
Bab 48 ~Kebetulan~
“There are no accident – Tak ada yang namanya kebetulan.”
-Master Oogway – Kungfu Panda-
“Hoam!” Yogi menguap. Rasa kantuk masih bergentayangan di balik punggung. Meski tidurnya cukup, tetapi dia merasa kurang. Mungkin karena tubuh yang terasa lelah atau karena alasan lain.
Tryout, UTS, UAS, dan UN. Semua ujian tersebut telah terlewati. Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu pun terlalui. Selama waktu berputar, Yogi tak memiliki kegiatan untuk dilakukan. Murid kelas sembilan tak lagi diwajibkan menghadiri sekolah. Mereka bebas melakukan apa pun yang mereka suka. Namun, beberapa orang lebih memilih datang ke sekolah dan berkumpul dengan rekan sebaya.
Tak memiliki teman di rumah pasti membuat mereka bosan. Karena itu, mereka memutuskan untuk ke sekolah meski tak ada pelajaran yang menanti. Namun, ada pula yang datang ke sekolah untuk menuntaskan tugas-tugas yang belum selesai.
Beberapa murid memiliki rasa malas yangcukup tinggi. Ada beberapa tugas dari guru pengajar yang belum sempat diselesaikan. Karena itu, guru pengajar memberi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Ini menjadi waktu yang tepat bagi para murid untuk menyelesaikan tugas lama dan mendapat nilai.
Ada pula yang sengaja meminta tugas baru karena nilai yang rendah. Tentunya ini berfungsi supaya nilai di rapor terlihat lebih memuaskan.
Yogi pun sesekali datang ke sekolah. Namun, bukan karena dia hendak menyelesaikan tugas atau meminta tugas. Dia datang ke sekolah hanya untuk mengganti suasana karena bosan di rumah. Pasalnya, tak ada apa pun yang bisa dia lakukan di rumah. Adiknya pergi sekolah dan orang tuanya pergi bekerja. Jadi, dia sendirian dalam kesenyapan, menanti hal menarik untuk dilakukan.
Ketika di sekolah pun, dia jarang menemukan rekan sebayanya, tetapi itu wajar karena kebanyakan dari mereka pasti enggan menginjakkan kaki di lingkungan sekolah. Rizki, Lia, serta Renata pun belum pernah dilihatnya sejak terakhir kali mereka berkumpul.
Dia ingin melihat wajah tiga orang itu, merindukan canda tawa bersama mereka. Namun, dia tak memiliki alasan yang tepat untuk mengajak mereka keluar. Jadi, dia menyerah dan memilih untuk berjalan sendirian.
Sekali lagi Yogi menguap. Air mata menggumpal di sudut mata. Jari telunjuk pun mengusapnya sebelum mengalir dan jatuh ke tanah.
Yogi merasa melewatkan sesuatu. Namun, dia tak bisa mengingat apa itu. Tugas-tugas sudah selesai dikerjakan. SPP sekolah pun sudah lunas. Namun, tetap ada yang terasa kurang.
“Hmmm ....” Yogi berdengung, membuat suara seperti seekor nyamuk yang mengintai mangsa. “Aku seperti melupakan sesuatu, tetapi apa?” tanyanya pada diri sendiri seraya mencoba memanggil kembali beberapa ingatan. Sayangnya, dia tak dapat menemukan informasi apa pun yang dianggap berguna.
__ADS_1
“Masa bodoh,” gumamnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ketika salah satu tombol ditekan, layarnya menunjukkan angka 8.32 pagi. Gerbang sekolah ditutup pada 6.30 pagi. Akan tetapi, dia tidak terlambat. Satu-satunya alasan yang tepat untuk mendukung hal itu adalah karena kelas sembilan sudah bebas. Jadi, peraturan sekolah tak lagi mempan pada murid kelas sembilan.
Di hari normal lainnya, tak mungkin dia membawa ponsel. Jika guru menemukannya membawa ponsel, maka ponselnya bisa saja disita. Ketika itu terjadi, orang tuanya harus ke sekolah dan mengambil ponsel tersebut sambil diberi teguran untuk tidak membiarkannya membawa ponsel ke sekolah.
Sama seperti Rizki yang tidak menyukai hal merepotkan, Yogi pun menghindarinya. Karena itu, dia tak pernah membawa ponsel ke sekolah. Alasan itu juga yang menyebabkannya tak bisa memiliki nomor telepon Renata atau Rizki.
