
Bab 9 ~Pertemuan Kembali~
Jatuh cinta adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada manusia.
-Mayn Urr Izqi-
“Baiklah! Sampai jumpa besok,” ucap wali kelas sebelum meninggalkan ruang kelas.
Di sudut ruangan, Yogi dan Rizki masih terlihat sibuk. Yogi sibuk merapikan alat tulis yang berserakan di meja, sedangkan Rizki sibuk melamun karena mejanya sudah bersih.
Mereka berdua setuju untuk pergi ke perpustakaan, menjemput Renata dan Lia. Alasan yang akan mereka gunakan adalah terdapat pengumuman jadwal pelajaran. Karena pengumuman tersebut sudah dihapus, dua gadis itu bisa menyalin catatan Yogi. Tentunya itu adalah alasan yang dipikirkan oleh Rizki.
Rizki juga berpesan padanya untuk mengatur napas ketika berada dalam jangkauan Renata. Rizki berkata bahwa langkah selanjutnya tidak akan bisa diraih kalau Yogi tak bisa tenang di dekat Renata. Karena itu, Yogi bertekad untuk melawan sisi pengecutnya.
“Kau siap?” Rizki bangkit dari kursi, menatapnya yang baru saja menutup risleting tas.
“Tentu,” jawabnya.
“Setelah melangkah masuk, kau tidak akan bisa mundur,” Rizki memberi peringatan.
“Aku memang tidak berniat mundur. Aku akan menerjang hingga aku menggenggam hatinya.” Yogi mengepal udara, tanda bahwa dia siap menghadapi apa pun.
“Yah, aku akan berada di belakangmu, membantu ketika kau membutuhkan bantuan,” ucap Rizki seraya menepuk pundaknya.
“Ya, ayo kita berangkat!” Yogi bangkit, melangkah di antara meja dan kursi, bergegas menaklukkan sang pujaan hati dengan rekan yang mengikuti.
Ketika dia sampai di muka kelas, dia berbelok, menuju pintu keluar. Namun, Yogi tidak meninggalkan kelas. Yogi justru berdiam diri. Dia menarik napas, mengembuskannya melalui mulut.
“Jangan berhenti di tengah jalan!” Rizki mendorong punggungnya, membuatnya hampir tersungkur ke lantai.
“Ugh ..., aku sedang mengumpulkan keberanian di sini,” gumam Yogi sambil menggaruk kepala.
“Bukankah beberapa detik lalu, kau berkata akan menggenggam hatinya?” Rizki melewatinya seraya menepuk pundak.
Laki-laki itu tak berhenti berjalan dan terus melangkah maju, meski pelan. Rizki memiliki punggung kurus, tetapi Yogi merasa bahwa Rizki lebih gagah darinya. Entah apa yang mendasari itu, tetapi Yogi tahu bahwa dia harus mencontoh Rizki. Terus maju, apa pun yang terjadi.
Sekali lagi, Yogi menghela napas. Namun, kali ini Yogi menegakkan tubuh, melangkah maju, mengikuti rekan yang telah mendahului.
“Rizki,” ucapnya sambil mempercepat langkah.
“Kukira kau akan melarikan diri, seperti akan kecil,” ejek Rizki.
__ADS_1
“Diamlah!” jawab Yogi sambil mendorong pundak Rizki.
“Hehe, semoga beruntung,” ucap Rizki.
Tanpa memedulikan Rizki, Yogi menyalip rekannya, memimpin sejauh beberapa langkah di depan.
Di lorong sekolah tersebut, hanya terlihat Yogi dan Rizki. Ke duanya mengenakan jaket hitam, tetapi Rizki mengenakan jaket hitam bergaris biru di bagian lengan, sedangkan Yogi berjaket hitam bergaris kuning di bagian dada.
Sesekali rekan sebaya menyapa mereka, berpamitan hendak pulang. Kebisingan yang menyelimuti sekolah pun telah digantikan dengan keheningan yang mencekam. Namun, mereka tetap berjalan, menuju perpustakaan.
Ketika Yogi sampai di depan perpustakaan, dia melangkah dengan mantap.
“Mungkin sebaiknya besok saja,” ucapnya sambil berbalik dan hendak kembali ke kelas. Namun, langkahnya terhenti lagi. Kerah jaketnya ditarik Rizki. Rizki menyeretnya memasuki perpustakaan.
“Rizki?” tanya Yogi, sambil berpaling ke belakang, menatap punggung Rizki yang berbalut warna hitam.
“Apa ucapanmu di kelas hanya sebuah kebohongan?” tanya Rizki sambil melemparnya ke dalam perpustakaan.
Pustakawan yang mengetahui itu hanya menatap mereka. Mungkin bertanya-tanya akan kegiatan dua laki-laki itu.
“Bukankah itu sedikit kasar?” tanya Yogi sambil memijat pundak sendiri.
“Itu demi kebaikanmu. Sekarang, kita cari mereka,” Rizki memimpin di depan, sedangkan Yogi mengekor dari belakang.
