
Bab 32 ~Orang Tua~
“Kebaikan ayah lebih tinggi dari gunung dan cinta ibu lebih dalam dari lautan.”
-Unknown-
Hening, satu-satunya suara yang memasuki telinga hanya nyanyian serangga malam. Mungkin mereka berkumpul di satu tempat dan menggelar pertunjukkan musik. Sesekali kendaraan bermotor melintas, menerbar suara nyaring, tetapi tak membuat Renata mengalihkan perhatian.
Gadis itu mematung. Punggungnya menempel pada tembok. Pikirannya putih, tak tersisa apa pun di sana. Perhatian gadis itu tertuju pada langit-langit, tetapi tak menatap apa pun. Gadis itu melamun.
Dia tak pernah menyangka bahwa Yogi memiliki tangan besar. Namun, dia berpikir bahwa itu wajar karena Yogi adalah seorang laki-laki.Tangan laki-laki itu melingkari pergelangan kakinya, membalut dengan lembut dan mengompres dengan es. Masih terasa hangat, tetapi juga dingin, di pergelangan kakinya. Dia masih bisa merasakan rasa lembut di pergelangan kakinya. Dia juga masih tidak percaya bahwa laki-laki itu akan merawatnya ketika kakinya terkilir.
Tak pernah terpikirkan bahwa wajah laki-laki itu akan muncul di pikirannya. Di benaknya, laki-laki itu tersenyum, jantung pun memompa darah lebih cepat, memenuhi wajah. Pikirannya melayang, tetappi tubuhnya jatuh ke kasur. Dia menutup mata, mencoba mengusir Yogi dari pikiran.
Ketika laki-laki itu lenyap, dari pikiran. Dia merasa bahwa hidupnya merupakan permainan. Dia seperti tokoh dalam cerita, menjalankan adegan klise karena keterpaksaan. Itu seperti cerita dalam serial televisi. Serial yang tak pernah dia lirik karena tak menarik.
“Haa ....” sekali lagi, dia menghela napas.
Jika dia memikirkannya lagi, Lia sempat mengajaknya untuk makan es krim, dengan Yogi. Seharusnya Yogi sudah berada di kedai es krim, bersama Lia. Mungkin laki-laki itu tengah membanjiri mulut dengan es krim. Mungkin tengah memanjakan Lia dengan menyuapi gadis itu, atau mengelus rambut gadis mungil itu. Setelah semuanya, mereka berdua tampak seperti saudara kandung.
Sama seperti Lia, dia juga menyukai es krim. Ketika dia mendapat tawaran untuk ikut, dia hendak menjawab dan ikut. Namun, Yogi justru menyela dan berkata bahwa kondisinya tak memungkinkan. Meski dia benci mengakui itu, tetapi Yogi benar. Dia membutuhkan istirahat yang cukup dan menyembuhkan diri.
“Rena.” Dia mengangkat wajah ketika suara seorang wanita sampai pada telinga. Perhatiannya berpindah pada pintu masuk, kamar, menemukan Ayah dan Ibunya berada di sana.
Ayahnya masih mengenakan setelan hitam, rapi, sedangkan Ibunya mengenakan pakaian kasual. Mungkin mereka baru tiba.
“Ayah Ibu ...,” dia menyebut mereka seraya mencoba bangkit, “kalian pulang lebih awal?”
“Yah, kami ingin makan malam denganmu,” jawab Ibunya, seraya memasuki kamar; Ayahnya pun mengikuti.
“Aku benar-benar bekerja keras hari ini. Jadi, kurasa aku pantas mendapatkan beberapa daging,” imbuh Ayahnya.
“Akan kumasak makanan favoritmu,” jawab Ibunya seraya meraih pipi Ayahnya. Ketika wajah orang tuanya mendekat dan bertukar air liur, dia berpaling. Dia sudah cukup dewasa dan mulai merasa terganggu ketika orang tuanya bermesraan di hadapannya. Namun, dia tak berani mengusir mereka.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mengantar teman-temanmu?” tanya Ayahnya.
“Ah, itu ..., kakiku terkilir. Aku tidak bisa berjalan dengan benar untuk sementara,” jawab Renata sambil menunjuk salah satu kaki yang bengkak.
Ketika perhatian orang tuanya tertancap pada pergelangan kaki yang melebam, Ibunya segera melompat ke kasur dan melempar pertanyaan, “Ah, apa kau baik-baik saja?”
“Ya, Yogi sudah memberikan pertolongan pertama,” jawabnya singkat.
