
Gya merasakan tubuhnya remuk lantaran seharian ini dia sibuk wara-wiri merayakan kelulusannya. Ia langsung bergegas mandi dan merasa sedikit lebih baik setelah air segar mengguyur tubuhnya.
Sekarang Gya ingin cepat-cepat rebahan dan tidur nyenyak, hatinya sudah lega karena resolusinya tahun ini sudah terpenuhi. Namun, dugaannya salah. Meski sudah mengubur diri di dalam selimut, tapi matanya enggan terpejam. Pikirannya melayang pada kalimat Rafish padanya tadi.
Aku juga lagi ngambek!
Lah? Kenapa juga itu berondong ngambek? Harusnya kan Gya yang ngambek karena di salah satu hari paling istimewanya, Rafish justru menghilang.
Gya langsung menegakkan tubuhnya dan duduk dengan kesal. Kemudian, mengacak-acak selimutnya brutal.
Dia tidak suka dengan rasa penasaran. Sebenarnya Rafish kenapa, sih?
Gya beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar dengan rambut berantakan setelah sebelumnya meraih ponselnya di atas nakas. Sambil berjalan menuruni anak tangga, Gya mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Agya Sofia
19.05 PM
Aku tunggu di teras. Sekarang!
Read
Setelah mengirimkan pesan tersebut pada Rafish, Gya langsung melempar ponselnya ke atas sofa dan berjalan keluar rumah. Rafish yang baru saja selesai mengaji, meraih ponselnya yang berdenting, lantas mengerutkan kening. Namun, ia memilih patuh dan berjalan ke luar rumah.
"Apa?" tanyanya tak ramah ketika melihat Gya dengan horornya sudah menunggu di depan pintu.
"Kamu ngambek kenapa?"
"Nggak usah kepo, nanti sayang."
Gya mendengkus. Sedang baik-baik saja atau sedang ngambek pun, Rafish sama menyebalkannya.
"Harusnya yang ngambek itu gue. Loe nggak datang di hari istimewa gue." Nah, kan! Bahasa loe-gue Gya keluar. Rafish, sih, cari perkara.
"Emang bilang?"
"Harusnya loe tau, tanpa harus gue kasih tau," sungut Gya tetap tak mau kalah. "Sibuk pacaran aja, sih."
"Nggak kebalik?"
"Kebalik apaan? Gue sama Mas Rafka nggak ada apa-apa."
"Ngapain ngasih penjelasan? Nanti kalau aku salah paham gimana?"
"Terserah loe, deh, Fis!" Gya sudah hilang kesabaran. Ia akan membalikkan tubuhnya ketika Rafish dengan cekatan menahannya tangannya.
"Aku datang."
Emosi Gya yang sudah menjalar ke kepala, mendadak mulai mereda. Ia berbalik dan menatap tajam laki-laki itu dengan alis terangkat.
"Aku beneran datang, tapi ... kamu pergi."
Gya mulai luluh. Dia juga yakin kalau Rafish tidak mungkin mengabaikan hari spesialnya.
"Siapa suruh datang terlambat," cetus Gya pura-pura sebal. Kemudian, ia mengulurkan tangannya ke arah Rafish. "Mana hadiahnya?"
"Udah aku makan sendiri."
Gya melebarkan matanya, lantas memukul lengan Rafish jengkel. "Hadiahku kamu makan?"
"Bunga dari dia kan besar banget. Ngapain masih ngarep cokelat kecil?" Rafish memalingkan wajah dengan menggigit bibir bawahnya.
"Aku suka cokelat. Bunga nggak bisa dimakan." Ini serius. Gya memang tidak tahu manfaat bunga, selain sebagai hiasan. Ia lebih suka dengan sesuatu yang bisa dimakan.
Rafish menoleh lagi, lantas mengulum senyum. "Ayo, ke minimarket! Aku beliin cokelat sampai puas."
Gya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. "Beneran, ya, sampai puas?"
"Iya."
"Jangan nangis kalau uang jajanmu sebulan habis."
Rafish menatap Gya lama, lantas terkekeh geli. "Iya, nggak apa-apa kalau untuk kamu."
__ADS_1
Uhuk!
Gya dan Rafish memang benar-benar pergi ke minimarket dengan sepeda motor untuk membeli cokelat. Bahkan, Gya seolah lupa dengan rasa lelah di tubuhnya.
Seperti yang Gya bilang tadi, ia benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan dan membeli banyak sekali cokelat kesukaannya. Sedangkan, Rafish senang-senang saja mengikutinya dari belakang sambil memainkan ponselnya.
"Mampir ke taman, ya. Kalau dibawa pulang nanti diminta Gio."
"Dih! Pelit."
"Biarin. Ini punya aku!" balas Gya sambil memeluk kantong plastiknya posesif.
Rafish mengulum senyum lagi, lantas mengusap sayang rambut Gya. Tatapan matanya begitu teduh. "Lain kali, jangan mau kepalamu diusap sembarangan sama orang, kecuali aku."
Gya tertegun. Ia menyadari sesuatu. "Maksud kamu ... Rafka?"
Rafish tidak menjawab. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah sepeda motornya yang terparkir di halaman minimarket.
"Hadiah kedua udah aku kirim di emailmu, ya."
Mata Gya melebar. Ia berlari mengejar Rafish. "Hadiah kedua? Apa?"
"Lihat sendiri."
"Aku nggak bawa hp."
"Ya, udah. Nanti aja."
"Ingetin, ya. Takutnya aku lupa."
"Nggak mau. Ingat aja sendiri."
