
Bab22 ~Kesempatan~
“Ambil setiap kesempatan! Bagaimana jadinya, itu bisa dipikirkan nanti.”
-Mayn Urr Izqi
---
Urusan di toko aksesoris selesai. Hadiah untuk Renata sudah berada di genggaman. Dia tinggal memberikan itu pada Renata, nanti. Karena merasa berhutang pada Kak. Yuutha, dia pun memutuskan untuk membelikan penjepit rambut untuk Kak. Yuutha.
Awalnya Kak. Yuutha menolak, tetapi dia memaksa supaya pemberiannya diterima. Dia berkata bahwa tak akan ada yang memakai penjepit tersebut. Di sisi lain, dia memilih penjepit, Kak. Yuutha, berdasarkan selera Rizki. Meski sederhana, tetapi dia yakin bahwa Rizki akan menyukainya. Berkat hal itu, Kak. Yuutha menerima hadiah darinya. Namun, Kak. Yuutha juga berkata akan membalasnya suatu hari nanti. Akhirnya dia menuruti Kak. Yuutha.
Untuk beberapa menit, mereka mengelilingi mal berdua, mencari tiga rekan yang menghilang entah ke mana. Mereka berkata akan beristirahat, tetapi mereka tidak memberitahunya di mana akan beristirahat. Namun, berkat hal itu, dia bisa mempererat hubungannya dengan Kak. Yuutha. Kalau dia tidak mencintai Renata, mungkin dia akan merebut Kak. Yuutha dari Rizki.
Mungkin karena frustasi, akhirnya Kak. Yuutha mengirim SMS pada Rizki, menanyakan lokasi mereka. Kak. Yuutha berkata bahwa mereka ada lokasi Lia beristirahat tadi. Karena dia mengetahui lokasi itu, dia pun memimpin jalan.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka bisa melihat Rizki, Renata, dan Lia berada di kursi yang sama. Renata memicingkan mata ketika melihat Kak. Yuutha; Lia tertunduk dalam keheningan; Rizki melambai padanya dan Kak. Yuutha. Ketika menghampiri mereka, Kak. Yuutha menarik napas panjang dan mengajak semuanya untuk makan siang. Tentunya itu berdasarkan saran darinya.
Hari sudah siang dan mereka belum mengisi perut. Karena itu, mereka menyetujui hal tersebut.
Di sepanjang perjalanan, Lia bersembunyi di baliknya; Renata terus menusuk Kak. Yuutha dengan mata tajam; Rizki dan Kak. Yuutha saling menggengam tangan. Dia bisa merasakan beberapa rasa yang bercampur aduk di udara, membuatnya bingung untuk melakukan apa.
“Baiklah, aku sedang makan ingin ayam goreng saat ini. Jadi, aku memilih tempat ini,” ucap Kak. Yuutha sambil menghentikan langkah di hadapan sebuah restoran cepat saji.
Dari balik punggungnya, dia bisa merasakan Lia mengintip ke depan.
“Bukankah kau ingin ayam goreng?” bisiknya pada Lia. Namun, gadis mungil itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Di sisi lain, terdapat Renata yang masih mengunci mulut. Sepertinya gadis itu masih belum memaafkan Kak. Yuutha. Dia harus mencari kesempatan supaya Kak. Yuutha bisa meminta maaf, pada Lia, secara personal. Dia juga perlu memberikan hadiahnya pada Renata. Entah kenapa itu terasa berat hanya dengan dipikirkan.
Akhirnya mereka masuk. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantre. Setelah memesan, mereka membawa makanan ke salah satu meja. Ketika dia duduk di salah satu kursi, Lia mengambil tempat di sisi kanannya, sedangkan Renata di sisi kirinya. Entah apa yang dipikirkan dua gadis itu, tetapi mereka selalu duduk menjepitnya. Meski itu baru terjadi dua kali.
Di sisi lain, Kak. Yuutha dan Rizki duduk di hadapan mereka, masih berbincang seolah dia dan dua orang lainnya sengaja diabaikan.
Tekanan udara masih terasa berat ketika dia menyantap makanan. Namun, dia tetap menyuapi mulutnya, memaksa agar mulutnya mengunya makanan karena dia memang lapar. Namun, tetap menjaga kesopanan karena Renata hanya berjarak beberapa centi di sisinya.
Setelah beberapa menit, piringnya kosong. Tertinggal minuman bersoda di gelas. Begitu pula dengan yang lain. Namun, tak terjadi percakapan apa pun sejak tadi.
“Permisi, aku harus ke toilet.” Lia melompat dari kursi.
__ADS_1
Yogi yang menyadari hal itu segera memiringkan kepala sambil menatap Kak. Yuutha. Kak. Yuutha yang sadar pun segera bangkit dan berkata, “Aku ikut.”
“Eh?” mata Lia terbelalak.
“Ak ....” Renata hendak bangkit, tetapi Yogi segera menghentikan Renata, menekan tubuh gadis tersebut agar tetap duduk di tempatnya.
“Jangan khawatir! Aku sudah berbicara pada Kak. Yuutha tadi. Mereka akan baik-baik saja,” bisiknya pada Renata.
