Bride

Bride
Bab 16 ~Dimulai Dengan Buruk~


__ADS_3

Bab 16 ~Dimulai Dengan Buruk~


“Tak ada manusia yang luput dari kesalahan”


-Allana Izarra-


 


 


Ke dua tangan Yogi bersilang di punggung, menopang tubuh mungil Lia. Aroma parfum dan shampo menggelitik hidung. Napas Lia membelai leher,tetapi dia mencoba untuk tidak tertawa karena rasa geli. Namun, ada hal yang mengaburkan pikiran.


Dia bisa merasakan kelembutan yang menekan punggung. Dia tak mengira bahwa tonjolan lemak itu berukuran besar. Namun, dia mencoba menghiraukan itu dan terus berjalan.


Ke dua tangan Lia melingkari lehernya. Itu membuat udara terasa lebih panas, tetapi dia tak mengeluh. Dia tahu bahwa Lia kelelahan dan harus beristirahat.


Beberapa kali, dia menjadi perhatian orang di sekitar. Dia berpikir bahwa itu wajar karena dia menggendong seorang gadis menuju mal. Mungkin orang-orang itu berpikir tentang kelakuannya, dan Lia, yang tampak aneh.


“Bagaimana keadaanmu?” Renata berpaling, melempar pertanyaan.


“Lebih baik, terima kasih untuk Yogi. Aku bisa beristirahat karenanya,” jawab Lia.


“Apa kau lelah, Yogi?” tanya Renata.


“Ah, tidak. Aku baik-baik saja,” jawabnya.


“Yah, dia memiliki stamina besar. Karena itu, aku menyuruhnya membopong Lia,” Rizki menyahut dari sisi lain. Yogi sendiri juga paham akan kekuatan fisiknya. Dia kuat dan berstamina tinggi. Hal kecil seperti menggendong Lia yang bertubuh kecil, tidak akan membuatnya lelah.


“Lihat! Rizki tak pernah bergerak atau memerintah secara sembarang,” ucapnya.


“Ah, itu ..., dia,” setelah berucap, Lia menyembunyikan wajah di punggungnya.


Setiap perhatian segera berpindah, menatap arah yang dimaksud Lia. Di depan pintu mal, seorang gadis berjaket biru berdiri. Gadis itu bersendekap, menanti kedatangannya dan tiga rekan lain.


Yogi masih berjarak sekitar sepuluh meter dari gadis itu, tetapi udara terasa mencekik tenggorokan. Dadanya terasa sesak. Namun, dia yakin bahwa Lia merasakan udara yang lebih menekan. Itu terbukti dengan getaran hebat yang dia rasakan di sekitar leher.


Ketika dia berpaling, mencari tahu keadaan Lia, dia menemukan Lia membenamkan wajah di punggungnya. Gadis itu ketakutan, membuatnya merasa kasihan.


“Tenanglah!” ucapnya pada Lia. Lia tak bersuara, tetapi mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Ketika dia memindah perhatian ke sekitar, dia menemukan Renata berwajah geram. Gadis itu mengeluarkan aura berat. Hal yang sama pun berlaku pada Rizki. Laki-laki itu tak mengubah ekspresi wajah, tetapi mata tersebut seakan menusuk, membuatnya berpikir bahwa itu tidak pantas untuk ditujukan pada seorang kekasih.


Dua orang itu menebar aura yang sama, mengakibatkan udara menekan paru-parunya. Orang-orang di sekitar bahkan menghindari mereka. Itu membuatnya merasa bahwa dia adalah orang terkenal, dalam artian buruk.


“Darimana kalian? Apa kalian benar-benar suka membuang waktu? Terutama kau, Yogi. Kukira kau orang yang menghargai waktu, tetapi kau justru bersama mereka. Apa ini cara kalian mem ...―”


“Berhenti di sana!” Rizki menyela Kak. Yuutha sambil menunjuk gadis itu.


“Apa-apaan ini?” Kak. Yuutha memicing pada Rizki.


“Lia hampir pingsan karena ulah Kakak,” Renata angkat bicara, “Lia memiliki tubuh lemah. Duduk seperti itu dalam jangka waktu lama membuat sirkulasi darah ke otaknya terhambat.”


“Eh?” Kak. Yuutha membuka mata lebih lebar, mengalihkan perhatian padanya, lebih tepat pada orang yang dipunggungnya. “Apa itu benar?”


“Apa Yogi terlihat berbohong?” tanya Rizki sambil menunjuknya.


“Eh? Aku?”


Kak. Yuutha membisu untuk sejenak. Perhatian gadis itu menusuk matanya, tidak lama, gadis itu menyebar perhatian ke segala arah. Gadis itu seperti kebingungan, mungkin itu benar karena hampir membuat orang lain pingsan.


