
Bab 18 ~Hampir~
“Il est plus difficile de dissimuler les sentiments que l'on a que de feindre ceux que l'on n'a pas” / “Lebih sulit menyembunyikan perasaan daripada berpura-pura tidak memilikinya”
-Francois de la Rochefoucauld-
Yogi beryukur karena Rizki meninggalkannya dengan Renata, dan Lia. Meski dia menggunakan Rizki sebagai alasan untuk mulai berkeliling, tetapi akhirnya dia tak mencari Rizki.
Dia justru menemani Renata dan Lia berkeliling, melihat-lihat berbagai barang yang dijual. Namun, mereka berdua tak membeli sepotong kain pun. Yah, dia berpikir bahwa itu wajar karena mereka berdua masih kecil, sama sepertinya.
Dia bahkan hanya membawa uang sebesar Rp. 500.000,- di kantong. Uang itu pun adalah bagian tabungan.
Dia berpikir untuk membelikan sesuatu untuk Rizki dan Lia, juga untuk Renata yang spesial. Untuk Rizki dan Lia, dia bisa membelikan mereka novel karena mereka suka membaca.
Rizki menyukai kisah fantasi yang dibalut dalam petualangan. Adegan pertarungan melawan monster dengan tembakan siihir sejauh puluhan meter. Menunggangi naga hingga ke ujung angkasa. Kisah itu bisa membuat Rizki betah duduk selama berjam-jam. Namun, itu akan berimbas padanya karena terakhir kali Rizki seperti itu, mereka meninggalkan perpustakaan, kota, dalam keadaan gelap.
Di sisi lain, dia tak mengerti selera Lia akan novel. Namun, karena Lia adalah seorang gadis, Lia pasti menyukai fiksi remaja. Kisah cinta manis antara dua pelajar. Bunga bermekaran dalam kelas, memberikan rasa hangat yang meluas. Pertemanan yang menjadi bumbu dan pertikaian yang menjadi konfilk, seorang gadis pasti menyukai kisah-kisah manis seperti itu.
Terakhir adalah Renata.
Yogi mengangkat wajah, menatap punggung Renata yang didampingi Lia. Dua gadis itu memimpin jalan, menyusuri lorong di antara kios-kios. Rambut legam tersebut melambai, pelan, padanya.
Dia tak mengerti apa yang disukai Renata. Sudah seminggu sejak dia mengenal Renata. Meski dia menyukai gadis itu, tetapi dia baru mengetahui hal umum tentang Renata. Itu menumbuhkan rasa frustasi akan penasaran. Namun, tak mungkin untuk melempar berbagai pertanyaan secara tiba-tiba. Itu akan terasa aneh bagi Renata.
Ironinya adalah dia mengetahui lebih banyak tentang sahabat Renata, yaitu Lia. Mungkin karena Lia banyak mulut atau karena dia selalu bisa berpikir jernih ketika bersama Lia. Dia tak tahu apa alasannya. Apa yang dia ketahui adalah dia frustasi akan sifat pengecutnya. Jika dia memiliki lebih banyak keberanian, mungkin dia bisa mengatakan lebih banyak pada Renata.
“Ah, toko buku!” suara Lia menusuk telinga, menarik kesadaran Yogi kembali pada kenyataan.
Ketika perhatian Yogi menyorot Lia, dia mendapati Lia menunjuk pada salah satu kios. Perhatiannya berpindah, mengikuti tangan Lia dan mendapati toko buku di sampingnya. Meski dari luar, matanya sudah menemukan banyak rak buku yang berjajar rapi.
“Ayo, kita masuk!” Lia menyeret Renata ke dalam. Jika Yogi berada di depan mereka berdua, apa yang dia lihat mungkin adalah Renata yang tersenyum masam.
Yogi mengangkat bahu, berpikir bahwa kebetulan yang bagus karena dia memang bermaksud untuk membeli buku untuk Rizki dan Lia.
Pelan, dia mengangkat kaki, bergantian, memasuki toko buku, menyusul Renata dan Lia. Ketika melewati pintu masuk, dia menemukan Renata mematung di salah satu rak buku. Saat melihat itu, dia berpikir bahwa kesempatan telah datang untuknya.
Tak berpikir lebih panjang, dia segera menghampiri gadis itu.
“R-Renata,” suaranya macet di tenggorokan, tetapi masih bisa keluar.
“Ya?” Renata berbalik, memperlihatkan wajah cantik yang menggetarkan dada. Saat itu pula, pikirannya memutih, tak lagi dapat memroses kata.“Ah, Yogi.”
“A ..., emm ..., d-di mana Lia?” bibirnya tersenyum, tetapi dia berteriak sekuat tenaga dalam hati, menyadari kebodohan karena membicarakan gadis lain.
__ADS_1
“Ah, dia baru saja menyelam.” Renata menunjuk bagian dalam toko. Yogi mengacaukan kesan pertama, tetapi belum waktunya untuk mundur.
“Emmm ..., apa kau juga menyukai buku?” Yogi berbas-basi.
“Tidak terlalu. Aku hanya membaca ketika aku menginginkannya,” jawab Renata, “bagaimana denganmu?”
“Eh? Aku?” Yogi menunjuk diri sendiri.
“Ya.” Renata mengangguk padanya.
“Sama sepertimu, bahkan sebenarnya aku hampir tidak pernah membaca,”jawa Yogi sambil menggaruk kepala belakang.
