditempatkan di depan mata Lia yang tampak kehilangan semangat. Tangan Renata membalik halaman, mencari materi yang sesuai.
“Ini, gunakan rumus ini untuk menentukan poin x, kemudian masukkan x ke dalam rumus utamanya. Setelah itu, aku akan bisa menemukan jawaban yang diinginkan,” Renata menjelaskan secara singkat.
“Tunggu! Ini menggunakan dua rumus?” Lia bahkan tak mengangkat wajah dari meja ketika mengatakan itu.
“Yap, kau hanya kurang teliti dalam mengerjakannya. Karena itu, bacalah pertanyaannya dengan teliti sebelum mulai mengerjakan!” setelah memberi nasehat, Renata pun beranjak kembali ke sampingnya.
__ADS_1
“Yogi, apa kau kesulitan mengerjakan?” Renata melempar pertanyaan ketika duduk di sampingnya.
“Tidak. Masih belum,” jawabnya singkat.
“Jika kuingat lagi, kau jarang menanyakan soal materi akademis belakangan ini. Sepertinya kecerdasanmu mulai meningkat,” Rizki, yang duduk di samping Lia, angkat bicara.
“Benarkah?” Yogi memasang wajah polos.
“Yah, itu bagus karena itu artinya tingkat pemahamanmu juga naik. Sebaiknya kau terus belajar dan mengembangkan kemampuan akademismu,” ucap Renata.
“Tentu. Aku akan rajin belajar,” jawabnya.
“Yah, sebaiknya kau terus melanjutkanya. Jika kuingat lagi, SMA N 6 tidak terlalu bagus karena berdiri di pinggir kota. Namun, SMA itu masih bisa bersaing dengan SMA favorit lainnya. Karena itu, masuk ke sana pun pasti cukup sulit,” Rizki menjelaskan.
“Sebenarnya aku memilih SMA N 6 karena dekat dengan tempat tinggalku,” jawab Yogi sambil menggaruk pipi.
“Yah, aku juga menggunakan itu sebagai alasan,” jawab Rizki.
“Bukankah kau ingin masuk ke sana karena Kak. Yuutha ada di sana?” Yogi berwajah datar ketika melempar pertanyaan tersebut.
“O-oh, diamlah!” Rizki berpaling, mencoba menyembunyikan pipi yang merona. Namun, Renata dan Yogi menyadari hal itu terlebih dahulu.
“Yogi, hentikan itu! Kau tidak boleh mengganggu orang yang merindukan cinta!” ucap Renata.
“Pfftt ...,” tawa Yogi hampir meledak. Namun, dia masih berhasil menahannya. Yogi menarik napas panjang. Kemudian bangkit dan menghadapi Renata. “Oh, Kak. Yuutha, engkau bagaikan rembulan yang menyinari hati yang gelap ini. Senyummu bagaikan sinar mentari yang melelehkan sanubari. Entah apa yang terjadi jika aku tak bertemu denganmu, mungkin aku akan membusuk, menanti seorang yang mampu menaklukkan diri ini,” Yogi berpuisi.
“Oh, Rizki. Meski waktu memisahkan kita, tetapi cinta ini tak akan pudar tak akan memudar. Rasa ini akan semakin menyebar, menyelimuti dunia dan membawa kebahagiaan pada kita berdua,” Renata pun bangkit, mengikuti alur yang dia buat.
“Oh, Kak. Yuutha.”
“Oh, Rizki.”
“Aaaaaarrrrrggggghhh ..., hentikan itu!” Rizki bangkit dengan wajah terbakar layaknya bara api.
__ADS_1
Bukannya berhenti, tawa Yogi dan Renata justru meledak. Rizki menimbun wajahnya dengan tangan. Sedangkan Lia baru saja menyelesaikan satu soal.
“Kenapa kalian tertawa?”