
Bab 45 ~Monster~
“Don’t abuse someone kindness. Remember! In every angel, a demon hides – Jangan menyalahgunakan kebaikan seseorang. Ingat! Sosok iblis bersembunyi dalam diri setiap malaikat.”
-Unknown-
Normal. Selama beberapa minggu terakhir, semuanya berjalan normal. Tak ada kejadian menarik untuk diceritakan dari keseharian Yogi. Dia menjalani hidup seperti hari lainnya. Namun, kali ini dia tak memaksakan diri dengan melahap informasi akademis secara berlebihan, seperti sebelumnya.
Setelah belajar dari kesalahan, dia pun mengurangi waktu belajar. Dia menggunakan waktu luang untuk bermain basket atau menemani Lia berkeliling sekolah. Namun, sesekali dia belajar bersama dengan tiga rekan lainnya.
Tak seperti beberapa sesi sebelumnya, kini Yogi hampir tidak menanyakan apa pun pada Rizki atau Renata. Ketika dua orang itu mengoreksi jawabannya pun, dia selalu mendapat hasil yang memuaskan.
Ya, harinya berjalan normal seperti remaja SMP lainnya. Akan tetapi, kalau dia dipaksa untuk menuturkan hari-hari tersebut, maka dia memiliki satu hal baik yang terjadi. Jarak antara dirinya dan Renata hampir lenyap. Ketika dia bersama Renata, dia bisa membuat suasana yang bagus. Renata pun tak segan untuk menghampiri dan sekedar bercakap dengannya meski tak ada keperluan.
Yogi senang akan hal itu. Itu membuatnya sadar bahwa Renata telah menerimanya sebagai seorang teman dekat. Tidak, tetapi mungkin saja Renata sudah meliriknya sebagai seorang laki-laki.
“Yogi, cepat!” ucap Renata sambil mempercepat langkah.
“Kak. Yogi, ayo!” Lia menyusul sambil melompat-lompat seperti seekor kelinci.
Dua gadis itu benar-benar terlihat riang. Renata yang awalnya pendiam pun mulai menunjukkan sisi yang berbeda padanya. Renata bahkan bisa bersikap seegois Lia. Namun, itu justru menambah kecantikan pada wajah tersebut.
“Sepertinya kau kurang peduli pada hasil tryout kali ini” ucap Rizki ketika mendampinginya.
Di lorong panjang tersebut, mereka beriringan dalam kerumunan remaja sebaya mereka, bermaksud untuk melihat nilai hasil tryout ke tiga, yang menjadi tryout terakhir. Setelah ujian itu, maka hanya akan tersisa UAS dan UN. Dia perlu bersiap, tetapi tak boleh terlalu memaksakan diri.
Di sisi lain, tampaknya Rizki tak memiliki kekhawatiran terhadap nilai. Tak terlihat kerisauan di wajah dingin tersebut. Namun, itu wajar jika mengingat nilai Rizki yang tinggi. Laki-laki itu bahkan tak pernah meninggalkan peringkat sepuluh seangkatan.
Jika kecerdasan Rizki dibandingkan dengannya, maka itu bagaikan bumi dan langit. Tak peduli bagaimana dia mencoba, bumi tak akan pernah menggapai langit, hanya mampu menatap dan mengagumi.
“Begitulah,” jawabnya.
“Apa kau menyerah untuk mendapatkan nilai bagus?” Rizki menyikut lengan kirinya.
“Tidak. Aku hanya ..., tidak ingin memikirkan sesuatu terlalu keras. Itu akan berdampak pada hasil mayor,” jawabnya.
“Kau terdengar seperti orang dewasa sekarang. Apa yang terjadi selama beberapa minggu terakhir?” Rizki merangkulnya.
“Bukan sesuatu yang bisa kuceritakan begitu saja,” jawab Yogi sambil memindah lengan Rizki yang melingkar di sekitar leher.
“Yah, aku tidak peduli kau mau bercerita atau tidak.” Rizki memasukkan ke dua tangan ke saku celana. “Ngomong-ngomong kau juga tampak lebih dekat dengan Renata. Apa itu ada hubunganya dengan Renata?”
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa ini ada kaitannya dengan Renata?”
“Yah, kalian terlihat lebih dekat sekarang. Aku bahkan melihat Renata sering menghampirimu, di kelas, meski tak ada hal penting. Jadi, aku menyimpulkan bahwa terjadi sesuatu di antara kalian, tetapi karena kau tidak mau bicara, aku tidak akan memaksa. Cukup bagiku untuk mengetahui bahwa temanku ini tak lagi terbebani,” jawab Rizki.
