Bride

Bride
Bab 25 ~Kerja Kelompok~


__ADS_3

Bab 25 ~Kerja Kelompok~


“Ketika sekelompok manusia bersatu dan bekerja sama dengan harmonis, peningkatan energi yang tercipta akan dialami oleh setiap individu”


-Napoleon Hill-


Layaknya roda gigi yang terus berputar,waktu pun begitu. Hari demi hari terlewati. Minggu demi minggu terlalui. Dua bulan terlewati dengan cepat. Yogi masih mengingat hari di mana dia kebingungan mengatur napas, ketika berdua dengan Renata. Namun, itu berubah seiring berjalannya waktu.


Yogi tak lagi kesulitan ketika berbincang dengan Renata. Dia bisa membicarakan banyak hal, mulai dari yang penting hingga ke hal-hal konyol.


Ketika dia kehabisan topik, giliran Renata yang mencari topik. Itu terus berlanjut hingga dia merasa bahwa jaraknya dengan Renata tinggal beberapa meter. Namun, dia masih mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


Di sisi lain,hubungannya dengan Lia berubah cepat. Teman di awal, berubah menjadi kakak beradik di depan.


Lia yang berutubuh mungil sangat menempel padanya, bahkan lebih menempel dibanding Tari, adiknya sendiri. Gadis itu juga tak ragu memanggilnya Kakak, di hadapan orang lain.


Karena Lia memiliki tubuh lemah, dia sering menggendong gadis itu. Berkat hal itu, teman sekelas justru menjodohkan mereka, karena mereka sering terlihat bersama.


Sisi mengejutkan Lia adalah porsi makan gadis itu. Dia tak mengira bahwa tubuh sekecil itu bisa menghabiskan nasi lebih banyak darinya. Kesampingkan fakta bahwa Lia adalah seorang gadis, dia penasaran ke mana semua makanan itu pergi. Namun, tidak akan sopan jika menanyakan itu pada seorang gadis. Karena itu, dia memilih diam.


Di sisi lain, Rizki dan Renata juga memotong jarak. Ketika mereka berempat bersama, Rizki dan Renata selalu bisa memikirkan hal untuk dilakukan. Entah itu belajar bersama atau sekedar memainkan sesuatu. Namun, hubungan Rizki dengan Lia juga membaik.


Dua orang berkepribadian terbalik itu bisa membicarakan banyak hal ketika bersama, terutama topik novel. Ketika mereka berbincang tentang buku, dia dan Renata akan mengambil jarak dan menciptakan suasana berbeda untuk diri sendiri.


Yogi merasa bahwa hubungan mereka berempat semakin membaik. Mungkin akan ada saat di mana dia dijodohkan oleh Lia dan Rizki.


“Jangan melamun seperti itu!” suara lembut membelai telinga; tangan seseorang melambai tepat di depan mata. Yogi mengangkat wajah, mencari tahu siapa yang membangunkannya dari lamunan masa lalu.


Renata tersenyum anggun padanya. Bagaikan bunga Anggrek yang mekar di bawah sinar mentari, memancarkan cahaya hangat yang menarik hati. Itulah yang menjaga perasaannya pada Renata. Senyum itu tak mau pudar dari pikiran, justru semakin tumbuh.


“Ah, maaf ...,” Yogi segera menjawab sambil tersenyum.


“Apa yang Kak. Yogi pikirkan?” Lia, yang berada di sisi Renata, melempar pertanyaan sambil memiringkan wajah.


“Bukan sesuatu yang penting,”  jawabnya sambil melambaikan tangan.


“Berani sekali kau melamun. Apa tugasmu sudah selesai?” Rizki menyikut, pelan, lengannya.


“Aku menyelesaikannya beberapa menit lalu,” jawabnya sambil mengoper buku catatan pada Rizki.

__ADS_1


Rizki menerima buku tersebut dan mengecek hasil pekerjaannya, sedangkan dia memindah perhatian pada para gadis. Dua gadis itu sudah sibuk kembali dengan tugas masing-masing. Namun, Lia terlihat menguap beberapa kali. Mungkin mulai bosan.


Beberapa menit lalu, kelas mereka mendapat tugas untuk membuat mading. Mereka diharuskan berkelompok dan mencari materi yang hendak dibahas di buku.


Setelah perintah tersebut diberikan, Lia dan Renata menghampirinya. Itu hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Namun, dua gadis itu hendak berkelompok dengannya, juga Rizki. Jadi, dia tak menolak itu. Rizki pun tak keberatan karena mengetahui bahwa Renata memiliki otak yang cukup encer.


Karena alasan itulah mereka duduk di tempat yang sama. Mereka segera mencari materi yang dirasa bisa ditulis di mading. Kemudian, mereka akan menyalinnya dan menempelkannya pada sterofoam. Setidaknya itu rencana mereka. Namun, mereka memiliki banyak waktu hingga besok. Karena itu, mereka bermaksud untuk melanjutkan tugas tersebut di rumah Renata, sepulang sekolah.


“Ya, kita bisa menggunakan ini. Namun, kurasa ini masih kurang. Cobalah menambahkan beberapa lagi.” Rizki memulangkan buku catatannya.


