Bride

Bride
Bab 8 ~Sahabat~


__ADS_3

Bab 8 ~Sahabat~


Sebab sahabat saling melengkapi


-Mayn Urr Izqi-


---


Informasi terakhir dari sekolah adalah jadwal pelajaran. Yogi masih berada di pojok ruangan, menyalin berbagai kata yang terlukis di papan tulis, hitam.


Sekitar lima menit lalu, dia dan Rizki sampai di kelas. Awalnya tak ada apa pun, kecuali rekan sekelas yang bergurau tanpa kenal lelah. Saat itu, Rizki berkata untuk kembali ke kursi beton, menghabiskan waktu hingga bel terakhir berdering. Rizki berkata bahwa lebih di sana karena lebih sejuk.


Yogi juga menyetujui hal itu, tetapi alasan sebenarnya adalah karena dia tak menemukan Renata di kelas. Padahal, dalam perjalanan ke kelas, dia berharap akan kehadiran gadis itu di kelas. Namun, takdir memiliki rencana lain.


Ketika mereka berbalik, mereka segera mengurung niat untuk meninggalkan kelas. Wali kelas, baru, mereka telah berdiri di balik pintu dan menyuruh mereka memasuki kelas.


Setelah itu, wali kelas mengumumkan jadwal pelajaran baru. Apa yang tak disukai Yogi adalah KBM akan berlangsung mulai besok. Itu berarti, Yogi harus mempersiapkan diri untuk ujian. Terutama karena dia duduk di kelas sembilan. Itu artinya, dia akan menghadapi berbagai ujian. Ujian Tengah Semester , Ujian Akhir Semester, Try Out, Ujian harian, dan Ujian Kelulusan. Semua itu menantinya, membuat kepalanya terasa berat, bahkan semua itu belum dimulai.


Yogi mengangkat wajah, menghela napas, dan menatap papan tulis, lagi. Di muka kelas, wali kelas tampak duduk di kursi, memperhatikan para murid.


Pelan, perhatian Yogi berpindah. Perhatiannya menyapu seisi kelas. Beberapa bangku tampak tak berpenghuni. Dia berpikir bahwa itu wajar karena kebanyakan murid tengah tersebar di sudut sekolah. Di sisi lain, juga tak ada bunyi bel yang menyuruh para murid untuk memasuki kelas. Suasana di luar kelas pun masih sama, bising, seperti sebelumnya.


Salah satu bangku yang tak berpenghuni adalah milik Renata dan Lia. Tampaknya dua gadis itu masih berada di perpustakaan. Mungkin Renata masih tenggelam dalam buku yang dibaca, sedangkan Lia masih berada di alam mimpi.


“Kau tidak menyalinnya?” Suara Rizki memasuki telinga, menarik perhatian Yogi.


“Eh? Ya, aku menyalinnya,” jawab Yogi sambil kembali menggerakkan tangan.


“Biar kutebak! Kau pasti memikirkan Renata.” Ketika Rizki mengatakan itu, tangan Yogi mengalami kemacetan. Urat ditubuhnya membeku, kaku.


“B-begitulah,” jawab Yogi dengan wajah meranum.


“Yah, itu bukan hal buruk. Aku juga pernah mengalami hal tersebut, dulu,” ucap Rizki sambil mengubah perhatian ke buku catatan. Tangan laki-laki itu kembali bergerak, mencatat apa yang tertulis di papan.

__ADS_1


“Menurutmu, apa yang sedang mereka lakukan di perpustakaan?” Yogi kembali menyalin.


“Hmmm ...,” Rizki berdengung seperti nyamuk, “kurasa Renata akan membaca novel. Jika dia membaca novel ringan, mungkin dia sudah menghabiskan beberapa volume. Untuk Lia, kurasa dia akan menumpuk buku sebagai bantal. Yah, semoga dia tidak membasahi buku dengan air liurnnya.”


Yogi tidak menyangka hal itu. Sangat jarang mereka memikirkan hal yang sama. Biasanya mereka memiliki ide yangbertolak belakang. Namun, sepertinya ada beberapa kasus di mana mereka bisa memikirkan hal sama.


“Aku tidak menyangka bahwa kita memiliki pikiran yang sama,” gumam Yogi.


“Yah, mengingat bahwa Lia sangat berisik dan mengganggu, itu membuat kita berpikir hal buruk tentang gadis itu. Ketika bicara tentang perpustakaan yang sepi dan membosankan, kemudian ditambah dengan kepribadian yang menyebalkan, orang pasti akan mengira bahwa orang tersebut akan merasa bosan dan tertidur. Setidaknya itulah yang dipikirkan kebanyakan orang,” jelas Rizki.


