
Bab 30 ~Alarm palsu~
“Dari satu kesalahan ke kesalahan lain, manusia bisa menemukan kebenaran – From one mistake to other mistake, human will find the truth”
-Sigmund Freud-
Kriet! Pintu berderit ketika didorong Yogi.
Cahaya bergegas menyerbu mata, membuatnya mengalihkan perhatian sejenak. Namun, ketika matanya beradaptasi, dengan keadaan, dia menemukan Rizki dan Lia berdiri di depan pintu.
Seperti biasa, Rizki memasang wajah dingin. Laki-laki itu masih mengenakan seragam sekolah, dengan jaket hitam dan tas ransel di punggung. Sorot mata masih terasa dingin. Namun, Yogi sudah terbiasa dengan itu.
Kemudian di samping Rizki terdapat Lia. Sama seperti Rizki, gadis itu mengenakan seragam sekolah yang berbalut jaket putih. Tas ransel di punggung. Gadis itu memegang sterofoam, digunakan untuk menutupi sebagian wajah. Namun, Yogi yakin Lia tengah tersenyum padanya.
“Kenapa kau menutupi wajahmu?” tanya Yogi.
“Hmmm?” Lia menurunkan sterofoam, menunjukkan wajah dan memiringkannya ke samping.
“Ah, tidak lupakan!” jawabnya.
“Bisa kita masuk? Semakin panas di sini,” gumam Rizki.
“Ah, benar. Masuklah!” Yogi mengambil jarak, memberi ruang bagi dua rekannya supaya bisa memasuki ruang tamu.
“Renaa!” Teriakan Lia menggema ke tiap sudut. Ketika Yogi mencari sosok gadis kecil itu, gadis itu sudah menaiki anak tangga, menuju ke lantai dua. Yogi sadar bahwa Lia sudah sering bermain ke rumah Renata ketika melihat itu.
“Jangan berteriak di rumah orang!” Yogi menaikkan suara.
“Kak. Yogi juga berteriak!” Sosok Lia lenyap dari pandangannya. Gadis itu bahkan tidak menoleh ketika menjawabnya.
“Apa sulit bersamanya?” tanya Yogi pada Rizki.
“Begitulah!,” jawab Rizki singkat. Rizki tak melanjutkan jawaban. Itu sudah menjadi bukti bahwa tenaga Rizki habis, dikuras Lia. “Ngomong-ngomong aku tidak menyangka bahwa Renata tinggal di rumah seluas ini.” Perhatian Rizki berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
“Yah, aku juga cukup terkejut ketika melihat semua ini,” balasnya seraya mendekati Rizki.
“Setelah mengetahui semua ini, apa kau masih ingin mengejarnya?”
“Tentu! Aku tak ingin melepas rasa ini begitu saja.”
“Meski keberanianmu menciut ketika berdua dengannya?”
__ADS_1
“Oh, hentikan itu! setidaknya aku bisa membuat percakapan dengannya.”
“Tetapi kau kebingungan ketika berdua dengannya.”
“Terserahlah!”
“Kak. Yogi! Apa yag terjadi pada Renata?!” Perhatian Yogi dan Rizki berpindah, cepat, pada sumber suara, tetapi tak ada yang bisa dilihat.
Untuk sedetik, dua laki-laki itu saling menatap. Namun, ke duanya bergegas melompat ke depan, melesat ke lantai dua.
Jantung berpacu dengan waktu. Keringat bercucuran, menetes ke lantai, sedangkan pikiran bertanya-tanya apa yang terjadi pada pujaan hati. Yogi ingat betul bahwa keadaan Renata baik-baik saja ketika dia meninggalkan gadis itu.
Berbagai asumsi mulai mengambang di permukaan pikiran. Dia membayangkan Renata terjatuh ketika mencoba mengambil minum. Mungkin pula Renata mencoba untuk menemui Lia dan tersungkur ke lantai. Namun, tak satu pun yang bisa dia terima. Apa pun yang terjadi, itu akan menjadi salahnya karena tak memberi nasehat apa pun.
“Renata!” jeritnya ketika sampai di depan pintu. Rizki menyusulnya tak lama kemudian, tetapi dia tak menemukan apa pun di kamar Renata.
Renata duduk di kasur, masih di tempat yang sama, ketika dia meninggalkan gadis itu. Renata menatapnya dan Rizki. Gadis itu lantas tersenyum kecut, seakan meminta maaf karena membuat panik. Namun, dia tak bisa menemukan Lia di mana pun. Ke mana gadis itu pergi?
“A-apa?” Yogi kehilangan kalimat.
