Bride

Bride
Bab 37 ~Keputusan~


__ADS_3

Bab 37 ~Keputusan~


“Karena ketika manusia mengambil pilihan tersulit, maka dia hanya akan mendapat sedikit rasa senang. Namun, jika pilihannya tepat, dia tak akan pernah menyesali keputusan tersebut.”


-Mayn Urr Izqi-


 


 


Waktu bergerak lebih cepat jika kau menikmatinya. Kalimat itu bukan sekedar omong kosong. Yogi telah membuktikannya berkali-kali. Setiap kali bersama Renata, meski mereka hanya mematung, waktu terasa bergerak lebih cepat. Satu jam bersama Renata seperti satu menit.


Waktu pun akan bergerak lebih lambat ketika kau membencinya. Sebagai contoh, ketika Yogi mendengar omelan Lia. Itu mungkin hanya memerlukan waktu selama satu menit. Namun, itu seperti satu jam baginya.


Waktu hanya berjalan normal ketika bersama Rizki. Entah apa yang menyebabkan itu. Mungkin karena dia hanya melihat Rizki sebagai rekan, tak lebih dan tak kurang.


Contoh lainnya adalah seminggu yang dia lalui, kemarin. Dia tidak berolahraga. Dia justru mengurung diri di kamar, belajar demi try out.


Setelah menyadari bahwa kecerdasannya meningkat, dia pun menghabiskan waktu untuk belajar. Entah, itu belajar sendirian atau bersama tiga rekan lainnya.


Hari minggu pun dia gunakan untuk belajar. Dia tidak keluar kamar, kecuali untuk makan dan kamar mandi.


Akibat pertapaannya, dia merasa bisa menjawab segala jenis pertanyaan yang keluar saat ujian. Persiapannya matang dan tak akan membuat kesalahan sedikit pun. Dia bahkan menghabiskan waktu, hampir, semalam untuk mengulas semua yang telah dipelajari.


“Hooaamm ....” Yogi menguap, sedangkan salah satu tangan menutupi mulut yang melebar.


Perhatiannya berpindah ke samping, mengintip isi kelas yang nyatanya masih melompong. Ke dua kaki membawanya ke dalam kelas. Perhatian beralih pada jam dinding, itu masih menunjukkan pukul 6. 14 pagi. Masih ada sekitar 15 menit sebelum gerbang ditutup.


Pelan, dia meninggalkan pintu dan menuju ke kursinya. Tas diletakkan di atas meja, sedangkan tubuh segera duduk dan punggung disandarkan.


Dia tak pernah menyangka bahwa akan tiba saat di mana dia menantikan sebuah ujian. Ya, minggu ini diawali dengan try out pertama.  Setelah belajar sekeras itu, dia yakin akan mendapat nilai yang mendekati Rizki atau Renata.


“Hmmm ..., kenapa kau sudah ada di sini?” Perhatiannya teralihkan oleh suara yang tak asing tersebut. Ketika dia berpaling, pada sumbernya, tampak Rizki yang berdiri di ambang pintu.


“Apa salah jika aku datang lebih pagi?” balasnya dengan pertanyaan lain.


“Ya, aku tidak terlalu peduli dengan jawabanmu. Aku hanya tidak menyangka bahwa kau bisa datang sepagi ini,” jawab Rizki sambil melangkah masuk, menghampirinya.


Laki-laki itu meletakkan tas di laci. Kemudian duduk, menemaninya yang mulai merasa bosan.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong bukankah kau juga tidak pernah datang sepagi ini?” Yogi memulai percakapan.


“Tidak. Aku cukup sering datang sepagi ini.”


“Eh?” Yogi memiringkan wajah lantas melanjutkan, “Bukankah kita sering bertemu di dekat gerbang?”


“Ya, tetapi aku juga cukup sering datang lebih pagi.” Rizki menarik tas, membuka ritsleting dan mengeluarkan sebuah novel fantasi.


“Ah, begitu rupanya,” balas Yogi ketika Rizki menunjukkan buku tersebut.


Seperti biasa, Rizki menggilai buku fantasi. Namun, Yogi tak mengira bahwa Rizki akan datang lebih pagi demi membaca novel. Namun, jika dia mengamati sekeliling, dia tak menemukan seorang pun. Bagi kutu buku, itu adalah kondisi yang tepat untuk menenggelamkan diri dalam sebuah kisah fiksi.


“Tunggu! Apa Lia juga pernah datang lebih pagi, sepertimu?” Yogi melempar pertanyaan lain. Dia ingat bahwa Lia juga menyukai novel, meski itu bukan novel fantasi seperti Rizki.


