
Bab 7 ~Saran~
“Sahabat Adalah Seseorang Yang Mengingatmu Ketika Seribu Orang Melupakanmu”
-Unknwon-
---
“Dasar bodoh!” ucap Rizki pada Yogi, “Apa kau benar-benar akan menyatakan cinta di hari pertama berkenalan?”
“Ugh ....” Yogi tak dapat membantah Rizki. Dia hanya bermuram, menyadari kebodohan yang hampir lepas kendali.
Ketika berada di kantin, Renata sempat mengira bahwa Yogi membencinya. Tentunya Yogi berusaha untuk melenyapkan kesalahpahaman tersebut. Namun, mulutnya malah hendak menyatakan perasaan. Masih beruntung karena Rizki menyela dan mencari alasan, demi menutupi kebodohannya.
Kalau kalimat tersebut lepas dari mulutnya, Renata pasti menolaknya mentah-mentah. Setelah itu, hubungan mereka merenggang dan berakhir tidak lama kemudian. Itu adalah rute yang harus dihindari.
“Yah, lupakan saja! Setidaknya itu tidak terjadi,” ujar Rizki.
Sekitar sepuluh menit lalu, mereka berdua berpisah dari Renata dan Lia. Dua gadis itu menuju perpustakaan. Mereka berkata bahwa mereka akan membaca buku. Namun, Yogi tidak yakin dengan itu. Terutama dengan Lia.
Lia mungkin akan menghabiskan waktu dengan tidur, menggunakan beberapa buku sebagai bantal. Di sisi lain, Renata mungkin bisa menghabiskan dua atau tiga volume novel ringan.
Sebenarnya Yogi hendak mengikuti dua gadis itu, tetapi Riki justru mengajaknya ke lapangan, bermain bola basket. Padahal sosok bidadari yang bermandikan sinar mentari, tengah berputar dalam hati. Dengan senyum tipis yang terlukis dan mata yang menyapu kata yang tertulis.
“Haa ...,” Yogi menghela napas.
Yogi mengangkat bola basket ke depan. Matanya membidik keranjang dan melempar bola tersebut. Tanpa mengalami halangan, bola tersebut masuk, mulus.
“Kenapa kau tampak kecewa?” Rizki melempar pertanyaan sambil menangkap bola tersebut.
“Sebenarnya aku ingin mengikuti Renata ke perpustakaan, tetapi kau justru menyeretku ke sini,” jawab Yogi.
__ADS_1
“Jangan merasa kesal seperti itu! Lagi pula kau tidak bisa mengendalikan diri ketika berada di dekat Renata. Jika kau tetap bersamanya seperti, kau mungkin akan keceplosan dan mengungkap perasaanmu,” jawab Rizki.
Yogi benci mengakuinya, tetapi yang dikatakan Rizki benar.
“Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?” Yogi melempar pertanyaan, mengangkat ke dua tangan dan bahunya ke samping.
“Untuk sekarang, kau hanya perlu membiasakan diri ketika bersamanya. Juga, buat dia merasa nyaman ketika bersamamu! Itulah tugasmu saat ini,” Rizki melempar saran juga bola basket padanya.
“Aku mengerti,” jawab Yogi sambil menerima semua itu.
Sekali lagi, dia mengangkat bola basket, membidik keranjang dan melempar bola di tangan. Sekali lagi, bola tersebut masuk tanpa halangan. Rizki yang berjaga di bawah keranjang pun menangkap bola dan memberikannya pada Yogi.
“Ngomong-ngomong aku tidak bisa menemukan topik ketika aku bersama dengan Renata. Maksudku, aku ingin berbincang dengannya, tetapi aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Apa kau bisa memberi saran tentang itu?” Yogi tak lagi membidik keranjang, dia justru menyimpan bola basket di pinggang dan mendekati Rizki.
“Mulai panas di sini. Sebaiknya kita pindah,” ucap Rizki sambil menunjuk kursi beton, tempat mereka biasa berkumpul.
“Aku setuju.”
Rizki berjalan mendahului, sedangkan Yogi menyempatkan diri untuk menaruh bola basket di bawah keranjang.
“Agh ...,” Rizki mengeluarkan suara aneh ketika membanting tubuh ke kursi beton. Rizki menyandarkan punggung ke tembok seraya menghela napas.
