Bride

Bride
Bab 21 ~Cinta, Maaf, dan Benci~


__ADS_3

Bab 21 ~Cinta, Maaf, dan Benci~


“Apa yang membedakan manusia dengan binatang adalah karena manusia memiliki perasaan”


-Mayn Urr Izqi-


 


 


Tak ingin mengganggu, karena itu, Yogi membisu di samping Kak. Yuutha. Lokasi mereka adalah eskalator, menuju lantai dua. Sejak berpisah dengan Rizki, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia berpikir bahwa Kak. Yuutha akan marah jika tak sengaja menyinggung Rizki.


Ingatan seminggu lalu pun terpanggil kembali. Saat itu, Rizki berkata bahwa hubungannya dengan Kak. Yuutha sedang renggang. Namun, Yogi tak menyangka bahwa hubungan mereka bisa jadi rumit karena hal sepele, seperti terlambat.


Yogi memindah perhatian. Dari samping, wajah Kak. Yuutha memancarkan sinar yang membelai mata. Meski tampak begitu terang, tetapi dia terus memandang. Tak mampu berpaling atas kecantikan yang menggetarkan hati.


Dia tahu bahwa hatinya sudah menjadi milik Renata, tetapi dia hanya mengagumi Kak. Yuutha. Tak lebih dari itu.


“Yogi,” suara kecil tersebut, membangunkannya dari lamunan.


“Eh? Ya?” dia segera memperatikan Kak. Yuuta.


“Bagaimana menurutmu tentang Rizki?” Kak. Yuutha tak menunjukkan wajah ketika menanyakan itu.


“Emm ..., kenapa menayakan itu?”


“ Aku yakin bahwa kau mengerti lebih baik tentangnya,” jawab Kak. Yuutha sambil memindah perhatian padanya.


Untuk sejenak, dia berpikir untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Itu karena dia takut mengatakan kesalahan dan mengakhiri hubungan mereka.


Ketika mereka sampai di ujung tangga, mereka melangkah keluar. Kak. Yuutha segera menarik pergelangan tangannya, menggiringnya ke eskalator lantai, teratas, tiga.


Dari belakang, dia menatap punggung Kak. Yuutha. Memang benar bahwa Kak. Yuutha lebih tua darinya. Gadis itu juga memiliki kekuatan tempur, sehingga tak banyak laki-laki yang bisa mendekati Kak. Yuutha. Namun, kini gadis itu memegang tangannya. Terlihat begitu tak berdaya.


Bagaikan kain sutra, tangan yang membungkus pergelangannya. Itu terasa dingin, menusuk, tetapi juga nyaman, hangat, di waktu yang sama.


“Apa kau tidak mau menjawabku?” Kak. Yuutha melempar pertanyaan lain.


“Tidak ..., bukan seperti itu. Aku ..., hanya ragu untuk menjawabnya atau tidak.” Dia berpaling, menggaruk pipi karena keraguannya. “Mungkin kakak bisa memberitahuku alasan Kakak terlebih dulu?”


Untuk sejenak, Kak. Yuutha membisu. Namun, segera mengambil napas dan berkata, “Dia adalah laki-laki yang dingin. Dia tak banyak berbicara denganku, tetapi dia selalu mendengarkan semua yang kukatakan. Apa yang membuatku menyukainya adalah karena dia tak melihatku berdasarkan wajah ini.”


“Terdengar seperti dia sekali,” Yogi berkomentar.

__ADS_1


“Pada awalnya, kami tidak pernah bicara satu sama lain. Kami hanya berdiam diri di tempat yang sama. Dia selalu menjaga jarak denganku, mungkin karena takut. Namun, justru aku yang semakin penasaran padanya. Pada akhirnya, aku memberanikan diri, menyapanya dan berbicara dengannya. Di hari kelulusanku, aku menyatakan cintaku padanya. Dia menerimaku. Kami melalui hari-hari bersama sepulang sekolah, tetapi mulut kami jarang bercakap. Tubuh kami yang berkomunikasi.”


Napas Yogi sempat terhenti ketika mendengar itu. Jantungnya memompa darah lebih cepat sehingga wajahnya terasa panas.


“Emm ..., sebaiknya kita lewati bagian itu. Aku lebih tertarik dengan pertanyaan Kakak,” ujar Yogi karena tak ingin mendengarkan privasi orang lain.


“Apa ..., dia benar-benar mencintaiku?”


Langkah mereka memasuki eskalator, naik ke lantai terakhir. Namun, Kak. Yuutha justru menatap ke bawah. Gadis kuat itu, tampak tak berdaya di hadapannya, menimbulkan keinginan untuk mendekap  gadis tersebut.


“Kak. Yuutha, jangan khawatirkan soal itu!” Yogi mulai angkat bicara, membuat Kak. Yuutha mengangkat wajah dan memfokuskan perhatian padanya. “Rizki pernah berkata bahwa dia ingin melihat senyum Kakak lebih sering. Dia ingin menghabiskan hari-hari membosankan dengan Kakak, menikmati waktu yang berjalan seperti seekor siput.”


