Bride

Bride
Bab 3 ~ Sebuah Nama~


__ADS_3

Bab 3 ~ Sebuah Nama~


Tersenyumlah untuk mengubah dunia, jangan biarkan dunia merubah senyummu.


-Unknown-


Takut, tetapi senang. Gugup, tetapi bersemangat. Yogi tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dadanya dipenuhi berbagai perasaan aneh yang saling berbenturan, satu sama lain. Namun, dia tidak membenci itu. Dia justru menikmatinya.


Lima menit lalu, bel berdering dan guru pengajar memasuki ruangan. Sejak saat itu, pandangan Yogi sudah mengunci seorang gadis. Gadis berparas menawan yang telah mengetuk relung hatinya. Gadis yang merupakan tulang rusuknya. Setidaknya itu yang dirasakan Yogi, ketika melihat gadis itu.


Yogi mulai bertanya-tanya, kenapa sesi perkenalan belum dimulai? Dia ingin mengetahui nama gadis itu. Gadis itu pasti memiliki nama cantik.


“Hentikan itu! Kau membuat wajah bodoh.” Suara seorang laki-laki menusuk telinga, membuat Yogi berpaling dan mendapati Rizki memangku dagu.


“Ehehe ...,” Yogi tertawa kecil sambil menggaruk kepala belakang. “Maaf, aku sangat penasaran dengan gadis itu,” lanjutnya sambil tersenyum masam.


“Jika kau memang menyukainya, sebaiknya kau mulai berkenalan  dengannya! Bangun hubungan dari awal,” ujar Rizki, memberi saran.


“Ah ..., itu ..., kurasa akan sulit,” jawab Yogi. “Aku tidak memiliki pengalaman semacam itu,” lanjutnya.


“Bersikaplah seperti biasa. Ketika dia mulai nyaman bersamamu, kau bisa mengubah cara bertingkah terhadapnya,” ucap Rizki sambil terus memangku dagu.


Sekarang Yogi mengingatnya, Rizki memiliki Kak. Yuutha sebagai kekasih. Gadis cantik nan dingin itu berhasil diluluhkan Rizki. Jadi, Yogi mengambil kesimpulan bahwa Rizki memiliki berbagai saran untuknya. Jika Rizki mau berbagi, mungkin dia bisa menggaet gadis itu.


“Kau bisa memberiku saran?” Yogi mendekati Rizki, memberikan senyum lebar dengan mata berbinar-binar.


“Agh ..., terlalu dekat.” Rizki mendorongnya kembali.


“Ayolah, beri aku beberapa saran!” Yogi memelas, meminta belas kasih dari dewa Amor. “Dewa Amor, panah aku dengan busur cintamu!” Tak ingin menyerah, Yogi pun mencoba memeluk Rizki.


“Berhenti! Dasar menjijikkan!” Rizki meronta, mencoba menghindari serangan mental.

__ADS_1


“Kalian berdua yang di pojok!” ketika suara menggema, Rizki dan Yogi pun berpaling.


Apa yang terlihat di penglihatan mereka adalah seorang laki-laki berseragam PNS di muka kelas. Dua tangan laki-laki itu bersendekap di dada, memasang wajah datar, tetapi entah kenapa terasa dingin.


Tidak lama kemudian, mereka pun sadar bahwa mereka menjadi pusat perhatian kelas. Beberapa gadis tersenyum melihat Yogi dan Rizki, yang saling berhimpit. Beberapa laki memasang wajah jijik. Ada pula yang tertawa. Sisanya berwajah datar, menatap mereka seakan tak mengerti apa yang terjadi.


Yogi pun sadar bahwa gadis itu ikut memperhatikannya. Dia melompat, menjauhi Rizki. Wajahnya tertunduk, menatap ujung sepatu. Dia berharap gadis itu melupakan apa yang baru saja terlihat.


Di sisi lain, Rizki mulai merapikan seragam. Ekspresi Rizki tidak berubah. Masih terasa dingin seperti biasa. Tentunya itu membuat Yogi bertanya-tanya, bagaimana Rizki bisa tetap tenang seperti itu?


“Baiklah, ini masih hari pertama. Jadi, aku akan memaafkan kalian. Sebagai gantinya, kalian mulailah perkenalan terlebih dulu!” guru itu duduk di kursi, menunggu Yogi dan Rizki mulai memperkenalkan diri.


Kret! Kayu berdecit ketika Rizki bangkit dari kursi. Tampaknya Rizki benar-benar tak terganggu dengan kejadian tadi. Berbeda dengan Yogi yang kini berusaha menenangkan diri.


