Bride

Bride
Bab 31 ~Selesai~


__ADS_3

Bab 31 ~Selesai~


“Menyelesaikan pekerjaan dan tidur lebih awal adalah salah satu nikmat dunia.”


-Mayn urr izqi-


 


 


Kondusif dan tenang. Seperti itulah keadaan saat mereka mengerjakan mading. Sesekali Lia melempar gurauan, sekedar mencairkan kesunyian. Namun, segera kembali disibukkan oleh tugas, membuat suasana kondusif kembali.


Mulut membisu, sedangkan tangan bergerak, menggunting, menulis, dan menempel. Dalam beberapa jam, sterofoam putih telah dibalut berbagai kertas, origami, dan catatan.


Tampak ramai di mata Yogi, tetapi juga terlihat bagus. Rizki pun tak memberikan komentar pada mading tersebut. Renata hanya tersenyum, normal. Satu-satunya orang yang memberikan kesan berbeda hanya Lia.


Mata gadis itu berbinar, memancarkan sinar. Mulut gadis itu tersenyum, lebar. Itu memberitahu Yogi bahwa gadis itu puas dan dengan hasil pekerjaan sederhana tersebut.


Jika dia mengambil garis besar, maka dia menyimpulkan bahwa tiga rekannya senang karena menyelesaikan pekerjaan tersebut. Namun, tidak baginya.


Bukan karena hasil yang diluar ekspetasi, tetapi karena dia tak mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Renata, selama pengerjaan. Selama mengerjakan mading, Renata berada di atas kasur, menyalin catatan, sedangkan dia dan yang lain duduk di lantai. Renata tak bisa meninggalkan kasur. Meski bisa pun, gadis itu akan kesulitan untuk bangun dan berjalan nantinya.


Yogi hanya bisa mencuri pandang, selama pengerjaan. Sesekali Rizki mengingatkan tangannya untuk bergerak dan dia kurang menyukai itu. Namun, dia mengerti bahwa Rizki hanya ingin menyelesaikannya secepat mungkin.


Kemudian ada Lia. Gadis itu mendapat tugas melipat origami. Berkat itu, Lia menjadi lebih tenang. Namun, sesekali gadis itu membuat kekacauan menggunakan gurauan. Namun, tak ada yang mengeluh.


“Ini bagus. Aku yakin kita mendapat nilai sempurna!” Lia mengacungkan sterofoam ke langit-langit. Gadis itu berputar, mengalirkan ingatan akan film asal India. Namun, dia tak memiliki ketertarikan untuk bergabung dengan gadis itu.


“Bisa kau berhenti berputar seperti itu?” Rizki melempar pertanyaan,”kau membuatku pusing.”


“Itu karena kau mengikuti pergerakannya,” ucap Yogi sambil meraih wajah Rizki yang beputar mengikuti Lia.


“Lia, kurasa kita hanya akan mendapat nilai 80 ke atas,” ucap Renata, mengakibatkan putaran Lia terhenti.


“Benar dan 100 ada di atas 80! Kita akan mendapatkannya!” jawab Lia sambil kembali berputar dan mata Rizki mengikuti pergerakan gadis itu kembali.


“Yah, kuharap kita mendapatkan nilai sempurna. Aku bisa memamerkannya pada adikku,” ucap Yogi sambil menghentikan kepala Rizki yang mengikuti Lia.


“Yah, kau benar. Akan bagus jika kita mendapatkan nilai sempurna,” balas Renata.


“Ngomong-ngomong pukul berapa sekarang?” Lia berhenti berputar demi melempar pertanyaan tersebut.


Perhatian setiap orang berpindah, menatap jam dinding yang menggantung di salah satu sisi tembok. Jarum panjang menunjuk angka lima, sedangkan jarum pendek berada di antara angka lima dan enam.


“Sudah selarut ini?” gumam Renata.


“Jika kau melihat keluar, kau pasti menyadarinya,” imbuh Rizki.


Perhatian tiap orang beralih, menatap ke luar jendela. Tak lagi terlihat langit putih, yang tampak di sana adlaah langit yang melebam, bermandikan semburat merah dari sisi barat. Burung-burung digantikan dengan mamalia bersayap. Lampu jalanan mulai menerangi kegelapan. Suara motor kendaraan berkurang, menandakan bahwa jalan raya tak lagi padat.


“Kurasa kita harus pulang,” gumam Yogi.


“Pulang?” Lia melompat ke depan jendela, berbalik dan memiringkan wajah padanya. “Es krim!” teriak gadis itu dengan wajah kesal dan pipi kembung.

__ADS_1


“Ah ...,” Yogi hampir melupakan hal itu, “benar.”


“Hehehe ..., es krim! Es krim!” Lia bersenandung, seraya mendekati meja belajar dan menaruh hasil pekerjaan di atas meja.


“Rizki,” Yogi menyebut nama rekannya, “kau mau ikut dengan kami?”


“Tidak. Aku ingin pulang dan membaca buku, kemudian tidur,” jawab Rizki sambil melambai padanya.


“Kau yakin?”


“Yap, aku yakin.”


“Bagaimana dengan Rena?” Lia melempar pertanyaan.


Ketika Lia mengatakan itu, Yogi berpikir bahwa itu akan menjadi kesempatan besar untuk berbincang dengan Renata. Mungkin dia bisa merebut hati Renata. Namun, pikiran itu lenyap ketika melihat baskom yang digenangi air.


