
Bab 51 ~Pengakuan~
“Wanita tak dapat dimengerti dengan kalimat.”
-Mayn Urr Izqi-
Harum, rapi, dan tampan. Itulah bagaimana Yogi melihat diri sendiri ketika berdiri di hadapan cermin.
Jaket hitam, yang biasa digunakan, ditinggal di rumah. Tubuhnya dibalut kaus merah dengan kemeja hitam. Sedangkan celana jeans menutupi kakinya.
“Aku sempurna,” gumamnya sambil menata rambut depan. Ada satu alasan kenapa dia mengganti cara berpakaian. Tentunya karena dia akan bertemu dengan salah satu gadis tercantik di muka bumi. Karena itu dia ingin terlihat menarik meski hanya satu detik. Namun, bukan berarti dia tertarik pada gadis itu.
Dia hanya menghormati gadis itu sebagai kakak kelas. Gadis itu juga merupakan kekasih dari sahabatnya. Karena itu, dia tak ingin mencuri perhatian dari gadis itu. Di sisi lain, gadis itu juga mengerikan.
Di nama belakang gadis itu, terpatri julukan ‘Kembang ES’ yang diperoleh ketika SMP. Alasannya adalah karena selalu menghajar tiap laki-laki yang mendekat. Yogi bahkan pernah menjadi korban.
Tak ingin terlalu lama di satu tempat, Yogi merapikan kemeja sebelum angkat kaki dari depan toko.
Setelah beberapa meter, dia berhenti di pinggir trotoar. Pandangannya berpindah, bergantian, ke samping. Ketika kendaraan berhenti melintas, dia segera menyeberang dan memasuki area taman.
Sebuah pohon besar menjadi penyambut kehadirannya. Berkat pohon tersebut, sinar mentari tak dapat menyengat kulitnya. Ketika angin berembus, tercoreh rasa kesegaran yang menenangkan. Namun, tak seorang pun yang berhenti untuk menikmati itu.
Setiap manusia di sekitarnya terus berjalan, bersama pasangan yang menemani. Terdapat pula beberapa anak kecil yang ditemani orang dewasa. Mungkin keluarga kecil yang menyempatkan diri untuk melepaskan diri dari keseharian yang mengekang.
Tak berhenti, Yogi mendekati salah satu kursi dan mendudukinya. Punggung disandarkan, sementara kepala menatap langit. Angkasa diselimuti gumpalan uap air yang berarak mengikuti embusan angin. Sesekali burung melintas, tetapi segera lenyap karena mata yang tak mampu mengikuti.
Satu pertanyaan mengambang di permukaan kesadaran. Tentu dia tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Di tengah hari libur yang membosankan, seorang gadis mengajaknya bertemu di taman. Namun, gadis itu tak memberitahu apa yang diinginkan. Itu membuatnya bertanya-tanya kenapa.
Dia tak berpikir bahwa gadis itu menyukainya. Itu adalah alasan paling tidak masuk akal. Selain itu, gadis itu juga memiliki seorang kekasih dan Yogi tak berpikir bahwa gadis itu adalah tipe orang yang bisa berkhianat dengan mudah.
__ADS_1
Mungkin gadis itu memiliki hal penting yang harus dibicarakan dengannya. Itu adalah alasan paling masuk akal. Namun, dia tak bisa menerka yang ingin dibicarakan gadis itu. Dia hanya bisa berharap bahwa itu bukan sesuatu yang sangat penting, karena dia tak yakin bisa memberi saran.
“Hmmm ..., kenapa dia mengajakku bertemu?” karena tak tahan, akhirnya Yogi mengeluarkan pertanyaan tersebut.
Pelan, dia menarik ponsel dari saku celana. Ketika salah satu tombolnya ditekan, lampu layar pun menyala dan menujukkam pukul 14.14 siang. Mentari masih tersenyum lebar, bahkan suasana masih menyengat kulit. Namun, beruntung karena dia berada di bawah lindungan pohon.
“Masih ada lima belas menit,” gumamnya sambil menyimpan ponsel kembali.
Lima belas menit lagi, maka satu jam akan terlewat sejak gadis itu menelponnya. Jika sudah terlewat, berarti gadis itu terlambat dan Yogi bisa memberikan ceramah. Akan tetapi, dia ragu akan keberaniannya sendiri. Setelah semuanya, gadis itu lebih menyeramkan dibanding menghadapi sepuluh berandal sendirian.
“Apa dia terlambat?” Yogi melempar pertanyaan pada langit lagi.