“Yogi?” Ibunya memiringkan wajah, tanda kebingungan. Namun, dia berpikir bahwa itu wajar karena orang tuanya belum pernah bertemu dengan Yogi.
“Maksudmu anak laki-laki yang terlihat polos dan bertubuh cukup besar itu?” Ayahnya pun duduk di pinggiran kasur.
“Ya, dia yang merawatku.”
“Syukurlah bahwa ada yang mengetahui cara mengatasinya. Kita harus berterima kasih padanya lain kali,” ucap Ayahnya.
“Benar. Mungkin kita bisa mengundangnya untuk makan malam,” imbuh Ibunya.
“Tunggu! Bagaimana kalian tahu bahwa Yogi bertubuh besar?” Itu cukup aneh ketika Ayahnya mengetahui fisik Yogi, mengingat bahwa orang tuanya belum pernah berjumpa dengan Yogi.
“Ah, benar ...,” Renata menggeleng. Dia merasa bodoh ketika melupakan hal kecil seperti itu. Seharusnya dia sadar ketika Ayahnya melempar pertanyaan tersebut.
Pelan, perhatiannya tertuju pada Ibunya yang memperhatikan pergelangan kakinya. Wanita itu tersenyum, tampak begitu cantik di matanya. Dia beryukur bahwa kecantikan Ibunya diturunkan padanya. Namun, sifat ceroboh Ibunya juga diturunkan padanya, tetapi dia masih mendapatkan kecerdikan dari Ayahnya.
Dia merasa beruntung karena memiliki fisik yang bagus dan pikiran yang terbuka dan mampu mencerna berbagai hal. Namun, tetap ada yang dia benci dari diri sendiri.
“Ngomong-ngomong soal itu,” Renata angkat suara, “apa aku boleh berteman dengan mereka?” Renata mengangkat wajah, memaksakan bibir untuk tersenyum.
“Eh?” Ibunya memiringkan wajah, “Kenapa kau menanyakan itu? Tentu saja kau boleh. Kami tak melarangmu untuk berteman dengan siapa pun,” jawab Ibunya.
“Benarkah?” Renata melebar senyum. Dia sempat mengira bahwa orang tuanya akan melarangnya berteman dengan kalanga bawah, tetapi itu hanya kekhawatiran saja. Dia tak perlu memikirkan hal itu.
“Ngomong-ngomong kau ingin makan apa malam ini?” tanya Ibunya, “akan kubuatkan semua yang kau mau.”
__ADS_1
“Aku mau kare,” jawabnya lembut.
“Baiklah, Ibu akan memasaknya.”
“Akan kubantu!” Ayahnya menyahut.
“Oh, boleh! Kalau begitu, sebaiknya kita turun dan mulai menyiapkan bahan-bahannya.” Ibunya bangkit, menaruh ke dua tangan di pinggang. Ayahnya pun ikut bangkit dan melepas jas hitam, lantas digantung di bahu.
“Bisa gendong aku? Aku tidak bisa berjalan saat ini.” Renata mengangkat ke dua tangan, membuat pose seperti bayi yang ingin digendong.
“Oooh, tentunya saja. Bayi kecil ini wajib mendapat perlakuan istimewa.” Ayahnya mendekat, memberikan punggung padanya.
Pelan, dia merangkak, menggapai punggung lebar tersebut. Sesekali rasa nyeri menyetrum pergelangan kakinya, tetapi dia menahan rasa itu. Ketika dia berada di belakang punggung tersebut, dia pun melingkarkan lengan pada leher tersebut.
“Siap?”
“Ya.”
Tidak membutukan waktu lama, Ayahnya segera mengangkat tubuh rampingnya. Entah kapan terakhir kali dia digendong, tetapi dai merasa bahwa itu cukup lama karena dia mendapat rasa familier yang menenangkan.
“Oh, itu mengingatkanku saat kita masih muda dulu,” Ibunya angkat bicara. Mungkin membicarakan kenangan lama dengan Ayahnya.
“Yah, dulu aku juga sering menggendongmu seperti ini, kan?” balas Ayahnya.
“Mungkin kita perlu liburan bersama,” ujar Ibunya.
“Yah, kalian bisa melakukannya ketika ada waktu luang,” cetusnya karena tak ingin berada dalam ruang mesra orang tuanya, “bisa kita turun ke bawah saja? Aku mulai lapar dan bosan di sini.”
“Ahahaha ..., baiklah, pemberhentian kita selanjutnya adalah dapur,” ucap Ayahnya sebelum mulai melangkah.
“Berangkat!” ucap Renata seraya mengacungkan jari ke depan.
__ADS_1