Bride

Bride
Bab 29 ~Manis~


__ADS_3

Bab 29 ~Manis~


“Cinta dapat mengobati patah hati, kesialan, atau sebuah tragedi. Cinta itu sahabat abadi.”


-Mario Teguh-


 


 


Mulut Yogi terkunci, tak dapat mengungkap kalimat dalam sanubari. Matanya menusuk wajah Renata yang berjarak kurang dari sepuluh senti. Gadis itu membelakangi cahaya, menimbulkan efek seakan berbinar. Mata, cokelat, itu berkaca-kaca, mencerminkan wajahnya, serta merefleksikan kirana. Pipi gadis itu merona, membuat jantungnya berdentum germbira seakan mendapat hadiah.


Tak dapat berpaling. Yogi justru mengunci perhatiannya pada gadis itu. Sekaligus merasakan kelembutan yang membalut tubuh. Dadanya ditekan dada Renata. Namun, dia tak merasa sesak. Itu justru terasa halus meski mengganjal. Dia tak lagi bisa membedakan antara tubuh Renata dan kain terbaik di dunia. Itu mungkin terasa sama. Tidak, tetapi tubuh Renata terasa lebih lembut.


Secara tak sadar, Yogi menahan napas, mengakibatkan napas Renata berhasil membelai permukaan wajahnya. Aromanya harum, menggelitik hidung seperti daun mint.


Pelan, tangannya bergerak, bermaksud melingkari tubuh Renata.


“Y-Yogi ....” suara lembut itu memasuki telinga, menarik kembali kesadarannya pada Renata yang masih menekannya.


Yogi segera menarik napas panjang, menebus beberapa volume udara yang tak sempat dihirup. Dia mendorong, pelan, Renata. Renata pun segera mengambil jarak. Gadis itu duduk di sampingnya, sedangkan Yogi bangkit dan duduk di pinggiran kasur.


Kini mereka membuat jarak sekitar satu meter. Dekat, tetapi juga tak bisa digapai. Yogi merasa bahwa jalan luas tengah terbentang luas di hadapannya, menghalangi niatnya yang hendak memiliki Renata.


Yogi berpaling, tertunduk dalam, menatap ubin putih yang merefleksikan wajahnya. Wajahnya terbakar, merah seperti bara api yang siap membakar segalanya. Dia merasa bodoh, bukan karena melewatkan kesempatan, tetapi karena tergoda pada tubuh Renata. Jika Renata tak memanggilnya, dia mungkin sudah menenggelamkan Renata dalam dekapan. Entah apa yang terjadi kalau dia melakukan itu.


“K-kau baik saja?” Yogi melempar pertanyaan, sekedar mencairkan suasana yang mencekik paru-paru.


“Y-ya.” Yogi tak tahu apakah Renata menatapnya atau tidak, karena dia bahkan tak berani mengintip Renata. Dia tak mau menunjukkan wajahnya yang diselimuti darah, di balik kulit.


“Maksudku kakimu. Bukankah kau terkilir?” Mulai frustai, Yogi mencoba mengintip gadis itu.


“Kurasa ..., baik-baik saja.” Renata mendorong tubuh, mencoba bangun, tetapi segera kembali duduk di kasur.


“Ah, tenanglah!” Refleks mendorong Yogi menghampiri gadis itu. “Emm ..., apa ada kotak obat?”


“Itu ..., ada di dapur,” jawab Renata dengan wajah sayu. Gadis itu tampak menderita, mungkin nyerinya terlalu parah untuk dibendung.


“Tunggulah di sini!” Yogi beranjak pergi. Dia menyusuri lorong, turun ke ruang tamu, dan menghampiri dapur.


Di sana, dia menyebar perhatian, mencoba menemukan kotak yang dimaksud Renata. Di samping pintu, ruang kecil sebelumnya, dia menemukan kotak kecil, menggantung di tembok.


Merasa bahwa itu yang dia cari, dia bergegas mendekat dan membuka kotak tersebut. Dugaannya benar, itu adalah kotak obat. Dia bisa menemukan berbagai obat di sana, tetapi tak menemukan perban khusus keseleo.

__ADS_1


Yogi menghela napas untuk sejenak, tetapi dia segera mencari obat pereda nyeri. Satu-satunya yang dia temukan adalah paracetamol.


“Ini cukup,” gumamnya sambil menutup kotak tersebut. Dia hendak kembali, tetapi perhatiannya justru terpaku pada kulkas.