“Namaku, Rizki Ananta. Aku berasal dari kelas 8G. Kalian boleh memanggilku Rizki. Salam kenal.” Rizki kembali duduk setelah mengenalkan diri.


Ketika melihat itu, Yogi berpikir bahwa Rizki itu keren, membuatnya iri dengan kemampuan Rizki untuk menjaga ketenangan.


“Berhenti menatapku seperti itu!  Ini giliranmu,” ucap Rizki, membuatnya sadar bahwa pusat perhatian telah berpindah padanya.


“Jangan bermesraan di kelas lagi! Kalian mengerti?” guru memberi peringatan.


“Baik, Pak,” Jawab Rizki dan Yogi, pelan, bersamaan.


“Tunggu! Kami tidak seperti itu!” Rizki bangkit, menaikkan suara dan menarik perhatian kembali.


“Apa maks ....” Sebelum kalimat tersebut selesai, Yogi baru saja menyadari ucapan guru dan jawabannya. “Benar, kami tidak seperti itu!” Yogi ikut menyangkal sambil bangkit dari kursinya.


“Ahahaha,” seisi kelas pun meledak, menertawakan dua laki-laki yang saling bertukar kasih sayang.


Rizki mendecakkan lidah dan membanting tubuh ke kursi. Laki-laki itu bersendekap dan menyandarkan punggung di kursi.

__ADS_1


Di sisi lain, Yogi masih berdiri di tempatnya. Salah satu tangannya memijat kening, merasakan pening di hari pertama masuk sekolah. Dia tak pernah menyangka bahwa akan kehilangan wajah di hari pertama sekolah. Ditambah, semua itu terjadi di hadapan gadis yang dia sukai.


Sekali lagi, dia menghela napas. Mungkin dia harus berhenti mengejar gadis itu. Dia bahkan yakin bahwa gadis itu tengah memandangnya dengan jijik. Namun, dia tetap penasaran dengan ekspresi gadis itu. Karena itu, dia memberanikan diri dan mengangkat wajah.


Perhatiannya menyapu seisi kelas yang menertawakannya. Semua itu terasa seperti air yang menenggelamkannya. Dia seperti dimasukkan dalam sebuah ruangan gelap. Tanpa udara, membuatnya kesulitan menarik napas. Dunia seakan melebar, sedangkan dia menciut. Namun, terdapat secercah sinar dalam semua itu.


Gadis itu tertawa, tetapi tak terasa menyakitkan. Tawa gadis itu meresap dalam dada, memberikan sebuah rasa hangat nan menenangkan. Dunia seakan memutih, menyisakan seorang gadis di matanya.



Mata Yogi menangkap momen tersebut, menyimpannya dalam berkas pribadi dalam otakknya. Itu akan menjadi salah satu memori terbaik yang dia miliki. Tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.


“Duduklah, bodoh!” Yogi terbangun dari dari lamunannya ketika Rizki menariknya dan membuatnya kembali duduk.


Bersamaan dengan itu, rekan di sampingnya berdiri dan mengenalkan diri. Di sisi lain, Yogi kembali tertunduk, mengingat kembali senyum gadis itu. Masih tampak menawan meski hanya dalam pikiran. Entah apa yang akan terjadi jika dia melihat senyum itu secara langsung. Mungkin dia bisa mati kegirangan.


“Tampaknya kau masih bisa menemukan hal bagus bahkan dalam keadaan seperti ini,” Rizki bergumam, membuat Yogi berpaling pada laki-laki itu.


“Begitulah, dia terlihat lebih cantik ketika tersenyum,” jawab Yogi sambil tersenyum.


“Yah, melihat senyummu, aku mengerti bagaimana rasanya,” ucap Rizki sambil memangku dagu kembali. Sikap Rizki tidak berubah bahkan setelah dipermalukan seperti itu, membuat Yogi bersyukur memiliki teman seperti Rizki.


“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku,” ujar Yogi.


“Tentu. Aku bisa memberimu beberapa saran. Namun, semuanya kembali pada usahamu sendiri. Teruslah berusaha dan aku akan terus mendukungmu,” jawab Rizki.


“Tentu.”


“Ini gilirannnya,” Rizki bergumam, membuat Yogi segera memindah perhatian ke depan.


Gadis itu bangkit dari tempat duduk. Berbalik, menghadapi seisi kelas dan mulai membuka bibir, “Namaku, Renata Buana. Kalian bisa memanggilku Rena. Aku berasal dari kelas 8D. Salam kenal.”

__ADS_1


Rena kembali duduk, menyisakan rasa hangat dalam dada Yogi.


“Salam kenal, Rena,” gumam Yogi.


__ADS_2