Bride

Bride
Bab 6 ~ Salah Paham~


__ADS_3

Bab 6 ~ Salah Paham~


-Jatuh CInta Itu Bukanlah Sebuah Kesalah Pahaman-


Mayn Urr Izqi


"Apa hanya itu cerita kalian?" tanya Renata sambil menelan sisa roti di tangan.


"Memangnya apa lagi yang harus kukatakan?" Rizki meraih makanan ringan lain dari kantong plastik dan menikmati makanan tersebut.


“Apa kalian tidak memiliki kenangan di malam hari?” Lia tersenyum, nakal, membuat Yogi berpikir bahwa gadis itu memiliki kelainan.


“Memang apa yang kau harapkan? Sudah kubilang bahwa kami tidak seperti itu.” Yogi menghela napas setelah menyelesaikan jawabannya.


“Ngomong-ngomong Renata, cepat sekali rotimu habis,” tanya Rizki.


“Benar, bahkan aku baru menghabiskan separuh bagian roti ini,” tambah Yogi.


“Ah, seb ... ―”


“Biar aku yang menjawabnya,” seru Lia sambil mengacungkan roti ke langit.


Yogi selalu berpikir bahwa menyela orang lain itu tidak bagus. Karena itu, dia selalu menunggu seseorang selesai berbicara. Setelah itu, dia baru mengungkap pendapat. Namun, sepertinya Lia memiliki pemikiran yang berbeda. Selain menyela dengan suara nyaring, gadis itu bahkan melebarkan senyum seakan tak merasa bersalah.


Kalau Rizki berada di posisi Renata, Rizki pasti sudah mendorong kepala gadis itu, memberi peringatan supaya tidak menyela. Setidaknya itu yang selalu dilakukan Rizki ketika seseorang menyela. Itu bahkan pernah terjadi padanya.


Di sisi lain, Renata hanya tersenyum hampa. Yogi tak merasakan apa pun ketika melihat itu. Dia hanya paham bahwa Renata mengalami masa sulit, bersama Lia.


“Ya, kau boleh bercerita,” ucap Renata memberi izin.

__ADS_1


“Terima kasih,” Lia menaruh roti di meja dan melanjutkan, “jadi, sebenarnya Rena memiliki kebiasan untuk makan dengan cepat. Tidak peduli apa makanannya, dia selalu menjadi orang pertama yang mencapai garis akhir. Alasan dia selalu melakukan itu adalah dia tidak ingin membuang waktu. Jadi, dia adalah tipe orang yang menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.”


Ketika Lia mengakhiri cerita singkat tersebut, Yogi tersenyum, puas, karena mendapat informasi. Memang bukan informasi yang bagus, tetapi dia merasa bahwa jaraknya, dengan Renata, berkurang selangkah. Namun, perjalanan masih jauh dan dia paham akan hal itu. Dia tidak boleh merasa senang karena hal kecil.


“Hmm ..., itu menarik,” Rizki berkomentar, membuat setiap perhatian tertuju pada laki-laki itu, “maksudku itu hal bagus karena kau tidak suka membuang waktu.”


“Aku juga setuju. Namun, kurasa ada baiknya jika kau juga memperhatikan sekitar. Maksudku, ketika kita makan bersama seperti ini dan kau selesai terlebih dulu, kau akan kehilangan waktu untuk menikmati makanan dengan yang lain. Ketika itu terjadi, kau hanya bisa melihat yang lain berbincang dan makan, sedangkan kau hanya akan berdiam diri. Ka ..., maaf, sepertinya aku terlalu banyak bicara,” Yogi menggaruk kepala belakang, memaksa bibirnya untuk tersenyum.


Dia tak menyangka bahwa kebiasaannya akan muncul di saat yang tidak tepat. Dia merasa bodoh. Dalam pikiran dia berteriak, memohon supaya Renata tidak membencinya.


“Eh, jangan meminta maaf! Kau tidak melakukan kesalahan, lagipula saranmu juga masuk akal.” Renata melambaikan tangan padanya.


“Ugh ..., baiklah.”


“Santai saja! Renata bukan orang yang akan terganggu karena hal semacam itu,” Lia berdiri, menaruh dua tangan di pinggang dan membusungkan dada bulat tersebut.


Di lain sisi, Yogi berpikir bahwa Lia tak berhak menyombongkan sesuatu yang bukan miliknya.


Entah  itu akan menambah poinnya di mata Renata, atau tidak, dia tak tahu. Apa yang dia tahu adalah Rizki memiliki rencana. Kemudian, dia hanya perlu melakukan instruksi yang diberikan Rizki supaya bisa mendapatkan hati Renata.