Mata mengunci tiap awan yang bergerak lembut. Angin membelai permukaan wajah dengan ramah, memberi rasa segar yang menenangkan. Pikiran seakan melayang menuju kebebasan. Tubuhnya terbentang dalam ketenangan, memberi rasa kantuk yang tak dapat ditahan.
Mungkin wajar karena sebelumnya dia bermaksud untuk tidur siang. Namun, rencana tersebut dihancurkan karena sebuah pertemuan. Kini kelopak matanya terasa berat, begitu pula badan.
Pelan, kelopak mata tertutup. Kini dia bertatap mata dengan kegelapan tak berujung. Di setiap detik yang terlewat, tubuh semakin berat dan kesadaran memudar.
“Jangan tidur di sini!” sesuatu menusuk dahi, membuatnya melompat ke depan dan berpaling ke segala arah. Namun, dia tak menemukan apa pun atau siapa pun di dekatnya.
Pelan, tangan Yogi bergerak menuju wajah, menyentuh kening yang ternyata basah karena air. Saat itu pula, dia berbalik dan menemukan Kak. Yuutha berada di belakang kursi yang sempat dia duduki.
“Sudah puas tidur?” tanya Kak. Yuutha sambil menyeringai padanya. Gadis itu menghisap es, mungkin alpukat, dalam gelas plastik. Tubuh ramping tersebut diselimuti jaket biru dan kaus putih. Apa yang mengejutkannya adalah gadis itu berani menujukkan kulit kaki dengan mengenakan celana pendek berwarna hitam.
“Jangan mengagetkanku seperti itu!” balas Yogi setelah menghela napas.
“Yah, melihatmu yang hampir pingsan, sepertinya aku membuatmu menunggu terlalu lama. Aku minta maaf,” ucap Kak. Yuutha sambil bergerak dan duduk di kursi tersebut. Gadis itu menyilangkan kaki dan bersandar pada kursi.
“Sebenarnya tidak juga. Hanya saja, aku hendak tidur siang ketika Kakak menelponku. Jadi, aku masih mengantuk,” jawab Yogi sambil meletakkan dua tangan di pinggang.
“Oh, aku minta maaf karena menyita waktumu.”
“Tidak, tidak apa lagipula aku memang harus mengganti suasana. Aku benar-benar bosan karena liburan ini,” jawabnya sambil memijat pundak.
“Jadi, kau kesal, tapi juga beryukur karena aku menyuruhmu kemari?” Kak. Yuutha memiringkan wajah dan itu berhasil memikat perhatian Yogi untuk sejenak.
__ADS_1
“Begitulah.” Yogi berpaling, hendak menghindari segala hal yang tak penting, yang bisa menghalangi cintanya terhadap Renata.
“Lalu ..., kau tidak mau duduk?”
“Ah, benar.” Yogi segera bergerak, mendekati kursi dan mendampingi Kak. Yuutha.
Ketika punggung bersandar, kepalanya kembali menatap langit, memperhatikan gumpalan kapas yang mengambang di atas kepala.
“Jangan tidur lagi!” ujar Kak. Yuutha sambil menepuk pundaknya.
“Aku mengantuk,” balasnya singkat.
“Setidaknya, tahan itu hingga aku menghabiskan minumanku!”
“Ha? Tunggu! Apa Kakak menyuruhku kemari untuk menemani Kakak?” Yogi bangkit, mengunci Kak. Yuutha dengan bola matanya.
“Tidak. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu,” jawab Kak. Yuutha sambil terus menghisap isi gelas plastik tersebut.
“Mau kubantu menghabiskannya?” tanya Yogi dengan wajah datar.
“Tidak!” jawab Kak. Yuutha sambil menghisap isi gelas tersebut dengan kuat. Tak lama kemudian, gelas plastik tersebut kosong. Kak. Yuutha pun menaruh gelas plastik di sisi dan menghela napas panjang.
“Lalu ..., apa yang ingin Kakak bicarakan?” Yogi kembali bersandar, tetapi mata masih mengunci Kak. Yuutha.
“Itu ...,” Kak. Yuutha berpaling, menyembunyikan wajah sambil menggaruk pipi. “Ah, sepertinya aku tidak bisa mengatakannya.”
“Apa maksudnya? Aku mengorbankan waktu tidurku di sini. Jadi, tolong dipercepat!”
“Itu ..., aku ..., s-sebenarnya ...,” Yogi mulai menunjukkan wajah malas pada Kak. Yuutha, “ Aku ..., me-menyukaimu.”
“Ha?”
__ADS_1