
Bab 27 ~ Berdua~
“Love is the only flower that grow dan blossom without the aid of the season – Cinta adalah satu-satunya bunga yang bisa tumbuh dan mekar tanpa bantuan musim”
-Khalil Gibran-
Tembok putih, nakas, cermin, lemari, dan kasur. Semua benda mati itu terasa hidup. Mereka seolah memperhatikan Yogi yang duduk di atas kasur. Dia tertunduk, dalam, menatap ujung kaki dan pantulan wajah di permukaan lantai.
Sinar mentari menembus jendela kaca, menerangi kamar tempatnya berada. Satu-satunya suara yang terdengar adalah detikan jam dinding dan degup jantungnya sendiri. Dia bahkan berpikir bahwa degup jantungnya lebih keras daripada jam dinding, memenuhi kamar dengan ritme jantung yang tak karuan.
Pelan, dia mengangkat wajah. Perhatiannya disebar, memperhatikan lingkungan. Di kasur empuk, dia duduk. Di ujung kasur terdapat bantal dan beberapa boneka beruang, tetapi dia juga melihat kelinci di sana. Tampak normal untuk menyukai hal-hal imut seperti itu, mengingat Renata adalah seorang gadis. Itu juga menambah kesan kehidupan dan imut dalam kamar.
Di samping kasur terdapat nakas dengan beberapa foto Renata dan orang tuanya. Lembaran foto tersebut berbingkai kayu, sederhana. Beberapa foto sepertinya diambil di depan rumah. Namun, ada pula yang diambil di tempat wisata.
Perhatian Yogi berpindah. Tak jauh, di seberang kasur adalah meja dan kursi. Terdapat lampu belajar, buku-buku catatan, dan beberapa buku pelajaran yang ditata rapi. Mungkin di sana tempat Renata belajar, menimba ilmu ketika tak berada di sekolah.
Tidak lama kemudian, perhatiannya berpindah ke jendela. Jendela tersebut terbuka lebar. Mungkin cukup untuk dijadikan tempat duduk sambil menikmati angin yang berembus.
Pemberhentian terakhirnya adalah pintu. Jika dia membuka pintu tersebut, dia akan menemukan kamar mandi, tempat di mana Renata tengah mengganti pakaian. Kulit pucat yang berbalut kain tipis, wajah merona ketika mata saling bertemu, dan ritme jantung yang semakin tak karuan. Mungkin itulah yang terjadi jika dia membuka pintu tersebut. Namun, dia bahkan tak bergerak seinchi pun.
Beberapa menit lalu, dia memasuki rumah Renata. Ruang tamu Renata berukuran dua kali lebih lebar jika dibandingkan dengan ruang tamu rumahnya. Terdapat sofa dan TV LCD, sedangkan keluarganya masih menggunakan televisi tabung. Karena di rasa panas, Renata pun menghidupkan AC, sedangkan di rumahnya hanya ada satu kipas angin.
Ketika menyadari semua itu, dia mulai berpikir bahwa terdapat perbedaan status yang terlalu jelas antara dirinya dan Renata. Hatinya sempat menciut untuk beberapa menit, tetapi dia ingat akan rencana yang dia miliki. Karena itu, dia membulatkan tekad dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanan cintanya. Tak peduli masalah apa yang menanti di depan, dia akan menerjang segalanya dan meraih Renata.
Setelah puas dengan ruang tamu, Renata mengajakknya ke kamar. Renata meninggalkan tas di atas kasur dan menyuruhnya untuk menunggu, sedangkan gadis itu mengganti pakaian di kamar mandi. Namun, gadis itu belum kembali juga. Itu membuat rasa penasarannya timbul dalam pikiran.
__ADS_1
Kriiit! Pintu berderit.
Secepat kilat, Yogi memindah perhatiannya ke sumber suara. Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Renata dengan pakaian kasual. Celana pendek, hitam, memperlihatkan kaki jenjang, putih, mulus bagaikan salju yang tak pernah dia lihat. Kaus putih menutupi tubuh ramping dan rambut panjang diikat ke belakang dengan rapi. Sinar mentari menyorot gadis itu, memberikan kesan bahwa gadis itu tengah bersinar terang dalam balutan cahaya.
Jantungnya berdegup lambat, merasakan rasa yang hangat yang begitu pekat. Pikirannya terpatri pada seorang gadis yang menarik hati.