Pantas Rizki melakukan itu, Rizki melakukan lebih banyak tembakan daripada Yogi. Namun, hanya sedikit tembakan Rizki yang memasuki keranjang. Berbeda dengan Rizki, hampir semua tembakan Yogi berhasil mendapat tiga angka. Meski begitu, Yogi tak merasa lelah. Dia hanya gerah sehingga seragam dan jaketnya basah karena keringat. Dia yakin bahwa keringatnya mengeluarkan bau tak sedap. Mungkin dia harus menghindari Renata untuk sementara.
Sebelum duduk, Yogi melepas jaket terlebih dulu. Setelah itu, Yogi baru mendampingi Rizki. Dia menyandarkan punggung di tembok, menatap dedaunan di pohon yang menjulang angkasa. Sinar mentari mengintip melalui celah antar daun, menyilaukan, tetapi terasa hangat di mata.
“Bagaimana dengan sarannya?” tanya Yogi, mengingatkan Rizki akan pertanyaan sebelumnya.
“Ah, benar.” Rizki berpaling padanya dan melanjutkan, “Kalian baru berkenalan hari ini. Jadi saranku adalah membicarakan tentang diri masing-masing. Ketika kau bersama dengannya, cobalah untuk mengosongkan pikiran dan bertanya tentang dirinya. Ini adalah cara paling sederhana untuk mendekati seorang gadis,” lanjut Rizki.
“Bukankah itu memang dasar dari berteman?” tanya Yogi seraya memiringkan wajah.
__ADS_1
“Benar. Kalian harus berteman terlebih dulu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kau harus terbiasa dengannya dan dia harus terbiasa denganmu,” Rizki tersenyum padanya.
“Entah kenapa, itu terasa sangat lama.”
“Memang seperti itu prosesnya. Untuk membuat seseorang mencintaimu itu membutuhkan perjuangan dan tak ada cara instan untuk itu. Karena itu, berusahalah!”
“Ya, terima kasih karena mendukungku,” jawab Yogi. Mereka saling mengepalkan tangan dan menyatukannya di udara.
Selesai dengan salam sederhana, Yogi berpaling ke langit, menatap gumpalan uap air yang membanjiri angkasa.
Tersirat wajah seseorang di pikirannya. Tentunya itu adalah Renata, yang tersenyum. Meski hanya sebuah ilusi, tetapi itu menggetarkan hati. Yogi bahkan tersenyum tanpa disadari.
“Ngomong-ngomong apa kau juga menggunakan cara yang sama untuk mendekati Kak. Yuutha?”sekarang Yogi mengingatnya.
Kak. Yuutha adalah seorang gadis yang sulit didekati. Gadis itu pendiam, jarang berbicara dan jarang menunjukkan ekspresi. Gadis itu juga bisa membela diri dengan baik. Ketika Gadis itu masih berada di SMP, pernah ada rumor yang mengatakan bahwa gadis itu penyukai sesama jenis. Namun, rumor tetaplah rumor.
Di sisi lain dari sikap dingin Kak. Yuutha, Kak. Yuutha memiliki kecantikan yang tak tertandingi. Yogi bahkan mengakui bahwa Kak. Yuutha lebih cantik dari Renata. Namun, Renata masih menduduki peringkat pertama di hatinya.
“Tidak, Kak. Yuutha itu tidak seperti gadis pada umumnya. Dia lebih suka menyendiri dan tenggelam dalam alunan musik,” jawab Rizki seraya memberikan senyum.
“Lalu, apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?”
“Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin benar bahwa dia sulit didekati, tetapi itu membuatnya semakin berarti ketika aku mendapatkannya. Karena itu, aku akan mempertahankan hubungan ini hingga kami dewasa.”
“Heh, jangan sok romantis!” Yogi menyikut Rizki, pelan, membuat laki-laki itu tersipu ketika mengingat yang baru diucapkan.
“Yah, mari lupakan itu!” jawab Rizki.
“Ngomong-ngomong pukul berapa sekarang?” tanya Yogi sambil menatap jam tangan Rizki.
“Sekarang pukul ..., 10.38. Mungkin kita akan diperbolehkan meninggalkan sekolah ketika matahari berada di puncak langit,” jawab Rizki.
__ADS_1
“Mungkin sebaiknya kita kembali ke kelas. Aku takut tertinggal informasi.” Yogi bangkit dan melakukan peregangan otot.
“Baiklah, kita kembali ke kelas,”jawab Rizki sambil bangkit dan memimpin jalan.