Bride

Bride
Bab 15 ~Terlambat ~


__ADS_3

Bab 15 ~Terlambat ~


“Waktu tak bisa diputar, dijilat, apalagi dicelup”


-Unknown-


 


 


Yogi bersendekap. Posisinya tidak berubah sejak awal, tetapi Kak. Yuutha tak lagi menemaninya. Kak. Yuutha berdiri di hadapannya, memberi punggung untuk diperhatikan.


Apa yang ada di hadapan Kak. Yuutha adalah tiga rekannya yang baru tiba sepuluh menit lalu. Mereka bertiga duduk di rerumputan, mendengarkan ceramah Kak. Yuutha yang geram.


Yah, Yogi tidak bisa membantu mereka. Setelah semuanya, mereka bertiga terlambat 45 menit, mungkin hampir satu jam. Suhu yang awalnya dingin, berganti ke panas. Keringat mereka bercucuran dan Yogi bahkan menghabiskan beberapa uang untuk membeli dua es krim. Namun, mereka bertiga tak kunjung tiba, bahkan ketika es di tangan lenyap ditelan.


Sebenarnya dia juga ingin memarahi mereka. Namun, dia mengurung niat tersebut ketika Kak. Yuutha menyuruh mereka duduk di rerumputan dan memberikan ceramah.


Yogi memiringkan wajah, mengintip rekannya yang menatap rumput taman.


Rizki tak memberikan ekspresi yang menarik, seperti biasanya. Dia tak tahu apa Rizki merasa bersalah atau tidak, tetapi Rizki jadi lebih sunyi dibanding biasanya. Mungkin karena kekasih yang marah besar.


Lia tertunduk, menutup mata kuat-kuat. Dua alis gadis itu terangkat, membuatnya terlihat ketakutan. Bahu gadis itu bahkan bergetar hebat ketika Kak. Yuutha menaikkan volume suara. Entah, kenapa dia merasa bahwa Lia pantas mendapatkan itu.


Orang terakhir yang mendapat perhatiannya adalah Renata. Gadis itu memang sudah pendiam sejak awal, tetapi kini jauh lebih sunyi. Wajah gadis itu hampa, muram, seakan bosan dengan semua yang dimuntahkan Kak. Yuutha.


Dia mengakui bahwa dia menyukai Renata, bahkan berjanji pada diri sendiri untuk melindungi senyum gadis itu. Namun, saat Renata melakukan kesalahan seperti itu, Renata juga perlu menyadari kesalahan tersebut.


“Kak. Yuutha,” dia menyebut nama Kakak tingkatnya. Kak. Yuutha pun berpaling padanya, menatapnya penuh heran.


“Ada apa?” tanya Kak. Yuutha.


“Kurasa itu sudah cukup. Lihatlah mereka! Mereka bahkan tak berani mengangkat wajah lagi. Aku yakin mereka sudah jera,” jelasnya sambil tersenyum.


Untuk sesaat, pandangan Kak. Yuutha berpindah pada tiga remaja SMP. Mereka bertiga masih tak bergerak seakan telah mengakar di tempat.


“Haaa ...,” Kak. Yuutha menghela napas, “jangan lakukan itu lagi! Kalian harus lebih menghargai waktu karena waktu waktu tak bisa diputar,” ucap Kak. Yuutha, “sekarang bangunlah! Kita mulai jalan-jalan,” Kak. Yuutha mengakhiri ceramah dan berbalik, meninggalkan mereka berempat.


“Kalian baik-baik saja?” Yogi memaksa bibirnya tersenyum.


Dia menghampiri tiga rekannya. Dia mengulurkan tangan pada Rizki dan Rizki segera menyambut tangannya. Dia menarik Rizki, membantu sahabatnya untuk berdiri.


Di sisi lain, Renata bisa bangkit sendirian. Gadis itu bahkan sudah tersenyum, manis, seperti biasa. Hatinya seakan meleleh ketika melihat senyum tersebut. Sepertinya dia tak perlu mengkhawatirkan tentang Renata. Seperti dugannya, Renata adalah gadis hebat yang bisa melewati apa pun.

__ADS_1


“Kak. Yuutha, benar-benar marah besar,” gumam Renata sambil tersenyum kecut padanya dan Rizki.


“Begitulah,” balasnya.


“Memangnya sejak pukul berapa kalian di sini?” Rizki melempar pertanyaan sambil membersihkan celana.


“Kami sudah sampai sebelum pukul sepuluh,” jawabnya.


“Kenapa kau datang sepagi itu?” Rizki melempar pertanyaan lain.


“Bukankah rencananya berkumpul pada pukul 10? Memangnya apa yang menahan kalian? Hampir satu jam kalian terlambat,” Yogi melempar pertanyaan lain. Berharap akan jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaran.


“Aku tidur terlalu malam karena membaca buku. Akhirnya aku bangun terlambat.” Rizki menggaruk kepala belakang seraya memberikan jawaban.


“Untukku, aku harus membantu Ibu. Kami membersihkan rumah terlebih dulu pagi ini,” Renata memberikan jawaban berbeda.