Tak berucap lagi, Kak. Yuuta justru membisu dengan perhatian ditujukan padanya. Wajah cantik itu berubah menjadi merah padam.


“D-dia mengatakan itu?”


“Ya, dia pernah mengatakan itu. Ditambah lagi, dia mengatakannya sambil tersenyum, menatap angkasa,” balasnya.


“Jadi, dia mencintaiku?”


“Mungkin saja dia berniat menikahi Kakak ketika sudah dewasa,” imbuhnya.


“Meni ..., kahiku,” wajah Kak. Yuutha semakin terbakar, membuatnya terlihat seperti bara api.


“O-oh, terima kasih atas jawabanmu.” Kak. Yuutha tertunduk dalam setelah mengatakan itu.


“Tentu, tetapi apa Kakak bisa melepas tanganku? Jika Rizki melihat kita seperti ini, kurasa bisa jadi masalah,” ucapnya sambil menunjukkan tangan Kak. Yuutha yang masih menggenggam pergelangan tangannya.


“Ah, maaf. Aku tidak sadar.” Kak. Yuutha segera melepaskan tangannya, kemudian Kak. Yuutha menyembunyikan wajah yang masih tenggelam dalam kasih sayang.


“Ngomong-ngomong di mana lokasi toko itu?” ketika mereka sampai di lantai teratas, Yogi segera melempar pertanyaan.


“Ah, ikuti aku!” Kak. Yuutha berjalan mendahului, menyusuri lorong yang tenggelam dalam keramaian.


Yogi membuntuti Kak. Yuutha dari belakang. Rambut legam Kak. Yuutha melambai, mengikuti gerakan tubuh ramping tersebut. Cara gadis itu berjalan sudah berubah. Tak lagi terlihat lemah. Itu terlihat lebih bersemangat. Itu membuatnya bersyukur bahwa keadaan Kak. Yuutha sudah lebih baik.


Tidak lama kemudian, mereka memasuki sebuah kios. Perhatiannya segera menyebar, memperhatikan berbagai aksesoris yang digantung dan dipajang di berbagai tempat. Dia bisa melihat beberapa kalung, menggantung, berjajar rapi dengan kilauan yang menikam mata. Juga ada beberapa penjepit rambut, kacamata, gelang, cincin, dan beberapa benda lainnya. Namun, dia tak bisa menentukan apa yang cocok untuk Renata.


“Ngomong-ngomong kau membeli untuk siapa?” Sambil berjalan memasuki rak-rak yang berjajar rapi, Kak. Yuutha melempar pertanyaan.


“Emm ..., itu ...,”


“Gadis yang kau sukai?”

__ADS_1


“Ha? Itu ..., Emm ....” Yogi tak tahu harus menjawab atau tidak.


“Aku tahu bahwa kau kesulitan berbohong. Jadi, ceritakan saja padaku! Aku akan membantumu.” Kak. Yuutha tersenyum padanya.


“Ini untuk ...,Renata,” jawabnya dengan nada rendah.


“Kau menyukai gadis itu?” Yogi mengangguk sebagai jawaban.


“Apa Kakak membencinya?”


“Tidak. Namun, aku tahu bahwa dia membenciku karena aku hampir membuat Lia pingsan.”


“Kakak menyesal?”


“Tentu, karena aku tak mengetahui bahwa dia memiliki Vasovagal Syncope. Jika aku tahu itu, mungkin aku akan berlaku lebih lembut. Namun, sepertinya Renata tidak akan memaafkanku. Lia juga takut padaku.”


“Yah, dengan situasi seperti itu, akan sulit untuk meminta maaf padanya. Ah, aku ingat bahwa Lia ingin ayam goreng.”


“Lalu?”


“Kenapa tidak Kakak belikan sebagai permintaan maaf?”


“Entahlah, tetapi aku tidak berpikir bahwa Lia akan memaafkanku hanya karena itu.”


“Sebaiknya kita coba.”


“Ngomong-ngomong kupikir dia akan cocok dengan penjepit rambut dengan warna mencolok,” ucap Kak. Yuutha seraya menghentikan langkah.


Yogi segera memindah perhatian. Dia dikelilingi dengan berbagai penjepit berwarna-warni. Namun, dia tak mengerti mana yang dirasa bagus untuk Renata.


“Aku ..., tidak mengerti mana yang bagus,” ucapnya.


“Coba ini!” Kak. Yuutha mengulurkan sebuah penjepit padanya.


Penjepit itu semerah darah. Berhiaskan sebuah ornamen berbentuk bunga di ujungnya, merefleksikan sinar mentari yang menyilaukan.


“Mawar yang bagus,” gumamnya.


“Sebenarnya itu salju berwarna merah. Kukira itu akan cocok untuknya, tetapi jangan memberitahunya bahwa aku yang menyarankan.” Kak. Yuutha berjalan menuju ke kasir.


“Benar. Itu bisa jadi masalah,” jawabnya sambil mengikuti Kak. Yuutha.


---

__ADS_1


Vasovagal Syncope ; merupakan kejadian di mana aliran darah ke otak berkurang karena suatu tindakan atau tekanan emosional yang ekstrem.


__ADS_2