Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Delapan Belas


__ADS_3

Setelah kejadian pagi tadi, hingga malam begini Rafish belum terlihat lagi. Padahal Gya sengaja menunggunya seharian ini. Sesekali ia melongokkan kepalanya ke jam dinding dan sesekali mengintip ke luar jendela, sepi.


"Nggak balik kayaknya."


Celetukkan Gio tersebut berhasil membuat Gya menolehkan kepalanya. Ia berjalan dan ikut duduk di samping sang adik yang sedang membaca komik di sofa ruang tengah.


"Tadi pagi ada kejadian apa, sih, Dek?"


Gio yang tampak serius dengan komiknya, melirik singkat, lalu mengangkat kedua bahunya saja.


"Rafish marah banget kayaknya," lanjut Gya.


Lagi-lagi Gio mengangkat kedua bahunya.


"Orang tadi siapa, ya? Apa om-nya? Kok bisa bikin Rafish hilang kendali gitu?"


Gio hampir mengangkat bahunya lagi, tapi Gya sudah keburu menarik komik di tangan Gio dan memukulkannya ke belakang kepala sang adik.


"Mama! Kak Gya KDRT, nih!"


Gya menendang kaki Gio sebelum akhirnya berlari menaiki anak tangga. Meninggalkan sang adik yang masih saja berteriak mengadu pada mama.


Di dalam kamar, Gya masih belum tenang. Ia masih mengintip lewat jendela kamarnya, lalu mengembuskan napas berat.


Ia melirik ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Sejenak ia terlihat ragu. Namun, akhirnya ia raih juga benda persegi panjang itu. Kemudian, mulai mencari kontak Rafish di sana.


Kali ini tanpa pikir panjang lagi, Gya menyentuh icon panggil, lantas menempelkan ponsel tersebut ke telinga. Namun, panggilannya tidak terhubung karena rupanya Rafish berada dalam panggilan lain. Wajah Gya tampak kecewa. Ia meletakkan kembali ponselnya, lalu memilih duduk di tepi ranjang.


Ada sedikit harap, jika Rafish akan membalas telponnya. Namun, setelah lama menunggu tetap tidak ada panggilan balasan dari berondong tetangganya itu.


***


"Kak!" Gio muncul lagi dari balik pintu, mengganggu Gya yang sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan di internet. "Hari ini nggak kemana-mana, kan?"

__ADS_1


Gya yang mulai terganggu, mengalihkan pandangannya dari laptop yang seharian ini menemani. "Kenapa?"


"Mau pinjam motor."


"Oh!"


"Kuncinya mana?" Gio masuk ke dalam kamar Gya, lalu meraih kunci yang tergeletak di atas nakas tanpa menunggu jawaban. "Bensinya full, kan? Nggak aku isi lagi, ya."


"Terserah."


"Aku pulangnya agak lama, jadi jangan direcokin."


"Bodo amat."


"Jangan nitip-nitip juga. Aku lagi nggak open jastip."


"Berisik!"


Gio mengangkat kedua bahunya ringan, lalu berniat melangkah ke luar kamar. Remaja jangkung itu tampak rapi dan wangi sore ini. Mungkin mau kencan.


Gio menghentikan langkah kakinya, menoleh pada Gya yang tampak menatapnya dengan pandangan mengawang.


"Rafish udah pulang belum?" lanjut Gya.


Gio menghela napasnya panjang sekali. Kemudian, mengangkat telunjuk kanannya ke udara. "Pertama, namaku Elgio Atharrazka. Bisa dipanggil Gio, El, Atha, atau Razka. Asal jangan dipanggil 'Dek'!"


Kening Gya sontak mengernyit. Namun, tampaknya sang adik belum selesai dengan wejangannya. "Kedua, Rafish itu cem-ceman kamu. Jadi, jangan tanya-tanya aku lagi!"


Gya menutup paksa laptop di depannya, bersiap menyerang Gio. Namun, pemuda berwajah menyebalkan itu keburu kabur dengan menutup pintu.


"Bye kesayangannya ikan!" teriak Gio dari balik pintu.


"Nyebelin, loe! Mirip ikan," balas Gya setelah melesatkan bantal, hingga menghempas pintu kamar.

__ADS_1


Sejak kepergian Gio tersebut, Gya jadi termenung. Apa perasaannya pada Rafish sebenarnya hanya sebatas perasaan seorang kakak pada adik? Sama seperti perasaannya pada Gio.


***


Lewat beberapa hari, akhirnya Rafish pulang juga. Itupun Gya ketahui berkat laporan dari Gio.


Setelah mendapat laporan dengan iming-iming mengerjakan tugas fisika milik Gio tersebut, Gya langsung stand by di kursi teras. Meski sudah berusaha menahannya, tapi ia tetap saja ingin tahu keadaan Rafish.


Benar saja, tidak berselang lama Rafish kembali keluar. Kali ini Gya tidak ingin bicara di pembatas pagar seperti biasa. Maka, ia berjalan keluar dan melangkah memasuki perkarangan rumah tetangganya itu.


"Hai."


Rafish yang sedang mengikat tali sepatunya di kursi teras, mengangkat wajahnya. Kemudian, menjawab sapaan tersebut dengan dehaman.


"Kamu ... kemana aja?" Gya berjalan mendekat, tapi ia tetap memutuskan untuk berdiri. Suasana terasa benar-benar canggung.


"Kenapa?" tanya Rafish singkat.


"Beberapa hari ini kamu nggak pulang, jadi ...."


Rafish yang sudah selesai dengan tali sepatunya, memutuskan untuk ikut berdiri, hingga membuat kalimat Gya terhenti.


"Aku khawatir," lanjut Gya saat Rafish menatapnya.


"Khawatir atau rindu?" Suara Rafish terdengar dalam sekali, sedalam tatapannya pada Gya.


Gya bahkan sempat tertegun. Namun, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara pelan, "Khawatir."


Rafish tertawa hambar. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, lalu berkata, "Kalau gitu jangan bikin aku makin salah paham."


Mendengar ucapan Rafish tersebut membuat Gya menutup rapat mulutnya. Sedangkan, Rafish kembali tertawa kecil.


"Nggak mau, kan? Mulai sekarang kita bikin batas yang jelas, ya, Kak."

__ADS_1


***


__ADS_2