
Bab 38 ~ Usaha~
“Beberapa hal perlu dilakukan berulang kali hingga itu membuahkan hasil, bahkan Thomaa. A. Edison pun mengalami banyak kegagalan sebelum berhasil menciptakan bohlam.”
-Mayn Urr Izqi-
Yogi yakin akan mendapat nilai bagus. Di setiap waktu luang, dia selalu menyempatkan diri untuk membaca buku pelajaran atau mengulas pertanyaan tryout. Dari seseorang yang mengandalkan otot, dia berubah menjadi seorang kutu buku, bahkan dia selalu membaca catatan kecil ke mana pun.
Renata dan Rizki mulai menganggap bahwa dia terlalu banyak belajar. Namun, dia tak peduli. Untuk mencapai tingkatan yang setara dengan dua orang itu, dia harus berjuang keras. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyaingi dua monster cerdas itu.
Tak seperti dirinya, Lia justru menghabiskan waktu untuk membaca novel, makan, dan tidur. Setiap kali dia menemukan Lia, gadis itu pasti melakukan salah satu dari kegiatan inti tersebut.
Dia yakin bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil.
“Emmm ..., Yogi?” Renata menyebut namanya, tetapi dia bergeming. Ketika Rizki melambai di hadapannya, dia pun tak memberikan reaksi.
Ke dua matanya kosong, menatap lembaran yang tertempel pada dinding mading, sementara suasana kawanan manusia di sekitar semakin meriah. Bibirnya tersenyum tipis dan tubuhnya berdiri tegak, seperti tentara.
“Ah, dia pingsan,” gumam Rizki.
“Eh? Apa yang terjadi?” balas Renata.
“Hmmm ..., mungkin syok karena melihat pengumuman ini,” jawab Rizki.
“Kenapa ini terjadi?” tanya Yogi tanpa mengubah raut aneh tersebut.
“Eh?” Renata memringkan wajah.
“Oh, pangeran tidur pun terbangun,” ejek Rizki.
Yogi bisa mendengar dua orang itu dengan jelas. Namun, tenaganya lenyap entah ke mana, membuatnya tak mampu membalas dua orang itu.
“Yeeeey ..., aku masuk dua puluh besar!” dari samping, suara Lia terdengar.
__ADS_1
Ketika Yogi berpaling, dia mendapati gadis mungil yang melompat-lompat kegirangan. Gadis itu tersenyum, menari di tengah keramaian.
Jika Yogi dalam kondisi prima, mungkin dia sudah menghampiri Lia dan menghentikan tindakan tersebut. Namun, dia bergeming, membiarkan gadis itu berendam kebahagiaan, sementara dia tenggelam dalam kekecewaan.
“Kak. Yogi, aku masuk ke dua puluh besar! Aku hebat, bukan?” gadis itu menghampirinya, tersenyum bagaikan sang surya.
Sebenarnya Yogi ingin mengasingkan diri untuk beberapa hari, dia perlu waktu. Namun, dia tidak ingin membuat orang lain khawatir. Namun, jika dia melakukan itu, dia hanya akan membuat orang lain risau.
“Hmmm ..., kau hebat, Lia,” jawabnya sambil tersenyum dan mengelus rambut, pendek, Lia.
Setelah melakukan itu, Yogi berpaling, menatap lembaran yang menunjukkan nilai tryout. Biasanya, Yogi berada di peringkat 17-20 di kelas dan 100-130 secara angkatan. Kali ini dia berada di posisi 103. Tak ada yang berubah, semuanya berjalan normal seperti biasanya. Namun, hatinya seperti tercabik, bahkan menarik napas pun terasa pelik.
Setelah semua kegiatan belajar yang dia lakukan, itu tak membuahkan hasil. Nilainya sama seperti hari normal lainnya, padahal dia yakin akan mendapat nilai bagus.
Selama seminggu terakhir, dia mengerjakan tryout dengan teliti. Satu soal bahkan sampai dikoreksi hingga tiga kali. Dia tak ingin melakukan kesalahan karena ingin mendapat sebuah pencapaian. Namun, semua itu pecah menjadi serpihan kaca yang merefleksikan harapannya.
Dia merasa dikhianati oleh kehidupan. Dia merasa kehidupan tak adil. Dia merasa kehidupan itu pilih kasih.