Pelan, Yogi menyimpan kembali ponsel ke saku celana. Hal aneh yang tak pernah terpikirkan olehnya adalah meminta nomor mereka ketika berada di luar sekolah.
Mereka cukup sering bermain di luar sekolah. Ketika itu terjadi pun Yogi selalu membawa ponsel. Namun, dia tak pernah ingat untuk meminta nomor telepon mereka.
Dia selalu terlena suasana dan justru melupakan hal-hal kecil. Namun, melupakan hal itu pun tidak merugikannya lagi pula bisa berkumpul dan bermain dengan mereka sudah menjadi kesenangan tersendiri.
Setelah beberapa meter, akhirnya Yogi melewati gerbang sekolah. Tampak senyap. Tak seorang murid pun yang melintas di bidang penglihatannya. Di pos satpam pun hanya terlihat satu orang yang tengah berjaga.
Ketika pandangannya dan satpam bertemu, Yogi tersenyum dan membungkuk pelan. Dia mengenal satpam itu dan satpam itu pun mengenalnya. Karena itu, dia tak akan mendapat teguran.
Yogi berpaling dari pos satpam. Ke dua kakinya diangkat bergantian dan hendak menuju kelas. Ketika memasuki lorong sekolah, permukaan kulit wajahnya disapu angin. Terasa dingin, menusuk kulit, membuatnya menggigil untuk beberapa saat.
“Eh?” tak seperti gerbang sekolah yang sunyi, lapangan olahraga tampak ramai. Bukan karena murid kelas tujuh atau delapan yang sedang berolahraga, tetapi karena murid kelas sembilan yang bermain di sana.
Ke mana pun matanya memandang, Yogi menemukan murid kelas sembilan. Di hari-hari sebelumnya, ini tak pernah terjadi. Dia tak pernah menjumpai siapa pun dari kelas sembilan. Namun, entah apa yang membawa mereka semua kali ini. Apa terjadi sesuatu?
Sementara berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran, Yogi memutuskan untuk pergi ke kelas. Berdiam diri pun tak akan menghasilkan apa-apa. Karena itu, dia hendak menanyakan apa yang terjadi pada siapa pun yang ada di kelas.
Setelah melangkah cukup jauh, Yogi tiba di hadapan pintu kelas. Dia mengintip ke dalam dan mendapati isi kelas yang ramai. Tak ada bangku yang kosong, bahkan ada yang berlarian dalam kelas. Baik, kini dia kebingungan dengan yang terjadi.
Ketika perhatiannya menemukan Rizki di pojok kelas, kaki bergegas melangkah dan menghampiri laki-laki itu. Laki-laki itu tampak membawa novel, fantasi, seperti hari normal lainnya.
“Rizki!” Yogi menyebut nama temannya, membuat Rizki menarik buku dari depan mata dan memutar bola mata padanya.
“Oh, Yogi. Akhirnya kau datang,” balas Rizki.
__ADS_1
“Akhirnya? Apa maksudmu? Juga, kenapa begitu ramai sekarang? Apa yang terjadi?” tak berpikir lebih panjang, Yogi menghujani Rizki dengan berbagai pertanyaan.
“Hmm?” Rizki memiringkang wajah. “Apa tidak ada yang memberitahumu jika sekolah mencetak hasil UN?”
“Ha?” Yogi memiringkan wajah. “Kapan itu terjadi?”
“Beberapa hari yang lalu. Pengumumannya ada di mading sekolah dan aku beruntung karena sedang ada di sekolah,” jawab Rizki.
“Oh, aku tidak menyadarinya.”
“Yah, mari anggap ini sebagai keberuntunganmu karena hadir di waktu yang tepat.”
“Yah, ini kebetulan yang menyenangkan.”
“Tak ada yang namanya kebetulan,” balas Rizki.
“Terserah.” Yogi membanting tubuh dan mendapingi Rizki. “Kapan itu akan diumumkan?”
“Pukul sembilan.”
“Apa Renata dan Lia ada?”
“Mereka ke kantin.”
“Itu bagus.”
“Mau ke kantin? Aku mulai lapar.”
“Tentu.” Yogi bangkit dan melakukan peregangan otot sejenak. Di sisi lain, Rizki menutup buku dan segera angkat kaki. Ke duanya beriringan, menyusuri lorong.
__ADS_1