“Emmm ...,” Yogi memiringkan wajah, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar dari Rizki. “Maksudmu?” akhirnya otaknya memuntahkan semua itu.


“Maksudku, wajar bagi kita untuk berasumsi seperti itu karena Lia yang membuat kita berpikir seperti itu.” Tangan Rizki berhenti bergerak. Rizki menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menatapnya.


“Tapi bagaimana cara Lia melakukannya? Maksudku, itu hanya asumsi pribadi kita,” Yogi kembali menulis ketika selesai mengatakan itu.


“Sikapnya. Jika kau bertanya pada orang lain, yang baru mengenal Lia, tentang apa yang akan dilakukan Lia di perpustakaan, mereka mungkin akan menjawab ‘tidur’,” jelas Rizki sekali lagi.


“Aku masih tidak mengerti,” akhirnya Yogi selesai menyalin.


“Hmmm ....” Rizki menatap langit-langit sambil berdengung, “Kau bisa bilang bahwa Lia memberi kita sugesti dari tingkahnya,” Rizki kembali menjelaskan.


“Ah, jadi Lia secara tidak langsung memberi kita kesan bahwa dia adalah pemalas dari tingkahnya yang menyebalkan. Itu membuat kita berpikir bahwa gadis itu pasti akan tidur, karena bosan, jika berada di perpustakaan,” akhirnya Yogi menelan penjelasan dari Rizki.


“Yap, kurang lebihnya seperti itu,” Rizki mengangguk.


“Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki pikiran seperti itu. Maksudku, mana ada orang yang akan memikirkan alasan kenapa dia berpikir, seperti itu, terhadap orang lain?” Yogi mengangkat bahu sambil memiringkan wajah.


“Yah, kau benar.” Rizki menutup mata. Laki-laki itu menumpuk tangan di atas meja dan meletakkan wajah di sana.


Ketika melihat itu, Yogi berpikir bahwa Rizki tidak berubah sedikit pun sejak mereka bertemu, dua tahun lalu. Di matanya, Rizki masih orang yang sama, suka tidur, cerdas, dan dapat diandalkan. Namun, di sisi lain, dia justru mempelajari banyak hal dari Rizki.


Saat Yogi menyadari hal itu, Yogi merasa bahwa dia menjadi beban. Mungkin Rizki bisa mencapai ranah yang lebih tinggi jika berteman dengan orang lain.

__ADS_1


“Rizki,” Yogi menyebut nama rekannya.


“Ya?”


“Apa aku beban untukmu?” Rizki membuka mata, menatapnya dengan dingin, seperti biasa.


“Kenapa kau menanyakan hal itu? Itu menggelikan.”


“Maksudku, kau cerdas dan baik, meski mulutmu terkadang pedas. Kau bisa menyelesaikan masalah dengan cepat dan kau banyak dikagumi. Jik ...―”


“Jadi kau merasa bahwa kau adalah beban?” Yogi membisu, tak dapat menggerutu, hanya menatap sayu.


“Seharusnya kau bisa mencapai tempat yang lebih tinggi tanpaku,” ucap Yogi.


“Tidak. Aku berada di sini juga berkat dirimu. Jika aku tidak bersamamu, ada pula kemungkinan bahwa aku akan berada di tahap yang lebih rendah. Karena itu, seharusnya aku berterima kasih padamu,” Rizki mengatakan semua itu sambil tersenyum padanya.


“ Aku ..., bukan beban?”


“Tentu bukan bodoh. Kau temanku,” ucap Rizki sambil mengangkat kepalan tangan.


“Terima kasih,” Yogi juga mengangkat kepalan tangan dan memukul, pelan, kepalan Rizki.


“Baiklah! Setelah kalian menyalin ini, kalian boleh pulang. Juga, tolong beritahu teman kalian akan jadwal baru ini,” ucap wali kelas sambil menghapus tulisan di papan tulis.


“Yey!” seisi kelas bersorak, gembira.


Setiap individu, yang terlihat, segera membersihkan meja dan memasukkan semua alat tulis ke tas. Beberapa orang bahkan sudah mengepak semua perlengkapan dan meninggalkan kelas.


“Ini jadi kesempatan bagus untuk mendekati Renata. Kau siap?” Rizki melempar pertanyaan lain padanya.


“Ya!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2