“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Jadi, jawabannya adalah, ya. Namun, dia jarang melakukannya,” jawab Rizki seraya membuka buku tersebut. Ke dua mata itu menyapu setiap kalimat yang tertulis. Mungkin sudah memasuki fokus penuh.


Yogi pun berpaling. Dia menggunakan sandaran kursi sebagai bantal, menatap langit-langit yang tampak membeku.


“Ngomong-ngomong bagaimana kabar Kak. Yuutha?” Yogi melempar pertanyaan lain.


“Dia baik-baik saja. Kenapa menanyakannya?”


“Yah, aku bersamanya hari minggu kemarin.”


“Kalian bersama?”


“Ya, sekedar jalan-jalan ke taman dan membaca buku bersama,” jawab Rizki.


“Emmm ..., aku tidak yakin bahwa membaca buku bersama bisa disebut kencan,” jawab Yogi sambil menggaruk pipi.


“Yah, itu tergantung pada tipe gadis yang kau ajak.”.


“Lalu, bagaimana dengan Renata? Jika aku ingin mengajaknya berkencan, ke mana aku harus mengajaknya?” Yogi mengintip mata Rizki yang mulai membuka halaman baru. Namun, laki-laki itu justru berhenti menggerakkan tangan.


Tentunya itu membuatnya bertanya-tanya kenapa Rizki mematung. Namun, Rizki segera menghela napas dan menutup novel. Laki-laki itu meletakkan buku dan memindah perhatian pada Yogi, sedangkan wajah Yogi semakin miring.


“Yah, kurasa ini sudah waktunya bagimu untuk mengajak Renata berkencan,” jawab Rizki dengan mata dingin tersebut.


“Eh? Emm ..., a-apa aku siap?”

__ADS_1


“Kenapa kau justru menanyakan itu padaku?”


“Emmm ..., karena kau sudah berkata untuk mengajaknya berkencan.”


“Ya, kau mendekatinya dengan baik. Aku mengatakan ini karena aku cukup yakin bahwa Renata tak akan menolakmu. Namun, keputusan kembali padamu karena yang akan mengajaknya adalah kau. Bagaimana?”


Yogi berpaling, membuat dengungan panjang seperti nyamuk yang mengintai mangsa. Ke dua matanya tertutup, pikirannya berputar, mencoba memikirkan langkah yang harus dia ambil.


Dia akan jujur bahwa dia siap menghadapi Renata sendirian. Namun, dia ragu bahwa Renata akan menerima ajakannya. Setelah semuanya, Renata tak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Namun, seandainya Renata menerima ajakannya, bukankah itu berarti hubungannya bisa berkembang lebih cepat? Dia bisa menikmati hari-hari bersama gadis itu hingga SMA.


Benar, hari-harinya akan terasa menyenangkan jika Renata selalu berdiri di sampingnya. Renata bahkan bisa membantunya dalam belajar.


“Kurasa aku akan menahan perasaan ini untuk sementara,” Yogi tertunduk, menatap permukaan meja.


“Hee ..., kenapa seperti itu? Apa kau tidak ingin bersamanya?” Rizki memangku dagu, menatapnya dengan senyum sinis.


“Ah, tidak. Tidak seperti itu. Hanya saja, aku berpikir bahwa ini bukan waktu yang tepat.”


“Oh, benarkah?”


“Ya, kita sedang menghadapi ujian dan ke depannya pun akan semakin banyak ujian. Karena itu, kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Aku ingin dia fokus pada belajar supaya dia bisa lulus dan masuk SMA dengan nilai bagus.”


“Heh ....” Rizki menyeringai lantas mengacak-acak rambut Yogi. “Ternyata kau sudah bisa berpikir sejauh itu. Aku cukup bangga padamu, kawan,” ucap Rizki sambil terus mengacak rambut Yogi. Namun, Yogi justru memaksa bibir untuk tersenyum.


Yogi merasa telah melewatkan kesempatan besar. Namun, dia mengambil keputusan yang tepat.


“Entahlah, aku tidak bisa merasa bangga atas keputusan ini.”


“Yah, karena ketika manusia mengambil pilihan tersulit, maka dia hanya akan mendapat sedikit rasa senang. Namun, jika pilihannya tepat, dia tak akan pernah menyesali keputusan tersebut,” balas Rizki seraya menarik tangan dan bersandar pada tembok.


“Semoga. Ngomong-ngomong semoga beruntung dengan try out.”


“Kau juga.”


Yogi berpaling, tersenyum, menatap kekosongan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2