
Bab 33 ~Habis~
“Pikirkan dengan matang sebelum bertindak!”
-Unknown-
“Es krim spesial! Silahkan dinikmati!” Perhatian Yogi berpindah pada sumber suara. Seorang pelayan, wanita, menghampiri tempat duduknya, membawakan pesanan.
Matanya terbuka lebar ketika melihat ukuran mangkuk yang dibawa pelayan itu. Itu terlihat besar untuk ukuran es krim. Isinya pun diaduk menjadi satu. Rasa vanila, cokelat, stroberi, durian, dan alpukat beradu dalam lubang yang sama, membuat warna yang kacau, tetapi menarik lidah. Meski sudah terdapat lima rasa berbeda di sana, tetapi itu masih berhiaskan berbagai toping yang belum masuk hitungannya. Terdapat astor, biskuit, dan beberapa jeli di sana. Hanya dengan memperhatikan itu, Yogi sudah merasa kenyang.
“Horee!” Lia bertepuk tangan, kemudian menyahut sendok plastik dan mengambil gigitan pertama. “Hmmm ..., enak, manis,” gumam gadis itu lantas mengambil suapan berikutnya.
Yogi tersenyum, kecut, melihat tingkah Lia. Namun, setidaknya gadis itu menikmati hadiahnya.
Yogi berpaling, menatap selembar menu di sisi meja. RP. 97.000,- adalah harga yang dibandrol untuk es krim spesial tersebut. Dia merasa beruntung karena membawa beberapa uang tabungan, tetapi dia juga kehilangan banyak.
Yogi menghela napas, menyadari beberapa lembar uang telah meninggalkan saku. Sebenarnya dia ingin menikmati semangkuk, kecil, es krim pula. Namun, dia mengurung niat ketika Lia memesan es krim spesial itu. Kini dia hanya bisa menikmati es krim tersebut dengan mata.
Apa yang ingin dia ketahui adalah apa Lia sanggup menghabiskan semua itu? Yogi berpikir bahwa semua itu terlalu banyak. Dia bahkan tak yakin bisa menghabiskannya sendirian. Namun, gadis mungil yang menikmati es krim di hadapannya, tak menunjukkan apa pun. Mungkin Lia bisa mengabiskan semua itu, mengingat bahwa Lia memiliki porsi makan yang lebih besar darinya.
“Kak!” Yogi mengangkat wajah ketika Lia menyebut namanya. Dia ditodong, menggunakan sebilah sendok yang merefleksikan sinar lampu pada mata.
“Apa?” Yogi memiringkan wajah.
“Bantu aku menghabiskan ini! Jika aku menghabiskan semua ini sendirian, aku akan kekenyangan. Itu berarti, aku tidak akan bisa menikmati makan malam,” gadis itu tersenyum polos padanya. Namun, dia tak menyangka bahwa Lia masih bisa memikirkan makan malam ketika melahap es krim, porsi ekstra, tersebut. Namun, dia pun ingin merasakan uang yang keluar dari saku. Karena itu, dia meraih sendok yang berada di hadapannya.
__ADS_1
“Tentu, akan kubantu,” jawabnya.
“Ah, buka mulut! Pesawat datang!” Lia menghentikan tindakannya. Gadis itu justru menyendok es krim dan memainkannya sebelum mendorong ke mulutnya. Karena dia tak membuka mulut, gadis itu menarik kembali pesawat dan memainkannya di udara.
Akibat tindakan tersebut, Lia mengundang banyak perhatian. Yogi merasa seperti bersama orang bodoh, bahkan ada beberapa orang yang menertawakannya. Dadanya seperti ditekan, memberikan perasaan aneh yang tak menyenangkan.
Tak ingin merasakan perasaan menyebalkan tersebut, Yogi pun menangkap tangan Lia dan memasukkan pesawat tersebut ke mulutnya.
Es krim meleleh ketika menyentuh lidah. Rasa vanila membanjiri sekujur badan, menenggelamkannya dalam rasa yang menyenangkan. Entah kapan terakhir kali dia menikmati rasa vanila, tetapi itu cukup untuk membuatnya bernostalgia, mengenang beberapa kenangan yang hampir tiada.
“Emmm ..., Kak. Yogi?” Yogi membuka mata ketika Lia menyebut namanya. “Bisa lepaskan tanganku?”