Gya mendelik jengkel, lantas menjitak pelan belakang kepala Rafish, hingga membuat sang pemuda meringis.
"Kamu mau punya suami kepalanya benjol?"
"Dih!"
***
Setelah menyerahkan beberapa syarat dan melakukan pendaftaran via daring, kini saatnya Gya bersantai lagi di kantin. Beruntung Citra sang sahabat karib setia menemani.
"Akhirnya kita wisuda bareng, ya, Gi," ujar Citra ceria setelah memesan mie rebus kesukaannya. Dia cuma bisa makan mie instan di kampus saja karena kalau di rumah jangan harap sang ibu mengizinkan.
"Tapi kursi kita pasti jauhan. Loe, sih, daftarnya kecepatan."
Citra mencibir. Temannya itu manja sekali. Perkara kursi saja bisa membuatnya sedih begitu.
"Eh! Itu Fergi, kan? Si ganteng Rafish mana?"
Gya yang sedang cemberut langsung menolehkan kepalanya. Benar juga, Rafish tidak ada di sana.
Citra yang memang kadar malunya minim sekali langsung melambai ke arah Fergi yang sudah selesai makan dan hendak keluar kantin. Beruntung, adik tingkatnya ini patuh sekali, sehingga diintruksikan begitu saja dia langsung datang menghampiri.
"Hai! Kak."
"Hai, Fer."
"Rafish mana?" tanya Citra ceplas-ceplos, hingga membuat Gya membelak kaget. Kadang, basa-basi kan perlu juga.
"Nggak ikut makan, Kak. Dia ada urusan lain."
Wajah Gya memucat. Ia jadi ingat sudah menghabiskan uang jajan Rafish selama sebulan untuk membelikannya cokelat seplastik besar. Gya jadi merasa bersalah.
"Rafish nggak ikut makan gara-gara kehabisan uang, ya?"
Fergi menatap Gya bingung. Ia tidak mengerti dengan ucapan perempuan yang disukai sahabatnya itu.
"Maksud Kakak?"
"Iya, uang jajan Rafish habis gara-gara beiin gue cokelat tempo hari."
Fergi melongo, lantas tertawa geli dan anehnya Citra ikut tertawa juga. Kompak sekali, jangan-jangan jodoh.
__ADS_1
"Uang jajan?" Fergi masih tertawa. "Beli cokelat se-supermarket uang dia juga nggak habis kali, Kak."
Gya mengerutkan keningnya tidak mengerti. Namun, Citra buru-buru merengkuh pundaknya. "Jadi loe beneran nggak tau siapa Rafish?"
"Tau lah! Tetangga gue."
Citra mengibaskan tangannya ke udara. "Manurut loe, yang buat Rafish populer di kampus cuma gara-gara dia ganteng doang? Banyak kali ah yang ganteng."
Gya makin tidak mengerti. "Maksud kalian apaan, sih?"
"Udah, deh. Biar Rafish aja yang cerita sendiri sama loe," tutup Citra dan disambut oleh anggukan setuju Fergi.
***
Gya baru saja pulang. Detik-detik terakhir mondar-mandir kampus begitu ia nikmati. Makan di kantin, ketawa-ketawi dengan teman, naik-turun tangga nyari dosen. Ah! Suatu saat dia pasti merindukan momen ini.
"Baru pulang, Dik?"
Gya terlonjak kaget karena rupanya Rafka sedang duduk di ruang tamu sendirian.
"Loh, Mas Rafka?" Gya celingak-celinguk, lalu melanjutkan, "Papa mana, Mas?"
"Ada, barusan masuk."
"Loh, papa gimana, sih? Ada tamu kok malah di tinggal." Gya memilih duduk di seberang Rafka sambil celingukan sekadar menemani rekan bisinis sang ayah.
"Nggak apa-apa. Lagian Mas kesini nyariin kamu, kok."
"Hah?"
Rafka tergelak melihat reaksi terkejut Gya. "Nggak usah kaget gitu, dong."
Gya jadi malu sendiri. Makanya, ia memilih ikut tertawa garing.
"Kamu ke kampus, kok, nggak bilang-bilang sama Mas?"
"Emang kenapa, Mas?"
"Kan bisa Mas antar."
Uhuk!
Astaga! Ini orang beneran ngasih kode, ya?
Gya salah tingkah lagi, hingga membuat Rafka kembali tertawa geli.
"Habis lulus rencana kamu apa, Dek?"
"Nyari kerja, Mas. Aku nggak mau masuk ke slogan 'selamat datang di dunia pengangguran'. Serem!"
Rafka mengangguk, lalu mengulum senyum. "Kalau mau, kerja di hotel Mas aja."
Gya melebarkan matanya. Tawaran menarik, nih.
"Tapi aku belum ada ijazah loh, Mas."
"Nggak apa-apa. Pakai Surat Keterangan Lulus aja."
Uwu! Mata Gya berbinar. Hidupnya jadi mulus semenjak ada Rafka. Namun, kemudian ekspresi cerahnya meredup.
"Nepotisme, dong?"
Rafka kembali tertawa. Makin lama ia makin tertarik dengan Gya.
"Nepotisme gimana? Tentu aja kamu tetap harus melalui semua tahapannya dan Mas juga akan menilai kemampuan kamu berdasarkan kriteria perusahaan, bukan kriteria Mas."
Gya mengganguk paham.
"Kalau berdasarkan kriteria Mas, kamu jelas-jelas udah lulus."
"Hah?"
"Mas serius, Dek."
__ADS_1
***
Kalian tim mana, nih? Tim Rafish atau Tim Rafka? Yuk komen 😉