Bride

Bride
Bab 12 ~Makan Malam~


__ADS_3

Bab 12 ~Makan Malam~


“Menjadi anggota keluarga, berarti menjadi bagian dari kebahagiaan”


-Unknown-


 


 


Serangga malam bersuara, saling menyahut, menimbulkan suara merdu di telinga. Namun, sosok mereka tak terlihat. Hanya memberikan suara menenangkan bagi para manusia.


Tepat di atas permukaan tanah, terbentang langit kelam. Namun, dewi malam tersenyum di sana, menerangi permukaan dunia bersama jutaan butiran cahaya lainnya.


Berdiam diri, melamun. Itulah yang dilakukan Yogi di kamar. Dia berbaring di kasur, menatap langit-langit tanpa memberikan gerakan. Meski tubuhnya tak bergerak, tetapi pikirannya bekerja. Bukan memikirkan hari esok. Namun, merekontruksi bayangan seseorang.


Sosok Renata melayang di alam ilusinya. Tersenyum menawan laksana rembulan di luar sana. Mata gadis itu berbinar, layaknya taburan lintang di langit kelam. Kulit gadis itu pucat, tetapi terasa hangat dalam penglihatannya.


Meski berupa imajinasi, tetapi itu memberikan rasa yang pasti. Rasa hangat di dada menyebar luas, tubuhnya seakan melayang bebas. Dia seperti tenggelam dalam kasih sayang dan mabuk karena rasa tersebut. Namun, Yogi paham akan kondisinya.


Dia masih belum memiliki Renata, dia harus berjuang demi gadis tersebut. Karena itu, dia harus melakukan yang terbaik di hari minggu.


Hari minggu akan menjadi hari di mana dia bertempur, berusaha mendapatkan hati gadis itu. Dia juga sudah lebih tenang ketika berada di sisi Renata. Namun, kemampuannya mengolah kalimat masih buruk. Dia perlu membiasakan diri dengan Renata atau dia tak akan bisa melangkah ke ranah yang lebih tinggi.


Di sisi lain, entah kenapa berbincang dengan Lia terasa lebih menyenangkan. Dia mengira itu karena dia dan Lia memiliki sifat cukup mirip. Meski sebenarnya dia lebih pendiam dari Lia.


Kemudian, Rizki juga memiliki sifat seperti Renata. Mereka berdua jarang membuka mulut, tetapi mulut Rizki terkunci lebih rapat dari Renata.


Ketika menyadari hal sederhana tersebut, Yogi merasa bahwa kelompok mereka akan menjadi kelompok aneh. Namun, itu tidak buruk untuk memiliki rekan seperti itu. Lagipula mereka bertiga akan menemani masa SMA-nya. Tak akan ada warna kelabu di SMA, kecuali seragam.


Di masa SMA nanti, mungkin dia sudah mendapatkan hati Renata. Jika itu benar terjadi, maka dia akan sering menghabiskan waktu dengan Renata. Mungkin memadu cinta ketika sekolah usai atau kencan di hari minggu. Ada pula kemungkinan untuk mendapatkan ciuman dari gadis itu.


“Oh, apa yang kupikirkan?” Yogi memindah posisi, telungkup. Dia membenamkan wajah pada bantal, berteriak kegirangan akan ilusi yang dibuat otaknya.


Jika dia melihat cermin, mungkin dia akan mendapati bahwa wajahnya mendidih seperti apel masak pohon.


“Aku ingin memilikinya,” gumamnya.

__ADS_1


“Memiliki apa?” Yogi mengangkat wajah ketika suara seseorang menusuk telinga.


Perhatiannya berpindah mencari sumber suara tersebut. Apa yang dia temukan adalah seorang gadis di ambang pintu, menatapnya dengan wajah heran.


Gadis itu mengenakan kaos kuning, bergambar karakter mungil.  Sebagian paha gadis itu ditutupi dengan celana pendek, sedangkan sisanya terlihat jelas. Rambut gadis itu diikat ke belakang, dengan rapi. Gadis itu adalah adiknya. Usia mereka hanya terpaut setahun, bahkan mereka bersekolah di SMP yang sama. Namun, adiknya baru memasuki sekolah, sedangkan dia akan meninggalkan sekolah.


“Ah, bukan apa-apa. Aku ingin konsol game,” jawabnya pada gadis kecil tersebut.


“Sebaiknya Kakak menahan keinginan itu! Lebih baik Kakak belajar!” gadis itu menasihatinya.