Untuk sejenak, perhatiannya berpindah, menatap tangannya yang masih memeganggi tangan mungil Lia.
“Oh, maaf,” ucapnya seraya melepas tangan Lia. Tidak lama kemudian, dia mencondongkan tubuh ke depan, mulai menikmati es krim. Namun, Lia justru menatapnya dengan senyum kecut.
“Kau tidak mau memakannya?” tanyanya.
“Tentu aku mau,” jawab Lia seraya menyuapi diri sendiri. Gadis itu menyendok es krim dengan pelan, bahkan terlalu pelan seakan kehilangan semangat. Namun, dia tidak merasa membuat kesalahan.
Untuk sejenak, Yogi menaruh sendok plastiknya di mangkuk es krim. Mata mengunci Lia yang berada di hadapannya. Dia ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan.
Lia menyendok es krim, memasukkannya ke mulut, dengan lembut. Sendok tersebut melewati bibir tipis, menjatuhkan partikel es ke indra pengecap. Tidak lama kemudian, Lia menarik sendok dari mulut.
“Ehehe ..., itu jadi ciuman tidak langsung antara aku dan Kak. Yogi,” Lia menaruh ke dua tangan di pipi. Wajah gadis itu merona, tetapi dia tak merasakan apa pun dari kejadian barusan.
“Ya, lalu?” Yogi memiringkan wajah, menggaruk kepala belakang.
“Aku akan membawa pulang sendok ini dan menjadikannya pusaka keluargaku.”
__ADS_1
“Emm ..., hentikan itu! Itu menjijikkan!”
“Ehehehe ..., aku hanya bercanda,” jawab gadis itu sambil memakan es krim kembali.
Yogi menghela napas. Dia tak menyangka bahwa Lia akan mengatakan itu. Namun, dia juga baru menyadari bahwa dia sudah bertukar air liur dengan Lia, meski secara tidak langsung. Namun, dia tak menemukan rasa apa pun di dalamnya, kecuali vanila. Mungkin itu karena dia sudah menyukai gadis lain, sehingga ciuman tak langsung seperti itu tak memiliki dampak untuknya.
Yogi kembali menggapai sendok plastik, menyendok buliran es dan memasukkannya ke mulut. Bukan rasa vanila yang dia masukkan ke mulut, tetapi rasa cokelat. Tidak lama kemudian, dia mencoba stroberi, durian, dan alpukat. Masing-masing rasanya berhasil menusuk lidah, memberi rasa manis yang menempel bahkan ketika dia menenggak segelas air.
Pelan, dia berpaling ke luar jendela. Perhatiannya mengunci butiran cahaya yang mengambang di langit kelam, tersenyum bersama dewi malam. Mereka terlihat dekat, tetapi terpisahkan oleh jarak yang yang tak tampak.
Dia cukup menyesal karena tak menuruti permintaan Lia, tadi. Sebelum dia ke kedai es krim, Lia sempat mengajak Renata untuk bergabung. Namun, dia menyangkal pendapat Lia. Meski dia mengambil keputusan tepat, tetapi kini dia menyesalinya.
Seharusnya dia masih bisa membopong Renata, membawa gadis itu ke kedai es krim. Namun, cara itu tak melintasi kepala, sebelumnya. Jika dia bersama dengan Renata, mungkin dia akan berbincang dengan Renata dan membiarkan Lia menikmati es krim itu sendirian.
Dia berpikir bahwa itu akan menyenangkan, tetapi dia juga mengingat fakta bahwa kaki Renata tidak dalam kondisi yang baik. Karena itu, dia menyangkal Lia. Itu yang terbaik untuk Renata.
“Kak. Yogi?” Lia memanggilnya. “Kakak, baik-baik saja?”
“Ya, aku hanya memikirkan sesuatu yang tak penting,” jawabnya sambil mengisi mulut dengan es.
“Jika itu tidak penting, seharusnya tidak usah dipikirkan!”
“Yah, kau benar. Aku akan berhenti memikirkannya,” jawabnya.
Dia meraih biskuit yang menjadi toping dan memasukkannya ke mulut. Rasanya renyah dan manis. Sama seperti hidupnya yang berubah sejak mengenal Renata.
__ADS_1