
Bab 43 ~Rahasia~
“Beberapa rahasia lebih baik tetap menjadi rahasia – some secret are better left as secret”
Candace Bushnell
Pelan, mentari menyingsing ke langit barat. Angkasa memerah seakan terbakar, tampak seperti lava yang melayang di udara. Semburat kekuningan terpancar dari arah barat, menebar sisa tenaga sang surya yang hendak mengakhiri hari.
Burung-burung mulai digantikan mamalia bersayap. Jalanan semakin tenggelam dalam kericuhan. Lampu-lampu dipinggir pun mulai menunjukkan kirana, memecah kegelapan yang hendak menguasai hari.
Angin bertiup, membawa rasa dingin yang menusuk kulit. Namun, manusia tak berhenti bergerak. Mereka justru mempercepat langkah. Entah apa yang menjadi tujuan mereka, tetapi Yogi berpikir bahwa itu cukup penting karena mereka tak berhenti demi sedetik pun.
Setelah istirahat makan siang, Renata menyeretnya ke berbagai wahana. Entah berapa lama mereka bermain, tetapi itu cukup untuk memberi rasa penat yang menumpuk. Namun, dia tak membencinya. Dia justru senang karena bisa menatap senyum Renata sepanjang hari. Berkat hari ini, dia bisa melihat sisi lain dari Renata yang pendiam.
Itu membuatnya bersyukur karena Renata jarang berbicara, kecuali dengan Lia. Namun, gadis itu tak bisa mengerem mulut hari ini. Itu seperti Renata meledakkan semua yang bernaung di benak. Renata bahkan bisa bersikap egois dan manja padanya. Itu merupakan hal yang tak pernah dia sangka karena dia kira Renata memiliki pribadi yang dewasa.
“Hmmm ....” Yogi memindah perhatian ketika mendengar dengkuran tersebut.
Apa yang dia dapat adalah seorang gadis yang tertidur di bahunya. Rambut hitam, panjang, gadis itu menjadi penarik perhatiannya, ketika pertama bertemu. Kini disematkan sebuah penjepit merah, darah, di atas telinga gadis itu, menyempurnakan penampilan yang awalnya sudah menawan. Wajah gadis itu selalu terkesan dewasa, kalem, dan pendiam. Namun, Yogi tahu bahwa itu hanya berlaku pada orang yang baru mengenal Renata. Dia telah melihat sisi lain Renata.
“Aku ingin itu ...,” Renata bergumam.
Yogi tersenyum kecut ketika mendengar itu. Itu adalah salah satu hal yang tak disangka dari Renata. Berbicara ketika tidur, itu juga menjadi pertanda bahwa Renata kelelahan. Karena itu, tak heran kalau Renata kini tertidur di bahunya.
Gadis itu tampak seperti malaikat ketika tertidur. Bibir tipis tersebut, lentik mata yang mencuat, serta kulit secerah senyum mentari. Semua itu menyatu menjadi setangkai mawar yang menarik hati.
Bisa menghabiskan waktu dengan Renata selama sehari penuh, itu masih terasa seperti mimpi. Setiap rasa yang tertoreh dalam diri, terasa seperti halusinasi yang tak pasti. Saat dia mengingat semua rasa yang dia dapatkan, dia seperti tenggelam, melayang, dalam kekosongan. Tidak, itu tidak kosong karena terdapat dinding yang terbuat dari adegannya bersama Renata. Sampai saat ini pun, semua rasa itu masih meninggalkan bekas dalam diri, memupuk benih cinta yang tengah menguncup.
Yogi membuka mata ketika merasakan sebuah kehangatan di tangan. Saat pandangannya berpindah pada sumbernya, Renata telah menggenggam punggung tangannya. Gadis itu memiliki kulit lembut, bahkan lebih lembut jika dibandingkan dengan kain kualitas terbaik di dunia.
Pelan, Yogi membalik telapak tangan, membalas genggaman tangan gadis itu. Perhatiannya berkeliling, menatap sekitar. Tepat di sisi kanannya adalah Renata, kemudian di samping Renata adalah jendela yang menampilkan langit yang kini mulai melebam, tenggelam dalam warna biru sebelum akhirnya bertabur bintang.
Di depannya adalah kursi yang ditempati orang lain. Di sisi kirinya pun terdapat orang lain. Begitu pula dengan di belakangnya.
Mereka berada di bus kota. Hendak pulang ke rumah. Rencana awalnya dia akan berpisah ketika bus tiba di halte dekat rumah Renata. Namun, dia tak tega membangunkan gadis itu. Jadi, dia bermaksud untuk menggendong Renata nanti. Setelah itu, baru dia pulang ke rumah.
Dia berharap supaya orang tua Renata ada di rumah, mengingat fakta bahwa orang tua Renata sibuk bekerja, dia cukup khawatir jika dua orang itu tak berada di rumah Renata. Kalau dua orang itu tak berada di rumah, dia harus menunggu hingga Renata tersadar atau dia terpaksa membangunkan Renata.
__ADS_1
Pelan, Yogi berpaling. Perhatiannya mengunci angkasa. Sesekali pohon melewati bidang penglihatan. Namun, perhatiannya tetap mengunci cakrawala.
“Hoammm ....” akhirnya Yogi menguap. Tubuhnya mulai terasa berat dan pikirannya pun memudar. Dia ingin menutup pikiran dan tidur hingga mereka sampai. Namun, dia tak bisa melakukan itu. Dia tak ingin tertinggal halte dan berakhir di tempat asing.
