Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Puluh


__ADS_3

Agya tidak mengerti kenapa segala usahanya untuk memenangkan tender atau menggaet relasi bisnis sampai sekarang belum juga membuahkan hasil. Mereka yang awalnya tampak tertarik, mulai terlihat ragu dan akhirnya memilih mundur. Membuat segala upaya Agya terasa sia-sia saja.


"Baru pulang?"


Agya terlonjak kaget saat melihat Rafis sudah melipat kedua tangan di atas pagar pembatas rumah mereka. Pemuda itu menatap Agya dengan hangat sekali. "Tadi aku ngirim pesan. Belum baca?"


Agya tampak gelagapan. Namun, kemudian ia memilih fokus menutup pagar.


"Banyak kerjaan," balas Agya tanpa menatap Rafis.


Rafis mengangguk paham. "Capek banget? Jangan sampai sakit, ya."


Pergerakan tangan Agya terhenti. Entah mengapa suara hangat itu selalu berhasil pula menghangatkan hatinya.


"Iya." Setelah jawaban super singkatnya, Agya berniat langsung memasuki rumah. Ia tidak ingin melibatkan Rafis dalam masalah ini.


"Agya?"


Langkah Agya terhenti. Ia membalikkan tubuhnya pelan, menatap Rafis. "Apa?"


"Katanya, nggak boleh sering-sering bilang sayang, tapi ... aku sayang banget sama kamu."


Uhuk! Wajah Agya langsung memerah tanpa kendali. Sebenarnya perasaan apa ini? Perasaan yang rasanya bisa membuat dadanya meledak saat ini juga.


"Aku balik, ya. Kamu jangan khawatir mimpi buruk. Ada aku yang bakalan jagain kamu." Kemudian, dengan langkah santai Rafis beranjak dari sana. Ia memasuki mobiln dan pergi setelah melambaikan tangan pada Agya.


Berulang kali Agya harus mengatur napasnya. Mencoba mengendalikan diri untuk tidak berlari mengejar pemuda itu.


***

__ADS_1


Hari ini, Citra menjenguk papa di rumah sakit. Meski sudah bekerja di tempat yang beda, tapi persahabatan Agya dan Citra masih terjalin baik.


"Gimana kata Dokter, Gie?"


Agya tampak mengembuskan napas berat. "Kalau nggak ada perubahan dalam minggu ini, lanjut dirawat di rumah aja, tapi tetap ada pemantauan Dokter."


Citra menganguk, lantas menggenggam tangan Agya "Loe apa kabar?"


Mendengar pertanyaan itu, entah kenapa membuat mata Agya berkaca-kaca. Ketimbang menjawab pertanyaan Citra, ia lebih memilih memeluk sahabat semasa kuliahnya itu dan menangis di pelukannya.


"Bener kata Rafis, loe butuh temen."


Agya melonggarkan pelukannya, lalu menatap Citra bingung.


"Rafis yang ngasih tau gue keadaan bokap loe," jelasnya. "Loe nggak nyesel ngelepasin Rafis, Gie?"


Pertanyaan Citra tersebut membuat Agya menundukkan kepalanya. "Gue udah tunangan, Cit."


Agya menatap Citra takjub, lalu terkekeh. "Nggak boleh dicontoh, nih!"


Kemudian, dia melangkah pergi dan duduk di sofa. Diikuti Citra di belakangnya. "Gue serius. Kalau masalah uang, dari awal kan gue sama Fergi udah bilang jangan khawatir."


Agya mendecak. "Imej gue emang matre banget ya di mata kalian?"


Citra tertawa keras. "Bukan matre, tapi realistis. Lagi pula, kami tau banget posisi loe kok, Gie."


Citra kembali menggengam tangan Agya. "Ngomong-ngomong, loe udah tau belum kenapa Rafis populer di kampus?"


"Cakep?"

__ADS_1


"Bukan."


"Keren?"


"Bukan."


"Pinter ngebucin?"


"Bukan!" Citra dibuat gemas sendiri. "Muhammad Rafisqy Arzan, loe nggak familliar sama nama itu?"


Agya melebarkan matanya. "Familiar!"


"Nah!" Citra menjentikkan jarinya. "Itu maksudnya."


"Nama tetangga gue," timpal Agya datar, hingga membuat Citra ingin menjitak kepalanya. Namun, sayangnya mama keburu datang.


"Assalamuaikum." Obrolan keduanya terpaksa berhenti saat mama masuk. Agya bahkan tampak tidak nyaman saat melihat sosok yang ikut masuk bersama mama.


"Waalaikumsalam."


Rupanya, tidak hanya Agya yang merasa kurang nyaman karena Citra juga langsung pamit setelahnya. Ia menyalami mama dan memberikan semangat pada Ibu Agya tersebut, lantas izin pulan setelah memeluk Agya.


Tinggallah mereka berempat di kamar tersebut dengan papa yang masih terus memejamkan mata. Suasana terasa canggung dan kikuk. Mama memilih menyeka tubuh papa dengan kain basah, sedangkan Agya dan Rafka duduk di sofa tanpa bicara.


"Gya, sini, Nak!" Mama memanggil Agya setelah selesai membersihkan tubuh papa. Ia meletakkan lap dan baskom ke atas nakas. Kemudian, meminta Agya duduk di sampingnya.


"Sayang." Mama mengusap rambut Agya, lantas menggenggam tangannya. "Kamu lihat sendiri kondisi papa sama sekali nggak menujukkan perkembangan, kan? Mama khawatir papa nggak akan bisa bertahan."


Air mata mama menetes pelan. Ia mengusapnya perlahan, lalu melanjutkan, "Kabulin satu permintaan terakhir papa, ya, Nak."

__ADS_1


Kening Agya berkerut. Ia menatap mama tidak mengerti.


"Papa ... ingin melihat kamu menikah."


__ADS_2