Jika mereka memberikan jawaban tersebut pada Kak. Yuutha, dia ragu bahwa jawaban tersebut akan diterima. Mungkin Kak. Yuutha justru semakin geram karena ceramahnya disela.


“Lia?” akhirnya dia sadar akan Lia yang masih mematung di rerumputan. Ada yang salah pada gadis itu. Karena itu, dia segera mendekat.


“Ha? Iya, aku minta maaf!” Lia berteriak ketika tangannya menepuk pundak Lia.


“Oi, Kak. Yuutha sudah tak ada di sini,” jawabnya.


Sepertinya Lia menutup telinga karena terlalu takut pada Kak. Yuutha. Namun, dia tak menyangka bahwa Lia tak akan kepergian  kepergian Kak. Yuutha. Itu membuatnya berpikir bahwa Lia benar-benar penakut.


“Kau baik-baik saja?” Renata melempar pertanyaan.


“Ya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” jawab Lia sambil tersenyum, tetapi jelas bahwa senyum itu dipaksakan.


“Sebaiknya kita menyusul Kak. Yuutha sebelum dia mulai naik pitam lagi,” Rizki memberi saran.


“Benar, sebaiknya kita tidak membuang waktu lagi,” imbuh Renata.


“Baiklah, kita susul dia,” Yogi bangkit, menemani Rizki dan Renata.


“Aku juga tak mau dimarahi lagi,” Lia mulai bangkit, tetapi entah kenapa gadis itu justru terbaring di rumput. “Eh?”


“Lia?” Renata segera melompat, menghampiri Lia yang menatap langit. Dia dan Rizki pun segera mendekat, mencari tahu keadaan Lia. Gadis itu tersenyum bodoh dengan wajah pucat.


“Kenapa aku malah berbaring?” tanya Lia dengan wajah heran.


“Renata, angkat kakinya sekitar 15 centimeter di atas permukaan tanah! Yogi, lepas dan gulung jaketmu! Kemudian angkat pinggang Lia!” Rizki memberi perintah degan cepat.

__ADS_1


Yogi tak berpikir lebih jauh. Mungkin sesuatu yang buruk terjadi. Karena itu, dia segera menuruti Rizki.


Renata mengangkat kaki Lia. Dia melepas jaket dan menggulungnya, setelah itu diberikan pada Rizki. Ketika dia mengangkat pinggang Lia, Rizki membalut jaketnya dengan jaket milik Rizki sendiri. Kemudian, menempatkan gulungan kain tebal tersebut di punggung Lia.


“Yogi, gantikan Renata!” Yogi segera meraih kaki Lia dan menjaganya agar tetap berada di tempat yang tepat.


“Apa yang terjadi?” dia melempar pertanyaan.


“Apa dia baik-baik saja?” Renata pun melempar pertanyaan.


“Jangan khawatir! Dia hanya duduk terlalu lama sehingga aliran darah ke otak berkurang. Jika dia terus seperti ini untuk beberapa menit, dia akan kembali normal. Namun, dia beruntung karena tidak pingsan karena hal ini,” jelas Rizki.


“Sepertinya aku merepotkan kalian. Aku minta maaf.” Lia memaksa bibir untuk tersenyum.


“Berhentilah bicara!” Renata memerintah.


“Syukurlah, kukira ini adalah sesuatu yang berbahaya,” Yogi menambahkan.


Akhirnya, mereka bertiga berdiam diri untuk beberapa menit. Ketika wajah Lia tak lagi pucat dan mampu bergerak, Yogi mendapatkan kembali jaketnya, begitu pula dengan Rizki. Renata yang khawatir segera memeluk Lia.


“Yogi, kau lebih kuat daripada aku. Karena itu, aku ingin kau menggendong Lia,” Rizki memberi perintah lain.


“Tidak perlu! Aku sudah merasa baik.” Lia memutar tangan, tampaknya gadis itu tak ingin merepotkan yang lain.


“Kau mungkin merasa seperti itu, tetapi tubuhmu tidak. Aku hanya ingin berjaga-jaga,” balas Rizki.


“Tetapi ...―”


“Tidak ada tetapi! Perhatikan dirimu sendiri!” Renata menyentak, membuat Lia terdiam.


Lia tertunduk dalam, tetapi segera melirik ke arahnya. Tidak lama kemudian, Lia mengangkat ke dua tangan ke depan, membuat pose seperti anak kecil yang meminta digendong.


“Tentu,” jawab Yogi sambil menunjukkan punggung pada gadis itu. “Pegangan yang erat!” perintahnya.


“Baik!” Lia melingkarkan lengan di sekitar bahunya. Tak terasa hangat, tetapi justru terasa dingin.


“Baiklah, kita susul Kak. Yuutha. Dengan ini aku bisa membalasnya. Juga, beritahu kami jika kau merasa pusing!” Rizki memberi perintah lain pada Lia.


“Hmm ....” Lia mengangguk sebagai balasan.


Selesai dengan semuanya, akhirnya mereka berempat angkat kaki, menyusul Kak. Yuutha yang tak lagi terlihat.


 

__ADS_1


 


__ADS_2