“Semoga dia tidak marah karena hal ini,” gumamnya sambil menempatkan kepala di ubun-ubun Renata.
Dia tak meminta izin Renata untuk melakukan itu. Memang benar bahwa dia tidur di pangkuan Renata, tadi. Namun, dia tak pernah tahu apa Renata akan memberi izin atas perbuatannya kali ini. Dia bahkan menggenggam tangan Renata yang terlelap. Karena itu, dia hanya bisa berharap supaya Renata tidak bangun dan mengomelinya.
“Renata,” Yogi menyebut nama gadis itu, tetapi tak ada balasan yang terdengar, “Terima kasih untuk hari ini. Kau membuat hari ini terasa sempurna. Aku bahkan sempat berharap supaya kita bisa terus seperti ini. Aku memang bodoh. Namun, apa kau tahu? Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak awal kita berjumpa di hari itu.”
“...,” tak ada jawaban dari Renata. Tentu saja karena gadis itu tengah terlelap.
“Astaga, betapa bodohnya aku ini. Mari jadikan ini sebagai rahasia antara aku dan diriku.” Yogi menggeleng sambil memijat kepala. “Sepertinya aku terlalu lelah.”
Yogi menghela napas dan memindah perhatian. Gedung-gedung bertingkat dan pinggiran jalan yang ditumbuhi pohon palem menjadi penyambut matanya. Dia mengingat semua itu. Dia sudah dekat dengan rumah Renata.
“Kiri!” teriaknya. Tak lama kemudian beberapa orang meneriakkan kata yang sama.
Tak lama kemudian, roda bus berhenti di hadapan sebuah halte. Yogi menempatkan Renata di punggungnya dan melangkah ke luar bersama beberapa orang lain. Dia sempat menjadi pusat perhatian. Namun, dia berpikir bahwa itu wajar karena membawa dua buah tas dan seorang gadis di punggung. Jika ada polisi yang menghentikannya, dia pun tak akan heran.
Di depan pagar, Yogi berhenti melangkah untuk sejenak. Ini ke dua kalinya dia menginjakkan kaki di rumah Renata, tetapi dia masih saja dibuat kagum oleh kemegahan tersebut.
Pelan, Yogi membuka pintu pagar dan melewati rerumputan. Terdapat sebuah mobil yang diparkir di depan garasi. Itu mungkin mobil ayah Renata. Jadi, orang tua Renata pasti ada di rumah.
Ding-dong! Suara bel.
“Ya, sebentar!” teriak seorang pria dari dalam. Tak lama menunggu, pintu pun terbuka dan memperlihatkan pria paruh baya yang mengenakan celana pendek dan kaus polos. “Oh, Yogi. Ah, astaga. Maaf merepotkanmu,” ucap pria itu ketika melihat Renata yang terlelap di punggungnya.
“Tidak apa, Om,” jawabnya singkat.
“Sini! Biar aku yang menggendongnya.” Pria itu mengulurkan ke dua tangan, sedangkan Yogi berbalik dan menyerahkan Renata. Ketika Yogi berbalik lagi, Renata tampak digendong seperti seorang tuan putri.
“Oh, dan ini tas Renata,” ucapnya sambil melepas tas selempang yang melilit tubuh.
“Oh, emmm ..., pakaikan padaku saja!” ucap pria itu sambil menundukkan tubuh. Yogi pun menuruti perintah pria itu dan melilitkan tas tersebut.
“Baiklah, karena sudah malam, aku harus permisi, Om.”
“Loh? Kau tidak ingin masuk terlebih dulu?”
“Ah, terima kasih untuk tawarannya, tetapi orang tuaku akan cemas jika aku pulang terlalu larut.”
__ADS_1
“Ah, itu masuk akal. Namun, kau masih belum berkunjung kemari, lho.”
“Aku akan menyimpan undangan itu untuk saat ini.”
“Baiklah. Sampai jumpa lagi.”
“Permisi.” Yogi berbalik dan melewati taman. Ketika dia berada di luar lingkungan rumah Renata, dia menyempatkan diri untuk melihat Renata. Namun, sosok itu tak lagi tampak. Apa yang terlihat hanya sebuah bangunan megah yang tertutup rapat.
Yogi pun melangkah menjauh.
Hening. Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. Jalanan sepi, tetapi Renata justru terjaga. Gadis itu berjalan ke depan jendela, menatap langit yang bertabur butiran cahaya. Di telinganya, tertempel ponsel pintar.
“Halo? Apa kau tidak tahu pukul berapa sekarang?” ucap seorang laki-laki di seberang.
“Aku sudah melakukan perintahmu,” jawab Renata.
“Oh, begitukah? Apa Yogi mengatakan sesuatu yang menarik padamu?”
“Tak ada yang spesial.”
“Spesial? Kau kira nasi goreng?”
“Haa ..., aku berterima kasih atas informasimu. Itu menyenangkan bersama Yogi.”
“Jangan pikirkan itu! Aku hanya melakukan apa pun yang kusuka.”
“Baiklah. Aku mulai mengantuk.”
“Bagaimana dengan perintah berikutnya?”
“Tahan sampai kita duduk di bangku SMA!”
“Kau yakin?”
“Sangat. Karena itu, jangan sampai ada yang curiga! Aku mengandalkanmu, Rizki!”
“Kau bisa mengandalkanku.”
Renata mematikan panggilan dan beralih ke kasur lantas membanting tubuh dan menutup mata.
__ADS_1