“Apa yang terjadi?” Rizki melempar pertanyaan.
“Apa yang terjadi pada kaki Rena? Kenapa dikompres?” Tak lama kemudian, Lia muncul dari bawah. Sepertinya Lia duduk di lantai. Dengan tubuh mungil itu, membuat kasur bisa menutupi gadis itu secara sempurna. Itu menjelaskan kenapa dia tak menemukan Lia. Namun, dia lebih geram karena dibuat khawatir.
“Lia, sudah kubilang jangan berteriak sembarangan,” ucap Renata pada Lia.
“Aku sempat mengira terjadi sesuatu yang buruk,” Rizki menambahkan.
“Ah, maaf. Hehehe ....” Lia tertawa kecil, menggaruk punggung kepala belakang.
“Kalian berdua masuklah! Aku sudah menyiapkan minuman di sana,” ucap Renata.
“Syukurlah! Aku perlu air saat ini,” Rizki melangkah masuk, sedangkan Yogi mengekor di belakang.
Dia menghampiri Lia yang kini duduk di sisi Renata. Ke dua tangannya merayap di udara, mendekati wajah Lia dan menarik telinga gadis itu.
“Aaaargh! Sakit! Kak. Yogi, sakit!” Lia meronta, tetapi dia belum puas.
“Kau keterlaluan kali ini. Jangan lakukan lagi!” ucapnya.
“Baik-baik! Aku mengerti! Aku minta maaf!” akhirnya dia melepaskan Lia. Gadis itu segera meringkuk di kasur, mengelus daun telinga yang kini memerah. “Kak. Yogi jahat!”
__ADS_1
“Jika kau melakukan itu lagi, aku akan menamparmu,” balas.
“Hii! Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Jangan tampar aku!” Lia bangkit, bersujud padanya.
“Sudahlah! Kau bisa membuatnya ketakutan nanti,” ujar Renata.
“Sebenarnya aku juga ingin membalasnya. Dia benar-benar membuat kepanikan,” Rizki menyahut dari samping meja belajar. Laki-laki itu menaruh gelas kosong di atas meja, mungkin baru saja menenggak segelas air sirup.
“Eeeeh ...,” Lia mengeluarkan suara aneh.
“Karena itu, sebaiknya kau menjaga sikap!” imbuh Renata.
“Emmm ..., aku mengerti.” Lia bangkit dan duduk di sisi Renata. “Aku minta maaf,” lanjut gadis itu.
Gadis itu menatap ubin putih yang memantulkan sinar mentari. Gadis itu jadi lebih pendiam, tetapi itu terasa salah. Gadis itu selalu riang, bukan murung.
“Haa ..., jangan melakukan hal seperti itu lagi!” ucap Yogi seraya mendekati gadis itu. Salah satu tangannya merayap di udara, meraih rambut Lia dan mengelus, lembut, helaian hitam tersebut. “Aku minta maaf karena menjewermu.”
“Emm ....” Lia mengangguk, mengiyakan. Namun, Yogi tak merasa bahwa Lia memafkannya.
“Akan kubelikan es krim nanti. Karena itu, berhentilah memasang wajah suram seperti itu!”
“Benarkah?” Lia mengangkat wajah ketika mendengar ‘es krim’ keluar dari mulutnya. Mata gadis itu berbinar-binar seakan memancarkan sinar. Tak lagi layu, gadis itu justru terlihat seperti bunga Daisy―Aster―.
“Ya, akan kubelikan,” jawabnya dengan berat. Namun, jika dia tak melakukan itu, Lia mungkin akan menjauhinya. Setelah semuanya, gadis itu benar-benar seperti anak kecil.
“Hore!” Lia mengangkat dua tangan ke udara, tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.
“Baiklah! kalian bisa berhenti melakukan itu?” Rizki angkat bicara.
Ketika Yogi memindah perhatiannya, dia menemukan Rizki yang bersendekap.
“Maksudmu?” Yogi memiringkan wajah.
“Sebaiknya kita mulai mengerjakan tugas.” Rizki mendekat ke kasur dan melepas tas ransel. Laki-laki itu membuka ritsleting dan mengeluarkan beberapa kertas lipat dan beberapa bungkus gliter. Dua benda itu dilemparkan ke kasur.
“Aku ingin melipat burung bangau,” Lia meraih kertas lipat dan menarik secarik kertas tersebut.
“Aku ingin membuat hati,” Renata pun mengikuti; Yogi tersenyum kecut.
“Kita simpan itu untuk nanti. Sekarang kita kerjakan tugas dulu!”
__ADS_1
“Heee ...,” suara dua gadis kecewa.