Bride

Bride
Bab 46 ~Hari Normal Lain~


__ADS_3

Bab 46 ~Hari Normal Lain~


“Each day is better than the last – Setiap hari baru selalu lebih baik dari sebelumnya.”


-Unknown-


 


 


Memang benar bahwa Yogi tak lagi memiliki masalah dengan belajar. Nilainya ulangan hariannya naik secara signifikan. Tugas-tugas harian pun juga mendapat dampak postitif. Dia tak pernah menyangkan bahwa akan sering melihat nilai 80 di kertas ulangan. Namun, dia berpikir bahwa itu pantas dia dapatkan kalau mengingat kerja kerasnya selama beberapa minggu terakhir.


Renata dan Rizki pun mulai menambah jam belajar mereka. Mungkin termotivasi karena mengetahui peringkatnya yang naik drastis. Yah, itu hal baik untuk setiap individu. Namun, Lia tak seperti yang lain.


Lia tak menambah jam belajar. Gadis itu masih bertingkah normal seakan tak peduli dengan nilai yang didapat. Mungkin Lia berpikir bahwa mendapat posisi di dua puluh besar sudah cukup.


Yogi berbeda. Meski dia sudah mendapat posisi di dua puluh besar, dia masih ingin menggapai Renata dan Rizki. Tentunya dia tak ingin terlalu memaksakan diri dan berujung kegagalan. Karena itu, dia belajar dengan hati-hati supaya tak membebani pikiran. Dia pun menyeimbangkan antara belajar dan bermain bola basket. Setelah semuanya, bola basket adalah hobi yang dia miliki. Dia tak ingin meninggalkannya begitu saja.


Kini Yogi tengah memasuki fokus penuh. Pandangannya mengunci guru pengajar yang berdiri di muka kelas, menerangkan tentang plot dan penokohan suatu tokoh. Sambil memperhatikan pelajaran yang diterangkan, tangan kanannya mencatat bagian-bagian penting.


“Kalian salin ini terlebih dulu!” ketika guru pengajar memberi perintah, setiap murid segera membuka buku catatan dan mulai mencatat semua yang tertulis. Namun, Yogi sudah mencatat sedari tadi. Jadi, dia sudah selesai.


Ketika Yogi berpaling ke kiri, dia mendapati Rizki yang menaruh bolpoin dan melakukan peregarangan otot. Tak lama kemudian, laki-laki itu menguap, membuka mulut lebar-lebar.


Tak berpikir lebih panjang, Yogi menyobek kertas, mengubahnya menjadi gumpalan, dan melemparnya ke dalam mulut Rizki.


“Sial! Tuyul!” ketus Rizki sambil meludahkan gumpalan kertasnya.


Yogi menahan tawa. Dia tak ingin terlalu keras dan berakhir dihukum berdiri di lorong sekolah. Dia bisa jadi bahan lelucon nantinya.


“Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain?” Rizki melempar pertanyaan.


“Tidak,” jawabnya singkat.


“Sebaiknya kau mengulas kembali pelajaran barusan,” Rizki memberi saran.


“Aku biasa melakukan itu di rumah sembari mengerjakan beberapa soal.”

__ADS_1


“Hee ..., sepertinya kau sudah menemukan cara dan waktu belajar yang tepat,” Rizki menyeringai, tetapi entah kenapa Yogi tidak menyukai seringai tersebut. Itu terasa seperti Rizki sedang mengejeknya.


“Begitulah,” jawabnya singkat, “karena aku tidak mau kalian tinggal. Jadi, aku harus giat belajar.”


“Ingatlah untuk tidak berlebihan melakukannya,” Rizki menepuk bahu Yogi.


“Akan kuingat,” jawab Yogi.


“Ngomong-ngomong kapan kau akan menyatakan cintamu pada Renata?” Rizki memangku dagu, menatapnya dengan mata dingin yang menusuk.


“Hmmm ..., entahlah,” jawabnya sambil menggaruk pipi. “Aku masih tak yakin akan waktu yang tepat.”


“Kenapa kau tidak melakukannya sepulang sekolah nanti?” Rizki memberi usulan.


“Tidak, terima kasih. Jika aku melakukannya ditengah keadaan ini, itu akan membuat kami tidak fokus pada saat mengerjakan ujian. Karena itu, aku ingin menunggu kesempatan yang bagus.”


“Yah, itu masuk akal.” Rizki berpaling, menatap lurus ke depan.


Yogi pun ikut berpaling dan menatap papan hitam yang berisi berbagai catatan. Pelan, pandangannya turun, menatap rambut hitam, panjang, yang terturai menutupi punggung. Tentunya itu adalah Renata.


