
Bab 4 ~ Bermula ~
-Kenali namanya dan kenali ceritanya-
Mayn Urr Izqi
---
Masih berada dalam kelas, ricuh seperti pasar tradisional. Para remaja berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, berbincang, bergurau, dan bermain. Sekedar mengisi waktu luang yang diterima dari para guru.
Pasalnya, para guru tengah sibuk dengan berbagai berkas yang menggunung. Terutama dari murid baru. Karena itu, hari pertama sekolah selalu kosong.
Begitu pula dengan kelas 9-A.
Di sudut ruangan, terdapat Rizki yang tenggelam dalam novel fantasi. Rizki tak bergerak dari tempatnya sejak tiga puluh menit lalu. Terlalu menikmati bacaan.
Di sisi lain, Yogi juga begitu. Bukan membaca novel. Yogi melamun, memperhatikan seorang gadis.
Gadis itu mengenakan jaket biru, laut. Berambut panjang, hingga menutupi punggung. Berkulit secerah mentari. Iris gadis itu cokelat, bening, mencerminkan pendar mentari padanya.
Ketika gadis itu tersenyum, rasa hangat menjalar di udara, membelai dada dan meninggalkan rasa yang tak dapat dijelaskan. Gadis itu bernama Renata. Gadis yang telah mencuri hatinya.
Sudah lebih dari 30 menit Yogi mengintai gadis itu. Namun, masih tak memiliki keberanian untuk mendekat dan memulai percakapan.
Jantungnya bahkan berdegup kencang, hendak melarikan diri ketika mendapati gadis itu tersenyum. Entah, apa yang akan terjadi jika dia berada dalam jangkauan gadis itu. Mungkin jantungnya akan menggedor dada dan meninggalkannya, secara harfiah. Karena itu, dia memilih untuk mengamati dari jauh.
"Kau membuat wajah bodoh lagi." Suara Rizki memasuki indra pendengar.
Yogi berpaling, menghadapi Rizki yang telah menutup buku.
"Kau sudah selesai membaca?" tanya Yogi.
"Yah, aku baru saja menyelesaikannya," jawab Rizki sambil memasukkan buku tebal tersebut ke laci meja.
"Berapa lama kau membaca itu?"
"Empat hari," jawab Rizki sambil memangku dagu, "kesampingkan hal itu! Kau akan menghampirinya atau kau akan membiarkannya?" lanjut Rizki.
Perhatian mereka berdua beranjak ke muka kelas, menatap gadis yang sama, Renata.
Gadis itu tak bergerak dari tempat duduk, masih berbincang dengan rekan sebangku yang sesama gadis. Berbekal sebuah majalah, mereka membicarakan sesuatu yang tidak sampai ke telinga.
Yogi ingin mendekat dan menyapa, tetapi dia masih berpikir bahwa itu mustahil.
"Kurasa mustahil," jawabnya sambil menggaruk pipi dan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Yogi," Rizki menyebut namanya, membuat perhatiannya tertuju pada laki-laki berwajah dingin tersebut.
"Apa?"
"Apa kau benar menyukainya?"
"Ya, aku menyukainya," jawabnya.
"Kenapa kau tidak pergi ke sana dan mulai bercakap dengannya?"
"Aku ..., tidak berani," Yogi berpaling, menyembunyikan wajahnya yang meredup.
"Lalu, kau akan membiarkannya menjalin kasih dengan orang lain?"
"Eh?"
"Jika kau terus seperti ini, dia mungkin akan menjalin kasih dengan orang lain. Jika dia menjalin hubungan dengan orang yang lebih baik, darimu, aku tidak protes. Akan tetapi, bagaimana jika dia berakhir di tangan seorang berengsek?"
"Itu ...," kepala Yogi semakin tenggelam dalam bayangan. Wajahnya redup, bahkan cahaya tak lagi bernaung di matanya.
"Kau tidak ingin itu terjadi padanya, kan?" Yogi mengangguk pelan. "Karena itu, sebaiknya kau mendekatinya saat ini. Kenali namanya dan kenali ceritanya," ucap Rizki sambil menepuk punggung Yogi.
Ragu, tetapi Yogi mencoba mengangkat wajah. Renata adalah orang yang dia sorot, lagi. Otaknya memproses semua yang dikatakan Rizki.
Dia tak bisa menyangkal ucapan Rizki. Jika dia tidak segera bergerak, Renata mungkin akan segera menjalin hubungan dengan orang lain. Dia bisa menerima hal itu, tetapi dia tak bisa menerima itu jika Renata berpasangan dengan laki-laki berengsek.
Kurang dari satu detik, matanya berubah tajam.
