Bride

Bride
Bab 41 ~Liburan~


__ADS_3

Bab 41 ~Liburan~


“Kita berlibur bukan untuk melarikan diri, tetapi agar hidup tidak meninggalkan kita.”


-Unknown-


Yogi masih kesulitan memercayai yang baru terjadi. Renata tak mengajak Lia dan Rizki. Kalau mengingat sifat Renata, seharusnya Renata mengajak mereka berdua. Selain menghindari keadaan canggung dengannya, itu juga memeriahkan suasana daripada berdua dengannya. Namun, entah apa maksud Renata dengan tidak melakukan itu.


Berbagai tanda tanya muncul di benak, tetapi hanya satu jawaban yang menampakkan diri. Renata memendam perasaan padanya. Ya, hanya itu yang terpikirkan dan dia tak bisa memercayai pendapat sendiri.


Setelah semuanya, Renata tak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Dia berani mengatakan bahwa Renata tak tertarik padanya. Jika Renata tertarik padanya, seharusnya gadis itu langsung menyatakan cinta dan bukan mengajaknya bermain. Akan tetapi, dia masih bersyukur bahwa Renata memedulikannya.


Jika Yogi memanggil ingatan kemarin, dia akan mengingat bahwa Renata menghampirinya yang hendak menyendiri. Bukannya berhasil menyendiri, tetapi dia justru berbincang dengan Renata. Berkat itu, rasa mencekam dalam dada pun terlupakan.


Kini dia mengekor pada Renata yang memimpin jalan. Dia tak bisa melihat wajah Renata. Namun, dia yakin bahwa Renata tengah tersenyum, menatap sekeliling.


Sejujurnya, dia hendak berdiri di sisi Renata. Namun, dia tak yakin akan bisa menjaga ketenangan nanti. Karena itu, dia memutuskan untuk berada di belakang dan mengikuti pujaan hati.


“Yogi, kenapa kau berjalan di belakang seperti itu?” Renata berhenti melangkah, berbalik, menghadapinya. “Itu membuatmu terlihat seperti seorang pengawal.”


“Aku tidak keberatan dengan itu,” balasnya singkat.


“Hmmm ....” Dua alis Renata turun ketika pipi menggembung. “Berjalanlah di sampingku! Kau membuatku terlihat seperti memanfaatkan tenagamu.”


“Emmm ....” Yogi berpaling sambil menggaruk pipi.


“Itu perintah! Jika kau tidak mau, sebaiknya kita pulang sekarang,” tegas Renata.


Jarak mereka baru sepuluh meter dari gerbang taman bermain. Jika dia pulang di jarak sedekat itu, petugas pun akan curiga. Di sisi lain, uang tiket masuk akan lenyap begitu saja dan dia bukan tipe orang yang suka menyia-nyiakan sesuatu.


Tak memberikan jawaban, Yogi justru mendekati gadis itu. Dia tersenyum pada Renata dan Renata pun membalas senyumnya. Seperti biasa, gadis itu memiliki senyum seindah matahari, menebar rasa hangat yang tertinggal di hati. Untuk ke sekian kali, dia bersyukur karena hatinya menjadi milik Renata.

__ADS_1


“Ayo!” jawabnya sambil tersenyum pada Renata.


“Seperti itulah seharusnya,” balas Renata.


Renata berbalik dan mendampinginya. Dalam keramaian, mereka berjalan berdampingan. Perhatian mereka tak bisa tertuju pada satu titik. Setelah memperhatikan satu objek, pandangan mereka segera berpindah dan menatap objek lain.


Mereka pun menyadari beberapa pasang kekasih yang berpegangan. Mereka mengadu mata untuk sejenak, tetapi segera berpaling, menyembunyikan wajah yang terbakar.


Yogi ingin melakukan itu. Dia ingin menggenggam tangan Renata, tetapi tak mungkin dia lakukan. Renata tak lebih dari seorang teman. Dia juga tak yakin bahwa Renata akan mengizinkannya.


“Singa,” gumam Renata.


Yogi mengangkat wajah, menatap pada arah yang dituju Renata.


Sebuah kandang besi, besar, tampak dikerumuni pengunjung. Kandang tersebut mengurung kucing raksasa bersurai. Kucing tersebut bermata cokelat, bertaring, dan bercakar. Tak lain adalah singa yang menjadi simbol kota. Namun, makhluk itu tak melakukan apa pun. Kucing itu hanya berdiam diri di salah satu cabang pohon, menutup mata dan terlelap.


“Mau melihatnya?” tanya Yogi sambil menunjuk kandang tersebut.


“Yah, masuk akal untuk menolaknya.” Yogi memindah perhatian pada kandang tersebut. Hanya dengan melihat, Yogi sudah merasa gerah. Ditambah, keadaan seperti itu sangat rawan terjadi tindak kriminal. Jadi, menghindari tempat seperti itu adalah pilihan yang tepat. “Lalu ..., ada wahana yang ingin kau tuju?”