Ketika Kak. Yuutha melangkah, mendekatinya, refleks pun mendorong tubuhnya untuk memberi jarak. Namun, Kak. Yuutha berjalan lebih cepat dan menghampiri Lia yang berada di punggungnya.


“Emm ..., itu juga salahku karena terlambat. Jadi, jangan dipikirkan lagi!” balas Lia.


Karena dua gadis itu berbincang di belakangnya, dia tak bisa melihat raut yang dikeluarkan dua orang itu. Namun, dia tahu bahwa Lia tidak berani mengangkat wajah untuk Kak. Yuutha. Mungkin rasa takut membuat Lia ragu.


Ketika Kak. Yuutha mengangkat wajah, dia bisa melihat wajah muram yang seakan berada di ambang kegelapan. Tampaknya Kak. Yuutha menyesali perbuatannya.


“Lia ...,” Kak. Yuutha angkat bicara dengan nada lembut.


“Kak. Yuutha, sebaiknya kita masuk ke dalam dan mencari tempat supaya Lia bisa beristirahat.” Sebelum Kak. Yuutha melanjutkan, dia memberi saran sambil memasang senyum di bibir.


Untuk beberapa saat, Kak. Yuutha menatap, lembut, padanya. Ketika itu terjadi, dia paham kenapa Rizki memilih Kak. Yuutha sebagai kekasih. Gadis itu tampak kuat, tetapi juga terlihat lemah di saat yang sama. Namun, dia cukup yakin bahwa Rizki sudah melihat sisi Kak. Yuutha yang lain.


“Baiklah,” jawab Kak. Yuutha dengan anggukan lemah.


Kak. Yuutha berjalan mendahului, meninggalkannya dengan tiga rekan yang lain. Tanpa melihat ke belakang, gadis itu memasuki mal. Punggung ramping itu tampak sayu. Langkah kaki gadis itu pun begitu lembut seakan tak tersisa lagi tenaga. Adegan tersebut seperti mawar yang tumbuh di tengah padang pasir.


Pelan, perhatiannya berpindah pada Renata. Renata masih tampak kesal, bahkan ke dua tangan itu bersilang di dada.

__ADS_1


Di sisi lain, Rizki tak berbuat apa pun. Laki-laki itu justru menguap seakan tak peduli dengan apa yang terjadi. Karena itu, dia menyikut, pelan, lengan Rizki. Ketika Rizki menatapnya, dia memberi tanda untuk mengejar Kak. Yuutha. Setelah semuanya, Rizki masih kekasih Kak. Yuutha.


“Haaa ...,” Rizki menghela napas sebelum berjalan masuk, menyusul Kak. Yuutha.


“Apa dia sudah pergi?” Lia mengangkat wajah, menggunakan pundaknya sebagai bantal. Tampaknya Lia sudah lebih tenang, tangan Lia pun tak gemetar lagi.


“Ya, dia sudah masuk terlebih dulu,” jawabnya.


“Kau baik-baik saja?” Renata mengelus rambut Lia.


“Emm ..., aku baik,” jawab Lia, “tetapi entah kenapa aku merasa sangat lelah. Di sini juga panas,” Lia mulai mengeluh. Mungkin pertanda bahwa kondisi gadis itu membaik.


“Benar, sebaiknya kita masuk. Akan kubelikan kalian minuman,” ucap Renata sambil mengambil beberapa langkah ke depan.


“Sebelum itu, sebaiknya kita mencari tempat supaya Lia bisa beristirahat,” balasnya sambil mengekor pada Renata.


“Itu benar,” jawab Renata.


Ketika tubuh mereka melewati pintu masuk, dinginnya udara segera menusuk permukaan kulit. Yogi dibuat kagum oleh teknologi bernama AC tersebut, bisa mengatur suhu ruangan besar dengan mudah. Manusia memang luar biasa.


“Bagaimana dengan di sana?” Renata menunjuk ke salah satu kursi.


“Tentu. Aku akan membawa Lia ke sana,” balasnya sambil berpindah tempat, sedangkan Renata menuju ke arah yang berbeda.


“Terima kasih sudah menggendongku,” bisik Lia, membuat telinganya terasa geli.


“Sama-sama, tetapi jangan berbisik di telingaku. Itu geli,” balasnya.


“Fuuu ...,” bukannya berhenti, Lia justru meniup telinganya.


“Oi!” tanpa sadar, dia menaikkan suara.


“Hehehe ...,”


“Haaa ...,”


 


 

__ADS_1


__ADS_2