Tak lagi berpikir, dia segera menghampiri kulkas. Pintu kulkas dibuka. Dia mengeluarkan beberapa balok es batu. Dia menyusuri dapur, membuka tiap nakas dan menutupnya kembali ketika tak menemukan baskom. Kekhawatirannya semakin meluas di tiap detik yang terbuang, demi mencari baskom.


Ketika perhatiannya tertuju pada nakas yang menempel pada tembok, di atas kompor, dia membukanya tanpa pikir panjang dan menemukan baskom di sana. Dia mengeluarkan baskom tersebut. Es batu dimasukkan dalam kantong plastik, Paracetamol masuk ke saku kemeja.


Tidak lama kemudian, Yogi telah membawa semua yang dia tahu untuk pertolongan pertama, kaki terkilir. Baskom berisi sekantong es batu berada di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya membawa segelas air putih.


Dia meninggalkan dapur, kembali pada Renata yang menanti di kamar.


“Renata,” ucapnya ketika sampai di ambang pintu.


“Yogi,” jawab Renata, “banyak sekali yang kau bawa. Untuk apa semua itu?”


“Untuk pertolongan pertama,” jawab Yogi seraya memasuki kamar.


Dia menghampiri Renata. Segelas air diserahkan pada gadis itu. Kemudian, dia mengambil tempat di lantai, menaruh baskom berisi kantong es di sana.


“Kita harus mengompres kakimu,” ucapnya.


“Ah, baik!” jawab Renata.


“Berapa banyak yang harus kuminum?”


“Cukup satu,” jawabnya sambil menyerahkan obat tersebut.


“Baik.”


Tidak membutuhkan waktu lama, Renata telah menenggak sebutir obat. Gelas kosong tersebut dibiarkan di atas kasur, sedangkan Yogi mulai meraih kaki Renata. Kulit gadis itu halus, lebih halus dari kain sutra. Namun, mengalami bengkak di pergelangan kaki kiri.


“Ah!” Renata merintih.


“Maaf. Apa aku terlalu kasar?” ucap Yogi.


“Tidak-tidak apa. Kau bisa melanjutkannya,” jawab Renata. Gadis itu mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tak memiliki rasa di matanya, menyadarkannya bahwa dia harus bergerak cepat.


“Akan kupercepat,” jawabnya.


Dia meletakkan kaki Renata dalam baskom, kemudian menyelimutinya dengan kantong es. Ketika merasa bahwa itu cukup, Yogi pun menarik tangan, menatap Renata. Sekali lagi, mata mereka bertemu.


Untuk beberapa detik, mereka saling menatap, tetapi Yogi segera berpaling. Dia tak ingin teggelam dalam kecanggungan lagi.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Renata.


“Sama-sama,” balasnya.


“Emm ..., bagaimana kau tahu cara menangani ini?” Renata melempar pertanyaan.


“Kakiku pernah terkilir ketika bermain basket. Pelatih melakukan itu padaku, jadi aku hanya menerapkannya padamu,” jawabnya.


“Tetapi itu kau terlihat berpengalaman.”


“Tidak juga. Aku hanya pernah melakukannya beberapa kali saja.”


“Tetapi itu mengagumkan bagiku.”


“Begitukah? Terima kasih.”


“Tidak ....” Renata menggeleng. “Terima kasih,” ucap gadis itu seraya mempersembahkan senyuman padanya.


“Sama-sama,” balasnya sambil tersenyum pula.


“Ngomong-ngomong Rizki dan Lia masih belum tiba,” Renata berpaling, menatap langit di luar jendela.


“Kau benar.” Yogi bangkit dan duduk di sisi Renata. “Mungkin mereka akan tiba dalam beberapa menit,” ucapnya.


“Benar. Entah kenapa aku sudah merindukan Lia yang berisik,” balas Renata.


“Benar. Aku bahkan merindukan ejekan Rizki.”


Dia hanya melalui beberapa menit di rumah Renata. Namun, semua itu terasa seperti bertahun-tahun. Dia merasa bahwa terlalu banyak yang terjadi padanya. Namun, dia menikmati tiap detik yang terlewati.


Dia juga merasa bahwa jaraknya dengan Renata telah terpangkas. Itu membuatnya puas dengan hal-hal yang menimpanya.


Ding-dong!


Renata dan Yogi mengangkat wajah.


“Mungkin itu mereka,” ucap Renata.


“Biar aku yang membuka pintu. Kau beristirahatlah di sini!” Yogi bangkit dan berlalu ke pintu kamar.


“Ah, ya. Terima kasih.”


“Sama-sama.”

__ADS_1


__ADS_2