
Bab 14 ~Pacar Sahabat~
“Tigkat tertinggi dalam persahabatan antar laki-laki adalah ketika mereka dipanggil Gay”
-Unknown-
Akhirnya Yogi menghapus suara klakson kereta dari ponsel. Berkali-kali dia terjatuh dari kasur karena suara tersebut. Orang tuanya bahkan sudah terbiasa dengan guncangan di pagi hari. Kini dia menyibukkan diri dengan mencari nada baru, di internet.
Ke dua matanya menyapu layar ponsel. Judul demi judul dibaca dengan teliti, tetapi dia belum menemukan yang dirasa bagus.
Kriteria suara yang dia inginkan adalah keras, berisik, dan berulang. Namun, dia mulai merasa seperti mencari jarum di tumpukkan jerami. Matanya juga mulai lelah karena menatap layar ponsel.
“Haaa ...,” akhirnya menarik ponsel dari mata. Wajahnya menatap langit, mengikuti gumpalan uap yang mengalir di arus udara.
“Di Waptrick, tidak ada apa pun yang bagus,” gumamnya, “aku bahkan tidak menemukan gim bagus.”
Dalam beberapa hari terakhir, KBM di sekolah sudah kembali berjalan normal. Buku catatannya mulai dibanjiri tulisan. Otakknya penuh dengan pelajaran, tetapi entah bagaimana, dia tidak merasa tertekan karena hal itu.
Dia merasa bahwa tiga rekannya menjadi penyebab itu. Rizki dan Renata sering menjelaskan beberapa hal yang sulit dicerna. Namun, dia tak sendirian. Lia pun juga sama. Itu membuatnya skpetis terhadap hobi, membaca, gadis itu. Namun, dia tak bisa berkomentar karena itu adalah hak masing-masing orang.
Karena semua itu, hari pun berlalu cepat. Ketika dia mengangkat ponsel kembali, tertulis pukul 9.49 pagi, 8 Juli 2012.
Dia duduk di bawah pohon beringin raksasa. Berlindung dari tusukan mentari, menanti rekan yang belum menampakkan diri.
Seperti janji yang dibuat, mereka akan pergi ke mal. Mereka berniat bertemu di depan mal pada pukul 10 pagi. Yogi sengaja tiba lebih awal karena tak ingin terlambat, juga karena dia ingin melihat wajah Renata secepat mungkin.
Meski waktu hampir menyentuh pukul 10, tetapi tak seorang pun terlihat. Entah apa yang mereka lakukan hingga terlambat. Mereka benar-benar tak menghargai waktu.
“Yogi?” Suara seorang gadis membelai telinga. Ketika dia berpaling, dia menemukan seorang gadis berdiri di sisinya. Berambut legam, dikuncir ke belakang, merefleksikan sinar mentari padanya. Bermata tajam, menusuk, membuatnya bergidik untuk sejenak. Dengan jaket track topberwarna biru, kaos putih dan celana pendek hitam, membuat gadis itu tampak sempurna.
“Kak. Yuutha,” Yogi menyebut nama gadis itu. Gadis itu dua tahun lebih tua darinya dan merupakan kekasih dari sahabatnya―Rizki―.
“Rizki belum sampai?” seperti biasa, gadis itu mengeluarkan aura dingin yang mencekik. Namun, entah kenapa itu justru terasa lebih melegakan daripada berada di dekat Renata.
__ADS_1
“Belum, kurasa akan tiba dalam beberapa menit,” jawabnya.
“Dasar. Padahal dia yang mengajakku, tetapi malah dia yang terlambat,” Yuutha bersendekap dan duduk di sampingnya.
“Ahahaha ...,” Yogi tertawa kecil sebagai balasan.
Dia tak terlalu akrab dengan Kak. Yuutha. Kak. Yuutha selalu mengeluarkan aura yang mendominasi. Udara terasa berat dan dingin, bahkan dia ragu untuk membuka percakapan.
“Kau terlalu tegang.”
“Eh? Ah, maaf,” Yogi menggaruk kepala belakang, memaksa bibirnya untuk tersenyum.
“Kau masih berpiki bahwa aku menakutkan?” Kak. Yuutha menatapnya, normal, tetapi dia merasakan es yang menusuk dada dari tatapan tersebut.
“Emm ..., sedikit.”
“Jangan khawatir, aku tidak seperti dulu, yang akan membanting setiap laki-laki yang ada di dekatku.” Ketika Kak. Yuutha mengatakan itu, beberapa ingatan mengambang kembali di permukaan pikiran.
