
Bab 34 ~Tak Terduga~
“Masa depan tergantung dengan perbuatanmu hari ini dan kemarin.”
- Mahatma Gandhi -
“Hoamm ...,” Yogi menguap. Salah satu tangannya menutup mulut yang terbuka lebar. Di sudut mata, terdapat genangan air yang menyebabkan penglihatan buram.
Dia pun segera menghapus air mata tersebut. Kemudian, ke dua tangan disembunyikan di saku jaket. Sekedar menghindari udara dingin yang menusuk permukaan kulit.
Pelan, dia mengangkat wajah, menatap angkasa yang tenggelam dalam warna biru. Senyum mentari di langit timur, menebar berkah pada dunia yang baru memulai hari. Tampak setitik gumpalan uap air di atas sana, berarak mengikuti angin. Burung-burung terbang secara berkelompok, mencari makan di sawah terdekat.
Broom ..., suara kendaraan beroda dua menusuk telinga. Perhatiannya sempat tertuju pada kendaraan tersebut, tetapi kendaraan tersebut segera menjauh dan menghilang di kejauhan. Akhirnya dia kehilangan objek untuk diperhatikan.
Setelah makan es krim dengan Lia, semalam, dia pun kembali ke rumah. Namun, dia masih tidak percaya akan fakta bahwa Lia berhasil menghabiskan lebih banyak es krim darinya. Memang bukan kompetisi, tetapi Itu membuatnya berpikir bahwa Lia memiliki kantong ajaib di perut tersebut. Jika itu benar, maka dia tak akan heran akan fakta bahwa Lia bisa menghabiskan lebih banyak nasi dibanding dirinya.
Dia pun tak pernah mengira bahwa berdua dengan Lia bisa menyenangkan. Meski mereka tak pergi ke mana pun setelah makan es krim, tetapi dia menikmati waktu yang terbuang.
Dia bahkan bisa tertawa terbahak-bahak bersama dengan gadis itu. Mungkin itu karena kepribadian mereka cocok, atau mungkin karena Lia yang cerewet. Namun, apa pun alasannya, Lia benar-benar menjadi seorang teman yang menyenangkan.
Gadis mungil itu bisa tersenyum lebar pada siapa pun, selalu tertawa, ceroboh, dan menyebalkan. Gadis itu bisa membawa segala warna pada siapa pun. Jika dia terus bersama Lia, mungkin dia bisa berakhir jatuh cinta.
Langkahnya terhenti. Perhatiannya mengunci ujung sepatu, serta paving yang menyerap segala kirana.
Hangat mentari tak sampai padanya. Namun, jantung telah memberi sebuah rasa. Dia tenggelam dalam rasa nyaman, terselimuti es yang menusuk badan. Seorang gadis tersenyum di benaknya. Bukan Renata, tetapi Lia.
Semua itu terasa nyaman, menyenangkan. Dia tersenyum, menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Lia semakin menipis. Gadis itu benar-benar meruntuhkan jarak, mendekatinya tanpa kenal lelah hingga dia berani menerima gadis itu di sisinya.
“Aku tak menyangka bahwa dia bisa menjadi teman dekatku,” gumamnya seraya mengambil langkah kembali.
Dia sudah berteman dengan Rizki selama dua tahun. Selama itu, dia masih mencoba mencari beberapa hal tentang Rizki. Namun, dia baru mengenal Lia selama beberapa minggu. Akan tetapi, dia merasa sudah mengenal gadis berisik itu selama tiga tahun. Entah karena Lia yang terlalu menempel padanya atau karena dia yang menyerah untuk menjauhi Lia, tetapi dia tak peduli pada alasannya. Apa yang dia ketahui adalah Lia bisa menjadi teman dekatnya, meski tidak bisa diandalkan seperti Rizki yang memiliki otak encer.
Dia mengangkat wajah, menatap trotoar yang digenangi lautan manusia. Kebanyakan dari mereka mengenakan seragam, seperti miliknya. Namun, dengan jaket yang berbeda. Mungkin hanya itu yang membedakan antara murid satu dengan yang lain.
”Yo!” seserang menepuk pundaknya. Ketika dia berpaling, ke belakang, dia menemukan Rizki berwajah malas.
“Ah, pagi,” balasnya.
“Pagi.” Rizki berjalan ke sampingnya.
Mereka pun menyusuri trotoar bersama. Tak mengungkap apa pun, membiarkan kesunyian membungkus suasana.
