Bride

Bride
Bab 50 ~Mendadak~


__ADS_3

Bab 50 ~Mendadak~


Pernahkah suatu hari kamu berpikir bahwa ternyata dunia begitu sempit? Pertemuan-pertemuan tak disengaja dengan orang yang tak terduga kadang terjadi begitu saja. Seperti sebuah kebetulan. Namun, mungkin bukan. Mungkin semuanya memang sudah diatur demikian.


 


 


“Haa ...,” suara panjang nan datar keluar dari mulut Yogi. Pandangannya tertuju pada langit-langit, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Ke dua tangan direntangkan dan punggung menempel pada kasur. Kepala pun disandarkan pada bantal.


Tak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Karena itu, Yogi berbaring di atas kasur meski mentari berada di titik tertinggi, menyinari dunia yang tenggelam dalam kesibukan.


Hampir satu minggu berlalu setelah pengumuman nilai UN. Yogi menduduki urutan 14 di angkatannya. Dia berpikir bahwa itu adalah hasil yang bagus, mengingat bahwa sebelumnya dia selalu berada di urutan seratus. Kali ini kerja kerasnya terbayarkan.


Di sisi lain, Renata juga mengalami peningkatan. Selama tryout, Renata biasa menduduki urutan 9. Namun, gadis itu meroket ke urutan 5 di ujian nasional.


Lia pun mengalami hal yang sama. Gadis berisik itu berhasil menduduki urutan 16. Itu cukup mengejutkan bagi Yogi. Awalnya dia berpikir bahwa Lia akan berada di urutan 19 atau 20. Namun, faktanya sedikit lebih tinggi. Yah, Lia pun telah bekerja keras seperti yang lain.


Hal lain yang cukup mengejutkan baginya adalah Rizki. Laki-laki itu berhasil menduduki peringkat pertama. Dia mengakui bahwa Rizki memiliki kecerdasan yang bagus, tetapi laki-laki itu belum pernah menduduki peringat pertama selama berada di sekolah. Namun, di akhir perjuangan, Rizki berhasil, merebut posisi puncak. Sebuah prestasi yang tak pernah disangka oleh siapa pun.


Yah, setelah peningkatan yang dia alami, tiga temannya merasa iri dan belajar lebih giat. Yogi pun tak mau mengalah. Jadi, mereka sering belajar bersama. Karena itulah, mereka berhasil mengalami peningkatan nilai, terutama dirinya dan Lia.


“Oh, ini membosankan,” gumam Yogi.


Pelan, perhatian Yogi berpindah, menatap tembok kamar. Karena tak ada yang menarik, dia memindah perhatiannya kembali, menatap meja belajar yang bersih dari buku-buku. Tak lama lagi, buku-buku pelajaran tersebut akan digantikan dengan buku pelajaran baru. Dia pun akan membutuhkan buku catatan dan alat tulis baru untuk menghadapi bangku SMA.


Meski dia mengetahui semua itu, dia tak bergerak sedikit pun dari kasur. Alasannya sederhana, karena pendaftaran SMA masih belum dimulai. Di sisi lain, dia pun malas meninggalkan rumah karena terlalu panas. Jika dia ingin meninggalkan rumah, dia ingin ke teman yang sejuk. Ruangan yang memiliki AC pun tak apa.


Pelan, Yogi bangkit dari kasur. Perhatiannya berpaling ke samping, bergantian, mencoba menemukan apa pun yang bisa diperhatikan. Namun, dia masih tak menemukan apapun. Karena itu, dia memutuskan untuk ke ruang tamu dan menonton TV. Mungkin ada acara bagus yang bisa mengalihkan rasa bosan.


Tak berpikir lebih jauh, dia segera meninggalkan kamar. Turun ke lantai satu dan duduk di hadapan TV tabung. Setelah remot dipegang, dia pun menekan tombolnya dan TV mulai menyuarakan sesuatu.


Yogi menekan tombolnya berulang kali, mengganti dari satu saluran ke saluran lain hingga dia mematikan TV lagi. Tak ada yang menarik.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ibunya yang baru saja keluar dari kamar.


“Tidak ada, aku hanya bosan,” jawabnya singkat.


“Haaa ....” Ibunya menghela napas dan berlalu ke dapur.


Karena ini adalah hari minggu, orang tuanya tak bekerja. Adiknya pun tengah bermain dengan beberapa rekan di luar rumah. Ibunya mungkin hendak memasak untuk makan siang, sedangkan Ayahnya mungkin terlelap di kamar.


