Bride

Bride
Bab 1 ~Gadis itu


__ADS_3

Bab 1 ~Gadis itu


---


~ Sebuah pertemuan, walau hanya sementara, merupakan awal dari berbagai kemungkinan~


-Herjuno Tisnoaji-


---


Tahun ajaran baru merupakan waktu yang menyenangkan. Banyak jam kosong sehingga murid-murid bisa bersantai sepanjang waktu. Tak ada tugas, dari guru, menambah kesenangan tersendiri. Di sisi lain, para murid juga menempati kelas baru dan mendapat kawan baru.


Mentari menyebar sinar dari langit timur. Sinarnya merambat di udara, membelai permukaan kulit. Ketika angin bertiup, dedaunan pun ikut terbawa arus. Beberapa helai daun berenang-berenang di udara, berarak ke samping, bergantian. Puluhan daun menari di udara, menyambut kedatangan para siswa.


Siswa dan siswi melewati gerbang sekolah. Mulut mereka terbuka dan tertutup, membincangkan berbagai hal. Beberapa tampak bergurau bahkan ada yang berlari. Suara saling menyahut bergantian dan gelak tawa pecah di setiap sudut. Tempat itu menjadi tempat teramai di sekolah.


Terlihat beberapa wajah asing. Namun, terihat pula beberapa wajah familier.


Yogi melangkah dengan mantap, melewati gerbang masuk. Bukannya terus berjalan, dia justru berhenti di tengah jalan. Dia menarik napas panjang, menahannya sejenak dan dihembuskan dengan keras.


“Ah, aroma tahun ajaran baru. Menyebalkan,” gumamnya sambil melangkah.


Sebenarnya dia cukup sial. Tadi pagi, dia terbangun dengan cara yang tidak menyenangkan. Alarm, ponsel, membuatnya terkejut hingga dia jatuh dari kasur. Wajar saja, suara yang digunakan sebagai alarm adalah klakson kereta api.


Tujuan awal, memasang suara tersebut, adalah supaya dia tidak bangun kesiangan. Akan tetapi, dia tak menyangka bahwa akan berubah seperti itu. Akhirnya punggungnya terasa nyeri, tetapi dia masih baik-baik saja.


Di sisi lain, ponselnya juga tak mengalami kerusakan. Jika ponselnya rusak, dia harus membawanya ke tukang servis. Jika itu terjadi, entah berapa banyak uang yang harus keluar. Karena itu, dia masih merasa beruntung.


“Yogi!” suara seseorang memecah perhatiannya. Langkahnya terhenti dan perhatiannya berpindah ke belakang.


Tak jauh di belakangnya terdapat seorang laki-laki, berjalan ke arahnya. Laki-laki itu mengenakan seragam yang sama dengannya. Namun, dengan tambahan jaket hitam bergaris biru.


“Yo, Rizki,” jawabnya sambil mengulurkan kepalan tangan pada Rizki.


“Yo.” kepalan tangan mereka bertemu.


Mereka berjalan beriringan, memasuki lorong sekolah bersama murid lainnya. Mereka berdua berenang dalam lautan manusia, mengikuti arus dan menuju tempat favorit.


Mereka sampai di samping salah satu ruang kelas. Di dekat dinding, ruang kelas, tersebut terdapat sebuah kursi beton. Letaknya berada di bawah pohon sehingga terasa sejuk. Karena itu, mereka biasa berkumpul di sana, bergurau, bersama rekan sebaya.


“Ah, aku ingin bolos sekolah,” ucap Rizki sambil meletakkan pantat di kursi tersebut.


“Sama,” balas Yogi yang ikut duduk. “Hari pertama seperti ini selalu membosankan,” lanjutnya.


“Benar,” Rizki menyetujui, “Kita mengantri lama hanya untuk melihat penempatan kelas. Setelah itu pun hanya ada jam kosong hingga jam berakhir. Padahal waktu akan lebih berguna jika kita ada di luar sekolah dan bermain.” Rizki menghela napas.


“Setuju.” Yogi mengangguk pelan.


“Kau sudah memutuskan sekolahmu berikutnya?” Rizki berpaling padanya.


“Ya, aku akan maneruskan ke SMA,” jawabnya sambil menatap dedaunan di pohon.


“Sepertinya kau sudah memutuskan rencana masa depanmu.”


“Begitulah.” Yogi berpaling pada Rizki, “Bagaimana denganmu?”


“Entahlah ...,” Rizki menghela napas berat.


Ketika Yogi melihat Rizki melakukan itu, dia berpikir bahwa Rizki cukup kesulitan menentukan jalan. Sebenarnya dia ingin membantu, tetapi dia mengakui bahwa Rizki lebih cerdas darinya. Karena itu, dia yakin bahwa Rizki akan menemukan jawaban, atas segala persoalan.


“Tidak seperti dirimu. Biasanya kau selalu memiliki rencana,” dia berkomentar.


“Begitulah. Hubunganku dengan Kak Yuutha juga agak renggang belakangan ini.” Rizki menggaruk kepala.


“Ha? Memangnya apa yang terjadi? Bukankah sebelumnya baik-baik saja?” Yogi cukup terkejut ketika mendengar itu. Setahunya, Rizki adalah orang yang setia dan selalu menjaga hubungan dengan Kak. Yuutha.