“Berapa yang kau keluarkan untuk gadis itu?” Rizki melempar pertanyaan yang tak terduga.
“Maksudmu, Lia?” Rizki mengangguk. “RP. 97.000,- untuk semangkuk es krim. Itu porsi besar dengan lima rasa berbeda, termasuk toping.”
“Aku bisa membayangkannya,” jawab Rizki sembari menepuk pundaknya.
“Yah, tetapi aku menikmati waktu dengannya,” balasnya singkat.
“Yah, aku mengerti maksudmu. Gadis itu bisa merubah sikap terhadap lawan bicara.”
“Apa maksudmu?” Yogi memiringkan wajah.
“Ketika berada di dekatku, dia selalu membicarakan buku. Namun, gadis itu juga periang dan sering berteriak. Aku merasa terganggu dengan itu, tetapi gadis itu tersenyum cerah, terlalu cerah hanya untuk sebuah senyuman.” Rizki berpaling darinya, menatap trotoar yang menjadi pijakan.
Untuk pertama kalnya, dia melihat Rizki seperti itu. Biasanya Rizki kurang memedulikan orang di sekitar. Rizki bahkan bisa meminum es jeruk ketika teman sekelas bertarung di hadapan. Rizki hanya menunjukkan berbagai ekspresi pada orang tertentu saja, seperti dia dan Kak. Yuutha. Namun, entah apa yang merasuki Rizki hingga bisa membuat wajah muram untuk Lia.
“Sepertinya kau melihat banyak hal dari Lia,” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Tidak juga,”jawab Rizki setelah menghela napas. “Aku hanya menyukai sifat gadis itu, meski sedikit berisik.”
Biasanya Rizki menghindari orang-orang seperti Lia, bahkan Rizki mencoba menghindarinya ketika pertama bertemu. Namun, mungkin Rizki hanya menginginkan orang yang tidak menyerah padanya. Setelah semuanya, manusia tidak bisa hidup sendirian.
“Yah, aku juga merasakan hal yang sama. Gadis itu benar-benar meruntuhkan rasa kesalku padanya, membuatku ingin terus berteman dengannya,” jawabnya.
“Baiklah, cukup tentang Lia,” Rizki berjalan lebih cepat.
“Oi, tunggu!” teriaknya sambil melompat ke depan, menyusul Rizki. “Aduh! Sialan! Kenapa kau berhenti?” Yogi menabrak punggung Rizki.
“Lihat! Ada yang berangkat sekolah diantar mobil.” Rizki menunjuk pada sebuah mobil, yang berhenti, tak jauh dari gerbang sekolah.
Dengan cat hitam legam, memantulkan tiap partikel cahaya ke mata. Dengan pelek perak yang menyatuh dengan sinar mentari.
“Itu beroda empat,” ucap Yogi.
“Memangnya kau pikir ada yang beroda tiga?”
“Bajaj”
“Oh, diamlah!”
“Hehehe ...,” gurauan singkat sebelum perhatian mereka kembali terpaku pada mobil tersebut.
Ketika pintu terbuka, seorang pria turun dari mobil tersebut. Pria itu mengenakan setelan hitam, rapi, berkacamata hitam dan berbadan kekar.
Secara otomatis, perhatian tiap orang pun berpindah pria itu. Mungkin bertanya-tanya siapa dan kenapa orang itu. Namun, Yogi justru memiringkan wajah. Pria itu memberikan rasa familier, tetapi dia tak bisa mengingat wajah atau pun nama pria itu.
Pria itu bergerak ke kursi belakang. Kaca mata dibuka, menunjukkan wajah cerah dengan rambut legam rapi.
“Ah,” gumamnya dan Rizki bersamaan.
Pria itu membuka pintu belakang. Wajah yang tak asing pun terlihat di ruangan sempit tersebut. Seorang gadis berada di sana, mengenakan seragam lengkap dengan dua sepatu terpasang di ke dua kaki.
“Terima kasih, Om!” ucap Lia sambil melompat keluar.
“Sama-sama,” jawab pria itu.
Tidak lama kemudian, gadis lain pun menunjukkan diri. Gadis itu berambut hitam, panjang. Tidak seperti Lia yang melompat, gadis itu turun dengan lembut bagaikan seorang putri dari negeri khayalan.
Sang putri dibantu dua pengawalnya. Sekedar memastikan supaya sang putri tidak terjatuh.
“Ah, Kak. Yogi! Rizki!”Lia melambai padanya.
Untuk sejenak, dia bertukar pandang dengan Rizki. Namun, mereka berpaling dan bergegas mendekat.