Hampir satu tahun dia mengenal gadis itu. Ujian nasional semakin mendekat dan waktunya di bangku SMP semakin menipis. Namun, dia belum juga menyatakan perasaan yang kini berbunga dalam hati. Dia berpikir bahwa itu wajar karena tak ingin mengganggu proses menghadapi ujian nasional.


“Lalu sampai kapan kau akan menunggu waktu yang tepat tersebut?” Rizki melempar pertanyaan lain.


“Eh” Yogi berpaling, menatap wajah Rizki yang masih mengunci muka kelas. “Apa maksudmu?”


“Renata adalah orang yang cantik. Aku tak akan heran jika dia menerima beberapa percanyataan cinta.”


“Lalu?”


“Apa kau tidak pernah berpikir akan ada kemungkinan bahwa dia akan menerima salah satu dari laki-laki yang menyatakan cinta padanya?” Yogi tertegun ketika kalimat tersebut menusuk telinga.


Yogi merasa bahwa dia pernah melakukan percakapan ini sebelumnya. Namun, dia tak bisa mengingat kapan itu terjadi.


Di sisi lain, Yogi berpikir bahwa yang dikatakan Rizki ada benarnya. Pasti ada banyak orang laki-laki yang menyatakan perasaan terhadap Renata. Kemudian, salah satu dari laki-laki tersebut pasti memiliki fisik yang disukai Renata. Jadi, ada kemungkinan bahwa Renata akan menerima orang itu. Saat itu terjadi, dia ragu apa dia bisa menatap mata Renata.


“Ituu ...,” Yogi membatu, bibirnya tak mau bergerak demi mengucap beberapa kata, sedangkan pikiran memutih, tak mampu memberi kalimat.

__ADS_1


“Haa ..., sebaiknya kau melakukannya sebelum kita lulus,” ucap Rizki.


“Eh? Kenapa seperti itu?”


“Alasan pertama, kita tidak tahu apakah kita semua akan bersekolah di sekolah yang sama lagi. Ke dua, semisal kita berhasil bersekolah di tempat yang sama, maka sainganmu akan bertambah. Di antara semua saingan tersebut, pasti ada laki-laki yang berhasil menarik perhatian Renata. Karena itu, kau harus melakukannya cepat, atau lambat,” ucap Rizki.


Yogi tak dapat menyangkal spekulasi tersebut. Semua yang dikatakan Rizki adalah kebenaran. Namun, dia tak berani memiliki keberanian untuk menyatakan cinta. Selain karena takut akan kegagalan, itu juga karena dia tak memiliki keberanian yang cukup.


“Emmm ..., bisa aku bertanya sesuatu?” Yogi melempar pertanyaan.


“Tentu.”


“Bagaimana Kak. Yuutha menyatakan cinta padamu?” Yogi memiringkan pertanyaan.


“Tunggu! Apa dia memberitahumu tentang itu?”


“Ya, ketika kita ke mal dulu.”


“Haaa ..., aku tak menyangka bahwa dia akan menceritakan itu pada orang lain.”


“Kau mau menceritakannya atau tidak?” Tanya Yogi.


“Ya, aku bisa.” Rizki menyandarkan punggung pada kursi, lantas menatap langit-langit. “Akan kupersingkat ceritanya. Di hari kelulusannya, dia mengundangku. Tepat ketika acara selesai, aku mengucapkan selamat atas kelulusannya dan berdoa supaya kami bisa dipertemukan kembali di SMA. Setelah itu, aku hendak meninggalkannya, tetapi dia justru menarik tanganku dan menyatakan cintanya.”


“Berani sekali.”


“Begitulah. Setelah itu, aku pun tersenyum dan menerima perasaannya. Kami pun hidup bahagia selamanya. Tamat,” Rizki mengangkat dua tangan.


“Kau membuatnya terdengar seperti dongeng.”


“Masa bodoh. Sebaiknya kau pikirkan cara untuk menyatakan cintamu,” Rizki menggulung lengan dan menggunakannya sebagai bantal.


“Jangan tidur! Pelajaran belum selesai,” Yogi mencoba membangunkan.


Tidak lama kemudian, bel istirahat berdering. Itu membuat Yogi merasa dipermainkan oleh Rizki.


“Kurasa aku akan ke kantin.” Yogi bangkit dan meninggalkan Rizki yang mulai terlelap.

__ADS_1


---


Masochist : kesenangan yang berasal dari rasa sakit fisik atau psikologis yang ditimbulkan pada diri sendiri baik oleh diri sendiri atau orang lain.


__ADS_2