“Jangan menasihatiku seperti itu! Kau tahu bahwa nilaiku lebih tinggi darimu,” Yogi bangkit, duduk di kasur sembari menatap adiknya.


“Egh ..., diamlah! Nilaiku juga bisa naik sedikit demi sedikit,” gadis itu menggembungkan pipi, membuatnya tampak manis.


“Yap, berusahalah,” ucapnya.


“Ngomong-ngomong makan malam sudah siap.” Gadis itu menunjuk ke belakang, “Kakak disuruh turun.” Gadis itu berbalik dan meninggalkan kamarnya, terbuka.


“Ah, Tari!” dia menyebut nama gadis itu.


“Ya?” Tari kembali, tetapi hanya menunjukkan wajah saja, membuat gadis itu tampak melayang dari sudut pandangnya.


“Ngomong-ngomong Kakak sudah menentukan sekolah berikutnya?” Tari melempar pertanyaan.


“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan melanjutkan ke SMA?”


“Maksudku SMA mana?”


“SMA N 6. Itu dekat rumah, jadi aku bisa menghemat uang, bahkan aku bisa menempuhnya dengan berjalan kaki selama 30 menit,” jelasnya.


“Itu masuk akal,” jawab Tari. “Lalu bagaimana dengan Kak. Rizki?” Yogi tidak heran jika Tari penasaran akan Rizki. Dia sering mengajak Rizki ke rumah, untuk mengerjakan tugas atau sekedar bermain. Jadi, Tari mengenal Rizki dengan baik.


“Sama. Kami akan ke SMA N 6.”


“Hmmm  ....” Tari memicingkan mata, menatapnya dengan tajam.


“Emm ..., kenapa kau menatapku seperti itu?” Yogi melempar pertanyaan.

__ADS_1


“Apa mungkin Kakak ke SMA N 6 karena ada Kak. Rizki di sana?”


“Tentu tidak. Itu murni kebetulan,” jawabnya sambil menggaruk pipi. Yogi tak pernah menyangka bahwa kebetulan bisa sangat menyenangkan.


Dia bermaksud melanjutkan ke SMA dan Rizki melanjutkan ke SMA N 6. Kebetulan itu mendorongnya untuk mengekor pada Rizki. Akan tetapi, dia sedikit ragu dengan keputusan tersebut. Sayangnya Renata menghamburkan semua keraguannya dan mendorongnya untuk ke SMA N 6 juga.


Jadi, alasan sebenarnya adalah Renata. Namun, dia tak bisa menceritakan semua itu pada Tari. Jika Tari mendengarnya, berita tersebut akan sampai pada orang tuaya juga.


“Apa yang kalian bicarakan?” suara seorang wanita menggedor gendang telinga, menyadarkan Yogi akan tempatnya berdiri.


Dia sudah sampai di dapur. Di atas ubin, karpet digelar dan berbagai makanan ditampilkan di sana. Ayahnya duduk bersila, merokok sambil menunggunya. Ibunya baru saja meletakkan beberapa piring dan kemudian mendampingi ayahnya.


“Sekolah. Kakak akan melanjutkan ke SMA N 6,”  Tari menjawab dengan cepat.


“Oh, jadi kau sudah memutuskan akan melanjutkan ke mana?” tanya Ibunya.


“Yap, aku sudah yakin dengan keputusan ini,” jawabnya.


“Baguslah jika begitu. Ayo, duduk! Kita mulai makan malam,” dengan satu perintah tersebut, Yogi dan Tari segera duduk di karpet.


Tangan Ibu dan adiknya mulai bergerak, menyiapkan sepiring nasi. Tari mengambilkan satu porsi nasi dengan sayur dan tempe goreng untuknya, sedangkan Ibunya mengambilkan bagian ayah.


“Ngomong-ngomong aku akan pergi dengan Rizki di hari minggu,” Yogi mengungkit masalah tersebut.


“Ke mana?” Tari memiringkan wajah sambil menyerahkan sepiring nasi padanya.


“Ke mal. Hanya sekedar jalan-jalan karena setelah ini kami akan menghapi berbagai ujian. Ketika itu terjadi, kami mungkin tidak bisa bermain,” jawab Yogi, memberi alasan panjang.


“Kalau begitu, jangan pulang terlalu malam!”


“Siap!”


“Sudah, habiskan makan malammu!”


“Siap, Bu!” Tari danYogi menjawab di saat yang sama. Setelah itu, Yogi mulai mengambil gigitan pertama dan menikmati makan malamnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2