“Hmmm ..., ini masih pagi. Jadi kurasa kita harus menggerakkan tubuh terlebih dulu. Kau punya saran?”


“Bagaimana dengan mengayuh perahu? Itu bisa jadi olahraga yang bagus,” jawabnya sambil menunjuk poster perahu bebek yang tertempel di pohon.


“Kau tahu? Itu tidak memiliki kesan romantis sama sekali,” balas Renata dengan wajah datar.


“Aaaa ..., ha?” Yogi memiringkan wajah. Dia tak mengerti kenapa harus menaiki sesuatu yang romanti. Renata bahkan bukan kekasihnya. Tunggu! Apa itu sebuah kode? “Tunggu! Kau ingin berada dalam sesuatu yang romantis?”


“Setiap perempuan ingin dimanjakan. Aku pun ingin merasakan sesuatu seperti dalam kisah cintah di layar lebar,” jawab Renata sambil menutup mata dan tersenyum lebar. Namun, itu justru membuatnya jengkel. Hampir saja dia berharap bahwa Renata memberi kode. Sayang karena itu hanya sebuah curhatan perawan.


“Baiklah, kita ke perahu bebek,” ucapnya sambil melangkah.

__ADS_1


“Oke,” Renata pun tak memberi komentar lain.


Setelah membeli tiket. Yogi menitipkan barang bawaan. Dia tak ingin membawa sesuatu ketika berada di atas air. Karena dia tak tahu apa yang akan terjadi nanti, dia ingin menghindari hal yang mungkin merepotkan.


Yogi memegang kemudi sambil mengayuh perahu, membawa perahu ke tengah. Namun, dia sudah merasa lelah dalam beberapa menit. Mungkin karena dia kurang bergerak selama beberapa minggu terakhir. Keringatnya bercucuran. Namun, tak setitik keringat pun yang menetes dari wajah Renata. Gadis itu tampak baik-baik saja, bahkan senyum Renata masih menyilaukan mata. Namun, akhirnya Yogi tersadar akan kaki Renata yang tak mengayuh pedal.


Tak berpikir lebih panjang, dia mencipratkan air kolam pada gadis itu. Renata hendak membalasnya, tetapi niat itu diurungkan ketika melihat Yogi yang bermandikan keringat. Namun, bukannya meminta maaf. Renata justru menertawakan Yogi. Yogi pun menghela napas dengan wajah datar.


Karena tak tahan, dia pun menyuruh Renata untuk ikut mengayuh. Renata pun menuruti perintahnya dan mereka mengelilingi kolam.


Puas dengan perahu bebek. Tidak, Yogi tidak puas. Dia justru kelelahan karena Renata yang sesekali mencuri kesempatan dan berhenti mengayuh pedal. Kalau Renata bukan gadis yang dia cintai, mungkin dia sudah melempar Renata ke kolam. Namun, Renata juga berkeringat, bahkan cukup banyak.


Tak merasa puas, Renata menyeretnya ke wahana lain. Karena ke duanya lelah, Renata membawanya pada komidi putar. Gadis itu naik pada di salah satu kursi berbentuk kuda. Namun, Yogi tak mengikuti gadis itu. Dia lebih memilih untuk berada di pinggir dan memotret Renata menggunakan ponsel. Hasilnya cukup bagus karena Renata mau tersenyum, bahkan berpose padanya.


Dia bisa mencetak gambar tersebut nantinya. Mungkin bisa menjadi sebuah kenangan bagi dirinya di masa depan.


Rasa penat lenyap. Mereka pun beranjak dan menikmati wahana lain. Entah berapa kali mereka membeli tiket untuk bermain. Namun, Yogi menikmati semua itu.


“Bisa kita istirahat sebentar? Aku mulai lelah,” ucap Yogi.


“Oh, memangnya pukul berapa sekarang?” Renata mengeluarkan ponsel dari saku. Berbeda dengan ponselnya, ponsel Renata tak memiliki tombol sama sekali. Renata berkata bahwa itu disebut ponsel pintar dan memiliki fitur layar sentuh. Tentunya harga ponsel pintar tersebut selangit. Jika Yogi menginginkan satu, dia harus menabung selama beberapa tahun. “Oh, pukul satu siang. Kurasa kita harus makan siang. Ayo, ke taman!”


“Eh? Ke taman? Bukankah seharusnya kita ke ...―”


“Ssstttt ....” Renata menyentuh bibir dengan jari telunjuk. “Aku membuatkan bekal untuk kita makan bersama. Karena itu, kita ke taman dan makan di sana.”


“Ah, tentu.”


“Ayo!”


“Aku dibelakangmu!”

__ADS_1


__ADS_2