“Jika mengingat saat kita pertama berjumpa, kau tidak akan mengatakan kalimat semacam itu. Kau sudah berubah, ya,” balas Yogi.
Benar, saat pertama kali mengenal Rizki, Rizki akan menjauhinya dan dia akan menempel pada Rizki. Bukan tanpa arti, tetapi karena dia tertarik untuk menjadi teman Rizki yang memiliki otak encer. Namun, Rizki memiliki mulut pedas dan tidak memiliki rem untuk menyaring kalimat yang hendak dikeluarkan. Sayangnya, Yogi tak pernah memikirkan hal itu dan terus membayangi Rizki.
Mungkin karena terlalu lelah untuk mengusirnya, akhirnya Rizki membiarkannya. Sejak saat itu, dia sering menghabiskan waktu dengan Rizki. Bermain, belajar, bertengkar, dan bertukar opini menjadi keseharian.
Secara tak terduga, kini Rizki telah menjadi teman terdekat yang dia miliki. Meski berlidah tajam, tetapi dia tahu bahwa Rizki juga memikirkannya sebagai seorang rekan.
__ADS_1
“Yah, karena manusia berubah seiring berputarnya waktu,” balas Rizki. “Kau pun berubah.”
“Benarkah?”
“Kau dulu lebih berisiki dari saat ini. Mungkin kau yang dulu sama berisiknya dengan Lia, tetapi kau sekarang lebih tenang,” Rizki merespon pertanyaannya.
“Heee ..., kurasa aku tertular sifat pendiammu.”
“Ya, dan itu adalah hal bagus.”
“Kak. Yogi!” perhatian ke duanya berpindah, menatap gadis mungil yang melambai tak jauh dari mereka.
Di hadapan mading, terdapat kawanan manusia yang beradu fisik, berusaha mengetahui nilai tryout. Di balik kawanan tersebut, terdapat Lia yang mendampingi Renata. Dua gadis tak memasuki kerumunan, mungkin terlalu enggan untuk masuk dan saling berkontak fisik dengan beberapa laki-laki, atau dua gadis itu sudah mengetahui nilai ujian yang mereka hasilkan.
“Kalian sudah melihat hasilnya?” Yogi segera memberi pertanyaan ketika sampai.
“Aku berada di peringat sembilan,” jawab Renata.
“Aku turun ke sembilan belas,” dengan muka masam, Lia menanggapinya.
“Kau sudah berusaha keras,” ucapnya sambil mengelus rambut Lia.
“Ehehehe ...,” Lia tertawa kecil.
Ketika itu terjadi, Yogi menyempatkan untuk menatap Renata dan gadis itu tersenyum padanya. Renata tampak seperti seorang Kakak yang membiarkan adik bermain dengan teman.
“Apa kalian sempat melihat nilai kami?” giliran Rizki mengajukan pertanyaan.
“Untuk itu ....” Renata dan Lia saling menatap. “Sebaiknya kalian melihatnya sendiri!” lanjut ke duanya.
Untuk beberapa detik, Rizki dan Yogi beradu pandang. Namun, ke duanya segera berpaling dan mendekati kawanan manusia. Rizki segera menyelam, menyisipkan tubuh kurus dan bergerak ke depan, sedangkan Yogi berjinjit dan memanfaatkan tubuh tinggi dan mata tajamnya.
Tenaganya lenyap seketika, membuatnya hampir terjerembab ke ubin. Namun, ada yang menahan punggungnya. Ketika dia berpaling, dia mendapati Renata dan Lia yang tersenyum padanya.
“Selamat, kau berhasil naik ke urutan 12,” ucap ke duanya bersamaan.
“Kau membuat gurumu bangga, nak,” ucap Rizki ketika keluar dari balik kerumunan.
“Kau juga, selamat karena berhasil naik dua tingkat.”
“Ahahaha ...,” tawa mereka meledak. Namun, Yogi masih tak percaya bahwa dia berhasil naik ke urutan 12, tetapi itu mungkin adalah hasil kerja kerasnya.
Renata dan Lia mendorongnya, mengakibatkannya bisa berdiri tegak kembali.
“Kurasa kita harus merayakan ini,” Renata memberi usulan.
“Ide bagus. Aku ingin nasi goreng!” Lia berseru.