“Bukan masalah serius. Dia hanya ingin aku agar belajar dan masuk ke sekolahnya, SMA N 6,” jelas Rizki sambil mengangkat bahu dan membuat wajah tak peduli.


“Jadi kau akan masuk ke SMA juga?”


“Yap.”


“Memangnya kau sudah memiliki rencana?”

__ADS_1


“Aku akan menjadi Novelist.” Ketika Rizki mengatakan itu, Yogi merasa bahwa temannya itu pasti bisa meraih mimpi tersebut. “Karena itu, ke mana pun aku melanjutkan, tak akan jadi masalah.”


“Heh ....” dia terkekeh sejenak. “Aku masih tidak percaya bahwa si Kembang Es berhasil ditaklukan olehmu yang ingin menjadi novelist.” Yogi tersenyum sinis, sedangkan Rizki hanya memandang, dingin, padanya.


“Berisik!” ucap Rizki sambil mendorongnya, pelan.


“Yah, terserahlah.” Yogi bangkit dari kursi beton.


Dia melakukan peregangan sejenak dan kemudian menyimpan ke dua tangan di saku celana. Perhatiannya berpindah ke Rizki, lagi.


“Mau ke mana?” tanya Rizki.


“Sudah waktunya untuk melihat papan pengumuman,” jawabnya sambil menunjuk ke ruang guru, “kau ikut?”


“Yah, boleh.” Rizki bangkit.


“Mari berharap supaya kita sekelas,” ujar Rizki sambil memimpin.


“Kenapa seperti itu?” tanya Yogi sambil mengekor.


“Tak ada alasan khusus. Aku hanya menginginkannya.” Rizki terus berjalan mendahului, sedangkan Yogi terus mengekor dengan berbagai pertanyaan yang tumbuh di kepala.


“Terserahlah,” gumam Yogi.


Dia memutuskan untuk masa bodoh dengan jawaban Rizki. Setelah semuanya dia mengenal Rizki sejak kelas tujuh. Selama dia mengenal Rizki, dia tahu bahwa Rizki adalah laki-laki berhati dingin, tetapi baik. Ditambah dengan kecerdasan yang luar biasa, membuat Rizki menjadi teman yang bisa diandalkan.


Nilai kurang yang dimiliki Rizki hanyalah kurang memerhatikan sekitar dan egois. Namun, dia sudah terbiasa dengan itu. Jadi, dia tak keberatan untuk terus berdiri di samping Rizki.


Bersama dengan rekan seangkatan yang lain, mereka menyusuri lorong, menuju ruang guru. Namun, langkah mereka terhenti ketika sampai di tempat tujuan.


Mading ruang guru sangat ramai. Banyak murid yang berdesakan hanya untuk melihat penempatan kelas. Itu membuat semangat mereka menciut dan justru menumbuhkan rasa malas.


“Haa ....” keduanya menghela napas.


“Ayo, selesaikan ini!” ucap Rizki sambil melompat masuk, menyelam, dalam kerumunan manusia tersebut. Namun, Yogi tak melakukan itu.


Dia memiliki mata yang lebih tajam dari Rizki. Karena itu, dia bisa melihat lebih jelas dari kejauhan, daripada Rizki.


Pelan, dia bergerak ke belakang kerumunan manusia. Dia berjinjit dan selembar kertas pun terlihat di mata. Penglihatannya menyusuri kolom dan baris secara perlahan, mencoba menemukan namanya.


“Kita sekelas lagi! Hore!” suara seorang gadis menusuk telinga, membuatnya berpaling, lembut, pada sumber suara tersebut.


Terdapat dua orang gadis di sana. Salah satunya terlihat pendek adalah yang berteriak, sedangkan yang lain, berambut panjang, hanya tersenyum biasa.


Ketika gadis berambut panjang berpaling, padanya, mata mereka bertemu. Segalanya memutih, kecuali sosok gadis itu. Suara tak lagi memasuki telinga. Perhatiannya terkunci pada gadis itu. Jantungnya menghantam dada seakan hendak melompat keluar, dan menari di lantai.


Sesuatu tumbuh dalam dirinya. Itu terasa hangat. Namun, juga dingin di saat yang sama. Itu terasa nyaman, tetapi juga terasa mengganggu. Pikirannya kosong, tetapi gadis itu justru bernaung dalam pikiran.


Sebuah kontradiksi terjadi dalam dirinya. Dia tak mengerti apa maksud dari pertentangan dalam dirinya. Namun, dia tak membenci hal itu.


“Yo, kita di kelas 9-A.” Suara Rizki diikuti dengan sebuah tepukan di bahu, “Ayo, kita amankan kursi terbaik!” Rizki mendahului.


“O-oh, tentu,” dia mengangguk pada gadis itu dan gadis itu membalasnya. Setelahnya, dia berbalik dan mengikuti Rizki.


 


 


- Authors note :


Nothing happen, yet. But, believe that they will together in the end.


 


 


Jangan lupa ;




Kasih fav

__ADS_1




Kasih vote




Kasih like




Kasih komen




Kasih share




Kasih sumbangan




Kasih dukungan




Kasih semangat




Kasih sayang




Kasih cinta




Kasihani saya




Kasih sesajen




Isi sendiri ...,


__ADS_1



__ADS_2