Sebenarnya Yogi cukup kesal karena perlakuan kasar tersebut, tetapi dia tahu bahwa itu demi kebaikannya. Karena itu, dia menuruti Rizki sambil berharap supaya segalanya berjalan lancar.
“Aduh!” Yogi menumbuk punggung Rizki yang tiba-tiba mematung. “Jangan berhenti di tengah jalan!” ucapnya.
“Sepertinya kita salah tentang suatu hal,” jawab Rizki sambil menunjuk ke satu arah.
Yogi mengikuti arah yang ditunjuk. Apa yang dia temui di ujung adalah seorang gadis yang bermandikan cahaya tipis. Rambut hitam merefleksikan sinat mentari, menyebar rasa hangat di hati. Lentik mata yang sekan bergerak lambat, memberi dada rasa hangat. Dengan sebuah garis lengkung di bibir, sosok itu membuat rembulan mencibir. Ke duanya membisu, hanya tertegun kaku.
“Apa kita tidak bermimpi?” tanya Yogi sambil mencubit pipi Rizki.
“Aduh! Kenapa kau mencubitku?” Rizki menghalau tangannya.
“Sakit? Jadi ini bukan mimpi?” Yogi memiringkan wajah.
“Tentu bukan, tetapi aku juga hampir tak percaya dengan yang kulihat. “
“Aku juga tak menyangka ini,” imbuh Yogi.
Bagaimana mereka tidak tertegun di sana. Asumsi mereka dihancurkan menjadi kepingan dalam satu detik.
Mereka mengira bahwa Lia akan tidur, tetapi justru terlihat anggun. Bermandikan sinar mentari, membuat gadis itu tampak seperti bidadari. Bersinar dalam terang, menebar kasih sayang.
__ADS_1
Di sisin lain, gadis cantik yang mencuri perhatian Yogi justru terlelap. Di bawah naungan sang surya, gadis itu tampak seperti utusan surga.
Untuk yang sekian kalinya, Yogi dibuat kagum oleh kecantikan Renata. Meski sedang terlelap, tetapi dua gadis itu berhasil membuat Yogi, dan Rizki, terkagum. Jika mereka berada di dunia fantasi, maka dua gadis itu adalah putri tidur dan pengawalnya.
“Hey,” Rizki angkat bicara ketika Yogi masih membeku.
“Eh, kenapa kalian di sini?” Lia berpaling, melempar pertanyaan.
“Semuanya sudah pulang, tetapi tas kalian masih di kelas. Jadi, kami memutuskan untuk memeriksa keadaan kalian,” Rizki menjelaskan.
“Ah, begitu rupanya. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan kami,” Lia tersenyum sambil memiringkan wajah.
Entah kenapa, tetapi Lia terasa lebih tenang ketika berada di perpustakaan.
“Ap ...―”
“Rena! Kita pulang!” bukannya membangunkan Renata dengan lembut, Lia justru menaikkkan suara di dekat telinga Renata.
“Ah! Lia, kau terlalu berisik,” gumam Renata sambil mengangkat wajah dan menggosok mata.
“Hehehe ...,” ketika melihat itu, Yogi mengangguk menyadari bahwa Lia tak berubah. Ketika dia menatap Rizki, Rizki pun juga mengangguk.
“Itu Lia yang kita kenal,” imbuh Rizki.
Yogi dan Rizki angkat kaki, mendekati Lia dan Renata.
“Bangunlah! Ada Rizki dan Yogi di sini,” ucap Lia.
“Eh?” mata Renata terbelalak ketika mendengar dua nama tersebut. Gadis itu segera membenahi jaket biru dan rambutnya.
“Apa tidurmu nyenyak?” Yogi melempar pertanyaan.
“Em ..., yah, begitulah,” Renata berpaling sambil merapikan penampilan.
“Tunggu di sini! Aku akan mengembalikan buku,” Lia bangkit, membawa buku tebal dan melangkah pergi.
Kini Yogi dan Rizki mendampingi Renata yang tampak mengagumkan. Namun, gadis itu masih tertunduk dalam, menatap permukaan meja. Mereka bertiga membisu, membiarkan suasana mencekik leher.
Yogi mencari apa pun untuk diperhatikan, sedangkan Rizki bersendekap dan bersandar di rak buku.
“Apa ..., tidak ada pengumuman?”Renata mencoba mencairkan suasana.
“Ah, ada. Mulai besok kegiatan belajar mengajar akan berjalan. Kita juga sudah mendapat jadwal pelajarannya. Kau bisa menyalin catatanku setelah ini,” jawab Yogi.
“Terima kasih,” Renata mengangkat wajah, tersenyum pada Yogi.
__ADS_1
“Sama-sama,” balas Yogi dengan senyum terbaik yang dia miliki.
“Ayo, kembali ke kelas dan pulang!” ketika Lia menunjukkan diri, gadis itu mengangkat kepalan tangan ke atas. Yogi dan Renata tersenyum masam melihat hal itu, sedangkan Rizki tak memberi reaksi apa pun.