Bride

Bride
Bab 42 ~Istirahat ~


__ADS_3

Bab 42 ~Istirahat ~


“Terkadang, istirahat sejenak adlah pilihan yang tepat. Terkadang, memaksakan pilihan justru berujung sesat”


-Unknown-


 


 


Yogi Berlindung dari terik mentari yang menyengat kulit. Bukan sendirian, tetapi menemani Renata.


Tampak Renata yang membeber kain seluas dua, atau tiga, meter di atas rerumputan. Tidak lama kemudian, gadis itu menarik beberapa kotak makan dari tas selempang dan menata semua itu di tengah.


Yogi tak membantu bukan karena malas, tetapi Renata tak mengizinkannya. Renata menyuruhnya berdiri dan menunggu. Sebenarnya dia tak ingin berdiam diri ketika Renata sibuk menyiapkan segala sesuatu. Namun, dia berpikir bahwa dia pantas mendapat sedikit waktu luang, mengingat tingkah Renata sebelumnya.


Ya, hari ini Yogi melihat berbagai sisi Renata yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia tak habis pikir bahwa Renata bisa bersikap usil padanya, tetapi itu pun menjadi bukti bahwa Renata tak lagi melihatnya sebagai orang asing.


Dia bahkan mengingat masa ketika mengenal Renata. Mereka jarang bercakap, sering diselimuti kesunyian. Dia bahkan kesulitan menatap mata Renata waktu itu. Namun, dia bersyukur karena tak menyerah di tengah jalan.


“Baiklah! kau bisa masuk,” ucap Renata seraya menempatkan diri di dekat kotak makan.


“Ah, terima kasih.” Yogi melepas sepatu, melangkah masuk dan duduk di hadapan Renata.


Angin berembus, membawa rasa segar pada permukaan wajah yang penuh keringat. Namun, itu juga meniup butiran debu. Karena itu, Yogi berpaling , hendak melindungi mata, tetapi tindakannya terhenti. Perhatiannya justru mengunci helaian hitam yang melambai lembut. Senyum yang terlukis pada bibir tipis serta mata cokelat yang melekat padanya.


Hangat, menenangkan. Namun, dadanya juga sesak seakan ditusuk bongkahan es. Meski sang bayu berembus, dia tak dapat menarik udara demi mengisi paru-paru. Entah berapa kali dia dihantui perasaan aneh tersebut. Namun, bibit di hatinya terpupuk oleh perasaan itu. Setelah berbulan-bulan, bibit itu menjelma menjadi kuncup mawar.


Pelan, Yogi berpaling. Dia tak mau mendapat cap aneh karena memandang seorang gadis terlalu lama.


Pandangannya berkeliling, memperhatikan keadaan sekitar. Di sekitarnya terdapat keluarga kecil yang juga menyantap makan siang. Tak lupa pula akan beberapa pasang kekasih yang memadu cinta.


Sekarang Yogi baru memikirkankannya. Dia penasaran dengan pikiran orang lain terhadapnya dan Renata. Apa dia dan Renata terlihat seperti sepasang kekasih? Atau mereka tampak seperti keluarga? Atau mungkin mereka hanya terlihat seperti seorang teman? Meski rasa penasaran tersebut semakin tumbuh, tak mungkin dia bisa menemukan jawabannya.


“Kau tahu?” Perhatiannya berpindah pada Renata yang membuka percakapan. Gadis itu tampak membuka sekotak nasi yang hanya berisi nasi putih.


“Apa?” tanyanya sambil memiringkan wajah.

__ADS_1


“Coba tebak! Kenapa aku mengajakmu kemari?” Renata melempar pertanyaan lain seraya membuka kotak yang berisi sayur kemudian kotak berisi ayam goreng. Setelah membuka setiap kotak, gadis itu menatap Yogi sambil tersenyum.


“Emmm ..., karena kau ingin berlibur?”


“Ahahaha ..., jawaban yang masuk akal,” jawab Renata setelah tertawa kecil.


“Apa jawabanku salah?”


“Separuh benar. Namun, itu hanya tujuan sampingan. Aku memiliki tujuan lain. Coba tebak!”


“Hmmm ...,” Yogi memiringkan wajah. Ke dua tangannya bersilang di dada dan otaknya berputar, memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Renata. Namun, dia tak dapat menemukan satu pun jawaban yang dirasa tepat.


“Tidak bisa menjawabnya?” Renata membangunkannya dari lamunan.


“Yap. Aku tidak secerdas dirimu atau Rizki jadi, kau haru memberitahuku secara langsung supaya aku bisa mengerti maksudmu,” jawabnya.