“Oh, kukira kau juga suka membaca, seperti Lia.”
“Tidak seperti itu,” jawabnya singkat. “Emmm ..., kau tahu? Di hari pertama kita berkenalan dan kau berpamitan untuk ke perpustakaan, saat itu aku mengira bahwa kau suka membaca buku.”
“Ahaha ...,” Renata tertawa kecil, “kau bukan orang pertama yang mengatakan itu.”
“Yah, siapa pun akan berpikir bahwa kau suka membaca buku ketika kau mengatakan itu, ditambah dengan pribadimu yang pendiam, itu menguatkan kesan tersebut.” Yogi sempat tertawa kecil ketika membalas Renata.
“Oh, begitukah? Lalu apa yang pikirkan ketika melihatku yang tidur dan Lia yang membaca buku?” Renata melempar pertanyaan lain padanya.
“Aa ..., ketika itu terjadi, aku berpikir, apa jiwa kalian tertukar?” Yogi berpaling, mencoba menahan tawa akan pikiran konyolnya.
“Astagah ..., kau benar-benar berpikir seperti itu? Itu konyol, ahahaha ...,” tawa gadis itu meledak, memberinya adegan yang menggetarkan jiwa.
“Aku tahu itu konyol. Aku berani bertaruh bahwa Rizki juga memikirkan hal yang sama saat itu.” Yogi mengangkat ke dua tangan ke samping.
“Aku tahu bahwa aku tidak secerdas Rizki,” jawabnya sambil menggaruk kepala.
“Ngomong-ngomong,” Renata menghela napas, menghentikan tawa sebelum melanjutkan, “apa yang kau pikirkan tentang Lia?”
“Eh?” Yogi membisu untuk sejenak, “tingkah dan tubuhnya seperti anak kecil. Jadi, aku melihatnya sebagai seorang adik. Yah, meski sebenarnya aku juga memiliki adik perempuan,” jawab Yogi.
“Kau tidak menyukainya?” Renata memiringkan wajah.
“Tidak. Dia hanya bagus sebagai teman. Sebagai kekasih, kukira dia terlalu egois dan manja,” jawabnya.
“Kau benar.”
“Kak. Yogi,” perhatian mereka berdua teralihkan oleh suara tersebut. Apa yang mereka temukan adalah Lia yang melambai pada Yogi.
“Selamat karena mendapat adik baru,” ejek Renata.
“Oh, aku menyerah. Aku akan menghampirinya dulu,” ucap Yogi sebelum mendekati Lia.
“Ya,” jawab Renata.
__ADS_1
“Kakak,” ucap Lia padanya.
“Aku bukan Kakakmu,” jawabnya dengan wajah kesal.
“Oh, ayolah! Itu permainan yang cukup bagus bagiku,” Lia menggembungkan pipi, memberikan wajah manis yang menimbulkan rasa untuk mencubit pipi mungil tersebut.
“Lupakan itu! Kenapa kau memanggilku?”
“Ah, benar. Ikuti aku!” Lia berbalik dan berjalan menuju salah satu rak.
Setelah beberapa langkah masuk ke dalam, Yogi tak lagi bisa menatap Renata. Kini dia dikelilingi rak buku yang menjulang.
“Bisa ambilkan itu?” Lia menunjuk salah satu buku yang berada di rak tinggi. Untuk sesaat, dia tak bisa menemukan buku yang dimaksud Lia.
“Buku mana yang kau maksud?”
“My Heart (not) karya Mayn Urr Izqi,” ketika Lia menjawab, perhatiannya segera menyebar dan menemukan judul buku tersebut. Dia segera mendekati rak dan meraih buku itu. Setelahnya, dia membolak-balik buku. Harga yang tertera di sana adalah Rp. 76.000,-. Dia bisa membeli itu untuk Lia.
“Kau menginginkannya?” tanya Yogi sambil menunjukkan sampul buku tersebut pada Lia. Lia mengangguk sebagai jawaban. “Akan kubelikan, tetapi kau harus memenuhi dua syaratku.”
“Syarat?” Lia memiringkan wajah. “Apa itu?”
“Aku juga ingin membelikan buku untuk Rizki. Dia menyukai kisah fantasi, tetapi aku tidak tahu buku seperti apa yang bagus. Karena itu, aku ingin kau yang memilih.”
“Itu mudah. Lalu syarat yang ke dua apa?” Lia menjentikkan jari sambil tersenyum lebar.
“Aku tidak tahu apa kesukaan Renata. Jadi, aku ingin saranmu.”
Hening. Lia tak memberikan jawaban. Gadis mungil itu hanya menatapnya dengan senyum yang mulai luntur.
“Lia?” dia menyebut nama gadis itu.
“Kak. Yogi, apa kau menyukai Renata?”
“Eh?” matanya terbelalak ketika mendengar itu masuk telinga. “A-apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
“Lalu kenapa kau ingin membelikan sesuatu untuk Rena?”
“Itu hanya ..., karena aku membelikan kalian berdua sesuatu. Jadi, aku berpikir untuk membellikan Renata juga.”
“Ah, itu masuk akal.”
“Bisa kita mencari buku untuk Rizki?”
“Tentu! Ikuti aku, Kak!” Lia berbalik dan melangkah dengan cepat.
“Haaa ...,” Yogi menghela napas lega. Dia tak pernah menyangka bahwa Lia sepeka itu. Mungkin dia harus berhati-hati ketika bersama Lia.
__ADS_1