Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Belas


__ADS_3

Tidak ada yang meragukan kecepatan penyebaran gosip. Pagi ini, Fakultas Ekonomi sudah bisik-bisik mengenai kabar status Gya sebagai calon istri seorang General Manager. Adhanam yang patah hati, bahkan memutuskan pulang tanpa mengikuti mata kuliah selanjutnya.


"Kabarnya siap wisuda mereka nikah."


"Malahan dengar-dengar, Gya udah dikenalin secara resmi sama temen-temen CEO-nya."


Pekikan histeris para mahasiswi kelaparan sontak menggema ketika menceritakan kabar angin tersebut. Selagi menunggu pesanan datang, bergosip memang yang paling sip.


"Wajar, sih, Gya cantik."


"Beruntung banget, ya, dia. Udah kayak cerita-cerita di novel."


"Jangan-jangan di jodohin atau kawin kontrak."


Kemudian, tawa mereka pecah memekak seluruh penjuru kantin. Membuat orang-orang yang duduk di sekitar mereka melirik tak suka, termasuk Fergi.


Fergi bahkan mendengkus jengkel, lantas menyikut lengan Rafish. Kemudian, berbisik, "Loe denger nggak? Masa mereka bilang Gya ...."


Ucapan Fergi terhenti karena Rafish langsung berdiri dari duduknya. Kemudian, meninggalkan Fergi yang menatapnya bingung begitu saja.


***


Citra yang pagi ini datang ke kampus untuk menyelesaikan pendaftaran wisudanya juga dibuat kaget. Gosip kali ini benar-benar menjengkelkan karena ia harus tahu kabar itu setelah orang-orang lain tahu. Citra paling tidak suka ketinggalan berita.


Ia merogoh cepat ponselnya di dalam tas, lantas mencari nomor Gya di kontak dengan emosi.


"Gya!" semburnya ketika panggilan tersambung. "Loe tega, ya, jadi calon bini GM nggak ngomong-ngomong!"


Citra terus saja nyerocos, padahal lawan bicara belum sepenuhnya mengerti.


"Masa gue taunya dari gosip. Parah, loe, Gi!"


"Cit, loe ngomong apa, sih?" Gya tidak paham. Namun, jelas-jelas wajahnya mulai panik. Ia bahkan mengabaikan sarapan yang baru ia sentuh beberapa sendok.


Mendengar kata "GM, calon istri, gosip" membuat kepala Gya mendadak pening. Ia memijit pelipisnya, sembari menunggu jawaban Citra.


"Loe mau nikah, kan? Sama GM, kan? Ngaku, loe!"

__ADS_1


"Loe tau dari mana?" tanya Gya was-was.


"Loe jadi trending di Gunadarma pagi ini kali, ah!"


Hah?!


***


Nafsu makan Gya lenyap. Ia kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Namun, kemudian dia menyadari kebodohannya.


Mau ngapain ke kampus? Klarifikasi?


Gya melempar sling bag kembali ke atas ranjang, lantas keluar kamar dengan langkah tergesa. Ia bahkan mengabaikan mama yang bertanya mau kemana.


Dada Gya bergemuruh. Ia tahu pasti jika sumber gosip ini pasti dari si rambut dora. Jangan panggil namanya Gya kalau rambut doranya masih untuh jika nanti bertemu dengannya.


"Dora sialan!" maki Gya sambil membanting pintu.


Langkah kakinya terhenti saat melihat sepeda motor Rafish melintas di depan rumah. Gya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lantas mengernyit ketika melihat jam masih menunjukkan angka sepuluh.


Rafish tidak langsung menjawab. Ia bahkan terlihat membuka helm dengan ogah-ogahan, baru kemudian menoleh menatap Gya di seberang pagar.


"Males."


Ada yang tidak beres. Gya berjalan keluar dari halaman rumahnya dan berbelok ke halaman rumah Rafish. Dia butuh memastikan sesuatu.


"Kamu ... kamu udah denger?"


"Apa?"


Fiuh! Gya tersenyum lega, lalu menggeleng. "Nggak apa-apa."


"Calon istri GM?"


Mata Gya membelalak. Jadi, Citra memang sedang tidak melebih-lebihkan cerita.


"Itu benar?"

__ADS_1


"Hah?"


"Jawab."


Mendadak Gya kehilangan kemampuannya buat ngeles. Jadi ia putuskan buat tertawa sumbang saja dan pura-pura bodoh.


"Kamu ngomong apa, sih, Fish?"


Mendengar Gya yang tidak menjawab pertanyaannya dan justru tertawa bodoh, membuat dada Rafish makin panas.


"Tolak dia!"


Senyum Gya perlahan memudar. Ia menatap mata Rafish dan menyadari jika pemuda di hadapannya itu tidak sedang bercanda.


"Nggak bisa?"


Gya bungkam. Ia sedang tidak bisa menjelaskan situasinya pada Rafish karena ia sendiri juga tidak mengerti.


"Kalau gitu, minta aku berhenti sekarang, Gya!" cetus Rafish putus asa. Tatapannya begitu gelap, hingga membuat Gya tercekat.


"Rafish?"


"Tolak aku! Supaya aku punya alasan buat mundur."


Gya tertegun. Bahkan, ketika Rafish membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan dirinya, Gya tetap terpaku di tempatnya.


Aku nggak yakin bisa sama kamu, tapi ... aku juga nggak mau kalau kamu sampai pergi.


***


Hai, hai, hai!


Kelamaan nggak nyapa, pasti udah pada lupa sama alurnya, ya? Wkwkwk siapa coba itu authornya 🙄


Maaf ya ... tapi aku tetap nggak bisa menjanjikan buat rajin update 🙏


Semoga kalian selalu bahagia setiap membaca karya Jika Laudia sama seperti aku yang selalu bahagia ketika menulisnya. LOPE GEDE.

__ADS_1


__ADS_2