Ketika Kak. Yuutha masih duduk di bangku SMP. Gadis itu selalu melakukan kekerasan terhadap setiap laki-laki. Karena itu, dia mendapat julukan ‘Kembang Es.’ Yogi sendiri pernah merasakan bantingan tersebut, sekali, ketika tak sengaja berada di jangkauan gadis itu.
“Terima kasih untuk itu.” entah kenapa dia tak merasakan apa pun dari ucapan Kak. Yuutha.
Yogi berpaling, menatap layar ponsel yang telah menunjukkan pukul 10 pagi, tepat. Namun, tak seorang pun yang menunjukkan batang hidung.
Untuk para gadis, Yogi bisa mentolerir karena dia tak tahu letak tempat tinggal mereka. Mungkin mereka tinggal di tempat yang agak jauh. Jadi, mereka bisa terlambat karena perjalanan. Namun, Rizki tidak seperti itu.
Rizki tinggal di dekat pusat kota. Hanya membutuhkan sepuluh menit, dari rumah Rizki untuk ke tempat pertemuan. Entah apa alasan yang diberikan Rizki nanti, dia akan menghajar laki-laki itu dengan berbagai pertanyaan.
“Ini sudah pukul sepuluh lewat satu menit. Ke mana mereka pergi?” gumam Kak. Yuutha
“Mungkin mereka masih dalam perjalanan kemari. Sebaiknya kita tunggu sejenak,” Yogi memberi saran, menenangkan Kak. Yuutha karena tak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu marah.
“Yah, kita tunggu sejenak.”
“Haa ...,” Yogi menghela napas, merasa beruntung karena gadis itu tak mengamuk.
“Ngomong-ngomong Rizki berkata bahwa kau akan melanjutkan ke SMA N 6 dengannya.”
__ADS_1
“Eh? Ya, memang seperti itu rencananya.” Yogi tak menyangka bahwa Rizki menceritakan itu pada Kak. Yuutha. Namun, Yogi penasaran dengan alasan Rizki menceritakan itu.
“Dia pasti juga bercerita bahwa aku menyuruhnya untuk melanjutkan ke sekolah yang sama denganku,” Kak. Yuutha menambahkan.
“Ya, dia juga mengatakan itu. Apa ada yang salah dengan hal itu?” Yogi memiringkan wajah, melempar pertanyaan pada Kak. Yuutha.
“Tidak, tak ada. Aku justru beryukur karena kau tetap bersamanya,” ucap Kak. Yuutha.
“Eh? Kenapa seperti itu?” Yogi tak mengerti kenapa itu keluar dari mulut Kak. Yuutha.
Dari apa yang dia ketahui, Rizki adalah orang yang selalu menjaganya. Entah itu dari hukuman karena tak mengerjakan tugas atau dari kekerasan. Yah, dia mengakui bahwa Rizki adalah seorang King Of All Trade.
“Tanpa adanya dirimu, dia hanya laki-laki biasa. Aku tahu bahwa dia akan bersinar, tetapi dia selalu terlihat bosan dan kesepian dengan semua itu. Namun, dia tak pernah menunjukkan semua itu ketika bersamamu. Karena itu, aku berterima kasih padamu.”
“Emm ..., jangan mengatakannya seolah Rizki jatuh hati padaku!”
“Oh, aku lebih tertarik untuk melihat kisah cinta kalian,” dia tak menyangka bisa melihat sebuah sinar di mata Kak. Yuutha.
“Egh ...,” Yogi menghela napas. Entah sudah berapa kali dia dijodohkan dengan Rizki.
“Hehe ..., jangan marah seperti itu! Aku hanya bergurau,” Kak. Yuutha menepuk pundaknya.
“Ya, aku tahu itu,” jawabnya dengan muka masam.
“Ngomong-ngomong beri tahu aku jika kau mengalami kesulitan dalam belajar. Aku bisa mengajarimu beberapa hal. Berikan ponselmu!” Kak. Yuutha mengulurkan tangan padanya.
“Ah, terima kasih,”jawabnya sambil menyerahkan ponsel.
Kak. Yuutha mengetik beberapa nomor di ponselnya. Tak lama kemudian, ponsel itu kembali ke tangannya. Kontak baru terdaftar dengan nama “Yuutha.”
“Jangan ragu untuk meminta bantuanku!”
“Aku akan menghubungi, Kakak, sewaktu-waktu,” jawabnya sambil menyimpan ponsel.
“Aku akan menantinya.” Kak. Yuutha tersenyum manis padanya. “Ngomong-ngomong kenapa mereka masih belum tiba?”
“Ahaha ...,” Yogi tersenyum kecut.
__ADS_1