"Rizki, kau mau menemaniku?" Tanya Yogi.
"Heh, tentu saja. Akan kutemani kau hingga ke ujung dunia," jawab Rizki sambil mengangkat tangan kanan.
Yogi tersenyum, menyeringai, dan menyambut tangan Rizki. Tangan mereka saling menepuk dan kepalan tangan mereka bertemu.
"Kalau begitu, ayo!"
Tanpa berpikir lebih panjang, ke duanya bangkit, mendekati dua gadis di barisan depan.
Langkah Yogi semakin mantap. Namun, itu tidak lama. Semangatnya layu di setiap langkah. Senyumnya lenyap. Keringat dingin menggenangi wajah. Jantungnya berdegup semakin kencang hingga dia bisa mendengarnya.
"Jangan khawatir! Aku yang akan memulai percakapan," sebuah tepukan bernaung di punggungnya. Itu adalah Rizki yang berjalan mendahuluinya. Untuk ke sekian kali, Yogi berpikir bahwa Rizki adalah teman terbaik.
"Kau yang terbaik," gumam Yogi sambil mengekor.
"Sebaiknya kita ke kantin. Aku mulai lapar," ucap seorang gadis, mengajak Renata. Ketika Yogi mendengar hal itu, dia berpikir bahwa kesempatannya telah melayang. Dia harus menunggu kesempatan lain.
__ADS_1
"Ah, mereka akan ke kantin. Sebaiknya kita tunggu mereka kembali," ucap Yogi sambil berbalik. Namun, dia tak sempat mengambil langkah.
Seseorang menarik jaketnya, menyeretnya menuju dua gadis itu. Ketika Yogi berpaling, tentunya dia mendapati Rizki menarik kerah jaketnya.
"Ini adalah kesempatan, jangan disia-siakan," ucap Rizki.
"Ugh ...." Yogi hanya menggaruk pipi, tak bisa menolak.
"Kalian akan ke kantin?" ketika mereka berdua sampai di bangku Renata, Yogi ditarik lebih kencang hingga berdiri tegak laksana tentara di medan perang. Namun, Yogi masih berpaling, tak mampu menatap dua gadis itu.
"Eh, ya?" ucap gadis berambut pendek.
"Kebetulan, kami juga akan ke kantin. Kalian mau pergi dengan kami?" Yogi mulai penasaran dengan cara Rizki menjaga ketenangan. Jika dia bisa melakukan hal yang sama, mungkin dia sudah berbincang ria dengan Renata.
"Em ..., kami tidak mau mengganggu kemesraan kalian," ucap gadis berambut pendek sambil tertawa kecil. Renata bahkan ikut tertawa karena lelucon sederhana tersebut.
"Haaa ...," Rizki menghela napas sambil memijat kening, sedangkan Yogi menggaruk pipi, masih tak memiliki keberanian untuk menatap dua gadis itu. "Bisa kalian lupakan itu? Kami hanya berteman," pinta Rizki.
"Ya, tetapi itu masih lucu," imbuh Renata.
"Ngomong-ngomong aku Rizki dan orang bodoh ini adalah Yogi. Salam kenal," ucap Rizki sambil mengulurkan tangan.
"Aku Lia dan ini Renata, salam kenal," Rizki dan Lia saling menjabat tangan.
Di lain sisi, Yogi mengulurkan tangan, ragu. Namun, Renata justru menyambut tangannya dengan cepat. Genggaman gadis itu cukup keras dan kasar. Namun, juga lembut di saat yang sama. Aroma parfum menusuk hidung, membawa kesadarannya ke cakrawala.
"Aku Renata," ujar gadis itu.
"A-aku Yogi," balas Yogi.
"Dan aku Lia," ucap Lia sambil mengulurkan tangan padanya. Enggan untuk melepas kelembutan tersebut, tetapi akan semakin aneh jika dia tak melepas tangan Renata.
Dengan berat hati, dia menyambut Lia.
"Aku Yogi," balas ya sambil tersenyum.
"Aku Renata."
"Aku Rizki."
"Baiklah, kita ke kantin dan para laki-laki yang akan membayar," Lia berbalik, menyeret Renata, sedangkan Yogi dan Rizki mengekor.
"Aku tidak menyangka bahwa Renata memiliki tangan selembut itu," gumamnya Rizki.
"Oi," Yogi memasang wajah dingin ketika mendengar itu.
__ADS_1
"Aku hanya memuji. Di sisi lain, Kak. Yuutha lebih baik dari Renata. Juga, berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Aku akan mendukungmu," Rizki mempercepat langkah, meninggalkannya beberapa langkah.
"Dia benar, aku harus terus melangkah."