“Karena kau tidak menjawab pertanyaanku, kau harus diberi hukuman.”


“Lagi?”


“Bukan sesuatu yang buruk, percayalah!” jawab Renata.


Yogi menerimanya dengan senang hati. Untuk sejenak, dia menyempatkan untuk memperhatikan apa yang akan menjadi makan siangnya. Semua yang ada di kotak makannya tampak sederhana. Namun, menarik lidah hingga membuatnya menelan air liur. Namun, ada satu pertanyaan yang merayap dari balik bayangan.


“Apa ini masakanmu?” Yogi menanyakannya tanpa pikir panjang.


“Eh? Ya, aku memasaknya sendiri. Kenapa dengan itu?” Renata menatapnya kebingungan. Namun, itu reaksi yang cukup wajar karena pertanyaan itu tidak memiliki hubungan dengan obrolan sebelumnya.


“Tidak ada. Ini terlihat enak,” jawabnya.


“Apa kau berpikir bahwa aku tidak bisa memasak?”


“Tidak. Sungguh! Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya penasaran saja. Sungguh,” jawabnya sambil memaksa bibir untuk melengkung.


“Ya, sudahlah. Ayo, makan!” ucap Renata.


“Ya.”

__ADS_1


Pelan, Yogi menyendok nasi dan sayur. Ketika sendok terisi penuh, dia memasukkan semua itu ke dalam mulut. Tak seperti beras yang biasa dia makan, beras yang digunakan Renata pasti berkualitas tinggi. Karena itu, memberikan rasa manis ketika menyentuh lidah. Rasa sayurnya pun tetap segar. Namun, kaldu dan rasa asin tetap pekat.


Semua rasa tersebut bercampur aduk dalam mulut, menciptakan rasa yang tak bisa dijelaskan menggunakan kalimat. Dia seperti tenggelam dalam cita rasa yang meledak-ledak. Kalau Renata mengikuti kompetisi memasak, Renata pasti bisa mendapat posisi pertama dengan umami kuat itu.


“Enak. Ini sangat enak,” puji Yogi. Sebenarnya dia ingin mengucapkan kata lain, tetapi hanya kata tersebut yang terukir dalam benak.


“Ah, kau terlalu memujiku. Habiskan cepat! Aku masih ingin bermain setelah ini,” balas Renata.


“Tentu!” tak berpikir lebih jauh, Yogi pun segera mengunyah makan siangnya. Berselang beberapa kemudian, Yogi telah menghabiskan dua porsi makan, sedangkan Renata hanya menghabiskan satu porsi.


Yogi benar-benar dibuat puas dengan makanan buatan Renata. Jika Renata membuka restoran, dia akan mampir ke sana setiap hari.


Kini Renata mengeluarkan sebuah termos. Tak lupa pula dua buah gelas plastik dikeluarkan. Gadis itu menuangkan teh hangat dan menyerahkan itu pada Yogi. Yogi menerima dan mulai menghisap cairan tersebut.


Ketika isinya habis, dia menaruh gelas kosong di atas kain. Perhatiannya berpindah ke langit, menatap kumpulan uap air yang berarak mengikuti angin. Sinar sang surya tampak mengintip dari balik dahan dan dedaunan, membelai permukaan wajah dengan ramah.


Kalau Renata tak mengajaknya, mungkin dia masih mengurung diri di kamar dan belajar. Namun, dia beryukur karena itu tak terjadi.


Pandangan Yogi berpindah pada Renata yang bergerak mendekat. Gadis itu duduk di sisi Yogi. Tak lama kemudian, Renata memegang pipi dan menarik wajah Yogi.


“Eh?” Yogi mengeluarkan suara aneh. Ketika sadar, Renata telah menempatkan kepalanya di pangkuan gadis itu. “Ada apa ini?”


“Inilah tujuanku membawamu kemari,” balas Renata.


“Emm ..., maksudnya?”


“Kau terlalu memaksakan diri belakangan ini. Itulah yang menyebabkan nilaimu turun. Karena itu, aku ingin kau beristirahat sejenak,” balas Renata.


Dari posisi Yogi saat ini, dia mendapat pemandangan yang sempurna. Wajah cantik tersebut tersiram sinar mentari dan membawa pikirannya ke langit.


“Terima kasih.”


“Sssttt ..., jangan berbicara! Tutup matamu dan beristirahatlah!”


“Hmmm ....” Yogi mengangguk.


Pelan, dia menarik napas panjang dan mulai menutup mata, merasakan rasa tenang yang menyelimuti diri. Dengan sinar mentari dan bayu yang menjadi teman, menyempurnakan harinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2