Pelan, dia berbalik. Ke dua kaki diangkat dan melewati gerombolan manusia. Ke dua tangannya disembunyikan di saku jaket, sedangkan wajahnya menatap ubin. Tanpa memperhatikan bagian depan, dia berjalan ke kelas.
“Yogi, kau baik-baik saja?” seseorang membelai pundaknya. Ketika dia mengangkat wajah, Renata adalah orang yang dia temukan. Tak lama kemudian, Lia menunjukkan wajah dari balik punggung Renata.
“Emmm ...., kenapa menanyakan itu?” balasnya sambil menegakkan tubuh dan menggaruk pipi.
Ketika melakukan itu, dia menyadari Rizki yang bergerak di belakangnya. Laki-laki itu berpindah dan duduk di sisinya. Para gadis pun memutar kursi dan duduk di hadapannya.
Lia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya; Rizki memangku dagu; Renata menyilang tangan di atas meja. Namun, perhatian tiga orang itu menguncinya, membuatnya merasa aneh karena diperhatikan.
“Emmm ..., kenapa kalian melihatku?” tanya Yogi.
“Kau baik-baik saja?” Renata mengulangi pertanyaan yang sama.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi, bukan?” Rizki menambah.
“Kak. Yogi kenapa?” Lia pun mengatakan hal yang sama.
“Emm ..., apa yang terjadi? Kenapa kalian tampak begitu khawatir?” balasnya dengan pertanyaan lain.
__ADS_1
“Apa Ibumu tidak pernah mengajari untuk tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain?” ketus Rizki.
“Ha?” Yogi memiringkan wajah.
“Beberapa saat yang lalu, kau masih bersikap seperti biasanya. Namun, kau berubah ketika melihat pengumuman nilai,” ucap Renata, “apa terjadi sesuatu?”
“Emm ....” Yogi berpaling, menggaruk pipi.
“Katakan saja! Lagipula kau selalu kesulitan berbohong,” ucap Rizki.
“Kak. Yogi, tidak mau menceritakannya?” Lia melempar pertanyaan.
Sebenarnya dia tak ingin menceritakan apa pun. Jika dia bercerita, mungkin Lia akan merasa bahwa dia lebih bodoh. Setelah semuanya, nilai Lia selalu berada di bawahnya. Namun, nilai Lia tiba-tiba melejit.
“Sebenarnya ..., Emmm ..., bukankah kalian tahu bahwa aku sering belajar belakangan ini?” Tiga temannya mengangguk sebagai jawaban, “itu karena aku ingin mendapat nilai bagus. Aku ingin lulus dan masuk ke SMA melalui jalur prestasi bersama kalian, tetapi semua itu tidak membuahkan hasil,” akhirnya dia memutuskan untuk berbicara. Namun, dia tak berani menunjukkan wajah ketika memuntahkan semua yang ada di pikiran.
“Kau tahu?” Renata meraih tangan Yogi. Gadis itu mendekap tangan Yogi dengan hangat. Ketika Yogi mengangkat wajah, seorang gadis tersenyum manis padanya. “Beberapa hal perlu dilakukan berulang kali hingga itu membuahkan hasil, bahkan Thomaa. A. Edison pun mengalami banyak kegagalan sebelum berhasil menciptakan bohlam,” imbuh Renata.
“Namun, pada akhirnya dia berhasil. Akhirnya, namanya pun tercatat dalam sejarah,” imbuh Rizki sambil menggenggam tangan Yogi.
“Tetap semangat, Kak!” Lia pun ikut memegang tangann Yogi.
“Heh ...” Yogi tertawa kecil. Dia tak menyangka bawah tiga temannya akan menyemangatinya. Namun, dia beruntung karena memiliki mereka bertiga. Mereka bahkan tersenyum padanya seakan tak ada hari esok. “Kalian benar. Seharusya aku tidak putus asa di percobaan pertama,” balasnya sambil mengangguk.
“Itu baru Kak. Yogi,” Lia melebarkan senyum.
“Tetap semangat!” ucap Renata.
“Jangan menyerah! Atau aku akan menendangmu,” imbuh Rizki.
“Yah, kalau begitu. Mari berjuang untuk tryout berikutnya.”
“Ya!” jawab mereka serentak sambil membuang tangan ke udara.
__ADS_1