“Aku akan ambil semangkuk bakso,” Rizki mengikuti.
“Tujuan berikutnya adalah kantin!” Lia berseru, berbalik, dan melesat. “Ah!” Karena tak melihat jalan, gadis itu menumbuk seseorang terjatuh.
“Apa-apaan ini? Kenapa ada anak kecil kecil di sini?” jawab orang itu. Orang itu memiliki tubuh besar dan tinggi. Namun, karena memakai jaket, Yogi tak bisa mengetahui kelas orang itu.
“Maaf, aku tidak melihat dengan benar,” Lia bangkit dan meminta maaf.
“Apa kau pikir tindakanmu bisa dimaafkan?” ketika tangan orang itu merayap di udara, menargetkan kepala Lia, Yogi segera meraih pergelangan tangan tersebut.
__ADS_1
“Bisa kau lepaskan dia?” tanya Yogi.
“Lebih baik kau pergi dari sini,” imbuh Rizki yang kini berdiri di sisinya.
“Ha! Jangan pikir aku takut melawan kalian berdua!”
“Dia sudah meminta maaf,” ucap Yogi.
“Lalu?”
“Ah, kau ada di sini!” perhatian setiap orang tertuju pada sumber lain. “Yogi dan Rizki? Seperti biasa kalian terlihat dekat. Aby, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku menyuruhmu ke gudang?” seorang laki-laki mendekat.
Laki-laki itu bukan orang asing bagi Yogi. Mereka pernah duduk di kelas yang sama. Nama laki-laki itu adalah Hendra dan sepertinya Hendra memiliki hubungan dengan orang menyebalkan yang hendak menjadi lawannya.
“Eh? Biar aku menghajar mereka dulu, Kak. Hen ...―”
“Maaf, aku akan mendidik juniorku dengan benar setelah ini.” Hendra memukul kepala belakang orang itu sebelum kalimat tersebut selesai.
“Sebaiknya kita lupakan saja! Ini juga kesalahan pihak kami,” jawab Rizki.
“Oh, syukurlah kalau begitu,” balas Hendra.
“Kami pergi dulu,” ucap Yogi dengan suara datar. “Ayo!” Yogi dan rekannya pun angkat kaki, meninggalkan Hendra dan juniornya.
Ketika mereka berempat tak lagi terlihat, Hendra menghela napas lega.
“Kenapa Kau menghentikanku?” Hendra memfokuskan perhatian pada junior bodohnya.
“Dasar bodoh. Bukankah aku sudah pernah menceritakannya padamu?”
“Bercerita?”
“Di sekolah ini terdapat dua monster. Dua laki-laki itulah monster yang kumaksud. Ketika mereka berdiri sendiri, itu sudah dangat buruk, tetapi mereka justru berdua. Mereka seperti saudara pembawa bencana. Jika kau mengusik mereka atau gadis mereka, kau akan hancur dalam beberapa hari.”
“M-m-mereka adalah monster gila itu?” juniornya menelan ludah.
“Bersyukurlah karena mereka tak mempermasalahkan hal ini!”
“Y-ya, aku beryukur.”
“Sekarang kau perlu ke gudang ekstrakulikuler dan membersihkannya.”
“Eh?”
“Itu perintah!”
“Baik.”
---
Hai hai hai ...,
Author menyapa kalian lagi disini. Aku menaruh penaku untuk hari ini dan menghela napas lega karena bersyukur terhadap Tuhan YME karena memberiku kesempatan untuk menyelesaikan bab ini.
Di beberapa chapter sebelumnya, aku sempat memberi petunjuk tentang inner problem para gadis. Sekarang adalah giliran para pria. Untuk kalian yang sudah bisa menebak masalah dalam diri masing-masing karakter, aku mau bersabar hingga chapter yang menceritakan inner problem masing-masing karakter. Namun, aku tetap menerima spekulasi di kolom komentar.
Di sisi lain, karena aku sudah memberikan petunjuk akan inner problem masing-masing karakter, ini juga memberi arti bahwa BRIDE season pertama akan segera selesai. Yap. para tokoh kita kan lulus dari SMP dan memasuki masa paling indah yaitu SMA.
__ADS_1
Kuharap kalian mau menetap di sini bersamaku hingga cerita ini terselesaikan. Karena itu, tunggulah kejutan yang telah kusiapkan untuk kalian. Kenapa?
Karena roda kehidupan selalu berputar.