
Bab 26 ~Istana~
“Rumah adalah tempat berlindung, sekaligus penjara.”
-Mayn Urr Izqi-
Ketika bel berbunyi, Lia mengguncangkan seisi kelas. Gadis itu berteriak ketika situasi masih cukup kondusif. Guru pengajar bahkan belum menutup pelajaran. Mungkin sedikit beruntng karena Lia tak dipanggil ke ruang konseling. Namun, kejadian itu pasti akan terukir diingatan setiap orang, tentunya sebagai kenangan teraneh.
Setelah kejadian tersebut, dia, Rizki, Renata, dan Lia pun membagi tugas. Tim dibagi menjadi dua kelompok menggunakan undian. Yogi beruntung bisa bersama dengan Renata. Mereka akan langsung menuju ke rumah Renata, menyiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan. Rizki menyebutnya sebagai tim persiapan.
Tim lain adalah Rizki dan Lia. Mereka berdua bertugas untuk membeli bahan-bahan yang akan digunakan untuk mading. Sebenarnya cukup tidak adil karena memberikan mereka tugas untuk membeli bahan-bahan. Ditambah cuaca panas, mereka harus pergi ke pasar. Namun, dia dan Renata memberikan uang lebih sebagai bekal membeli minum.
Rizki menghela napas panjang ketika menerima tugas tersebut. Mungkin benar-benar merasa tidak adil. Namun, Rizki adalah orang yang mengsulkan undian tersebut. Jadi, Rizki tidak bisa menentang keputusan sendiri.
Berkat ketidak hadiran dua orang itu, Yogi memiliki kesempatan untuk dekat dengan Renata. Dia merasa bahwa dewi fortuna sedang tersenyum padanya. Karena itu, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Untuk pergi ke rumah Renata, mereka perlu menggunakan angkutan umum. Renata tinggal di tengah kota dan belum memiliki SIM.
Ketika mengetahui bahwa Renata berada di tengah kota, Yogi membayangkan bahwa rumah Renata akan terlihat besar, lebih besar berkali-kali lipat dibanding rumah yang dikontrak orang tuanya. Hati kecilnya menciut, tetapi dia tak ingin merelakan cintanya begitu saja karena perbedaan status. Dia akan berdiri sejajar dengan Renata di masa depan.
Yogi berpaling pada Renata yang menatap keluar jendela. Seperti biasa, gadis itu memperlihatkan sisi terbaiknya. Helaian hitam diterpa udara, melambai padanya seakan memberitahu untuk merapat. Namun, dia menahan diri. Dia lebih memilih untuk menetap, menatap wajah sang putri yang telah mencuri perhatian.
Bagaikan bunga Daisy gadis itu. Namun, dia tahu bahwa dia belum bisa memetik bunga tersebut. Bunga itu masih bisa mekar lebih indah. Karena itu, dia bermaksud untuk menjaga Renata, menanti waktu yang tepat hingga dia bisa memetiknya.
“Apa kau memiliki kebiasaan melamun?” Renata melempar pertanyaan, menarik kesadarannya yang hampir tenggelam dalam kasih sayang. Mungkin dia harus berdoa supaya wajahnya tidak merona.
“Ah, tidak! Aku hanya memikirkan sesuatu tadi,” jawabnya sambil menggaruk pipi dan berpaling dari Renata.
__ADS_1
“Kau juga sempat melamun tadi, apa kau sedang dalam masalah?” Renata memiringkan wajah, mengintipnya yang menatap arah lain.
“Tidak juga,”jawabnya.
“Kau tidak mau menceritakannya?”
“Bukan itu maksudku. Aku hanya ..., aku bingung bagaimana menjelaskannya,” Yogi menghela napas. Seperti biasa, dia kesuitan untuk membohongi orang lain. Juga, entah kenapa Renata terasa begitu memaksanya untuk bercerita.
“Kau tidak mau menceritakannya padaku?”
“Tidak! Bukan seperti itu. Emm ..., sebenarnya Rizki sudah membantuku mengatasi ini,” jawabnya. Dia tidak berbohong akan itu.
“Ah, jadi Rizki membantumu. Kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. Setelah semuanya, Rizki bisa diandalkan,” Renata tersenyum padanya.
Akhirnya dia bisa menghela napas lega. Jika Renata terus memaksanya untuk membuka mulut, mungkin dia akan berakhir dengan menyatakan cintanya. Entah jawaban macam apa yang dia terima ketika itu terjadi. Mungkin dia akan ditolak dan Renata menjauhinya.