“Siap, bos,” jawabnya.


Salah satu tangannya segera meraih buku referensi dan mencari materi yang berguna, lantas menyalinnya ke buku catatan.


“Aku lelah.” Lia menghela napas.


Ketika perhatiannya berpindah pada gadis mungil tersebut, gadis itu sudah menempatkan kepala di atas meja. Wajah gadis itu kalut, seperti kain kusut yang belum disetrika. Gadis itu pun menguap, memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi di balik bibir.


“Setidaknya tutupi mulutmu,” ucapnya, “kau masih seorang gadis.”


“Dia benar. Tunjukkan sopan santunmu!” Renata menambahkan.


“O-orang tua?” Renata tergagap, pipi gadis itu merona, sedangkan Yogi mematung. Di pikirannya terlintas adegan ketika Lia berangkat sekolah sambil menyalaminya dan Renata. Itu adegan sederhana yang timbul akibat ucapan Lia.


“Hentikan itu! Setidaknya bertahanlah hingga sepuluh menit ke depan,” ucap Rizki setelah menutup pikiran aneh tersebut.


Lia mengangkat wajah, menatap Rizki yang kini memangku dagu. Untuk beberapa detik, mereka saling menatap tanpa bersuara. Namun, itu segera dibuyarkan ketika Lia berkata, “Kenapa dengan sepuluh menit ke depan?”


“Bukankah ini jadwal terakhir?” Renata akhirnya berhenti menyalin, mengikuti percakapan yang terjadi.


“Benar,” jawab Yogi, “apa sepuluh menit lagi pelajaran berakhir?”


“Benarkah?” Lia bangkit dengan mata berbinar-binar. Lipatan di wajah gadis itu lenyap dengan cepat, tampak seperti bunga Lili yang mekar di tengah lembah.


“Karena itu kerjakan tugasmu dengan benar!” ucap Rizki.


“Tetapi aku sudah tidak mampu,” jawab gadis itu seraya meletakkan kepala ke permukaan meja.


“Haa ..., berikan buku catatanmu!” perintah Renata.

__ADS_1


Lia pun menyerahkan buku catatan, kemudian menutup mata seolah tak peduli lagi dengan tugas tersebut.


“Seberapa banyak yang dia dapat?” tanya Yogi.


“Cukup banyak dan kita bisa menggunakan semua ini, menurutku,” jawab Renata.


“Coba berikan padaku!” Rizki mengulurkan tangan. Renata pun menyerahkan buku catatan tersebut. Rizki mengecek tugas gadis itu, seperti mengecek tugasnya. Berselang beberapa detik, Rizki membuka mulut, “Ya, kurasa ini cukup. Kau bisa beristirahat.” Rizki menutup buku catatan dan menaruhnya di hadapan Lia yang menutup mata.


“Terima kasih,” jawab Lia. Gadis itu tersenyum tipis, memperlihatkan wajah yang menenangkan. Ketika melihat itu, Yogi merasa bahwa dia juga ingin beristirahat. Namun, dia tak ingin menunjukkan sisi pemalasnya pada Renata. Jika bisa, dia ingin memperlihatkan sisi terbaiknya saja. Mungkin itu bisa menjadi nilai lebih baginya. “Kak. Yogi, elus kepalaku! Aku sudah melakukan yang terbaik, bukan?”


Itu adalah kebiasaan Lia yang lain. Entah apa yang dirasakan gadis itu, tetapi gadis itu senang sekali ketika kepalanya dielus. Di sisi lain, Yogi tak mendapat kerugian apa pun ketika melakukan itu. Jadidia selalu menuruti permintaan sederhana tersebut.


“Gadis pintar. Kau sudah melakukan yang terbaik. Sekarang beristirahatlah!” jawab Yogi sambil mengelus rambut Lia.


“Haa ....” Renata menghela napas sambil berpaling ke samping.


“Kenapa?” Yogi melempar pertanyaan lain.


“Ah, tidak. Aku hanya sedikit lelah,” jawab Renata.


“Kak. Yogi, mengatakan itu tadi seperti aku akan mati saja,” Lia angkat suara.


“Eh? Apa maksudmu?” Yogi memiringkan kepala sambil menarik tangan.


“Ketika kau memujinya. Kau mengatakan itu seakan Lia akan mati,” Rizki menjelaskan.


Untuk sejenak, Yogi memiringkan wajah, mencoba mengingat apa yang dia katakan pada Lia sebelumnya.


“Ah, aku minta maaf.” Ketika sadar dengan yang dikatakan sebelumnya, Yogi segera meminta maaf.


“Lupakan! Aku tidak terlalu memikirkannya,” ketika mengatakan itu, Lia membuka sedikit matanya. Namun, adegan tersebut tampak layu di mata Yogi.


Kringg! Bel berbunyi.


“Pulang!” Lia melompat, mengakibatkan tiga rekan dan seisi kelas terkejut. Gadis itu menyahut semua buku catatan dan beranjak ke tempat duduk di barisan paling depan, meninggalkan yang lain.


“Haa ....” Rizki menghela napas.


“Ahaha ....” Renata dan Yogi tertawa kecil.

__ADS_1


“Waktunya pulang!”


__ADS_2