Bride

Bride
Bab 44 ~Sahabat~


__ADS_3

Bab 44 ~Sahabat~


“Persahabatan itu indah. Kamu tertawa, aku tertawa. Kamu menangis, aku menangis. Kamu terjatuh, aku tertawa sampai menangis”


-Unknown-


 


 


“Hoamm!” Yogi menguap. Sementara tangan kiri menutup mulut, mulutnya justru melebar seperti gua. Dia harus berhati-hati jika Rizki ada di sekitar. Laki-laki itu bisa saja melempar gumpalan kertas ketika melihat mulut yang terbuka.


Di sisi lain, dia sudah merindukan Rizki meski baru sehari berlalu sejak pertemuan terakhir. Wajar, karena hari minggu kemarin terasa seperti menghabiskan setengah waktu hidupnya.


Begitu pula dengan Lia. Tingkah dan teriakan gadis mungil itu, tak pernah disangka bahwa dia akan rindu pada hal menyebalkan itu. Ketika dia bertemu Rizki dan Lia, nanti, dia akan merangkul dan memberikan senyum terbaiknya pada mereka.


Jujur saja, dia menikmati hari minggu itu. Tubuhnya seakan diselimuti rasa hangat, menenggelamkannya dalam ketenangan. Pikirannya memutih, menyisakan wujud seorang Renata yang tersenyum.


Dia harus berterima kasih pada Renata. Gadis itu sudah melakukan hal besar untuknya. Meski terlihat sepele, tindakan Renata telah menyadarkannya bahwa dia berusaha terlalu keras.


Jika dia mengingatnya kembali, ia mulai giat belajar ketika Rizki memujinya. Dia benar-benar mengira bahwa kemampuan akademisnya meningkat dan terus memoles kemampuan tersebut. Karena sebelumnya dia hanya belajar di saat-saat tertentu, jadi informasi yang bisa dicerna pikirannya pun masih terbatas. Namun, dia tak menyadari itu.


Pikirannya kelelahan mengola informasi dan justru menghapus informasi tersebut. Ketika tryout berlangsung pun, dia kesulitan berkonsentrasi. Akibatnya, dia membuat kesalahan minor yang berujung kegagalan.


Beruntung karena dia menyadari semua itu semalam, sebelum tidur. Kini dia bermaksud untuk mengurangi waktu belajar. Dia hanya akan belajar pada malam hari dan di sekolah saja. Sisa waktunya akan digunakan untuk hal lain seperti berolahraga atau sekedar bermain gim di ponsel. Mungkin membaca komik bisa menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan.


Pelan, dia mengangkat wajah, menatap langit cerah tanpa noda. Burung-burung pipit beterbangan ke sawah terdekat, mencuri padi yang menguning sebagai sarapan.


Di langit timur, sinar kekuningan menyembur, menyebar luas pada dunia yang terus berputar. Ketika kirana menyentuh permukaan wajah, menyilaukan mata, Yogi berpaling demi melindungi mata.


Tak lama kemudian, dia memasuki bayangan sebuah rumah. Rasa dingin kembali menemani, bahkan semakin menusuk kulit ketika angin bertiup. Dia ingin segera sampai di sekolah dan melihat dua sahabatnya, juga Renata yang dia cintai.


Setelah beberapa meter, akhirnya dia berdiri tak jauh dari gerbang sekolah. Hanya nampak remaja berseragam putih biru yang dibalut jaket berbagai warna. Beberapa wajah tampak kelelahan dan beberapa terlihat begitu bersinar. Sepertinya murid kelas sembilan juga mengalami kesulitan yang sama dengannya, sedangkan murid kelas delapan dan tujuh masih tampak segar.


Yogi mempercepat langkah, bermaksud untuk ke kelas dan menyapa teman-teman yang lain.


“Yogi!” seseorang menyerukan namanya. Ketika dia berbalik, dia menemukan Renata yang berjalan menghampiri. “Pagi!” gadis itu berhenti di hadapannya.


“Pagi, Renata,” balasnya. Ke duanya berjalan berdampingan, menuju gerbang yang terbuka lebar.


Yogi berpaling, menatap wajah Renata yang tampak tersenyum. Seperti biasa, senyum itu menakjubkan. Dia bahkan telah memotret beberapa gambar dan meyimpannya di otak.


¬-aku mencintaimu.


Mata Yogi terbelangah, ketika mengingat itu. Kemarin di bus, dia mengucapkan itu pada Renata ketika gadis itu terlelap. Namun, itu tak mengubah fakta bahwa dia telah mengutarakan perasaannya.


Tak sadar, ritme jantungnya mulai berpacu dengan waktu, mendorong lebih banyak darah ke kepala. Ketika suhu udara terasa naik, dia berpaling. Dia berharap supaya wajahnya tidak terbakar.