“Pagi,” ucapnya dan Rizki, bergantian.
“Pagi,” jawab Lia dan Renata.
“Pagi juga,” jawab Ayah Renata. “Bukankah kau Yogi?” Ayah Renata menepuk pundaknya.
“Eh? Ya, aku Yogi. Memangnya ada apa, Om?” jantung Yogi berpacu dengan waktu, memikirkan apa yang telah dia lakukan hingga Ayah Renata menepuk pundaknya seperti itu.
“Terima kasih sudah merawat Rena kemarin. Lain kali, mampirlah ke rumah kami! Kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka.” Ayah Renata tersenyum lebar padanya.
“Ah, tentu. Aku akan berkunjung lain kali,” balasnya sambil tersenyum. Dia sempat berpikir bahwa dia melakukan kesalahan.
“Kalau begitu, apa aku bisa menyerahkan Rena pada kalian? Aku harus berangkat ke kantor dan gadis ini tak mau meninggalkan sekolah untuk sehari,” Ayah Renata mengelus rambut Renata.
__ADS_1
“Ayah,” balas Renata sembari menghalau tangan besar tersebut.
“Tentu. Om, bisa menyerahkan Rena pada kami. Yogi punya tubuh kuat. Dia pasti bisa menggendong Rena ke mana pun,” jawab Lia.
“Itu bukan sesuatu yang bisa kau banggakan,” balas Rizki dan Yogi, bersamaan.
“Hehehe ...,” Lia tertawa kecut.
“Baiklah, kuserahkan dia pada kalian,” ucap Ayah Renata sebelum memasuki mobil dan menjalankan kendaraan bermotor tersebut.
Ketika mobil lenyap di tingkungan, mereka saling menatap satu sama lain.
“Kenapa kau ada di mobil itu?” tanya Rizki pada Lia.
“Aku diberi tumpangan,” jawab Lia sambil membuat mengangkat dua jari.
“Apa tempat tinggal kalian berdekatan? Tapi jika itu benar, kenapa kau tidak mengganti pakaian sebelum mengerjakan tugas kemarin?” tanya Yogi.
“Ah, tidak seperti itu. Ayah menyadari Lia yang berjalan di trotoar, tak jauh dari sini. Jadi, Ayah memberi tumpangan,” Renata menjelaskan.
“Yah, karena angkot tidak akan memasuki perkampungan. Jadi, aku harus berjalan kaki ke sini,” imbuh Lia.
“Yah, mari kesampingkan hal itu! Renata, apa kau bisa berjalan?” Rizki melempar pertanyaan.
“Bisa, tetapi pincang,” Renata tersenyum kecut.
“Mau kugendong hingga ke kelas?” Yogi menawarkan bantuan.
“Emmm ..., itu ...,” Renata ragu menjawab. Namun, dia juga berharap supaya Renata menolak karena jantungnya tak tenang dan terus memompa darah secara berlebihan.
“Tidak! Rena aku akan membantu Rena!” Lia menyahut.
“Aku setuju,” jawab Renata.
“Lalu kenapa kau berkata bahwa Yogi bisa menggendongya tadi?” Rizki mencetus.
“Supaya Ayah Renata tidak khawatir.”
“Lupakan itu!” ucap Yogi, “setidaknya biarkan aku membawakan tasmu,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan pada Renata.
“Itu ...,” Renata masih ragu.
“Aku memaksa,” imbuhnya.
“Turuti saja! Atau dia tidak akan berhenti,” Rizki memberi saran.
“Baiklah, terima kasih,” ucap Renata sembarinya memberinya tas . Dia pun menerimanya.
Lia menghampiri Renata, membopong Renata di pundak dan mulai mendekati gerbang sekolah, sedangkan dia dan Rizki mengekor dari belakang.
###
Halo semuanya, Author menyapa kalian di sini.
Ah, masih teringat ketika aku memulai project Bride. Aku benar-benar tenggelam memikirkan karakternya dan sekarang aku baru saja menyisipkan inner trouble untuk Lia dan Renata.
Namun, sepertinya sangat sedikit yang menyadari hal itu. Meski kalian mengetahuinya, aku mohon untuk tidak membocorkannya.
Dan kita mulai memasuki pertengahan volume 1. Jujur saja aku memikirkan konflik yang tepat untuk masalah percintaan remaja SMP. Namun, sepertinya aku akan bisa menuliskannya dalam beberapa hari. Semoga.
__ADS_1