“Kak. Yogi,” panggil Lia sambil menatapnya dengan mata sayu.
“Jangan melihatku seperti itu! Aku tidak bisa masuk ke toilet perempuan,” dia menolak ajakan Lia tentunya.
“Lia, ayo!” Kak. Yuutha tersenyum pada Lia.
Lia tertunduk semakin dalam, mengekor Kak. Yuutha yang memimpin jalan. Tidak lama kemudian, sosok mereka lenyap ditelan pintu di salah satu dinding.
“Emm ..., Yogi, sampai kapan kau akan menaruh tanganmu di sana?” ketika Renata mengatakan itu, dia segera mencari tahu letak tangannya.
Matanya terbuka lebar ketika mengetahui posisi tangannya. Itu berada di paha Renata. Dia seperti menyentuh selembar kain sutra, terasanya lembut, hangat di tangannya. DI sisi lain, Renata berpaling darinya, berusaha menyembunyikan wajah yang terbakar.
“Ah, maaf!” Yogi menarik tangan, berpaling, tak mampu menunjukkan wajah karena kecerobohan.
“J-jangan khawatir! Aku sudah berbicara dengan Kak. Yuutha, tadi,” jawabnya singkat.
Sluuurrrp! Suara Rizki menghisap habis isi gelasnya. Perhatiannya dan Renata tertuju pada laki-laki itu untuk sejenak. Sepertinya Rizki sengaja melakukan itu untuk memecah keheningan. Dia benar-benar teman yang baik, itulah yang tersirat dalam pikiran Yogi.
“Minumanku habis. Aku akan membeli lagi,” Rizki bangkit dan meninggalkan mereka. Padahal, Yogi baru saja berpikir bahwa Rizki melakukan itu untuknya. Namun, sepertinya dia salah.
Perhatiannya mengikuti Rizki, menyadari ibu jari Rizki yang ditunjukkan padanya. Saat itu pula Yogi sadar bahwa Rizki memberinya kesempatan untuk berdua dengan Renata. Tentunya dia harus memanfaatkan rencana tersebut. Karena itu, dia melakukan hormat pada Rizki.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Renata melihat tingkahnya.
“Ah, tidak ada,” jawabnya sambil menurunkan tangan.
Kini dia perlu mencari cara supaya bisa memberikan penjepit di kantong plastik. Namun, dia tidak tahu cara untuk membuka pertanyaan.
“Kau jadi lebih dekat dengan Lia,” ujar Renata.
“Eh? Emmm ..., begitulah.”
__ADS_1
“Kalian benar-benar terlihat seperti kakak beradik.”
“Begitukah?”
“Ya.”
“Ngomong-ngomong aku membelikan Lia dan Rizki sebuah buku sebagai tanda pertemanan dan ucapan terima kasih. Aku juga membelikan Kak. Yuutha penjepit rambut. Karena itu, aku ...,” jantungnya berdentum semakin keras di setiap detik yang berlalu, “juga membelikanmu ini.” Yogi mengulurkan kantong plasti pada Renata.
“Eh? Tetapi aku ...―”
“Terimalah,” sebelum Renata menyelesaikan kalimatn tersebut, Yogi segera memotong.
“Terima kasih,” ucap Renata seraya tersenyum lembut padanya. Gadis itu menerima kantong plastik. Tidak lama kemudian, Renata mengintip ke dalam kantong plastik tersebut. Renata menarik keluar sebuah penjepit rambut yang terbalut plastik. “Ini indah,” gumam gadis itu, “terima kasih.”
“Aku senang kau menyukainya. Cobalah memakainya!”
“Ah, tentu.” Renata berpaling darinya, menyelipkan penjepit merah di antara rambut hitam. “Bagaimana menurutmu?” Renata berpaling padanya, menunjukkan rupa menawan. Penjepit merah tersebut, membuat wajah Renata menjadi titik perhatiannya. Tak mampu berucap, hanya terkesiap. Raganya bergetar, pikirannya memudar, menyisakan sosok gadis yang menebar kehangatan.
“Cantik sekali,” tanpa sadar, dia mengatakan itu.
Akibatnya, wajah Renata merona laksana mentari di penghujung hari. Gadis itu berpaling darinya, menyembunyikan wajah.
“Cie ...,” mereka berpaling pada sumber suara tersebut, mendapati Lia dan Kak. Yuutha yang berdiri di dekat mereka.
“Ada yang jatuh cinta,” ucap Kak. Yuutha.
“Sepertinya kita mengganggu mereka,” Lia berkomentar.
“Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka. Ayo, kita pergi!” Kak. Yuutha berbalik.
“Siap, Kak!” Lia mengekor.
“Oi! Tunggu!” Yogi menaikkan suara, tetapi dua gadis itu sudah menjauh.
“Nikmati waktumu! Kak. Yogi, Rena!” teriak Lia dari jauh.
Entah kenapa, Renata tak mengucapkan apa pun. Mungkin karena gugup, mungkin juga karena terganggu akan kehadirannya. Namun, senyum tipis di bibir tersebut tak mungkin mengatakan benci padanya. Karena itu, dia membisu, menyembunyikan senyum. Sama seperti Renata.
__ADS_1