Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Gya merasa dunianya menggelap saat mendengar vonis dokter, Sang Ayah terkena stroke. Ia mondar-mandir mengurus segala adminstrasi Rumah Sakit, tapi rupanya semua sudah diselesaikan oleh Rafka.


"Terima kasih bantuannya, Mas. Tapi, jangan sampai terlalu begini."


Rafka mengulum senyum. Pria berjambang tipis itu mencoba mengusap puncak kepala Gya, tapi gadis itu refleks memundurkan tubuhnya. Hingga membuat Rafka merasa tidak enak.


"Mas cuma mencoba berbuat yang Mas bisa. Maaf kalau membuat kamu merasa nggak enak."


Gya menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian, menunduk. "Kita belum ada hubungan apa-apa, Mas. Jadi aku mohon jangan membuatku terikat dengan budi."


Kali ini Rafka yang menggeleng. "Pak Bas salah satu relasi Mas sejak lama. Kalau pun tidak ada kamu, Mas tetap akan melakukan hal yang sama."


Perlahan, Gya mengangkat wajah, menatap Rafka yang sedang tersenyum hangat padanya.


***

__ADS_1


Sejak sore kemarin, Gya terus berada di Rumah Sakit menjaga papa yang belum diperbolehkan pulang. Tenaganya jadi lebih banyak diandalkan karena Gio harus tetap sekolah, sedangkan mama kondisinya melemah semenjak kejadian papa yang ambruk. Mungkin kaget.


Malam ini Gya pamit pulang sebentar untuk mandi di rumah karena stok pakaiannya sudah tidak ada lagi. Di Rumah Sakit, ada mama yang menjaga papa, meski dalam kondisi yang belum begitu bertenaga.


Gya benar-benar hanya mandi saja. Meski tubuhnya terasa remuk, tapi ia tetap akan kembali ke Rumah Sakit dan meminta mama untuk pulang dan beristirahat di rumah saja.


Gya menatap kalender yang tertempel di dinding kamar. Besok adalah hari wisudanya, tapi keadaan jadi kacau begini. Ia menyisir rambutnya yang belakangan tidak lagi bergitu diperhatikan.


Gya meletakkan tas travel yang berisi pakaian dan perlengkapan wisudanya besok pagi ke lantai, lantas mengunci pintu depan. Gestur tubuhnya menunjukkan, jika gadis itu tampak kelelahan karena kurang beristirahat.


"Semangat, Gya!" ucapnya pada diri sendiri. Sebagai anak sulung, tentu tanggung jawabnya akan lebih besar setelah ini. Selama ini hanya papa yang menopang keluarga mereka dan sekarang penopang itu sedang tidak berdaya.


Setelah menguatkan hati dan fisiknya, Gya memutar tubuh untuk melanjutkan niat kembali ke rumah sakit. Namun, pergerakan tubuhnya terhenti saat mendapati Rafish sudah berdiri di belakangnya.


Pemuda itu tidak bicara. Tidak menanyakan kabarnya. Tidak pula memberi kalimat penyemangat. Rafish hanya terus menatap Gya tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Gya menundukkan kepalanya, lantas berniat melangkah melewati Rafish. Namun, pemuda itu justru menarik pundaknya dan membawa tubuh Gya ke dalam pelukannya.


Sejenak Gya terdiam, membiarkan Rafish mendekapnya pelan. Membiarkan hening menguasai malam. Membiarkan semuanya dijelaskan tanpa bicara.


Perlahan air mata Gya mulai menetes, meski gadis itu susah payah menahannya. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Rafish, tapi pemuda itu justru mengusap pundaknya, hingga tetesan air mata itu mulai lepas kendali.


Gya membungkam mulutnya sendiri, mencoba meredam isak yang nyaris keluar. Namun isak tangis itu tidak bisa lagi ia tahan saat Rafish berkata, "Nggak apa-apa. Aku ada di sini."


Bukannya tidak ingin menanyakan kabarmu. Aku hanya menahannya saja.


***


Sejujurnya aku juga belum tau, mau memihak pada Rafish atau Rafka 🤣


Kalau kalian mihak siapa? Jelaskan dan minimal beri lima contoh 🙄

__ADS_1


__ADS_2