__ADS_1


“Emmm ..., aku minta maaf dan terima kasih.” Yogi mengangkat wajah ketika mendengar itu dari Renata.


“Eh?” Yogi memiringkan wajah. “Untuk apa?”


“Emm ..., kemarin aku tertidur di bus. Jadi, kau harus menggendongku pulang. Karena itu, maaf karena merepotkanmu dan terima kasih karena tidak meninggalkanku.” Renata menyembunyikan wajah, tetapi Yogi menyadari telinga Renata yang memerah.


Yogi sempat mengira bahwa Renata menyinggung soal ucapannya, yang berkata bahwa dia mencintai Renata. Namun, dia bersyukur karena bukan itu maksud Renata.


“Sama-sama,” balas Yogi, “aku juga berterima kasih karena sudah mengajakku kemarin. Berkatmu, beberapa bebanku lenyap. Jadi, aku terlelap semalam,” lanjutnya.


“Syukurlah kalau itu membantu,” Renata berpaling, tersenyum padanya.


“Bisa kalian tidak bermesraan di tengah jalan? Kalian membuat pagi ini terasa menjijikkan.”


“Dilarang bersemesraan di tengah jalan!” Yogi dan Renata berpaling pada arah yang sama.


Apa yang terlihat adalah Rizki yang berwajah dingin. Laki-laki itu masih saja tak memiliki rem mulut. Itu membuatnya berpikir apa Rizki tidak pernah dididik akan cara berbicara yang sopan. Namun, Yogi sudah terbiasa dengan itu.


Di samping Rizki adalah Lia, si gadis mungil yang kini tengah menaruh dua tangan di pinggang. Untuk alasan yang tak diketahui, Lia memasang wajah kesal dengan pipi yang menggembung.


Harapan Yogi terkabul, dia berhasil melihat wajah Rizki dan Lia, bahkan lebih cepat dari perkiraannya.


“Kami tidak bermesraan. Jadi, bisa kalian hentikan itu?” Renata tersenyum kecut.


“Kalian bermesraan dan itu jelas,” jawab Rizki.


“Itu benar. Rena tak boleh merebut Kak. Yogi, karena Kak. Yogi adalah milikku,” Lia menuding Yogi.


“Sejak lahir!” Lia berseru.


“Haaa ....” Yogi menghela napas sambil memijat kening.


Perbuatan Lia mengurungkan niat, untuk merangkul mereka berdua. Jadi, Yogi akan menahan diri dan membiarkan segalanya berjalan seperti hari lainnya.


“Ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu?” Rizki memiringan wajah.


“Apa maksudmu?”


“Kak. Yogi terlihat lebih bercahaya dibanding sang surya,” Lia menyahut.


“Begitulah,” imbuh Rizki.


“Emmm ....” Yogi dan Renata saling menatap untuk sejenak. Tidak lama kemudian, mereka berdua berpaling pada Rizki dan Lia.


“Rahasia,” ucap Yogi dan Renata bersamaan.


“Kenapa Renata ikut menjawab? Apa yang terjadi pada kalian?”

__ADS_1


“Kak. Yogi berselingkuh dengan Renaa!” Lia menudingnya, mengakibatkan perhatian beberapa orang tertuju padanya.


“Oh, ayolah! Aku bahkan tidak memiliki kekasih,” balas Yogi.


“Jika kau memiliki satu, gadis itu pasti tidak waras,” ketus Rizki.


“Apa maksudnya itu?” Yogi melempar pertanyaan.


“Kak. Yogi, jahat!” Lia berseru kembali.


“Aku memang jahat!”


“Kau iblis,” Rizki menambakan.


“Akan kuhantui tidurmu!” Yogi mulai naik pitam.


“Hantu!” seru Lia sambil menunjuknya.


“Pocong,” imbuh Rizki.


“Genderuwo!”


“Kepala buntung.”


“Nyi roro kidul!”


“Tuyul”


“Bisa kalian berhenti?” Yogi akhirnya mengacak-acak rambut sendiri, merasakan dua rekan yang tak bisa berhenti melempar ejekan. “Nyi roro kidul itu bahkan seorang perempuan!”


“Bisa kita lanjutkan obrolan ini di kelas?” ucap Renata sambil menahan tawa.


“Astaga,” gumam Yogi.


“Baiklah, sampai jumpa di kelas, Tuyul!” Rizki menepuk pundak Yogi sebelum meninggalkan gerbang.


“Dadah, Genderuwo!” Lia menyusul Rizki.


“Hahaha ....” Akhirnya tawa Renata meledak.


“Sepertinya itu lucu,” gumam Yogi.


“Maaf. Aku tidak bisa menahannya lagi,” jawab Renata.


“Baiklah, aku akan berjalan lebih dulu.” Yogi meninggalkan Renata.


“Eh, tunggu!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2