“Ahaha ...,” dia tertawa sambil tersenyum kecut, “karena itu jangan khawatir!”
“Terima kasih.”
Itu pun mengakhiri percakapan. Yogi berpaling, memikirkan bagaimana rupa rumah Renata. Mungkin itu akan terlihat megah dengan tiga lantai, memiliki taman dengan rerumputan hijau. Mungkin orang tuanya juga memiliki mobil pribadi.
“Kita sampai.” Yogi mengangkat wajah ketika Renata mengatakan itu. Gadis itu beranjak dari tempat duduk dan keluar dari angkot.
Setelah membayar tarif angkot, dia mulai memperhatiakn keadaan sekeliling. Dia benar-benar berada di tengah kota. Jalan raya dipadati kendaraan bermotor, berlalu lalang tanpa henti dengan suara motor yang saling menyahut bergantian.
Di langit, mentari memberikan cahaya yang menyengat permukaan kulit. Sedikit beruntung karena dia mengenakan jaket, jadi kulitnya tak akan terbakar. Namun, dia justru kepanasan. Dia hendak segera berlindung dari terik mentari.
“Ayo!” Renata berbalik dan mendekati salah satu rumah. Perhatian Yogi mengikuti punggung gadis itu.
Gadis itu menghampiri salah satu pagar berpintu. Mata Yogi pun terbuka lebar ketika melihat tinggi pagar tersebut. Mungkin itu setinggi tiga meter atau lebih dengan ujung runcing. Namun, hal yang lebih mencengangkan ada di balik jeruji tersebut.
__ADS_1
Sebuah istana putih berlantai 2 dengan dua pilar berjaga di hadapan pintu. Lantai keramik yang memantulkan sinar mentari dan taman yang beralaskan rumput hijau. Jika Lia berada di sisinya, mungkin gadis itu sudah masuk dan berlarian di sana. Namun, untuk Rizki, laki-laki itu mungkin tak akan memberikan reaksi apa pun, hanya mengunci mulut sambil menatap istana tersebut.
Untuknya, pikirannya memutih. Dia tak bisa mengatakan apa pun. Rumah itu dua kali lebih besar dari rumah yang dikontrak orang tuanya. Suatu saat, mereka akan berpindah. Bisa ke rumah yang lebih besar atau yang lebih kecil. Namun, dia tak yakin bisa menempati rumah yang lebih besar.
“Ayo, masuk!” gadis itu membuka gembok yang mengunci pagar. Tidak lama kemudian, Renata mendorong pintu bergerigi tersebut.
“Kau tinggal sendirian?” Yogi melempar pertanyaan.
Renata membuka kunci sendiri. Jika dia tinggal bersama orang lain, seharusnya ada yang membuka pintu pagar. Namun, itu tidak terjadi.
“Tidak,” jawab Renata, “aku tinggal dengan Ayah dan Ibuku. Namun, mereka bekerja hingga larut malam. Karena itu aku sering di rumah sendirian,” jawab Renata.
“Begitu rupanya, pasti sulit.” Yogi beranjak, melewati Renata yang mematung, menatapnya seakan tak percaya dengan apa yang dia katakan. “Renata?”
“Ah, maaf. Aku hanya, ingat akan sesuatu. Sebaiknya kita segera masuk.” Renata berjalan mendahului. Gadis itu menatap paving, memimpin jalan di atas paving.
“Kenapa dengan gadis itu?” Yogi memiringkan wajah, mengikuti Renata yang tak lagi mengangkat wajah. Dia merasa bahwa dia mengatakan sesuatu yang salah, tetapi dia tak tahu di mana letak kesalahannya.
“Renata!” dia menyebut nama gadis itu. Langkah gadis itu terhenti. “Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu. Aku minta maaf,” ucapnya.
“Tidak.” Renata berbalik padanya, “Bukan seperti itu. Hanya saja, kau seperti bisa melihat apa yang kurasakan dan itu ..., dan ..., itu pertama kalinya ada orang yang mengatakan itu padaku.” Renata berpaling, menyembunyikan kepala yang tenggelam dalam warna merah.
“O-oh, jadi begitu.” Yogi berpaling, merasakan darah memenuhi otaknya.
“Sebaiknya kita masuk,” Renata menunjuk pintu masuk dan kembali memimpin.
“Ah, benar!” Yogi mengekor, tetapi kembali lagi untuk menutup pintu. Setelah itu, dia baru mengikuti Renata, memasuki istana.
__ADS_1