“Aku tidak tahu itu adalah kelebihan atau kekurangan,” Lia berkomentar sambil menempatkan pantat di kursi. Gadis itu meraih teh instan, menusukkan sedotan dan menghisap isi gelas platik tersebut.


“Menurutku itu adalah kelebihan,” Renata menjawab, “sekarang banyak orang pandai yang berbohong. Orang jujur seakan menjadi kelangkaan tersendiri. Karena itu, aku menyukainya.”


Mata Yogi terbuka lebar. Kepalanya terasa panas, mungkin darah memenuhi wajahnya, membuatnya berpikir bahwa warna wajahnya berubah seperti apel. Karena itu, dia menyembunyikan wajah dan senyumnya. Namun, dia salah mengambil langkah karena dia berpaling pada Rizki.


Di sanalah Rizki memangku dagu, menatapnya dengan senyum menjengkelkan.


Dia ingin menghatam wajah Rizki, tetapi dia justru semain tertunduk.

__ADS_1


“Aku tidak percaya bahwa kau akan mengungkapkan cinta di hari pertama berkenalan,” Rizki berpaling dan mengatakan itu pada Renata.


“Ha?” Renata memiringkan wajah, tanda kebingungan, “Ah,”Renata akhirnya menyadari ucapan sebelumnya, “sifatnya. Maksudku adalah sifatnya, maaf. Aku tidak lengkap menyebutkannya,” Renata menyatukan ke dua tangan, membuat pose seakan memohon sesuatu. Namun, Yogi juga menyadari warna merah yang menghiasi wajah Renata.


“T-Tidak, tidak apa-apa. Aku paham maksudmu sebelumnya,” jawab Yogi, tetapi dia bahkan tak mampu memperlihatkan wajahnya.


“Kau mengatakan itu, tetapi kau sama sekali tidak melihat Rena. Apa kau tidak tahu tentang tata krama?” Lia melempar pertanyaan.


Yogi tak menyangka bahwa dia akan menerima ucapan semacam itu dari Lia. Gadis itu bahkan menyela orang lain seakan itu normal. Yogi bahkan ingin menarik telinga gadis itu, tetapi dia tak dalam kondisi yang memungkinkan. Karena itu, dia masih membeku di tempatnya.


“Heh, bagaimana dia akan melihat kalian saat wajahnya dipenuhi darah?” goda Rizki dengan senyum menjengkelkan tersebut.


“Eh? Dia terluka? Sejak kapan?” Lia bangkit, melempar pertanyaan bodoh yang tak pernah terpikirkan siapa pun.


“Bukan itu maksudku, Lia. Inilah maksudku.” Rizki meraih kepala Yogi, memutarnya, dan menunjukkan wajah merona tersebut pada para gadis. “Dia semerah tomat,” imbuh Rizki.


“Sial kau! Lepaskan aku!” Yogi meronta, membuat Rizki segera menarik tangan sambil terkekeh.


“Yogi, wajahmu merah. Apa kau sakit?” Lia melempar pertanyaan konyol lain.


“Tidak! Bukan seperti itu,” jawab Yogi dengan cepat, “ini hanya ...,” kalimat Yogi terhenti di tengah. Dia menyadari bahwa Renata tengah menatapnya, bukan dengan mata jijik, tetapi mata dan wajah itu seakan berkata bahwa Renata tak percaya dengan apa yang terlihat.


Ketika mata mereka bertemu, dunia seakan lenyap, meninggalkan sosok bidadari surga di hadapannya. Berparas menawan laksana rembulan di tengah petang. Tersenyum hangat bagaikan mentari di tengah sabana. Bermata lembut, menebar kasih sayang.


Meski berada di hadapan, tetapi terasa jauh di depan. Ritme jantungnya seakan melambat, menyebar rasa hangat. Tubuhnya mengigil, bukan karena kedinginan, melainkan akibat rasa ganjil.


Pada akhirya, kalimat itu tidak terselesaikan, tersekat dalam tenggorokan.


Yogi berpaling, menymbunyikan wajahnya sekali lagi. Namun, kali ini Renata melakukan hal serupa.

__ADS_1


Yogi paham bahwa itu hanya kesalahpahaman, tetapi juga merupakan harapan. Dia ingin mendekat, memotong sekat yang memisahkannya dengan sang malaikat. Namun, dia tahu bahwa itu terlalu cepat. Dia harus tenang, menunggu waktu untuk menerjang.


__ADS_2