
"Plak!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Agya. Pagi ini ia baru pulang dengan diantar Rafis. Rupanya, di dalam sudah ada mama yang menunggu dengan wajah merah padam.
"Ma!" Gio mendekat. Ia berdiri dan menjadi penghalang antara mama dan Agya. Sedangkan, Agya hanya menundukkan kepalanya saja.
"Bukan kayak gini Mama mendidik kamu!" teriak mama murka. "Di mana kehormatan kamu, ha?" Mama mencoba mendorong tubuh Agya, tapi Gio menahannya.
"Percaya sama Kak Gya, Ma. Dia nggak mungkin berbuat macam-macam."
Mama menepis kasar tangan Gio, lantas menatapnya tajam. "Tau dari mana kamu?!"
"Percaya sama kami, Ma. Kami nggak mungkin ngecewain mama."
Agya yang berdiri di balik punggung Gio, memilih beranjak pergi. Ia melangkahkan kakinya pelan, masih dengan kepala tertunduk menuju kamarnya. Bahkan, meski mama terus berteriak padanya, Agya tetap berjalan tanpa mau mengangkat wajahnya.
"Dipilihin anak yang sopan, malah maunya sama anak nggak tau aturan. Apa kurangnya Nak Rafka di mata kamu? Sadar kamu, Gya! Sadar! Kamu mau bunuh papa sama mama, ha?!"
Gya duduk melipat lutut di atas ranjang dengan kedua tangan menutup telinga. Air matanya tidak berhenti menetes, meski ia sudah lelah menangis.
***
__ADS_1
"Mama jangan terlalu keras sama Kak Gya. Kasihan Kak Gya, Ma." Gio menyodorkan segelas air pada mama yang duduk di kursi meja makan. Kemudian, ikut duduk di dekatnya.
"Kasihan apa? Dikasih enak kok malah kayak gitu." Mama meminum air bening di tangannya, hingga tandas. Dadanya masih panas setiap kali mengingat Agya semalam menginap di luar bersama Rafis.
Gio mencoba bersikap tenang. Ia tidak ingin mama merasa tidak dimengerti.
"Mama nggak ngerasa Kak Gya sekarang sering murung? Lebih banyak diam, nggak kayak dulu." Gio menggenggam tangan mama, lalu melanjutkan, "Kak Gya tertekan, Ma. Kak Gya butuh waktu."
"Kamu ngomong apa, sih?" Mama menyentak tangannya, hingga genggaman tangan Gio terlepas. "Kalau bukan Gya, siapa lagi yang bisa nyelamatin kehidupan kita? Kita bakalan hancur, Yo!"
Mama berdiri dari duduknya. Kemudian, memeluk tangannya sendiri, membelakangin Gio. "Kamu nggak akan ngerti, tapi saat kita jatuh, dunia ini akan semakin kejam. Mama akan ditertawakan sama keluarga Oma kamu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, mama langsung berlari ke kamar dengan tangis yang sudah pecah. Sedangkan, Gio hanya bisa diam dan tidak tahu harus berbuat apa.
Diam-diam, Agya mendengarkan percakapan itu dari pagar pembatas lantai dua. Tatapannya terlihat kosong.
***
Sepeti biasa, kedatangan Rafka selalu disambut hangat setiap kali ia melangkah memasuki hotel. Para karyawan begitu menaruh hormat padanya, atas sikap terjangnya mengepakkan sayap ke berbagai bidang, hingga ke penjuru negeri.
__ADS_1
Untuk pemuda seusia Rafka, bisa memimpin perusahaan sebesar ini tanpa pernah terancam goncangan adalah hal yang menakjubkan. Nama Arkana Rafka tidak hanya dikenal di bidang pariwisata saja karena nyatanya nama itu sudah melambung terlalu tinggi, hingga disegani oleh kalangannya.
Rafka selalu menerima sapaan para karyawan dengan hangat. Ia memang dikenal sebagai atasan yang ramah dan bersahaja. Namun, raut wajah ramah itu tampak mengeras saat mendapati kursi kebangsaannya telah di duduki orang lain.
Menyadari kedatangan Rafka, seseorang itu memutar kursinya dengan santai. Kakinya bahkan ia letakkan di atas meja kerja dengan sebuah senyum miring yang tercetak di bibirnya.
"Lama tidak bertemu. Apa kabar, Mas Rafka?"
Rahang Rafka mengeras saat melihat Rafis memandangnya dengan ekspresi mengejek. Ia langsung melayangkan tatapan dingin pada pemuda itu.
"Kenapa serius sekali? Aku cuma mampir dan rupanya kursi ini empuk juga." Rafis berdiri, lalu merapikan buku di atas meja yang tidak sengaja tersenggol kakinya dengan gaya santai.
"Aku dengar, kamu mempersulit urusan Pak Haris." Rafis berjalan mendekati Rafka, lalu meniup pundak Rafka, seolah menyingkirkan debu dari sana. "Tenang saja, bukan itu yang membuatku datang ke sini, tapi ...."
Rafis menggulung dasi Rafka ke tangannya dengan santai, lalu berkata, "Sekali saja kau menyakiti Agya lagi, jangan harap seumur hidup kau bisa memakai dasi lagi di lehermu!"
Suara itu terdengar begitu sarat ancaman. Tatapan santai tadi kini sudah berubah gelap dan dingin. Gulungan dasi di tangan Rafis semakin lama semakin mendekat, hingga membuat Rafka nyaris tercekik.
Rafis yakin telah terjadi sesuatu yang buruk pada Agya. Sesuatu yang benar-benar melukai hatinya, hingga mampu membuatnya melakukan hal nekat seperti semalam dan penyebabnya pasti Rafka.
__ADS_1
Rafis menepuk pelan pipi Rafka, lalu dengan tajam berkata, "Jadi anak baik saja, ya, Arkana Rafka."