Es batu melebur, digantikan cairan bening yang merendam kaki Renata. Dengan kondisi seperti itu, tak mungkin Renata bisa mengikutinya. Sepertinya dia tidak beruntung.


“Jangan bodoh! Renata masih belum pulih. Sebaiknya kita membiarkan dia istirahat lebih dulu,” Yogi menjawab pertanyaan Lia, bahkan sebelum Renata sempat mengucap sepatah kata.


“Dia benar. Jika Renata memaksakan diri untuk ikut, mungkin lukanya akan lebih parah,” Rizki menambahkan.


“Eeeeh ..., padahal aku ingin makan es krim dengan Rena.” pipi Lia menggembung.


“Maaf, Lia. Kau bisa mengambil bagianku,” ucap Renata.


“Eh? Benarkah?”


“Horee! Terima kasih, Rena!” Lia melompat ke kasur, memeluk Renata.


Yogi tersenyum ketika melihat adegan sederhana tersebut. Dua gadis itu benar-benar akrab, sama seperti dirinya dan Rizki.


Tanpa sadar, perhatiannya berpindah pada Rizki. Laki-laki itu membalasnya dengan mata dingin, kemudian berucap, “Jangan harap aku mau memelukmu seperti itu!”


“Memangnya aku mengatakan itu?”


“Matamu yang mengatakannya.”


“Oh, masa bodoh dengan itu,” Yogi berpaling, menatap sisi lain ruangan.


“Baiklah, tugas kita di sini sudah selesai. Ayo, beli es krim!” Lia melompat dari kasur, menunjuk ke luar jendela.


“Ambil tasmu terlebih dulu!” ucap Yogi sambil mengelus rambut Lia, sedangkan Rizki tak mengucapkan apa pun, tetapi segera menggendong tas ransel.


“Maaf, karena tidak bisa mengantar kalian,” Renata memaksa bibir untuk tersenyum.


“Jangan khawatirkan kami! Lebih baik kau beristirahat sekarang. Semoga kau bisa beraktifitas kembali besok,” ucap Yogi.


“Terima kasih sudah merawatku tadi,” balas Renata.


“Jangan dipikirkan!”


“Rena, sampai besok!” Lia melambai, lantas mendahului.

__ADS_1


“Sampai jumpa besok,” disusul Rizki.


Untuk beberapa detik, Yogi dan Renata bertukar pandang. Namun, ke duanya segera berpaling. Yogi tak ingin terlena dan tenggelam dalam kecanggungan lagi.


“Lekas sembuh!” ucapnya.


“Sampai jumpa di sekolah,” balas Renata.


Tak mengucap kata lagi, Yogi pun meninggalkan Renata. Dia menyusuri lorong, menuruni anak tangga, dan menemukan Rizki dan Lia yang menantinya di hadapan pintu.


“Kak. Yogi, cepat!” Lia melambai padanya.


“Aku datang!” jawabnya seraya mempercepat langkah.


“Semoga dia sembuh besok,” gumam Rizki sembari memutar daun pintu. Ketika pintu ditarik, seseorang pria dan wanita berdiri di hadapan pintu.


Pria itu mengenakan setelan hitam, rapi, berwajah ramah dengan senyum tipis dilukis di wajah. Wanita yang menemani pria itu mengenakan pakaian kasual, jaket, jeans, dan kaus, tetapi Yogi mengakui bahwa wanita itu memiliki wajah cantik.


“Om, Tante!” Lia menyebut dua orang itu.


“Oh, Lia. Kau berkunjung?” jawab pria itu.


Secara otomatis, dia dan Rizki pun mengambil langkah ke belakang, membiarkan pasangan itu memasuki ruang tamu.


“Benar, kami mengerjakan tugas hari ini.”


“Oh, itu bagus,” sahut si wanita.


“Ngomong-ngomong mereka adalah Rizki dan Yogi. Mereka teman sekelasku dan Rena. Yogi, Rizki, mereka berdua adalah orang tua Rena,” Lia memperkenalkannya pada orang tua gadis yang dia sukai. Entah dia harus merasa senang atau tidak, tetapi dia mencoba untuk tersenyum.


“Malam, Om Tante,” ucapnya dan Rizki bersamaan.


“Malam. Ngomong-ngomong apa kalian sudah selesai?” Ayah Renata melempar pertanyaan.


“Kalian bisa tinggal untuk makan malam,” imbuh Ibu Renata.


“Ah, terima kasih untuk tawarannya, tetapi kami takut akan terlambat pulang,” jawab Rizki.


“Aku juga ingin membeli sesuatu,” Lia menambahkan.


“Ah, itu sangat disayangkan, tetapi aku tidak bisa melarang kalian,” jawab Ibu Renata.


“Kalau begitu, kami permisi,” ucap Rizki seraya melangkah keluar.


“Permisi!” Yogi mengikuti Rizki.


“Sampai jumpa Om Tante,” Lia menyusul setelah melambai pada orang tua Renata.


Yogi tak pernah menyangka bahwa akan bertemu dengan orang tua Renata. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika mengetahui fakta itu, tetapi dia masih beruntung karena tidak pingsan. Untuk ke depannya, dia harus bisa mengendalikan diri lebih baik.


 


 

__ADS_1


__ADS_2