“Kurasa aku akan tidur saja,” gumam Yogi sambil menggaruk kepala belakang.


Dia bangkit dan melakukan peregangan sederhana, sejenak. Setelahnya, dia mulai menuju anak tangga.


Brrr brrr brrr ..., Ponsel berdering.


Refleks menghentikan Yogi dan tangan menarik ponsel dari saku celana. Di layarnya tertulis “Kak. Yuutha” sang kekasih Rizki. Bukan sebuah pesan, melainkan panggilan.


Jika Yogi mengingatnya kembali, dia jarang berkomunikasi dengan Kak. Yuutha. Terakhir kali dia mengirim pesan pada gadis itu adalah malam ketika mereka ke mal. Itu hampir satu tahun yang lalu. Setelah kejadian itu, mereka tak pernah bertukar pesan lagi. Namun, entah apa yang menyebabkan gadis itu menelponnya kali ini.


Tak ingin membuat gadis itu menunggu lebih lama, Yogi pun segera mengangkat panggilan tersebut.


“Kenapa lama sekali?” tanya Kak. Yuutha.


Sembari mendengarkan, Yogi memutuskan untuk bergerak ke lantai dua.


“Maaf, aku sedang ada urusan tadi,” balasnya sambil memasuki kamar. Ketika sampai, dia segera membaringkan tubuh di kasur, “Lalu, kenapa Kakak menelpon?” Yogi kembali ke topik utama.


“Ah, apa kau luang?”


“Sangat. Memangnya kenapa?”


“Apa kau bisa bertemu denganku?”


“Eh? Bisa saja, tetapi ada apa?” Yogi memiringkan wajah, bertanya-tanya apa yang diinginkan gadis itu darinya. Namun, dia tak dapat menerka.

__ADS_1


“Tidak ada alasan khusus. Aku ingin kau menemaniku, itu saja.”


“Emmm ....” Yogi menggaruk pipi, “Bukankah lebih baik jika mengajak Rizki daripada aku?”


“Aku menelponmu bukan dia. Jadi, aku memerlukanmu, bukan dia,” suara gadis itu menusuk telinga. Meski tak berada di hadapan gadis itu, Yogi tetap merasakan aura dingin dari telepon.


“Tetapi ...,” Yogi ragu untuk menerima ajakan tersebut. Setelah semuanya, Kak. Yuutha adalah kekasih Rizki. Tak mungkin dia menghabiskan waktu dengan kekasih seseorang. Dia pun tak ingin mengkhianati Rizki sebagai seorang rekan.


“Kau mau bertemu atau tidak? Putuskan saat ini juga!” sekali lagi, kalimat gadis itu menusuk telinga.


“Aku bisa menemui Kakak sekarang, tetapi apa yang Kakak inginkan dariku?”


“Rahasia. Temui aku di taman dalam satu jam!” Kak. Yuutha memberi perintah.


“Aku mengerti!” jawab Yogi.


“Jangan sampai terlambat!” kali ini peringatan yang keluar.


“Baiklah, aku akan bersiap dulu.” Yogi bangkit dengan rasa malas yang mengekang.


“Sampai jumpa,” setelah mengatakan itu, panggilan pun berakhir.


Yogi menarik ponsel dari telinga dan menatap layarnya. Panggilan sederhana itu terjadi selama beberapa menit. Namun, itu berhasil menambah rasa bosan dan malasnya.


Meski awalnya mencari kegiatan untuk dilakukan, kini dia enggan melakukan apa pun dan memilih untuk tidur. Namun, Kak. Yuutha akan mengamuk dan mungkin membantingnya jika itu terjadi. Setelah semuanya, Kak. Yuutha adalah orang yang disiplin. Dia tak ingin mendapat omelan karena datang terlambat.


“Haaa ....” Yogi menghela napas. Tenaganya lenyap, jiwanya seakan melayang, meninggalan raga di atas tanah. “Apa yang dia inginkan dariku?”


Sambil menatap langit-langit, Yogi mencoba menemukan jawabannya. Namun, tak satu pun jawaban yang mengambang di pikiran. Kemudian muncul pikiran bahwa Kak. Yuutha dan Rizki tengah adu mulut. Jika itu terjadi, salah satu dari mereka pasti tersakiti. Mungkin itu yang terjadi.


“Ah, masa bodoh.” Yogi bangkit dan menarik beberapa lembar pakaian. Dia akan bersiap dan menemui gadis itu terlebih dulu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2