Untuk sejenak, dia berpikir tengah melihat malaikat. Namun, dia segera sadar bahwa seorang malaikat tak mungkin keluar dari kamar mandi. Karena itu, dia segera menutup pikiran, mencoba tersenyum pada gadis itu.
“Maaf, membuatmu menunggu!” ucap Renata sambil menutup pintu.
“Tidak apa,” jawabnya dengan cepat.
“Emm ...,” Renata mematung di depan pintu kamar mandi, membawa seragam yang digantung pada hanger. Entah apa yang bernaung di pikiran gadis itu, tetapi Yogi merasa bahwa gadis itu tengah mencari sesuatu untuk dibahas.
“Sebaiknya kau menggantung seragammu dulu,” Yogi menunjuk pada seragam yang dibawa Renata.
“Ah, benar!” gadis itu berbalik, menggantung seragam di pintu kamar mandi.
Udara mencekik tenggorokan, menghamburkan pikiran menjadi partikel-partikel kecil. Tubuhnya terasa berat, dia ingin berbaring, tetapi harga diri memaksa untuk tetap tegak. Namun, dia tak bisa tahan dengan kecanggungan yang bercampur dengan keadaan.
“E-emm ..., aku akan mengambil minum,” gadis itu bangkit, melewatinya dengan cepat.
“A-ah, tentu,” jawabnya sambil dengan perhatian mengikuti Renata. Ketika sosok Renata lenyap, dia segera membanting tubuh ke kasur. Salah satu tangannya menutupi wajah, memijat kepala, menyadari bahwa dia baru saja kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan gadis yang dia cintai. “Aku bodoh.”
Jika dia bisa berbicara dengan Renata, mungkin kecanggungan semacam itu tidak akan terjadi. Namun, dia tak bisa menghindari itu. Dia tak bisa berpikir jernih, ketika menyadari bahwa tak ada orang lain, selain dirinya di kamar Renata.
“Haa ....” dia menghela napas, menatap langit-langit putih yang balik menatapnya.
Tak lama kemudian, dia bangkit, duduk di pinggiran kasur. Perhatiannya berpindah pada pintu yang terbuka lebar.
__ADS_1
Rizki dan Lia masih belum menunjukkan diri. Dia pikir, mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk bisa sampai ke rumah Renata. Dia merasa kasihan pada dua orang itu.
Jika dia tahu akan terjadi kecanggungan ketika berdua dengan Renata, dia akan memilih untuk menemani Rizki, membeli bahan. Karena pada akhirnya, dia tak bisa membicarakan apa pun dengan Renata.
“Yogi, kuharap kau suka sirup jeruk.” Perhatiannya berpindah ke pintu masuk. Renata berada di sana, membawa nampan berisi teko kaca berisi cairan kuning dan beberapa gelas.
“Aku suka,” jawabnya sambil mengangguk.
Tak membalasnya, Renata segera memasuki kamar dan menaruh nampan tersebut di atas meja belajar, karena tak ada tempat lain.
“Ngomong-ngomong apa pekerjaan orang tuamu?” akhirnya Yogi bisa memikirkan sesuatu untuk dibicarakan.
“Ayah adalah seorang manajer di perusahaan swasta, sedangkan Ibu adalah desainer pakaian. Mereka sering pulang terlambat, jadi aku sering sendirian di rumah.” Renata menuang segelas sirup dan memberikan itu padanya.
“Tetapi, sepertinya kau masih sering menghabiskan waktu dengan mereka ketika liburan,” jawabnya sembari menerima sirup tersebut.
Perhatian mereka tertuju pada beberapa bingkai foto di atas nakas.
“Begitulah, tetapi mereka terlalu sibuk belakangan ini.” Yogi menghisap isi gelas, sedikit, kemudian menaruh gelas tersebut di atas nakas.
“Yah, tetapi mereka melakukan itu untukmu. Aku yakin bahwa mereka menginginkan yang terbaik untukmu.”
“Ya, aku tahu itu.” Renata kembali duduk di sampingnya.
Yogi memindah perhatiannya pada Renata. Entah apa yang terjadi, tetapi Renata melakukan hal yang sama. Mata mereka bertemu, mulut terkunci, jantung berdegup, dan bunga bermekaran. Cahaya hangat membelai permukaan kulit, meresap dalam jiwa, menghangatkan sukma.
Yogi hendak mendekat, tetapi dia justru berpaling, menyembunyikan wajahnya. Ketika dia mengintip Renata, gadis itu juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1